
Matahari menyunggingkan senyum ramahnya, Rey sudah tampak rapi dengan celana jeans hitam kaos putih dan jacket senada dengan celananya, tak lupa kaca mata hitam diselipkan disela krah kaos nya.dengan cekatan tangannya menarik koper yang terletak diujung kamarnya. tak lama kemudian menuruni tangga menuju meja makan. disana sudah ada Papi dan Fanny mami Linda masih sarapan di kamarnya karena masih belum sembuh.
"morning pii.., Fan "
sapa Rey sambil meraih Segelas kopi yang tersaji di meja makan,
"morning to..koko ku sayang"
balas Fanny
"oh iya Rey pesawat kamu berangkat jam berapa?"
tanya Papi nya
"jam 9.30 Pii"
jawab Rey sambil menyuapkan nasi goreng dalam sendok ke mulutnya
"kamu cepet selesaikan study kamu supaya kamu bisa konsentrasi penuh pada bisnis papi, kamu liat sendiri Kan usia papi sudah tak muda lagi, sudah saatnya papi pensiun dan menikmati masa tua papi sambil menemani mami kalian"
ucap papi Rey dengan sambil menikmati sarapannya
"Iya pii Rey juga tinggal keluarkan tugas akhir Rey pii, setelah itu Rey akan fokus menangani bisnis papi"
"hemmm...sepertinya kode keras juga nih kapan kak Rey mau merrid udah waktunya loh tapi kok belum juga ada yang di kenalkan ke papi mami sih, padahal dulu saja waktu masih SMA tiap minggu ganti tuh yang di pacari"
Fanny nyerocos panjang lebar hingga membuat Rey gemes dan mencubit pipi kemerahan adiknya
"awwww.. sakit kak.."
Fanny menjerit sambil memegangi pipinya yang memerah
"adik kamu ada benarnya juga Rey. kamu sudah 27 tahun sudah waktunya juga memikirkan jodoh, karena papi tak ingin kamu nantinya seperti papi terlambat menikah akhirnya udah setua ini anak anak belum ada yang menikah"
"papi tenang saja, setelah dapatkan yang cocok Rey akan secepatnya menikah"
"Kalau Salma gimana? apa kakak tidak merasa cocok?
celetuk Fanny, sampai sampai Rey nyaris tersedak ketika menelan air putih pertanda menyudahi sarapannya
"Tuuhh kan liat Pii kakak sampai gugup gitu, berarti benar dhonk kakak ada apa apa dengan Salma?"
Rey hanya terdiam menunduk sesaat kemudian menarik nafas dalam dalam dan dengan cepat.
__ADS_1
"benar yang di katakan Fanny itu Rey? kamu ada hubungan dengan teman Fanny yang berjilbab itu?"
papi Rey penasaran
"emmmhh iya pii tapi dah putus kok dan hari ini dia akan menikah di jodohkan dengan seorang anak kerabatnya"
"nggak..nggak mungkin kalau Salma mau nikah kalau bener Salma mau menikah pasti aku di kasih tahu lah Pii, kak"
Fanny tampak begitu kaget mendengar hari ini Salma sahabatnya itu mau menikah tanpa memberi tahu dia.
" kakak nggak bohong Fan kemaren kakak habis dari rumahnya kok waktu lamaran "
"apa ??!! kakak di rumahnya waktu lamaran?? maksudnya gimana sih kak nggak ngerti Fanny:
"jadi gini Fan waktu kemaren Salma pulang dari Rumah sakit menjenguk mami Kakak antar Salma pulang, dan Salma kaget ternyata dirumahnya ada acara lamaran untuk dirinya"
Rey menceritakan kejadian sebenarnya yang kemaren dia saksikan di rumah Salma.
"Kalau begitu kakak tahu dhonk siapa orang yang di jodohkan dengan Salma?"
"namanya Raziq anak salah satu kerabat Bapak nya Salma "
"Raziq?? sepertinya nama itu nggak asing"
Fanny mencoba mengingat nama itu
"sepertinya memang benar orang itu"
Rey menyetujui ucapan Fanny, tampak sekali ada kekecewaan dan kesedihan di pelupuk mata Rey
" kakak nggak apa apa kan?"
Fanny mencemaskan keadaan kakaknya, meskipun sebenarnya dia kecewa dengan Rey dan Salma yang selama ini menyembunyikan hubungan cintanya
"hemmm aku nggak apa apa kok kakak pasti secepatnya bisa move on"
Fanny menepuk pundak kakak lelakinya sebagai isyarat menguatkan hati sang kakak.
Sementara itu jarum jam telah menunjuk pada angka 08 :15 Salma sudah selesai di make up tamu undangan yang hanya kerabat dekat sudah siap untuk menyaksikan pernikahan Salma dan Raziq. Rey sudah dalam perjalan ke Bandara sepanjang perjalan pikirannya hanya terfokus pada Salma.
"Rey...sebentar lagi aku akan menikah dan itu artinya tak ada lagi kesempatan untuk bersama" ucapnya lirih
Salma masih duduk di meja rias airmata berderai begitu derasnya sambil terus memandangi photo Rey yang ada di layar ponselnya
__ADS_1
"aduh mbak , mbak Salma nangis?? liat tuh make upnya jadi luntur kan"
suara tukang Make up yang mendandani Salma dari pagi, menyadarkan lamunan Salma seketika dia pun berusaha mengusap bekas lelehan air matanya.
"maaf ya mbk Salma saya rapikan kembali tapi mbak Salma udah ya menangisnya "
Salma hanya mengangguk mengiyakan
tiba tiba ponsel Salma bergetar dan berbunyi rupanya video call dari Rey, Salma dengan cepat menarik tombol layar warna hijau.
" hay...Salma "
Rey tampak bersemangat meski dia harus menyembunyikan kenyataan yang sebenernya
sementara Salma hanya menjawab dengan menangis
"Salma..Salma dengar aku, kamu tatap mataku, aku video call kamu hanya untuk pamit hari ini aku kembali ke Singapura kamu janji sama aku, kamu janji kalau kamu bakal menjalani pernikahan ini dan kamu harus jadi istri yang baik untuk suamimu , kamu jangan khawatirkan aku, aku pasti bakal move on secepatnya."
Salma hanya bisa menangis dan terisak sambil menyeka air mata yang sulit untuk dia bendung
"hey...dengarkan aku..pengantin itu nggak boleh sedih harus senyum... aku pingin liat senyuman termanis dan tertulus kamu saat ini, karena hari ini terakhir kalinya kita berkomunikasi"
Rey terus membujuk Salma supaya bisa berdamai dan menerima keadaan
Salma pun menuruti keinginan Reynand dengan tersenyum meski terasa berat
"baiklah seperti itu kan cantik., terimakasih ya Salma sampai jumpa dimasa yang akan datang"
tutup Reynand menyudahi panggilan video call nya.
"Raziq alfatih bin Abu Somad"
"ya saya"
"aku kawinkan dan aku nikah kan engkau dengan anak perempuanya saya yang bernama Salma Arluna Cahyani dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan kalung emas dibayar tunai!"
"saya terima nikah dan kawinya Salma Arluna cahyani binti ahmad cahyono dengan mas kawin tersebut di atas tunai"
"bagai mana saksi? SAH?"
"SAH.!!"
"Alhamdulillah "
__ADS_1
bulir bulir kristal pun mengalir menuruni kedua belah pipi Salma seharusnya ini airmata kebahagiaan bukan airmata kepedihan mengingat hari ini dia telah resmi menyandang status baru yaitu sebagai seorang istri.
Acara pernikahan hanya digelar sederhana dengan dihadiri kerabat terdekat saja, karena esok hari Raziq sudah harus kembali ke Kairo pekerjaannya sebagai Dosen disana telah menunggunya mengingat semester baru baru saja di mulai. sebab itulah Raziq harus secepatnya kembali dan memboyong Salma untuk ikut dengan karena kini status mereka adalah suami istri.