
Pagi ini Salma terbangun dengan perasaan yang lebih baik, setelah istirahat semalaman energinya seperti terisi penuh kembali.
ia menggeliat dan berusaha mengumpulkan kembali nyawanya setelah terkumpul penuh ia pun menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuhnya kemudian merapikanya dan segera beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera menunaikan ibadah sholat subuhnya.
setelah selesai mengerjakan sholat subuhnya entah kenapa perutnya bergejolak seperti diaduk - aduk hingga dengan setengah berlari ia menuju washtuffel
hoekk hoekk...
seluruh isi di perutnya keluar semua menyisakan cairan kuning yang terasa sangat pahit
" kenapa lagi ini, pasti masuk angin "
gumamnya lirih , karena memang seharian kemaren ia sangat stress dan bahkan tidak makan sama sekali kecuali sarapan Pagi itupun hanya beberapa suap. Dengan sempoyongan dan langkah gontai ia pun kembali menjatuhkan tubuh rampingnya ke atas kasur karena saat ini rasanya seperti tak ada lagi tulang yang mampu menopangnya hingga ia limbung dan memutuskan untuk sejenak merebahkan diri kembali di atas ranjang empuknya.
kepalanya terasa berputar, rasa pening semakin menjadi seperti langit - langit kamarnya nyaris ambruk, dengan langkah tertatih dan tangan terus berpegangan pada dinding ia pun menuju dapur untuk membuat teh hangat manis. meski dirumahnya tersedia dua ART namun Salma tetap berusaha melakukan segala sesuatunya sendiri dan tidak ingin membuat orang lain repot.
dengan tangan gemetaran ia berusaha meraih sebuah cangkir namun belum sampai tubuhnya sudah terlebih dulu roboh dan cangkirpun pecah berserakan
pryaarrr
" astagfirullah .. Nyonya "
pekik Bik Mar yang baru saja keluar dari ruang loundry ketika mendapati sang majikan terkulai lemah luluh ke lantai dapur
" mang Udin... mang tolong Neng Salma tolong Mang "
Bik Mar berteriak meminta pertolongan pada tukang kebun dirumah ini yang kebetulan baru selesai menikmati sarapan paginya di ruang makan khusus pekerja di rumah itu
" loh... ada apa ini Bik kok Nyonya sampai pingsan begini ?"
tanya Mang Udin yang sangat bingung melihat keadaan sang majikan.
" tak tahu Mang , udah buruan bantu angkat ke kamar dulu "
Keduanya pun membopong tubuh lemah sang majikan , dengan sigap Bik Mar segera mengambil minya kayu putih dari laci Obat dan mengoleskanya ke beberapa bagian tubuh Salma dan terpenting di bagian hidung, sebagai upaya pertolongan pertama pada yang mengalami hilang kesadaran atau pingsan. tak berapa lama usaha Bik Mar pun membuahkan hasil Salma tampak mengerakkan jemari tanganya perlahan sepasang matanya terbuka diiringi dengan lenguhan kecilnya
" aghh... apa yang terkadi Bik ? "
tanyanya setelah sepasang netranya menangkap wajah Bik Mar tepat berada sisebelah ranjang tempat ia terbaring
" Alhamdhullillah... akhirnya neng Salma siuman, Bik Mar khawatir setengah mati "
Perempuan berusia 45 tahun itu tampak bernafas lega setelah sang majikan sadar dari pingsanya
" Neng .. apa perlu saya telphonkan dokter atau saya perlu telphonlan Aden Reynand ?"
__ADS_1
Bik Mar tampak masih begitu mengkhawatirkan keadaan majikannya yang selalu menolak di panggil Nyonya melainkan lebih memilih di panggil Neng
" ti.. tidak usah Bik, aku tidak apa - apa, hanya kecapean saja sama kurang istirahat, bibik nggak usah cemas "
" tapi wajah Neng masih sangat pucat dan badanya juga anget "
" nggak apa kok Bik, kalau boleh saya minta Teh manis anget saja Bik, nanti pasti mendingan kok "
" baik.. kalau begitu Bik Mar bikinkan dulu ya Neng "
Salma pun menatap Kepergian bik Mar yang mulai menjauh dari kamar yang ia tempati saat ini hingga menghilang dipenghujung pintu yang terbuka
" akh... kenapa sakit sekali kepalaku, badanku juga lemas sekali, kalau beneran sakit gimana?, tidak.. tidak.. aku nggak boleh lemah aku nggak boleh sakit, saat ini kondisi Mami Susan sedang tidak baik bahkan masih kritis aku harus membantu menjaganya di rumah sakit "
Salma masih tampak bermonolog mengingat keadaan ibu mertuanya yang memang masih kritis pasca insiden jatuh dari tangga di rumahnya kemaren malam
" Neng... ini Teh nya ayo diminum mumpung masih hangat biar mendingan pusingnya "
pinta Bik Mar sambil mengasongkon gelas berisi Teh hangat hasil seduhanya beberapa saat lalu
" iya Bik, terimakasih ya "
Salma pun meraih gelas tersebut dan meminumnya beberapa teguk kemudian diserahkan kembali pada Bik Mar untuk diletakkan di nakas
"Bibik kembali selesaikan pekerkaan Bibik saja saya nggak apa - apa kok Bik "
" nggak apa Neng pekerjaan Bibik sudah hampir beres kok, lagian bibik mau temeni dan pijitin kaki Neng biar cepat pulih "
" Bik.. aku nggak apa kok, nanti kalau butuh bibik saya bisa panggil Bibik "
" tapi Bibik mau temeni Neng Salma dulu, oh iya tadi Neng belum sarapan kan ? bibik ambilin ya atau mau makan sesuatu mungkin ?"
" emhh... iya juga ya Bik saya kan memang belum makan dari kemaren malam, pantas saja tadi sampai pingsan "
" astaqfirullah Neng ... kok bisa sampai nggak makan , Neng itu mau bahayakan diri eneng.?"
" bukan begitu Bik, soalanya kemaren bener - bener lagi nggak karuan situasinya di rumah sakit Mami bem sadar dan masih kritis Bik, jadi nggak sempat memikirkan urusan perut "
" ya sydah sekarang bibik ambilkan makan dulu ya ?"
" terserah bibik saja, tapi rasanya tak berselera bik untuk makan "
" setidaknya makanlah walau satu suap Neng "
" iya Bik , terimakasih ya Bik untuk perhatianya "
__ADS_1
" itu bukan apa - apa Neng , bibik ke dapur dulu ya "
Salma pun mengangguk mengiyakan.
" ayo ini bibik masak sayur sup ayam, sama sambal tomat kesukaan Neng, soalnya bibik nggak tahu mau masak apa tadi jadi Bibik masak asal saja "
" waahh.. makasih ya Bik sepertinya segar sup nya "
Binar bahagia tampak tersirat di wajah Salma meski hatinya kini menyimpan sejuta lara dan beban yang menghimpit hatinya.
" ya udah silahkan dimakan neng "
" saya makan ya Bik "
Salma pun menyendokan nasi beserta sayuran dalam piring yang kini ia pangku, suapan pertama , kedua meluncur dengan mulus ke dalam perutnya namun saat sendokan ketiga Salma merasakan gejolak luar biasa pada perutnya seolah mendesak untuk mengeluarkan apa yag barusaja ia makan
" huukk.. "
Dengan cepat Salma meletakkan piringnya ke atas meja nakas danbsegera berlari ke kamar mandi, Bik Mar punbtampak bingung dengan apa yang dilihatnya, kemudian buru - buru mengejar sang majikan masuk ke kamar mandi
" hoeek.. hoekk "
Salma menumpahkan semua isi dalam perut sampai tak tersisa dan hanya mengeluarkan cairan kuning yang terasa sangat pahit
" Neng Salma kenapa ? apa masakan Bibik tidak enak ?"
tanyanya sambil membantu memijit tengkuk Salma yang masih tertunduk di atas washtuffel
" nggak kok bik masakannya enak, mungkin saya masuk angin sebab telat makan"
" Bibik panggilkan dokter ya? "
" nggak perlu Bik, kayaknya istirahat saja nanti pasti membaik "
" ya sudah kalau begitu ayo bibik bantu kekamar saja "
Salma pun berjalan ke kamar kembali dengan di papah Bik Mar
" terimasih bik, merepotkan bibik terus "
" enggak lah Neng kan sudah jadi tugas bibik untuk membantu Aden dan Neng dirumah ini"
" ya sudah Neng istirahat saja , bibik temeni "
" terimakasih ya Bik "
__ADS_1
Salma pun membaringkan tubuhnya yang terasa lemas, dan membungkus tubuhnya dengan selimut dengan harapan bangun nanti kondisinya akan membaik, mengingat saat ini ia sudah memikirkan hal yang terbaik untuk jalan keluar dari kesalah pahaman yang terjadi antara ia dan suaminya