
Hari belumlah malam setelah selesai sholat isya berjamaah dilanjutkan dengan makan malam bersama di rumah orang tua Salma, meski tak banyak terjadi percakapan di meja makan, karena kelurga ini sangat menghindari kebiasaan berbicara di meja makan. mereka lebih memilih berbincang sebelum atau sesudah makan selesai. sementara Bapak dan Ibu Marwa berbicara di ruang keluarga sambil menonton acara televisi Salma bergegas membereskan dapur, mencuci piring yang kotor habis mereka pakai tadi Salma pun masuk ke dalam kamarnya. tak lama diikuti Raziq, dada Salma berdebar jantungnya berdetak lebih kencang, ketakutannya semakin menjadi setelah Raziq mengikutinya masuk ke dalam kamarnya setelah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur Raziq pun menghampiri Salma yang terlihat begitu gugup dan canggung tengah duduk di tepi ranjang.
"Emhh..Sa..lma, boleh aku duduk di sini?"
tanya Raziq dengan hati hati dan sedikit ragu
Salma hanya menjawab dengan Anggukan
pikiran dan hatinya sedang kacau,
"Salma malam ini habislah kamu, mas Raziq pasti kan meminta haknya malam ini dan kamu tidak bisa mengelaknya lagi Salma"
ucapnya sendiri dalam hati
jantung salma kembali bergejolak setelah Raziq benar benar mendudukan dirinya tepat disebelahnya.
"Salma.."
"jaaa jangan sekarang"
pekik Salma kemudian berlari menuju kursi Di depan meja rias. sementara Raziq terkekeh melihat ketakutan Salma
"heyy..kamu kenapa ketakutan seperti ini Salma? kita kan sudah saling kenal dan dulu begitu dekat, Bahkan aku sudah pernah menggendongmu di punggungku waktu kamu terjatuh dari sepeda dan kakimu terluka sampai tak bisa berjalan. dan beberapa kali menggendongmu ketika sedang menginap dirumah dan tertidur ketika sedang menonton Tv"
kelakar Raziq
"masalahnya kan beda keadaanya dengan sekarang mas, lagi pula waktu itu kan kita masih belum dewasa"
Salma tampak malu malu
"belum dewasa gimana aku masih ingat betul waktu itu kamu sudah hampir lulus SMA"
sanggah Raziq
__ADS_1
" ya pokoknya beda lah mas dengan sekarang"
Salma masih mempertahankan argumennya
"apa bedanya justru sekarang kita berstatus suami istri dan otomatis kita muhrim yang nggak ada dosa dan harramnya untuk kita"
"maksud Salma dulu kita masih polos dan belum seperti sekarang ini mas"
"jadi.. kamu mau bilang kalau hubungan kita sekarang ini sudah luar biasa gitu? hebat ya kamu sekarang sudah semakin dewasa saja, terakhir kita ketemu pas kamu sebelum berangkat merantau ke pulau Batam. wahhh rupanya Batam sudah mengajarkan mu banyak hal ya ?"
"apaan sih mas. ya iyalah menjadi perantau itu kan mengajarkan kita banyak hal, setidaknya kita harus bisa mandiri, dan nggak cengeng. "
"Tapi setahuku kota Batam itu termasuk kota yang unik yang syarat dengan berbagai Jargonya, seperti kalau menyebut kan minuman es teh misalnya masak disebutnya Teh obeng? , lucu saja denger nya masak teh pakai obeng."
Raziq tampak terkekeh
Sepertinya Raziq sengaja menggoda Salma untuk merilekskan suasana hati Salma
"Salma..mari kita bicarakan masalah kita ini, kemarilah"
Salma pun perlahan mendekat dan duduk bersebelahan dengan Raziq
"Sal..kita ini kan bukan anak Remaja lagi, mas tahu situasi ini tak mudah bagimu, juga bagi mas, mungkin kamu berpikir kalau aku ini sudah begitu jahat mau begitu saja menerima perjodohan ini mengingat dulu hubungan kita yang sangat dekat selayaknya saudara kandung "
"Salma bingung mas harus berkata apa sekarang, kenyataanya kita sudah resmi menikah"
" mas paham dengan perasaanmu Salma, sulit bagimu untuk bisa menerima kenyataan ini, tapi setidaknya kamu hanya harus sedikit bersabar, niatkan semua untuk menunjukkan rasa bakti kita pada orangtua dan mendiang kakek. karena itu kita jalani saja dulu pernikahan ini untuk bagaimana akhirnya nanti biarlah Allah yang mengaturnya. setidaknya amanat itu sudah kita tunaikan untuk kenyataanya jodoh kita sampai dimana itu sudah bukan kuasa kita. aku tahu kamu masih mencintai pemuda bernama Reynand itu."
DEGGG
Hati Salma kembali bergejolak mendengar Raziq menyebut nama itu
"menurutku Reynand lelaki yang baik, pengertian dewasa, dan cukup bertanggung jawab terhadap perasaannya terhadapku "
__ADS_1
"Dari mana mas Raziq bisa menyimpulkan demikian sedangkan kalian belum saling kenal ?"
tanya Salma sedikit penasaran. sementara Raziq tersenyum melihat Gadis kecil yang dulunya selalu di anggap seperti adik kandungnya, meski kini menjelma menjadi perempuan dewasa yang sungguh mempesona dan resmi berstatus istrinya
" Kami pernah kok bertemu waktu malam sebelum kita menikah "
"apa ??? mas Raziq bertemu dengan Rey?"
Salma tampak begitu kaget
"Iya.. kami pernah bertemu, untuk sekedar berbicara masalah peralihan hak seorang perempuan yang berstatus kekasih hati untuk di titipkan pada seorang lelaki yang berstatus sebagai suami"
"maksud Mas Raziq apa, ??!! apa menurut mas saya ini barang sehingga bisa di pindah alihkan"
Salma tampak begitu tersinggung dengan kata kata Raziq, dia merasa dirinya tak ubahnya sebuah benda yang bisa dipindah alihkan dari keduanya.Salma kembali terdiam, terlihat nyata betapa hatinya saat ini sedang rapuh karena harus terpaksa mengakhiri hubungan cintanya dengan kekasih yang sangat di cintanya.
"Kalau mau nangis jangan di tahan, udah lepaskan saja setidaknya itu akan membuat hatimu lega"
Raziq memang sosok lelaki yang cukup perhatian dan pengertian terhadap Salma hal itulah yang selalu membuat Salma merasa nyaman dengan Raziq meskipun beberapa tahun terakhir mereka jarang bertemu.
"kamu tidak perlu khawatirkan hubungan kita ini, kita hanya butuh keberanian untuk saling mengiklaskan dan menjalani dengan tulus"
"maksudnya mas Raziq kita akan menjalani semua ini seperti selayaknya sebuah pernikahan dimana ada suami dan istri di dalamnya ?"
Raziq tersenyum penuh misteri, sambil beranjak meraih selimut dan bantal yang tersusun di atas tempat tidur
" satu hal yang harus kamu tahu aku sudah berjanji akan menjagamu sebaik mungkin, sampai saatnya nanti hati itu telah siap untuk menjemputmu kembali "
ucap Raziq sebelum membenamkan diri dalam selimut dan memejammkan mata
"maksud mas Raziq ??"
Salma tampak bingung dan merasa ambigu dengan ucapan Raziq barusan
__ADS_1
Salma merasa bingung penuh tanya mengapa Raziq memilih tidur di lantai dengan membentang karpet di bawah tempat tidur Salma. dia pun tersenyum malu mengingat tadi dia sudah begitu ketakutan dan paranoid kalau sampai Raziq mengambil haknya malam ini. namun kenyataanya tidak Raziq masih seperti yang dulu yang selalu menjaga dan melindungi Salma. dan pada akhirnya malam pertama pernikahan mereka berlalu begitu saja tanpa terjadi peperangan di ranjang.
HAYYY....pembaca setia mohon maaf ya ini karya pertama ku di Novelltoon mohon maaf jika alur ceritanya kurang menarik, masih tahap belajar . mohon keilkasananya untuk kritik saran dan komen ya demi perkembangan karya ini agar lebih baik lagi. terimakasih untuk yang bersedia membaca, dan yang belum membaca mohon sekiranya mencoba terlebih dahulu .🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻