Seluit Cinta Salma

Seluit Cinta Salma
episode 16. Rasa yang pernah hilang


__ADS_3

Salma masih terdiam tak bergeming mengingat kembali pernyataan Rey sore tadi Salma tampak begitu memikirkan pernyataan


"kamu benar Salma, sebab itulah dulu aku melepaskanmu karena aku merasa belum pantas untukmu, aku tahu sekian tahun kita berpisah saling menahan sakit dan kerinduan itu karena Allah sedang memantaskan diriku untuk menjadi lebih baik agar bisa menjadi imammu "


"apakah itu artinya Rey masih menungguku?"


ada rasa bahagia yang tiba tiba menyeruak dalam hatinya, kebahagiaan yang beberapa tahun lalu sempat ia rasakan.


tak lama terdengar notifikasi pesan whatsapp dari hand phone miliknya, diraihnya handphone yang diletakkan diatas kasurnya


" Assalamualaikum Sal "


"waalaikumsalam "


"besok ada acara ?"


"kayaknya tidak🤔 "


"besok aku jemput jam 10 pagi ya?"


"jemput kemana ?"


"ada pokoknya dan kamu harus mau"


"widihhh kok maksa gitu "


"untuk kali ini memang harus sedikit memaksa"


"ya baikklah kalau itu maumu"


" ok, sampai jumpa besok ya, "


"asiappp opa Rey "


"kamu panggil apa ? OPA!😡"


"loh...emang kenapa kamu kan memang mirip Opa opa Korea yang ada di DRAKOR "


"hemmmsss.. mulai berani menggodaku ya ?"


"baiklah Opa ganteng sudah malam sampai jumpa besok ya"


" ok...good night and have nice dreams"


"night to😴"


Salma pun tersenyum sumingrah kemudian meraih seperti anak kecil yang menemukan kembali mainannya yang sempat hilang selimut dan tidur dengan nyenyak ya.


sementara Rey masih berkutat dengan masalah pekerjaannya lelaki itu begitu serius memandangi laptop nya setelah tadi sempat tertunda beberapa waktu karena ditinggal chating dengan Salma. jarum jam telah menunjuk pada angka 23.00 pekerjaan Rey pun telah selesai setelah menutup kembali laptop dan menyimpan berkas berkas lainya Rey pun beranjak dari meja kerjanya menuju kamar untuk beristirahat. setelah mengambil wudhlu dan bersiap untuk tidur, namun ia menuju ke laci meja sebelah tempat tidurnya mengambil sebuah benda kalau di perhatikan itu seperti kotak cincin.


"seharusnya ini aku berikan untukmu tiga setengah tahun yang lalu Sal.., tapi aku tak memiliki keberanian saat itu karena aku tahu aku belum pantas dan belum mampu untuk menjadi imammu, tapi kali ini aku akan melakukannya"


Rey pun memasukkannkembali cincin dalam wajahnya dan menyimpannya kembali dalam tempat semula. tak lama Rey pun tertidur dengan puasnya.

__ADS_1


Pagi ini begitu cerah matahari menyapa alam dengan ramahnya, Salma yang sedari subuh tadi sudah melakukan aktivitas mulai dari memasak membersihkan rumah membantu ibunya membersihkan diri karena untuk saat ini bu Marwa masih belum pulih total sehingga mengerjakan segala sesuatunya masih harus di bantu orang lain. sementara pak Cahya kini menekuni usaha mebelnya yang cukup berkembang dengan di bantu 5 orang karyawan.


terlihat jelas warna kebahagiaan dari wajah Salma dan hal itu turut dirasakan oleh ibunya bu Marwa yang sedari tadi memperhatikan putrinya yang terlihat sangat bersemangat pagi ini.


"sepertinya kamu sedang bahagia nduk ?"


"maksud ibu ?"


"ibu perhatikan dari tadi kamu senyum senyum wajahmu juga berseri pati kamu sedang bahagia kan ?"


bu Marwa berusaha mencari tahu


"kan memang Salma selalu bahagia bu" jawab Salma sekenanya


"apa itu karena nak Rey ?"


Salma terdiam sesaat kemudian menyunggingkan senyumnya


"kenapa ibu mengira seperti itu?"


"karena ibu tahu kalian masih sama sama mengharapkan untuk bisa bersama, tapi bagaimanapun juga ada perbedaan yang akan sulit untuk kalian satukan nantinya, dan bapak mu pasti tidak akan menyetujui hubungan kalian itu "


"kalau yang ibu maksud perbedaan itu adalah keyakinan Rey ibu tidak usah khawatir karena perbedaan itu sudah tidak ada, sebenernya Rey sudah mualaf sejak dua tahun lalu bu "


"masyaallah, subhanallah alhamdulillah sayang jika itu sudah terjadi"


bu Marwa sangat antusias bahkan suaranya begitu nyaring sehingga Pak Cahya dapat mendengarnya dari ruang makan.


"ada apa bu, sepertinya kalian bahagia sekali?" usut pak Cahyo


"bapak tahu tidak kalau nak Rey itu sekarang sudah menjadi mualaf semenjak 2 tahun yang lalu "


"alhamdulillah..bapak seneng denger nya, semoga ini bisa menjadi jalan untuk kalian bersatu lagi" ucap pak Cahya senang karena sesungguhnya dia sangat berharap itu


"berarti bapak setuju kalau Salma dan nak Rey bersatu ?" tanya bu Marwa bersemangat


"asalkan dia benar benar mencintai anak kita dan tidak akan pernah menyakitinya, bapak setuju dan bapak ikhlaskan itu, bapak tahu sebenernya Rey adalah lelaki yang baik, dewasa dan bertanggung jawab bapak suka dengan kepribadiannya "


mendengar pak Cahya begitu memuji Rey airmata Salma pun tak bisa ditahan


"maafkan bapak dan ibu mu ya nduk karena keegoisan kami menjodohkan mu dengan Raziq kamu harus mendapat beban penderitaan seperti ini, kamu terpaksa harus menyandang status Ja*** "


kedua orang paruh baya itu kemudian memeluk putrinya bersamaan


"sudahlah pak bu, tak ada yang perlu kita sesali, semua memang sudah di hati akan Allah harus seperti ini, Salma tidak menderita kok pak dan Salma tidak pernah menyesali itu, justru Salma bahagia dengan adanya pernikahan itu Salma jadi bisa tinggal dan bekerja di Kairo dan akhirnya bisa sedikit membantu keluarga kita untuk bisa lebih sejahtera pak. mas Raziq dan mbak Zahra adalah orang yang sangat baik mereka selalu membuatku happy dan sudah mengagapku sebagai keluarga"


pak Cahya sangat bangga memilik anak seperti Salma gadis yang patuh pada orang tua.


sementara Rey sudah siap dengan mengenakan pakaian casual yang tampak serasi berpadu dengan celana jeans hitam dan sepatu santai karena hari ini weekend dan dia sudah memiliki janji dengan Salma dengan penuh semangat ia pun segera berangkat menuju rumah orang tua Salma. kebetulan sejak kembali dan menetap di kota ini Rey memutuskan untuk tinggal di rumahnya sendiri terpisah dari orangtuanya. dan biasanya saat weekend mereka berkumpul di rumah keluarga Dhanlee yaitu orang tua Reynand.disini Rey tinggal hanya dengan asisten rumah tangga dengan suaminya yaitu bik Minah dan mang Karta sebagai security. Rey pun bergegas keluar rumah dan mengendarai mobilnya menembus jalanan yang sedikit sepi hingga hanya dengan waktu 50 menit telah sampai di pinggir kota untuk menemui Salma di rumah orang tuanya. setelah memarkirkan mobilnya dengan baik Rey pun keluar dan menuju pintu pagar yang tak pernah di kunci kemudian mendekat ke daun pintu dan memencet ball


tak lama pintu pun terbuka sesosok lelaki paruh baya tampak membukakan pintu


"assalamualaikum pak "

__ADS_1


Rey memberi salam dan menyodorkan tangan ya disambut oleh pak Cahya sambil menjawan salam kemudian dicium punggung tangan itu oleh Rey


"waalaikumsalam nak Rey, mari silahkan masuk "


ajak pak Cahya dengan ramah, hal itu sangat berbeda dengan sikap pak Cahya beberapa tahun lalu, terkesan acuh dan dingin. namun kali ini berbeda Rey di sambut dengan hangat dan ramah


"silahkan duduk nak" tangan pak Cahya memberi isyarat untuk Rey duduk


"iya pak terimakasih "


"nak ..maafkan bapak ya kalau dulu bapak sering bersikap tidak baik terhadapku, bahkan bapak sempat mengacuhkanmu"


pak Cahya dengan besar hati mengakui kesalahannya di masa yang lalu kemudian meminta maaf


"bapak jangan berkata seperti itu, saya tidak pernah mempermasalahkan hal itu dan saya maklum kenapa waktu itu bapak bersikap seperti itu terhadap saya. tapi bapak tak perlu khawatir saya sudah memaafkan dan melupakan itu semua pak"


pak Cahya merasa lega setelah mendengar pengakuan Rey. tak lama Salma keluar sambil memegangi tangan ibunya bu Marwa memang belum pulih sepenuhnya.


"ibu. bagaimana keadaannya sekarang "


sapa Rey saat melihat bu Marwa berjalan menuju ruang tamu dengan di dampingi salma


kemudian duduk disamping kiri pak Cahya


"alhamdulillah nak sudah lebih baik " jawab bu Marwa dengan senyum


"gimana Sal kamu sudah siap ?" tanya Rey pada Salma dan hanya dijawab dengan anggukan dan senyum tipis


"Pak, bu, sebelumya saya minta maaf karena kedatangan saya kesini mau mengajak Salma untuk jalan jalan, tapi selain itu terlebih dulu saya mau meminta persetujuan bapak dan ibu, bagaimana kalau saya meminta Salma untuk menjadi pendamping hidup saya apakah bapak dan ibu merestui niat baik saya "


Salma merasa terkejut dengan perkataan Rey barusan padahal sebelumnya Rey tak pernah menyinggung masalah ini, bahkan tadi malam dia hanya bilang mau ngajak jalan itu saja.


"bapak dan ibu menyerahkan semua putusan pada Salma sepenuhnya kalau kami berdua merestui niat baik nak Rey "


mendengar jawaban Kedua orang tua Salma merasa lega karena sudah mendapat lampu hijau.


"ya sudah pak bu, kalau begitu kami pamit mau jalan duluan ya "


"hati hati di jalan ya nak " ucap bu Marwa


"pasti Rey akan menjaga putri kesayangan bapak dan ibu ini dengan baik"


"assalamualaikum "


setelah berpamitan dan menyalami kedua orangtua Salma Rey dan Salma beranjak dan keluar dari rumah menuju mobil yang terparkir di luar pagar


visual Reynand Dhanlee




visual Salma Arluna cahyani

__ADS_1


Terimakasih yang sudah membaca cerita ku semoga suka dengan ceritanya🤲 mohon maaf jika banyak Typo atau pun alur cerita yang belum sesuai. AUTHOR mohon dukungannya untuk like dan comentnya🙏🏻🙏🏻😍


__ADS_2