
Mobil Hermes sudah terparkir di mes karyawan yang dia punyai. Dia segera turun dari mobil dan mendatangi dimana unit mes Chanel berada. Tapi sayang beberapa kali mengetuk kamar itu tidak ada yang membuka.
“Bos Hermes, sedang apa disini?“ tegur salah satu karyawannya yang kebetulan ada di luar kamar.
“Dimana Chanel?“ tanya Hermes tanpa basa-basi.
“Chanel baru saja pergi sekitar sepuluh menit yang lalu!“
Hermes langsung saja setengah berlari menuju mobilnya kembali, dia tidak boleh kehilangan jejak Chanel. Entah kenapa dia merasa de javu saat pertemuannya pertama kali dengan wanita itu.
“Dimana kau, Chanel?“ gumam Hermes dengan menyusuri jalanan berharap menemukan wanita yang dia cari.
Keadaan sudah hampir larut, letak mes juga di pinggiran kota pasti akan susah mencari taksi. Karena tadi Hermes terlalu cepat berkendara, dia tidak melihat kiri kanan lagi sebab itulah mungkin dia melewatkan dimana Chanel berada sekarang.
Sementara Chanel saat ini tengah berdiri di sebuah ruko kosong karena menunggu Icha menjemputnya. Mulutnya sibuk mengunyah apel karena dia kelaparan, dia tidak boleh egois karena ada janin yang harus dia jaga.
Sampai sorot lampu mobil menyilaukan matanya, Chanel mengenali mobil siapa itu. Dia ingin menghindar tapi sudah terlambat karena Hermes dengan cepat turun dari mobilnya.
“Chanel__ syukurlah!“ ucap Hermes lega karena menemukan Chanel dalam keadaan baik-baik saja.
“Jangan mendekat! Kau sudah tahu siapa aku, 'kan?“
Chanel berusaha menghindari Hermes yang mendekat padanya.
“Ya, aku tahu. Kau korban dari keegoisan Valen!“ jawab Hermes geram yang menerima kenyataan jika Chanel adalah istri kedua adik iparnya.
“Bukan, aku hanya orang ketiga di pernikahan adikmu!“ elak Chanel.
__ADS_1
“Ini bukan salahmu, Chanel. Jangan menyalahkan dirimu sendiri!“
Hermes berusaha membujuk Chanel, dia merasa Dior dan Chanel disini tidak salah. Tapi Chanel terus menghindari Hermes supaya tidak mendekatinya lagi.
Bersamaan dengan itu, Icha sudah datang. Chanel segera berlari kearah Icha yang saat itu menjemputnya menggunakan motor.
Sebelum motor itu bergerak, Chanel menoleh kearah Hermes dan berkata,“ Aku pasti akan membalas budi atas semua bantuanmu selama ini!“
*****
Valentino kembali ke apartemen, dia langsung menuju kamarnya di mana Dior tidur menyamping dengan meringkuk. Valentino tahu istrinya itu belum tidur, dengan perlahan Valentino mendekat dan memeluk Dior dari belakang.
“Maafkan aku!“ ucapnya parau.
Valentino sudah mengenal Dior sejak lama jadi dia berpikir pasti istrinya itu tahu jika dirinya kini jatuh hati pada Chanel.
“Maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku!“ sambungnya.
Dan dua bulan berlalu, kehamilan Dior sudah memasuki usia 4 bulan dan di trimester kedua ini kakinya sudah mulai membengkak. Itu adalah gejala ketika kehamilan mengalami Peripartum Cardiomyopathy.
“Rendam kakimu di air hangat, Sayang,“ ucap Valentino dengan membawa baskom yang berisi air hangat dan meraih kaki Dior untuk berendam di baskom itu.
Selama dua bulan ini memang Valentino begitu perhatian pada Dior karena ingin menjadi suami siaga. Tapi Dior juga tahu kalau setiap malam, Valentino akan minum-minum di ruang kerjanya jika teringat Chanel.
Sementara Amelia masih belum mau berbicara dengan Valentino apalagi menerima Dior jadi menantunya. Begitu juga dengan keluarga Dior yang enggan membicarakan masalah pernikahan putri mereka karena mereka ingin Dior melahirkan dahulu. Mereka tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu dengan Dior sebelum melahirkan.
“Sudah, Val,“ ucap Dior saat merasa kakinya sudah cukup lama berendam.
__ADS_1
“Aku ada rapat hari ini, jadi harus buru-buru ke kantor. Jaga diri baik-baik, jika terjadi sesuatu ada suster di luar kamar!“ sahut Valentino yang menjadi suami siaga. Dia bahkan menyewa suster untuk memantau keadaan istrinya.
Valentino menjauhkan baskom dari kaki Dior setelah itu berpamitan untuk pergi ke kantor.
“Aku pergi dulu!“ ucapnya dengan mengecup kening Dior.
Saat Valentino pergi keluar dari apartemen, tak lama pintu kamar Dior diketuk oleh suster yang berkata bahwa ada tamu yang datang.
“Tamu? Siapa?“ tanya Dior.
“Namanya Chanel,“ jawab suster itu.
“Minta dia masuk ke kamarku!“ ucap Dior cepat. Dia tidak menyangka jika Chanel datang setelah dua bulan ini menghilang lagi tanpa kabar.
Setelah dipersilahkan masuk oleh suster, Chanel masuk ke kamar Dior. Disana dia melihat Dior terbaring lemah dengan kaki yang membengkak. Anehnya perutnya juga tidak membesar seperti ibu hamil normal lainnya.
“Aku yakin kak Valen belum tahu kondisimu,“ ucap Chanel tanpa mau basa-basi.
Dior hanya mengulas senyum tipis, entah kenapa dia merindukan sosok Chanel yang badass.
“Aku kemari untuk memberikan sebuah solusi!“ ucap Chanel lagi.
“Solusi apa, Chanel?“
“Hentikan kehamilanmu dan biarkan bayiku yang menjadi penggantinya!“
*****
__ADS_1
Maaf ceritanya kaya benang kusut, sebenarnya bukan gayaku bikin cerita poligami begini. 😅
Tolong tahan sebentar lagi ya, mungkin gak sampe bab 50 udah tamat. 🤗