
Satu minggu telah berlalu semenjak acara camping di pantai, Salma tetap melakukan rutinitas seperti biasa selain sibuk dengan urusan kampus Salma juga mencari tambahan penghasiilan sebagai karyawan paruh waktu di sebuah perusahaan Tour and travel untuk biaya kuliahnya. Selain itu dia juga aktif mengikuti berbagai organisasi di kampus termasuk menjadi anggota BEM di kampusnya.
Senja mulai menjemput malam, sebentar lagi magrib. terdengar bunyi notifikasi pesan whatsapp dari telpon pintar Salma yang tergeletak di meja kamar, Salma yang baru saja selesai mandi dan menyisir rambutnya langsung menghampiri benda pipih tersebut.
"hay ..sal "
sebuah pesan dari nomer baru masuk
"maaf siapa nih?"
Salma sedikit heran karna tidak mengenali nomor dan juga photo profile pengirim pesan tersebut.
Salma hendak membalas chat tersebut namun diurungkan mengingat dia tak mengenal siapa pengirim pesan tersebut. Salma pun kembali meletakkan handphone pada tempat semula.
kemudian kembali ke kamar mandi mengambil air wudhlu dan segera melaksanakan sholat magrib berjamaah dengan bapak ibunya.
setelah selesai sholat salma pun kembali ke kamarnya dan menjumpai hand phone miliknya sudah ada beberapa pesan baru yang masuk dari nomor yang baru tadi
"Sal.."
"Sal.."
"Salma Arluna cahyani "
"sombong ya"
"orang mau menjalin silahturahmi kok di cuekin"
"jangan jangan lagi malam mingguan ya?"
Salma semakin penasaran dengan pengirim pesan tersebut
"maaf ini siapa ya?🤔"
Salma akhirnya membalas
"masa dah lupa sama aku?"
balas nya lagi
" maaf gimana aku bisa ingat kalau kamu saja nggak mau terus terang siapa sebenernya kamu"
"ternyata kamu termasuk galak juga ya, Gue suka "
malas dengan chating nggak jelas yang bertele tele begini baginya itu tidak penting
"jutek amat sih"
"belum jelas !!! kalau niatnya baik silahkan langsung saja sebutkan siapa? kalau niatnya nggak jelas maaf saya nggak ada wktu meladeni anda"
sementara pengirim chat itu semakin tertantang untuk mengerjain lagi sampai akhirnya diurungkan niatanya mengingat mereka sudah pernah begitu akrab
"maaf ya Sal.. aku Rey"
"Rey????"
Salma mengernyitkan dahinya merasa belum yakin. karna setahu salma Rey bukan tipe cowok lebay, dan seperti itu tidak gentleman terlihat bertele tele.
kemudian layar hand phone bergetar ada panggilan video masuk.
"hah..dia ngajak vicall " gumam Salma
tak mau buang waktu untuk meyakinkan dirinya Salma pun menggeser tombol hijau di hand phone nya tak lama sosok tampan berhidung mancung bermata sedikit sipit pun muncul dengan senyum canggung nya.
"hay sal.." sapa Rey di layar hand phone
"Rey..jadi itu beneran kamu??"
"maaf ya aku pikir tadi orang iseng"
"cieeyyy nampak kali sering kena iseng para pengagum rahasia ya" Rey menggoda
"Bay the way..lagi apa nih?" selidik Rey
"nggak ada, " jawab Salma singkat
"emmhhhh..boleh nggak aku main kerumah?"
tanya Rey sedikit ragu
"emmmhh mau ngapain?" Salma balik tanya
"ya main saja, lagipula lusa aku udah kembali ke Jogja lo"
"ya terus apa hubungannya sama aku dengan Baliknya kamu ke Jogja, ?"
"siapa tahu bakal ada yang kangen nanti, masalahnya aku bakal lama balik kesini lagi"
__ADS_1
"G e er banget sih? ya...terserah kamu saja kalau maksa " Salma mengabulkan pinta Rey.
tak mau buang kesempatan Rey pun segera mengambil jacket dan kunci motor yang tergeletak di meja kamarnya.
20 menit berlalu sebuah motor sport tampak berhenti tepat di depan pagar rumah sederhana bergaya minimalis bercat abu2.rumah yang sederhana namun terlihat bersih dan nyaman.
"hay..Sal.." sapa Rey setelah turun dari motornya,
"Rey..beneran kamu kesini? Kok masih inget jalan rumahku?"
"wahhh kamu menyepelekan insting seorang pemburu cinta" celetuk Rey
"apa..? apa tadi ? pemburu cinta??"
"nggak kok bercanda..."
"jadi nggak disuruh masuk nih?"
Rey meminta persetujuan
"emhh..gimana ya, bukan tak boleh masuk rumah masalahnya nggak ada orang Rey"
"loh..bapak ibu kamu kemana?"
"mereka sedang mengahdiri pengajian di ujung jalan besar sana" jawab Salma sambil menunjuk arah yang dia maksud.
"ohh gitu,.." Rey mengangguk seolah paham
"tapi kalau mau duduk di teras boleh kok ..ayok silahkan" Salma tampak sedikit salah tingkah
"oke lah..dari pada aku duduk di motor sepertinya itu lebih nyaman."
"kamu duduk saja sebentar aku ambil minum ya"
belum lagi sempat Salma melangkahkan kaki menuju daun pintu tangan Rey sudah terlebih dulu mencegahnya dengan menarik tangan Salma.
"nggak usah ..terimakasih kamu disini saja, lagi pula aku tidak lama" Salma masih terbengong melihat tangannya masih dipegang oleh Rey
"ma..maaf, refleks"
keduanya tampak canggung dan malu malu
"kok kesannya seperti anak ABG ya kita "
celetuk Rey
"ya malam minggu datangi rumah cewek terus cuma duduk di teras"
"jadi maksud kamu... " belum lagi Salma sempat melanjutkan ucapannya tiba tiba hand phone Rey berbunyi
"sorry sebentar aku angkat telepon ya"
Rey sedikit menjauh dari tempat duduknya tadi setelah tampak berbincang dengan seseorang yang entah siapa, Rey pun kembali ke kursinya.
"maaf ya Sal "
"nggak apa apa kok"
tanpa meminta penjelasan siapa yang tadi menelpon Rey ,lagipula apa hak ku ucap Salma dalam hati.
"sal..emm besok kamu ada acara?" tanya Rey
" nggak ada sih, emang kenapa?"
"temenin aku bisa nggak?" Rey seperti memohon
"temenin kemana?" Salma bertanya lagi mempertegas ajakan Rey
" jalan-jalan. " jawab Rey
"hah..jalan jalan kemana memangnya?" Salma masih belum bisa seutuhnya mencerna ucapan Rey
"ya..jalan jalan ke tempat wisata di kota ini kan sekarang banyak tempat wisata di kota kita yang lagi viral dan instagramnebel "
Salma tertawa cekikikan..sementara Rey tampak terheran
"kok kamu malah tertawa sih, ngeledek ya"
Rey sedikit kesal
"habisnya kamu tu lucu banget, jadi inget yang kamu bilang tadi kalau kita seperti anak SMA"
"udah deh ..jadi gimana mau tidak nemenin besok?"
Salma masih terdiam bingung antara mengiyakan atau tidak. masalahnya Salma tahu kalau bapaknya tidak akan mungkin mengizinkan dirinya pergi dengan Rey apalagi berdua saja.
"gimana ya Rey...emmm"
__ADS_1
"apa orangtuamu tidak memberi izin?" tebak Rey
"bukan gitu..Rey, tapi.." Salma tampak bingung akan memberi alasan apa,
jarum jam menunjuk angka 21:05 tak lama bapak dan ibu Salma pun pulang dari pengajian di masjid. melihat Salma menerima tamu lelaki belum pernah bapaknya lihat sebelumnya jelas saja meradang.
"assalamualaikum " ucap bapak Salma memberi salam namun kali ini dengan nada tak ramah.
"waaaalaikumsalam.." jawab Salma sedikit panik
"bapak sudah pulang?" tanya salma basa basi
"jam berapa ini ?!"
ucap pak Cahyo ketus sambil menunjuk jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
"maaf..maaf pak kalau begitu saya pamit dulu"
Rey sedikit takut menyadari sikap bapak Salma yang tidak bersahabat padanya. namun tidak mendapat jawaban justru ditinggalkan begitu saja ,sambil melangkah kearah daun pintu kemudian masuk ke dalam rumah. sementara ibunya salma merasa tidak enak dengan sikap suaminya terhadap teman anak gadisnya.
"maaf ya nak..atas sikap bapak" bu Marwa merasa tak enak hati
"iya bu tak apa, kalau begitu saya pamit ya bu, Sal"
Rey pun mencium punggung tangan kanan bu marwa diikuti Salma yang mengantar ke depan pagar.
"Salma aku pamit ya.."
"iya Rey..maaf ya"
"iya nggak apa" sesaat kemudian Rey berlalu dengan motornya hingga menghilang diujung gang.
sementara didalam rumah bapak Cahyo sudah menunggu penjelasan Salma tentang siapa pemuda yang baru saja bertamu.
"siapa anak itu? apa pacarmu"
"itu Rey..pak, dia kakaknya Fanny teman kuliah salma pak"
jawab salma dengan nada gemetar dan sedikit hati hati
"jadi mau apa dia kemari malam malam begini bukankah dia bukan teman kuliah mu?"
selidik sang bapak dengan nada seperti sedang menginterogasi.
"di..diia cuma main saja pak" jawab Salma gugup
"oh iya Salma sepertinya sudah saatnya kamu harus tahu satu hal, tentang dirimu dan masa depanmu"
pak Cahyo memulai wejanganya untuk anak gadisnya.
"maksud bapak?"
Salma seperti belum mengerti maksud pembicaraan bapaknya
"jadi sebenernya bapak dan ibukmu sudah memiliki calon suami yang tepat untukmu"
BRAKKK seperti tertimpa sesuatu yang berat di dada salma sehingga membuatnya sesak untuk bernafas
"apa!! bapak sama ibu sudah menjodohkan aku dengan seseorang?"
suara salma meninggi, masalahnya selama ini orangtuanya tidak pernah sekalipun membahas masalah perjodohan itu.
"iya nduk kamu masih ingat dengan anak pak dhe Somad?"
ibunya menimpali
"maksud ibuk mas Raziq?" Salma mencoba mengingatnya karena setahu Salma Raziq lah satu satunya anak lelaki pak dhe Somad
"iya..benar, sebenarnya bapak dan pak dhe Somad sudah bersepakat untuk menjodohkan kamu dengan Raziq "
"apa !!?? maksud ibu mas Raziq itu mau dijodohkan denganku?" salma semakin panik
"kamu benar nduk"
seru ibu Marwa sambil mengelus kepala salma yang masih berbalut kerudung warna pastel
"Bu.. pak.. mas Raziq itu kan sudah salma anggap seperti saudara salma sendiri, dari kecil kami sudah terbiasa bermain bersama, sekolah bersama meskipun waktu SMA kami berpisah karena mas Raziq harus masuk pondok pesantren. nggak mungkin kan kami akan menjadi suami istri nantinya."
Salma begitu ingin menentang perjodohan ini, hatinya sakit, kecewa dengan keputusan orang tuanya
"sudah kamu tak perlu membantah kamu harus nurut sama keputusan orangtuamu"
pak Cahyo sedikit memberi penekanan.Salma pu berlari menuju kamar sambil menangis masih tak percaya kalau dia akan dijodohkan seperti cerita zaman kuno saja.
tangisnya kian menjadi seiring malam yang semakin sunyi, batinya tak terima ingin berontak namun tak bisa.
Terimakasih yang sudah membaca cerita ku semoga suka dengan ceritanya🤲 mohon maaf jika banyak Typo atau pun alur cerita yang belum sesuai. AUTHOR mohon dukungannya untuk like dan comentnya🙏🏻🙏🏻😍
__ADS_1