
Langit tampak merah saga pertanda senja akan segera menjemput malam. Salma baru saja pulang dari kantor pekerjaannya sebagai konsultan IT di sebuah perusahaan migas ternama di kota Kairo memang mengharuskannya untuk banyak kehilangan waktu luang. namun Salma sangat menikmati hal itu dengan dia bekerja selain dapat mewujudkan keinginannya untuk menaikkan level financial keluarganya Salma juga jadi tidak banyak waktu untuk memikirkan masalah pribadinya. Meski saat ini setatusnya masih sah sebagai seorang istri namun hanyalah setatus diatas kertas, ini sesuai dengan keputusan yang telah mereka sepakati karena mereka lebih nyaman jika hanya sebagai sahabat dan saudara. Raziq telah memikirkan semuanya jauh sebelum dia memutuskan untuk menerima perjodohan itu.bukan maksudnya untuk mempermainkan sebuah pernikahan tetapi untuk saat ini itulah yang terbaik dengan status mereka sebagai suami istri Raziq dapat menjaga Salma dengan baik.
Salma yang merasa lelah setelah beraktifitas seharian di kantor kemudian merebahkan tubuhnya di sofa kamar, Zahra yang begitu perhatian akhir akhir ini Salma memang selalu menampakkan wajah tak bersemangatnya. Zahra yang merasa curiga dengan keadaan ini akhirnya memberanikan diri untuk berusaha mencari tahu
"Assalamualaikum..Salma Boleh kakak masuk ?"
suara Zahra ketika berada di depan pintu kamar yang tampak terbuka
"ohh..Kak Zahra, masuk kak "
Salma menoleh kemudian mempersilahkan Zahra untuk masuk
"ada apa seperti beberapa hari ini kakak perhatikan wajah kamu seperti kurang bersemangat, apa kamu sedang ada masalah ?"
selidik Salma setelah duduk di sofa bersebelahan dengan Salma
"nggak kok kak nggak ada apa apa, aku cuma sedikit capek saja " jawab Salma berharap dapat menghilangkan kekawatiran Zahra
"ayo Lah cerita sama kakak Salma kita ini kan saudara Salma kamu tidak bisa main rahasia-rahasia sama kakak dan juga mas Raziq. kamu sudah kami anggap sebagai adik kami "
Salma menghela nafas panjang kemudian membuangnya dengan perlahan
"ternyata berharap pada ketidak pastian itu melelahkan ya kak "
Salma memulai membuka percakapan
"Salma yang kamu maksud itu harapan yang bagaimana ?"
" harapan yang Salma sendiri tidak tahu apakah itu masih ada atau sudah hilang kak, tapi hati dan keyakinan Salma masih selalu mengharapkan nya dan suatu saat nanti menjadi kenyataan yang nyata"
__ADS_1
untuk saat ini Salma hanya bisa menjadi pendengar yang baik.
"salah ya kak kalau Salma masih menaruh harapan pada perasaan yang ada di hati Salma?"
ucapnya sambil berair mata
" Salma...maaf ya kalau kakak boleh memberikan saran sebaiknya kamu selesaikan dulu urusan perasaan dan hatimu itu dengan baik agar kamu tidak tersiksa seperti ini. kakak tahu Salma ikatan kamu dan mas Raziq secara tidak langsung juga yang menyebabkan ini semua menjadi semakin rumit."
Zahra menatap Salma dengan perasaan yang mendalam seolah merasakan beban perasaan Salma saat ini. Zahra memang wanita yang luar biasa semua yang ada pada dirinya selalu membuat Zahra kagum menurutnya dialah istri yang sholehah
"Kak Zahra..."Salma pun membenamkan dirinya dalam pelukan Zahra, pelukan hangat seorang sahabat, dan kakak perempuan
"kamu tenang ya.. nanti kakak bantu sampaikan dengan mas Raziq mungkin sudah saatnya mas Raziq melepaskan ikatan itu"
"Kak.. dosakah jika Salma masih merindukan seseorang yang sekarang Salma tidak tahu keberadaannya "
"heyyy... jadi kamu sedang merindukan kekasih hatimu itu toh " Zahra menggoda Salma seketika pipinya merona
" kak jujur Salma masih merindukan sosok Reynand meski sudah beberapa tahun kami tidak lagi saling berkomunikasi, tapi entah kenapa hati ini masih selalu mengharapkan nya , meskipun Salma tahu kami tidak mungkin bisa bersatu"
"Salma...kakak hanya tidak ingin kamu semakin terluka nantinya jika kamu tetap pada pendirianmu, kamu harus bangkit Salma harus memperjuangkan masa depanmu, tidak mungkin kamu terkungkung pada masa lalu seperti ini terus. "
"iya kak Salma tahu itu,.mungkin Salma butuh sedikit waktu lagi "
"baiklah Salma..kakak ke kamar dulu sepertinya Ammar sudah bangun"
Ammar adalah putra Raziq dan Zahra bayi tampan itu kini telah berusia hampir 1 tahun, selain Raziq dan Zahra kehadiran Ammar juga menjadi penyemangat untuk Salma menjalani hari harinya di sini.
********
__ADS_1
Sementara itu jauh di belahan bumi Indonesia di kediaman keluarga Dhanlee telah terjadi ketegangan dan perdebatan, keluarga Reynand sangat terpukul dan syock dengan keputusan Rey yang berpindah keyakinan, Rey kini telah menjadi mualaf lebih tepatnya sudah sejak setahun lalu.
"Rey...apa keputusanmu berpindah keyakinan itu ada hubungannya dengan seorang perempuan yang bernama Salma yang menurut Fanny dia sudah menikah dan sekarang tinggal di luar negeri?"
suara Mami Linda memecah ketegangan yang ada setelah semuanya saling diam
"tidak mami..keputusan ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan Salma, bahkan selama dua tahun ini kami tidak pernah lagi komunikasi lagi pula Salma sudah menikah dan pastinya sekarang mereka sudah bahagia "
ucap Reynand matanya tampak menerawang jauh, terlihat jelas jika matanya masih menyimpan kerinduan yang mendalam pada sosok Salma
"Rey.. papi dan mami bukanya melarang mu berpindah keyakinan bukankah keluarga kita ini sangat demokratis , kamu sudah dewasa kamu punya hak sepenuhnya atas apa yang menjadi keputusanmu, kami hanya tidak ingin kamu melakukan itu bukan atas dasar kemauan mu yang benar benar murni datang dari dalam hati kamu sendiri, "
Papi Rey tampak menengahi ketegangan itu dengan bijak
"pi..mi... sebenarnya Rey sudah lama tertarik pada keyakinan ini jauh sebelum Rey mengenal Salma sejak Rey kuliah di Jogja rasa penasaran dan tertarik itu sudah ada namun Rey berusaha untuk tidak mempedulikannya, saat di Jogja teman kuliah Rey sudah beberapa kali mengajak Rey masuk dalam masjid dan pernah beberapa kali juga bertemu dengan ustad disana, dan keinginan itu semakin kuat saat Rey mengenal Salma namun Rey belum berani mengambil keputusan saat itu, karena Rey belum sepenuhnya yakin."
Rey tampak serius menceritakan perjalanan Religiusnya pada keluarganya bahwa ketertarikannya pada Islam sudah jauh hadir terlebih dahulu sebelum dia mengenal Salma. semua itu murni karena hidayah yang datang padanya.
"jika itu memang keputusan yang terbaik untukmu mami dan papi hanya bisa merelakannya. pesan kami jika kamu sudah benar benar meyakini nya maka kamu harus benar benar menjalankannya. jangan keyakinan kamu jadikan permainan. "
"terimakasih ya pi, mi selamanya kita adalah keluarga. terimakasih untuk kerelaan hati papi dan mami terimakasih untuk pengertiannya dan juga dukungannya. semoga dengan ini Rey bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi pii mii, Rey janji tidak akan kecewakan kalian "
ketiganya pun saling berpelukan penuh haru. tak terkecuali Fanny juga ikut nimbrung
"i love you more, " suara Rey penuh haru mengakhiri ketegangan itu dengan pemahaman yang bijaksana dan penuh toleransi.
TERIMAKASIH UNTUK READERS MIHON UNTUK LIKE, DAN KOMENTARNYA UNTUK KARYA INI.
mohon maaf ๐๐ป๐๐ปkarena adanya kesibukan yang padat di awal bulan puasa jadi AUTHOR beberapa hari tidak bisa up date episode berikutnya.Tapi mulai sekarang AUTHOR akan selalu usahakan untuk ap date setiap hari TERIMAKASIH UNTUK DUKUNGANYA ya pembaca setia. semoga kita bisa saling menebar manfaat.
__ADS_1