
Sesampai di lokasi proyek Valentino yang sudah ditunggu para kontraktor langsung menuju lokasi proyeknya. Dan Chanel dengan setia menemani kemana bos suaminya itu pergi.
Lokasi itu berada di puncak yang rencana akan dibangun villa dan penginapan disana.
“Lokasinya sangat cocok bisa menarik turis datang kemari!“ ucap Valentino yang merasa puas.
“Pemandangan disini akan bagus saat masih pagi buta karena banyak kabut yang cocok untuk pasangan honeymoon!“
Mendengar itu, Chanel mengulum senyumnya dan timbul ide gila lagi di kepalanya supaya Valentino bisa tidur dengannya. Sebenarnya saat Icha membeli obat diare, Chanel juga meminta sahabatnya itu untuk membeli obat perangsang.
*****
Disisi lain, Dior terus mengalami muntah-muntah sampai badannya lemah. Disaat seperti ini, dia sangat membutuhkan Valentino.
Dior mencoba mengaktifkan ponselnya dan benar saja sederetan pesan muncul dari suaminya.
“Aku merindukanmu, Val,“ lirih Dior yang emosinya mulai mereda.
Tak lama pintu kamarnya terbuka, maminya menyembul masuk membawa nampan berisi wedang jahe yang Dior pesan.
“Ini wedang jahenya!“ ucapnya.
“Thanks, Mi.“
Dior meraih gelas berisi wedang jahe dan langsung meminumnya.
“Apa perlu kita periksa ke dokter? Kau muntah-muntah terus, mami kan khawatir!“
Dior terkesiap mendengar tawaran maminya, pasti maminya akan curiga jika dia terus-terusan menginap. Karena selama trimester pertama pasti dia akan mengalami mual dan muntah begini.
__ADS_1
“Aku tidak apa-apa, Mi.“
“Tidak apa-apa bagaimana, ini tidak wajar!“
“Beneran, Mi. Asam lambungku naik karena sering telat makan!“
“Makanya, jangan terlalu sibuk! Dan juga pikirkan masa depanmu, kau sudah berumur 30 tahun tapi belum juga menikah!“
“Aku kan menunggu kakak, Mi.“ Dior memberi alasan.
“Kakakmu itu juga sama saja!“
Tiba-tiba terdengar suara deheman yang membuat kedua wanita itu menoleh dan seorang pria menyembul masuk karena merasa adik dan maminya membicarakan dirinya.
“Kak Hermes!“ panggil Dior yang melihat kakaknya menyembul masuk.
“Pantas saja mataku kedutan ternyata ada membicarakan aku!“ ucap Hermes dengan ikut duduk di tengah antara adik dan maminya.
“Belum ada yang pas, Mi,“ elak Hermes.
“Semuanya juga gak ada yang pas tapi di pas-pas'in!“
“Tapi aku suka yang pas, Mi.“
Dior terkekeh melihat perkelahian kakak dan maminya. Tapi dia harus berpamitan pulang karena dia tidak mau lama-lama bersiteru dengan suaminya.
Dan hal itu membuat maminya semakin curiga. Saat Dior sudah keluar dari rumah, maminya langsung mendatangi anak laki-lakinya.
“Cari orang untuk mengikuti, Dior!“ perintahnya.
__ADS_1
“Ada apa, Mi?“ tanya Hermes.
“Udah nurut aja! Mami curiga adikmu hamil!“
“Apa? Hamil?“
“Ssstt! Diam-diam saja, jangan sampai papi tahu!“
Akhirnya Hermes menuruti perkataan maminya sebenarnya Hermes sudah mengetahui pernikahan adiknya karena dia yang menjadi wali saat pernikahan siri antara Valentino dan Dior. Tapi dia berpura-pura tidak tahu karena Dior yang memintanya.
Sementara Dior yang sudah sampai di apartemen, segera menghubungi suaminya. Tapi sayang ponsel Valentino tidak aktif yang mana membuat Dior heran.
Dior mencoba menghubungi Yuda dan langsung dijawab oleh asisten Valentino itu karena yang mengetahui pernikahan siri mereka hanya Hermes dan Yuda seorang.
“Hallo, Nona.“ jawab Yuda.
“Dimana, Valen?“ tanya Dior.
“Bos Valen sedang meninjau proyek di luar kota, Nona.“
“Loh, kenapa kau tidak ikut?“
“Saya sakit jadi tidak bisa ikut!“
Dior menggigit bibir bawahnya mendengar itu dan bertanya. “Apa Valen pergi bersama Chanel?“
“I-iya, Nona.“
Ponsel Dior langsung terjatuh ke lantai, dia mulai menangis dan membayangkan hal yang tidak-tidak. Dia takut Valentino akan menyentuh Chanel.
__ADS_1
Sampai perutnya merasa keram dan darah segar merembes di kedua sela kakinya.
“Argh__“ ringis Dior sampai kepalanya terasa berputar dan tak lama dia tak sadarkan diri.