Selir BADASS

Selir BADASS
Si Gemoy


__ADS_3

“Aku ingin bertemu istriku!“ ucap Valentino yang hilang kesabaran.


Dia mengeluarkan senjata yang dia sembunyikan dibalik jasnya dan mengarahkan senjata itu pada salah satu bodyguard.


Mereka juga tidak tinggal diam, para bodyguard mengeluarkan senjata mereka. Keadaan semakin menegangkan membuat Dior tidak tahan untuk keluar dari kamarnya.


Tapi kali ini Dior nekat untuk turun dari balkon kamarnya memakai tangga. Jika dia keluar melalui pintu pasti akan berhadapan dengan mami dan papinya dulu.


Satu persatu anak tangga berhasil dilewati Dior, saat berhasil turun dengan setengah berlari dia mendatangi suaminya.


“Hentikan!“ teriaknya.


Valentino yang melihat istrinya mendekat tanpa ragu langsung berlari dan memeluknya.


“Aku merindukanmu, Sayang,“ ucap Valentino serak.


“Aku juga merindukanmu, Val,“ balas Dior dengan memejamkan matanya.


Para bodyguard tidak tinggal diam, mereka secara paksa menarik tubuh Valentino supaya menjauhi Dior. Merasa badannya ditarik paksa Valentino melakukan perlawanan tapi percuma karena badannya terhuyung dan jatuh ketika para bodyguard disana melemparnya keluar.


“Valen__“ Dior seperti tidak punya tenaga untuk berteriak lagi. Suaranya begitu pelan menyayat hati dan hal itu membuat maminya yang mengintip sedari tadi tidak tahan untuk menyusul putrinya.

__ADS_1


“Dior, ayo masuk kedalam!“ ajaknya.


Dior merasakan keram di perutnya sampai meringis membuat maminya semakin khawatir.


“Kenapa kau sering keram begini?“ tanya maminya panik.


“Aku akan baik-baik saja jika bersama Valen, Mi. Jangan pisahkan kami, aku mohon!“ pinta Dior mengiba.


“Kita bicarakan bersama papimu!“


*****


Valen kembali ke apartemen dengan penuh emosi, dia membanting gelas setelah meminum air dari gelas itu.


Dia ingin kembali ke kamarnya tapi entah kenapa dia justru masuk kedalam kamar Chanel. Kamar itu tampak rapi seperti saat ditinggal empunya. Valentino membuka lemari baju Chanel dan masih ada beberapa helai baju istri keduanya itu bahkan baju haramnya ditinggal disana.


“Dimana kau, Chanel?“ gumamnya.


Sementara Chanel saat ini tengah sibuk melayani pengunjung restaurant karena dia bekerja sebagai pelayan disana.


Semenjak pertemuannya dengan Hermes malam itu, pria itu membantunya untuk mencari pekerjaan. Kebetulan Hermes mempunyai satu restaurant dan menempatkan Chanel bekerja di restaurant itu.

__ADS_1


Bukannya apa, Chanel mengaku jika dia tengah di kejar-kejar rentenir dan dia terancam akan masuk kandang buaya. Karena iba Hermes menampung Chanel di mes khusus karyawan restaurantnya.


Restaurant itu adalah bisnis sampingan Hermes yang sejatinya suka memasak. Hermes memang di tuntut untuk menjalankan perusahaan papinya yang menjadi saingan Bagaskara tapi dia tidak ingin mengubur hobinya, oleh karena itu dia membangun sebuah restaurant yang berada di pinggiran kota.


“Ini pesanannya!“ ucap Chanel sopan dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman pesanan pengunjung.


Setelah selesai mengantar makanan, Chanel kembali ke dapur dimana para pelayan lain berada.


“Wajahmu pucat Chanel, apa kau baik-baik saja?“ tanya salah satu temannya.


Memang akhir-akhir ini Chanel kurang enak badan, dia berpikir mungkin karena dia terlalu lelah bekerja. Chanel akan bekerja seharian setelah itu kembali ke mes, begitu terus selama hampir sebulan ini.


“Aku cari udara segar dulu, ya!“ pamit Chanel dengan berlalu keluar dari pintu dapur.


Chanel selama ini jarang sakit jadi saat tubuhnya mulai merasa tidak enak badan, dia sangat merasa terganggu.


“Cewek gemoy tidak boleh sakit! Aku harus cari uang yang banyak!“ gumamnya. “Sebenarnya aku sakit apa?“


Chanel mengingat jika dia setiap pagi sering muntah seperti yang dialami Dior. Tiba-tiba matanya membulat mengingat jika dia terlambat datang bulan.


“Astaga, apa aku hamil?“

__ADS_1


“Jadi judulnya bikin-bikin sendiri, hamil-hamil sendiri?“


__ADS_2