Selir BADASS

Selir BADASS
Masih Istri


__ADS_3

Suasana di meja makan itu tampak begitu canggung kecuali Hermes yang memang belum mengerti dengan situasi yang sebenarnya terjadi.


“Makanlah!“ ucap Hermes perhatian pada Chanel.


Chanel mengangguk patuh, dia ingin cepat menyelesaikan makannya dan segera berpamitan pulang. Karena situasinya begitu rumit sekarang, Hermes kakak dari Dior?


“Dunia memang begitu sempit!“ batin Chanel menjerit.


Dior melirik kearah Valentino yang tidak memakan steak di depannya tapi justru matanya terus tertuju pada Chanel dan Hermes, entah apa yang di pikirkan Valentino saat ini yang jelas Dior merasakan sakit sampai ke ulu hatinya.


“Makan steak mu, Val,“ tegur Dior berusaha menetralkan suasana.


“Ada kucing nakal yang membuatku tidak berselera makan!“ sahut Valentino penuh penekanan.


Hermes mengernyit. “Di apartemenku tidak ada kucing!“ elaknya.


Dan hal itu membuat Chanel langsung tersedak. “Uhuk! Uhuk!“


“Pelan-pelan, tidak ada yang mengambil makananmu!“ tegur Hermes dengan mengelus punggung Chanel supaya batuknya berhenti.


Valentino yang melihat adegan itu sudah tidak tahan lagi, dia sangat tidak suka istrinya disentuh pria lain walaupun itu iparnya sendiri.


“Jauhkan tanganmu!“ geram Valentino berdiri dari tempat dia duduk.


Valentino mendekati Chanel dan langsung menarik tangan istrinya itu untuk keluar dari apartemen tapi tentu saja tidak semudah itu karena Hermes menahannya.

__ADS_1


“Mau kau bawa kemana calon kekasihku!“ protes Hermes dengan menahan satu tangan Chanel.


Akhirnya terjadi tarik menarik seperti tarik tambang dimana Chanel bergerak ke kanan dan ke kiri.


“Stop!“ teriak Chanel yang tidak tahan badannya dijadikan tarik tambang dan berusaha menjauhkan diri dari Valentino dan Hermes.


Chanel menatap Dior yang juga menatapnya, sebagai sesama wanita sepertinya dia juga ikut merasakan apa yang dirasakan Dior saat ini.


“Saya permisi pulang!“ ucap Chanel buru-buru.


Chanel dengan langkah cepat keluar dari apartemen disusul oleh Valentino dari belakang. Hermes ingin mengejar mereka tapi suara dari Dior menghentikan langkahnya.


“Biarkan mereka, Kak!“ ucap Dior.


Dior mengangguk. “Chanel, istri kedua Valen. Dia maduku!“


“APA?!!!“


Sementara di luar apartemen Valentino terus mengejar Chanel yang berlari semakin menjauhi apartemen.


“Chanel, berhenti!“ teriak Valentino yang berhasil menjangkau tangan istri keduanya itu.


“Lepaskan aku, Kak. Biarkan aku pergi!“ ronta Chanel.


“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, kau harus menjelaskan semua padaku! Kenapa kau bisa dengan kak Hermes!“ cecar Valentino.

__ADS_1


“Kenapa kau seolah peduli padaku, Kak? Kembalilah ke dalam, istrimu yang sesungguhnya pasti sakit hati sekarang karena kakak mengejarku!“ pinta Chanel dengan berusaha melepaskan diri dari cengkraman suaminya.


Tapi seolah Valentino tidak mendengar permintaan Chanel, pria itu membawa Chanel ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.


Valentino menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, tujuannya ke salah satu hotel karena dia ingin waktu berdua dengan Chanel tanpa adanya pengganggu.


Sampai di hotel yang dituju, Valentino segera memesan satu kamar tanpa melepas tangan Chanel supaya istrinya itu tidak kabur.


“Kak__ aku tidak mau!“ tolak Chanel saat Valentino memintanya masuk ke kamar hotel.


“Jangan berpikir aku sudah menceraikanmu, Chanel!“ seru Valentino berusaha meyakinkan jika Chanel masih istrinya.


“Kak Valen tidak menceraikan aku?“ tanya Chanel memastikan.


“Aku tidak pernah menceraikanmu!“


“Kenapa?“


Valentino tidak menjawab tapi mendekat dan menghimpit tubuh Chanel sampai membentur dinding, dia tidak memberi celah istrinya itu untuk melepaskan diri.


“Kau mau tahu jawabannya?“ tanya Valentino dengan mendekatkan wajahnya sampai hidungnya bersentuhan dengan hidung Chanel.


Chanel mengangguk pelan dengan merasakan debaran jantungnya yang berpacu cepat.


“I love you, Chanel!“ ucap Valentino kemudian.

__ADS_1


__ADS_2