Selir BADASS

Selir BADASS
Rencana Hidup


__ADS_3

“Chanel__“ panggil Icha saat sampai di villa.


Sebelumnya Chanel menghubungi sahabatnya itu untuk menemaninya di villa. Dan akhirnya Icha mendatangi Chanel dengan serentetan pesanan seperti biasa.


“Non Icha ya?“ tanya Bi Tuti saat membuka pintu villa, sebelumnya Chanel memang sudah berpesan padanya.


“Iya Bi, dimana Chanel?“ tanya Icha balik.


“Ada di kamarnya, dia sedang menari di sana!“


“Menari? Apa itu karena hormon kehamilan?“


Icha langsung saja menuju kamar Chanel dan benar saja, Chanel tengah menari balet dengan serampangan yang mana membuatnya keheranan.


“Sedang ngidam tarian balet?“ tegur Icha.


Chanel langsung menoleh dan mematikan musik klasik dari ponselnya. Dia mendekati Icha lalu meraih tangan temannya itu untuk menyentuh perutnya.


“Bayiku sudah bisa bergerak!“ ucap Chanel dengan sorai gembira. “Aku membaca artikel jika musik klasik bisa meningkatkan refleks bayi. Merangsang kemampuan indra pendengaran bayi. Memberikan ketenangan dan membantu kehamilan lebih rileks. Mampu mengembangkan kemampuan belajar serta perilaku__“


“Dan kau akan memberikan bayimu begitu saja?“ sela Icha yang dari awal menolak keputusan yang Chanel ambil.


Dan Chanel langsung terdiam tidak bisa menjawab karena sekarang dirinya juga mulai goyah tapi dia sudah berjanji pada Dior, apalagi Valentino sampai menghabiskan satu bulan bersamanya.


“Sudahlah, masalahmu sungguh rumit! Aku membawakan pesananmu!“ ucap Icha dengan memberikan beberapa paperbag berisi makanan pesanan Chanel.


Chanel menerima paperbag itu dengan mata yang menelisik mencari sesuatu. “Kau tidak bawa baju ganti? Bajuku disini mulai tidak muat!“


“Aku tidak akan menginap, aku ingin berpamitan karena aku diterima kerja di Batam!“ jawab Icha yang membuat Chanel tidak percaya.


“Kau akan pergi meninggalkan aku?“ tanya Chanel mulai berkaca-kaca.


“Semua orang butuh berkembang Chanel, begitu juga dengan dirimu. Setelah melahirkan, kau harus benar-benar memikirkan masa depanmu!“

__ADS_1


“Aku juga sudah memikirkannya!“


“Jadi?“


“Aku akan pindah ke Jepang!“


“Jepang?“


*****


Saat kondisi Dior sudah dinyatakan normal, Valentino membawa istrinya itu pulang tapi kali ini bukan pulang ke apartemen tapi pulang ke mansion karena Amelia yang memintanya.


“Ayo turun!“ ajak Valentino saat mobilnya sudah terparkir di parkiran mansion. “Mama sudah menunggu kita!“


“Tapi Val__“


“Tidak apa-apa!“


Akhirnya Dior menurut, dia turun dari mobil dengan tangan yang digandeng oleh suaminya. Sesampai di pintu utama, Amelia sudah menyambut mereka dengan suka cita.


Dior melirik Valentino sejenak setelah mendapat anggukan dari suaminya barulah dia mendekati Amelia. Mama mertuanya itu langsung memeluknya dengan lembut.


“Maafkan sikap mama sebelumnya,“ ucap Amelia kemudian.


“Ti__ tidak. Mama tidak salah apa-apa!“ sahut Dior terbata.


“Sekarang kita lupakan semuanya dan mulai yang baru. Bagaimana keadaan cucuku?“


Amelia mengurai pelukannya dan fokus menatap perut Dior yang tampaknya tidak membuncit sesuai usia kandungannya.


“Bukankah seharusnya sudah akan memasuki usia 6 bulan?“ tanyanya.


Valentino yang mendengar itu langsung menyela. “Bayi kami baik-baik saja, Ma. Tidak perlu khawatir!“

__ADS_1


“Lebih baik nanti konsultasi pada dokter dan ikut kelas hamil supaya perkembangan bayinya bagus!“ saran Amelia kemudian.


Valentino hanya mengangguk dan membawa Dior untuk beristirahat di kamarnya. Sebelumnya barang-barang Dior sudah ada di sana karena memang Dior hampir dua minggu berada di rumah sakit dengan Valentino yang setia menjaga istrinya. Jadi, Valentino sudah mempersiapkan semuanya sebelum Dior pulang.


“Istirahatlah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku setelah itu aku akan kembali kesini menemanimu!“ ucap Valentino dengan mengecup kening Dior.


Saat Valentino berbalik tangannya dicekal oleh Dior membuatnya menoleh kembali.


“Kenapa Sayang?“


Dior tidak menjawab hanya menatap Valentino dengan lekat setelah itu melepas cekalannya. “Pergilah!“


Sebenarnya Valentino bingung dengan sikap Dior tapi pekerjaannya sungguh menumpuk karena sebelumnya dia menghabiskan waktu dengan Chanel setelah itu harus siaga menjaga Dior pasca operasi.


Dia menuju ruang kerjanya dan memeriksa laporan penting yang sudah menunggunya, Valentino menghabiskan waktu di sana sampai malam hari tiba.


Valentino mengirimkan semua file pada asistennya setelah itu memintanya mengatur ulang jadwalnya yang sebelumnya banyak dia tunda.


“Baik Bos!“ jawab Yuda dibalik telepon.


Saat panggilan itu mati, Valentino masih menatap ponselnya. Selama kembali dia tidak pernah menghubungi Chanel walaupun dia sangat ingin mendengar suaranya, jadi yang bisa dia lakukan hanya bertanya pada Bi Tuti.


“Iya Tuan,“ jawab Bi Tuti.


“Bagaimana keadaan Chanel?“ tanya Valentino.


“Baik Tuan, bahkan selera makannya tambah banyak dan juga__“


Watashi no tabemono wa junbi ga dekite imasu ka?


Tiba-tiba suara itu terdengar membuat Valentino mengernyit dan bertanya. “Apa itu Chanel?“


“Iya Tuan, sekarang nona sedang mempelajari bahasa Jepang!“

__ADS_1


“Apa Chanel ngidam jadi wibu?“


__ADS_2