Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Khayra


__ADS_3


KHAYRA HANINDYA PRAMUDYA.


Khayra gadis belia nan manis yang berhijab, shalihah, yang berperawakan ramping, kulit kuning langsat dengan wajah yang rupawan. Sehingga menjadikannya kembang desa idaman pemuda desa tempat dia tinggal.


Khayra yang tahun ini genap berusia 18 tahun, masih bersekolah menengah atas semester akhir.


Sedari kecil Khayra hanya tinggal bersama dengan Orang tuanya, Bunda Hilda dan Mbok Fatma.


Bunda Hilda seorang diri tanpa suami menghidupi dirinya dan Khayra putri semata wayangnya.


Dengan berjualan makanan di kedai yang sangat sederhana.


Hidup seorang diri sebagai orang tua tunggal bersama putrinya dari bayi hingga sebesar ini, bukanlah hal yang mudah dilewati untuk Bunda Hilda.


Tak ada yang tahu bagaimana dahulu suami dari Bunda Hilda, Bunda Hilda pindah ke desa ini dulu saat hamil Khayra dan tinggal bersama Mbok Fatma.


Bahkan Khayra tidak pernah bertemu Ayah kandungnya, terlalu menyakitkan untuk Bunda Hilda memberitahukan siapa Ayah Khayra.


Bunda Hilda terpaksa berpisah dari suaminya, hanya Mbok Fatma yang tahu kisah masa lalu Bunda Hilda.


Meski terbilang kedai sederhana, setiap hari kedai ramai dengan pembeli yang makan, masakan Bunda Hilda dan Mbok Fatma memang enak dan bercita rasa khas, sehingga banyak pembeli yang menjadi pelanggan tetap.


Desa sumber wangi yang asri di bawah kaki gunung, dengan udara yang begitu sejuk.


♡ ♡


Bel tanda jam pelajaran berakhir sudah berbunyi.


Semua siswa Sekolah Menengah Atas Pertiwi di desa sumber wangi tepat terletak di kaki gunung, mereka bersiap untuk pulang, memasukan buku pelajaran dan alat tulis, tak terkecuali dengan Khayra.


Khayra, siswi di sekolah ini yang menjadi idaman siswa di SMA pertiwi.


Banyak siswi yang iri pada Khayra, karena semua siswa di sini mengharapkan Khayra membalas hati mereka.


Adalah Bayu Anggara yang menjadi pemuja Khayra, anak juragan sapi di desa sumber wangi.


Bayu sekelas dengan Khayra dan Arini. Bayu yang tak pernah menyerah untuk mendekati, meski Khayra tak menaruh hati padanya. Bahkan Khayra sudah berkali-kali menolak pernyataan cintanya.


Khayra sibuk memasukan buku dan kotak alat tulisnya ke dalam tas.


Bayu mendekatinya dengan percaya diri, merapikan kerah bajunya.


" Ehem..ehem..Rara, pulang bareng sama aku ya naik motor baruku! " Bayu berdehem bergaya sok macho.


Khayra mendongak, menghembuskan nafas kesal.


" Terima kasih Bayu, aku bisa pulang sama Arini. " Tolak Khayra dengan nada lembut. Khayra tak ingin menyakiti siapapun.


" Tapi kan panas Rara, aku kasihan lho sama kulitmu yang cantik itu harus tersengat terik matahari. "


" Hei Bayu, naik motor juga kepanasan kali, kecuali kalau naik mobil. " Ejek Arini.


" Benar juga Arin, Bayu bagaimana sih kamu ini. " Ujar Ragil, sohib karib Bayu yang naksir habis sama Arini.


" Bela terus Arin kesayanganmu itu Gil. " Sungut Bayu kesal.


Bayu pergi meninggalkan kelas menyandang tas ranselnya.


" Hehehe maaf toh boss. " Ragil mengekori Bayu yang pergi meninggalkan Khayra.


Ragil berjalan keluar kelas sambil terus melambaikan tangan pada Arini, Arini sampai kesal dibuatnya.


" Dasar Ragil bocah sableng. " Rutuk Arini, Khayra tersenyum melihat wajah Arini yang cemberut karena kesal.

__ADS_1


" Sudah ayo pulang, aku mau bantu Bunda! " Ajak Khayra kemudian.


Dua gadis manis ini, berjalan ke tempat di mana sepeda mereka terparkir.


Khayra dan sahabat kentalnya Arini pulang sekolah dengan sepeda kesayangan mereka.


Jalanan desa yang berbatu, mereka tempuh dengan mengayuh sepeda setiap hari.


" Nanti aku ke kedai Bunda Ra, aku ganti baju dulu ya. " Arini dan Khayra berpisah di persimpangan jalan.


" Kutunggu di kedai " Sahut Khayra.


Arini adalah anak kepala desa sumber wangi, gadis yang sedikit tomboy, pemberani dan tegas, berambut panjang.


Sahabat karib Khayra dari kecil, keluarga Arini juga baik kepada Khayra dan keluarganya.


Khayra terus mengayuh sepedanya, jalanan desa dengan kiri kanan sawah yang mulai menguning. Desa yang masih alami dengan pemandangan gunung yang menjulang.


Khayra sampai di rumahnya yang sederhana, Bunda Hilda dan Mbok Fatma di kedai. Rumah tentu saja sepi, Khayra mengambil kunci di tempat biasa.


Setelah berganti pakaian, Khayra mengambil wudhu untuk menunaikan sholat zhuhur.


Seusai menunaikan sholat fardhu 5 waktu, Khayra tak lupa berdo'a untuk orang tuanya dan beristighfar.


Ya Allah, jagalah selalu Bunda dan Mbok Fatma, berikan beliau kesehatan. Semoga suatu saat nanti, Khayra bisa membuat beliau berdua bahagia. Khayra ingin sukses dan membuat beliau bangga.


Aamiin Yaa Rabbal'alaamiin.


Khayra melipat mukenahnya yang mulai usang, tetapi tetap bersih. Meski sudah banyak jahitan tangan di sana sini.


Khayra mengunci kembali rumahnya dan bergegas mengayuh sepedanya menuju kedai Bunda.


Sepanjang jalan Khayra menyapa warga desa setempat yang berpapasan jalan dengannya.


Khayra terkenal gadis yang ramah dan periang.


" Ya Rara, mau ke kedai Bundamu toh? "


" Ya Pakde Bude, Khayra permisi dulu. " Pamitnya sopan.


" Anak ini sudah cantik ndak sombong ya Pak. "


" Ya Ibu, Rara memang anak baik. "


Puji kedua pasangan suami istri yang pulang dari sawah, tetangga Khayra.


Seperti biasa, sepulang sekolah Khayra membantu Bunda di kedai.


Khayra terus mengayuh sepedanya, hingga sampai di kedai Bunda yang sangat ramai pembeli.


" Assalamualaikum Bunda.." Khayra mengambil tangan Bunda dan mencium tangannya.


" Waalaikumsalam sayang. " Bunda mengusap kepala Khayra yang tertutup hijab.


Khayra beralih mencium punggung tangan Mbok Fatma.


" Kamu ndak makan dulu nduk? " Ucap Mbok Fatma penuh kelembutan.


" Nanti saja Mbok, bareng Arini. "


Khayra berlalu ke dapur, membereskan piring dan gelas kotor bekas makan pembeli.


Kedai Bunda alhamdulillah tidak pernah sepi pembeli, banyak wisatawan yang mampir ke kedai bunda.


Di desa banyak villa milik orang kota, ada juga penginapan di sini. Karena desa sumber wangi termasuk tujuan pariwisata yang diminati.

__ADS_1


Terlihat tak lama Arini datang menyusul ke kedai dengan sepedanya.


" Assalamualaikum Bunda.. " Sapa Arini dengan suara lantang.


Sudah kebiasaan Arini seperti itu, bahkan pelanggan kedai sudah paham dengan perangai putri pak kepala desa mereka.


" Waalaikumsalam Arin. " Jawab Bunda Hilda sembari mengacak rambut Arini gemas.


" Bunda.. Rara mana " Tanya Arini.


" Ada lagi cuci piring di belakang Rin. " Tunjuk Bunda Hilda.


" Arin ke belakang dulu Bunda. " Pamit Arini.


" Arin sudah makan? " Tanya Bunda Hilda penuh perhatian pada sahabat putrinya.


" Nanti bareng Rara saja Bunda, Arin mau bantu Rara dulu. "


Arini pergi ke belakang kedai, tempat di mana Khayra mencuci piring.


" Rara.." Pekik Arini mengagetkan Khayra seperti biasa.


" Ariiiiin.." Rutuk Khayra kesal.


" Hahaha..jangan marah toh nduk, ndak baik lho, nanti cepat sepuh. " Canda Arini dengan logat jawa kental, menirukan gaya nenek yang menasehati cucunya.


" Awas kamu ya, tak bilangin sama pak kades nanti. " Ancam Khayra.


" Ndak takut " Celetuk Arini.


Khayra memercikkan air pada Arini.


" Raraaaa.."


" Hahaha "


Mereka berdua mencuci piring sambil terus bercanda bermain air.


Bunda Hilda hanya menggeleng melihat tingkah keduanya, dia meneruskan pekerjaannya meladeni pembeli, membungkus lauk pauk.


Arini sudah terbiasa pulang sekolah membantu Khayra di kedai.


Keluarga Khayra dan Arini sangat dekat, bukan hanya persahabatan diantara Khayra dan Arini. Ibunda Khayra dan Arini juga adalah sahabat lama. Keluarga Arini banyak membantu keluarga Khayra.


.


.


.


.


.


Bismillahirrahmanirrahim, karya terbaruku.


Semoga reader suka, jangan lupa tinggalkan jejak. biar semangat Authornya.


Love


Like


Vote


Coment

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐


Terima kasih.


__ADS_2