
♡
KHAYRA ANINDYA PRAMUDYA, 18 Tahun.
REINO BIRU SAMUDRA, 19 TAHUN.
Tak terasa siang semakin terik, setelah pulang melaksanakan sholat Zhuhur mereka kembali lagi ke ladang untuk membantu Pak Eko menyelesaikan memanen jagung.
Istri Pak Eko datang membawa bakul berisi bekal makanan, Ibu Ningrum dibantu Khayra dan Arini menyiapkan makanan dan menaruh wadahnya di atas tikar di gubuk.
" Ayo kita makan dulu baru panen lagi! "
" Wah enak banget menunya Ibu ningrum. "
" Ayo cah bagus, cuci tangan dulu. "
" Ya makan pakai tangan lebih nikmat bro! "
Mereka menikmati bekal makanan yang dibawa Ibu Ningrum, tumis daun singkong, rica-rica ayam kampung, pepes tahu dan sambal teri ijo.
" Wuih mantap bro. " Puji Bono.
" Ayo dimakan lauknya, ini Bunda tadi yang masak ayam kampungnya. "
Biru hanya tersenyum dan menikmati makannya, meski Biru tidak terbiasa makan dengan tangan.
Ya Allah meski menu masakan kampung, tapi ini enak banget.
Biru merasa beruntung bisa menikmati semua ini, mendapatkan pengalaman berharga yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan.
Tinggal di kampung yang suasananya jauh berbeda dari kehidupan kota.
Tapi Biru merasakan kenyamanan dan ketenangan.
" Cah bagus ayo nambuh lagi makannya! " Pak Eko mengambil sepotong paha ayam dan menaruhnya di piring Biru.
" Terima kasih Pak. " Ungkap Biru.
" Mau Pak! " Arini menyodorkan piringnya ke Pak Eko.
" Ini. " Pak Eko kali ini menaruh sepotong ayam di piring Arini.
" Dasar manja. " Tukas Bono.
" Yeay bilang saja kamu juga mau nambuh lagi. "
Cibir Arini, Bono menyengir kuda.
" Hehehe, nggak kok Arini, nggak nolak. " Pak Eko mengambil sepotong ayam dan memberikannya pada Bono.
" Terima kasih Pak. "
" Kamu mau lagi Nduk cah ayu, Bapak ambilkan sekalian! "
Khayra menggeleng pelan, ini masih lauknya Pak belum habis. " Khayra memperlihatkan piringnya.
Mereka menikmati santap siang di gubuk, dengan suasana ladang yang hijau menyejukkan.
Angin berhembus semilir, membuat dedaunan dan ranting meliuk lincah.
" Hoam habis makan kenyang, terus mengantuk ini bagaimana. " Bono menguap sambil mengusap perutnya yang kenyang.
" Maunya !" Sungut Arini.
Setelah beristirahat sebentar mereka kembali melanjutkan memanen jagung.
Beberapa karung sudah penuh berisi Jagung, Ibu Ningrum mengikat karung yang sudah berisi.
Tak terasa sebelum ashar jagung sudah selesai dipanen.
Mereka beristirahat di gubuk, meminum minuman dingin yang Biru beli tadi.
" Ini untuk kalian bawa pulang. "
Ibu Ningrum membagikan 4 kantong plastik besar berisi jagung.
" Banyak banget Ibu. "
" Sudah nggak apa kalian capek. "
" Terima kasih Ibu. "
" Ibu saya kan tinggal tempat Arini, kenapa dikasih juga? " Tutur Biru bingung.
" Nggak apa upah kamu cah bagus, sudah membantu kami. " Jelas Pak Eko.
" Saya cuma membantu sedikit Pak. "
" Rezeki jangan ditolak cah bagus. "
Biru dengan berat hati menerimanya, mengangguk terima kasih.
" Bagaimana kalau nanti malam kita bakar jagung lagi ditempatku! " Usul Arini.
__ADS_1
" Kapan? " Tanya Khayra.
" Sepulang mengaji bagaimana? "
" Boleh. " Sambar Bono cepat.
" Oke kita bakar jagung lagi. "
" Nanti kita ketemu lagi. "
" Bye.."
" Kami pulang Pak , Bu! "
" Hati-hati, terima kasih ya. "
" Cah bagus jangan kapok main ke sini lagi, kemarilah kapan ada waktu senggang. "
" Ya Pak. " Sahut Biru seraya mengulas senyum.
" Assalamulaikum.."
" Waalaikumsalam.."
Mereka pulang menjelang adzan ashar, Arini dan Khayra pulang beriringan, sementara Biru mengantar Bono pulang terlebih dahulu.
♡ ♡
Khayra bersiap menggunakan sweater hitam putihnya, udara malam terasa dingin di sini.
Khayra mencari Bunda di kamarnya, dia ingin minta Izin ke rumah Arini.
Bunda tidak ada di kamar, ternyata Bunda di dapur bersama Mbok Fatma. Bunda dan Mbok Fatma baru selesai membuat keripik.
" Kamu mau kemana Nduk? " Tanya Mbok Fatma heran melihat Khayra yang sudah rapi.
" Mau main ke rumah Arini Mbok, mau bakar jagung. "
Bunda mengambil setoples keripik pisang, dan memberikannya pada Khayra.
" Ini ada keripik pisang, bawa setoples untuk Arini ya. "
" Ya Bunda.."
" Nanti jangan larut malam pulangnya. " Tukas Bunda.
" Ya Bunda! Rara pergi dulu Bunda, Mbok, Assalamualaikum.. "
Setelah pamit, Khayra mengayuh sepedanya.
Menuju rumah Arini.
Cuaca terlihat cerah, langit bertabur bintang, meski udara malam terasa dingin. Tak menyurutkan niat mereka untuk berkumpul membakar jagung bersama.
Seperti yang sudah mereka rundingkan sore tadi, seusai panen.
Biru, Bono dan Arini sudah berkumpul di samping rumah Arini.
Arini menyenderkan sepedanya, dan menenteng kantong plastik berisi toples.
" Assalamualaikum semua.."
" Waalaikumsalam.."
" Hei Rara sini.." Lambai Arini.
" Rara kamu bawa apa toh kayaknya enak banget? " Tanya Bono penasaran melihat bawaan Khayra.
" Yeay tahu banget kamu Bono, minta sana sama Bunda, ini punyaku. "
" Pelit banget kamu toh Arini, cicip sedikit toh. " Rayu Bono.
" Ya sudah sini, Biru makan keripik pisang dulu. "
Biru yang sedang mengangkat tempat pembakaran mengangguk tersenyum cool.
Sambil menyiapkan, mereka menyemil keripik pisang.
" Hmm renyah banget, gurih Ra, di rumah masih ada nggak Ra? "
" Yeay maunya Bono. " Protes Arini.
" Kalian berdua ini kayak Romeo and juliet. " Ledek Biru melihat Bono dan Arini ribut terus.
" Kalian berdua yang kayak Tom And Jerry. " Seloroh Bono dan Arini kompak, menunjuk Biru dan Khayra.
" Lihat sweater mereka sama warnanya, kompak nih yee.. " Goda Bono dan Arini.
Biru dan Khayra lempar pandang, Khayra membolakan mata tak terima, Biru tetap cuek meneruskan pekerjaannya, memasang pembakaran.
" Hahaha..kompak berdua diam semua. " Bono tertawa.
Si cungkring Bono membakar kayu, untuk membuat bara api.
__ADS_1
Biru menyiapkan tempat pembakaran dan membersihkannya.
Khayra dan Arini menyiapkan saos, mentega dan minuman, kemudian mengupas kulit jagung.
Pak Kepala Desa, Pak Bahrun dan Istrinya pergi ada undangan ke desa sebelah.
" Aku ambil kipas kecil dulu di dalam, biar nggak pegal nanti. " Arini pergi ke dalam rumahnya.
Biru mendekati Khayra, mengoleskan mentega ke jagung mentah.
Bono menaruh Bara di pembakaran, Arini menaruh kipas kecil di dekatnya.
" Tumben pintar kamu Arini jadi nggak pegal pakai kipas tangan. "
" Aku memang pintar kok. "
Bono meratakan bara, Arini mulai mengambil jagung dan membakarnya.
" Ini jagungnya dioles dulu semua sama mentega biar enak manggangnya, nanti kalau sudah matang baru dioles saos lagi." Biru memberi tahu Khayra yang sedang membersihkan jagung.
" Ya.." Sahut Khayra singkat.
Biru melirik Khayra yang banyak diam dari biasanya.
" Kamu masih marah ya sama aku? " Tanya Biru dengan sedikit berbisik.
" Hmm.." Sahut Khayra malas.
" Khay.." Panggil Biru.
" Rara.." Sahut Khayra.
" Aku lebih suka memanggilmu itu, lebih manis." Biru tersenyum.
Khayra mendongak, keduanya berpandangan sesaat, sedetik kemudian Khayra menunduk.
" Bolehkan Khay? " Tanya Biru lembut.
" Terserah. "
" Tom and Jerry jangan mengobrol saja ini yang sudah matang, dioles saos. "
Biru mengambil yang sudah matang, dan memberikan yang mentah sudah teroles mentega.
" Ini hati-hati panas biar aku saja yang mengoles saos. "
Biru mengambilnya dari tangan Khayra, refleks Khayra melepasnya. Biru menerimanya sehingga tidak sempat jatuh.
" Kamu tuang saja minumannya. " Ucap Biru mencairkan kecanggungan.
Semua jagung sudah selesai dibakar, Bono menambah kayu bakar tadi, sehingga menjadi api unggun.
Mereka duduk berkeliling api unggun, sambil makan jagung bakar.
" Hmm ada gitar kita sambil menyanyi saja. " Usul Arini.
" Betul. "
Arini memberikan gitar, Biru mengambilnya.
Perlahan Biru memetiknya, terdengar alunan merdu.
Suara berat Biru terdengar apik melantunkan sebuah lagu milik natta reza, kami memandang takjub Biru yang terlihat sangat dalam menghayati lagunya.
Andai ada keajaiban
Ingin ku ukirkan
Namamu di atas bintang
Bintang angkasa
Agar semua tahu
Kau berarti untukku
Selama-lamanya, kamu milikku.
.
.
.
.
.
.
Biru aku padamu.
💚💚
__ADS_1