
♡
Khayra lebih sering diam, tidak terlihat ceria seperti biasa.
Sepulang sekolah Khayra berganti baju dan sholat, siang ini dia berencana pergi ke kedai untuk membantu Bunda.
Sejak pulang dirawat dari puskesmas, Khayra belum membantu Bunda di kedai.
Khayra mengayuh sepeda dengan santai, hingga di tengah jalan dia bertemu dengan Bayu, yang berboncengan motor dengan Ragil.
" Rara mau kemana panas begini? " Sapa Bayu terdengar manis.
" Mau bantu Bunda di kedai. " Sahut Khayra singkat.
" Oh aku juga mau ke kedai, kita mau makan ya Ragil? " Bayu menyikut perut Ragil, Ragil yang diberi kode gelagapan.
" Oh ya..heeh..mau makan tempat Bunda. "
Bayu mengiringi sepeda Khayra, sepanjang jalan Bayu mengajak Khayra bicara, Khayra terpaksa menjawabnya.
" Khayra kenapa nggak istirahat di rumah, kan baru sehat. "
" Alhamdulillah sudah sehat, kasihan nggak ada yang bantu Bunda. "
" Biasa kan ada Mbok Fatma yang bantu Bunda. "
" Mbok di ladang. "
Khayra merutuk dalam hati, kenapa perjalanan yang tidak begitu jauh ke kedai, berasa lama sekali sampai, karena harus meladeni Bayu bicara.
Khayra mengayuh sepedanya lebih cepat, agar segera sampai. Bayu terus mengikutinya.
Khayra sudah sampai di kedai, Bayu mengekori Khayra di belakang.
Khayra langsung ke dapur, mencari kesibukan.
" Assalamualaikum Bunda.."
" Waalaikumsalam sayang.."
" Itu ada pembeli Bunda mau makan, Rara mau ke belakang saja. "
" Kenapa Bayu mengikutimu lagi? " Tanya Bunda, yang tahu jika Khayra diikuti Bayu.
Bunda keluar dari dapur dan melayani beberapa pembeli, terlihat Bayu celingukan mencari Khayra, terus melihat ke arah dapur.
" Ada apa Nak Bayu, Nak Ragil? "
" Ehm..Bunda ini kita mau makan. " Bayu kebingungan yang tertangkap basah menoleh ke arah dapur terus.
" Mau makan kok belum pesan? " Selidik Bunda.
" Eh ya..ehm anu Bunda mau makan nasi 2 piring sama lauknya lengkap. " Bayu terpaksa membuat alasan, karena Khayra tidak kunjung keluar.
" Tunggu sebentar ya! "
" Ya Bunda.." Angguk keduanya.
Bunda menggeleng melihat mereka, Bayu menarik nafas lega ketika Bunda pergi.
" Huuuft.."
" Kenapa boss? " Tanya Ragil dengan polosnya.
__ADS_1
" Mbahmu itu, pakai tanya kenapa? " Geram Bayu.
Bunda membawa pesanan Bayu, 2 piring nasi lengkap dengan lauk dan 2 gelas air es.
" Silahkan dimakan! "
" Terima kasih Bunda. " Ucap Bayu, saking gugupnya dia sampai haus dan menyeruput air esnya.
" Jangan lupa baca doa dan bismillah dulu! " Pesan Bunda.
" Uhuk...uhuk.." Bayu yang kaget langsung tersedak air, dia lupa jangankan membaca do'a, bismillah saja dia lupa.
" Ya Bunda.." Angguk Bayu.
Dipijaknya kaki Ragil menumpahkan rasa kesalnya.
" Aduh boss.." Ragil meringis kesakitan.
Bayu dan Ragil baru saja menyendok sesuap nasi, belum sempat sampai ke mulut. Saat terdengar suara mobil yang tak asing di telinganya.
Benar saja, Bayu memutar kepalanya melihat Juragan Suwoto yang tak lain adalah Bapaknya.
" Bapak! "
Juragan Suwoto terlihat berkaca di spion mobil, merapikan penampilannya.
Bersiul riang, karena akan bertemu pujaan hatinya.
" Bayu! "
" Bapak! "
" Kamu kenapa di sini? "
" Bapak ya ..mau makan juga. "
Juragan Suwoto membulatkan mata, menatap tajam putranya Bayu.
Bayu pura-pura tak tahu, dia menoleh ke arah lain, tetap menikmati makanan.
" Cepat pulang sana! Ibumu tadi minta temani mau pergi kemana Bapak lupa tanya. "
" Lha Bapak sendiri kenapa, kok malah ke sini bukan mengantar Ibu pergi? "
" Ibumu mau minta antarkan kamu, Bapak ada urusan. "
" Urusan apa urusan? "
" Kamu anak bau kencur, tahu apa urusan orang tua! "
" Ya tahulah, Bayu sudah besar Pak. " Protes Bayu.
" Heh..masih minta duit sama orang tua sudah pintar jawab, pulang sana. "
Nyali Bayu menciut kalau Bapaknya sudah menyinggung soal uang jajan.
Bayu menyikut Ragil, mengajaknya pulang.
" Ya sudah kalau begitu Bayu pulang Pak, tolong bayar makanan Bayu ya! "
Bayu dan Ragil pergi meninggalkan kedai Bunda, sebelum juragan Suwoto menghabisinya.
" Dasar bocah gemblung! " Rutuk Pak Suwoto.
__ADS_1
Juragan Suwoto, membenahi kerah baju dan merapikan alis tebalnya dengan kedua jempol.
Kali ini Khayra yang keluar, Bunda tahu kalau juragan Suwoto yang datang, saat juragan Suwoto berdebat dengan Bayu, Bunda ke belakang meminta Khayra yang menemui juragan Suwoto.
Bunda tidak ingin meladeni rayuan Pak Suwoto, yang gigih meminta Bunda menjadi Istri ketiganya.
" Maaf juragan mau makan apa? "
" Bundamu ke mana, kenapa kamu yang meladeniku? "
" Bunda lagi sibuk di dapur, masak lauk? "
" Bilang sama Bundamu, juragan Suwoto datang! "
" Tapi.."
" Sudah cepat sana! "
Khayra tidak pernah suka dengan sikap juragan Suwoto yang semaunya sendiri, merasa dirinya paling punya dan paling berpengaruh di desa ini.
Bunda ke depan dengan wajah dinginnya, Khayra mengikuti Bunda di belakangnya.
" Ada apa juragan, kenapa harus mencari saya? "
" Hmm..adik Hilda, ini kang mas Suwoto rindu kopi santan buatan kamu. "
Seperti ini juragan Suwoto, yang selalu bermuka manis di hadapan Bunda, mencari perhatian Bunda.
" Putri saya juga bisa membuatnya, apa bapak tidak tahu saya lagi sibuk di dapur! "
" Ehm..eh maaf adik Hilda, kang mas nggak bermaksud mengganggu dik Hilda, saya cuma rindu sama dik Hilda. "
" Cukup juragan Suwoto, jangan permalukan saya di depan pembeli saya yang lain, kalau Bapak ke sini nggak mau makan, hanya ingin cari perhatian saya, maaf saya mohon dengan hormat Bapak boleh pergi dari kedai saya! "
" Tapi dik Hilda, ya saya mau makan saja di sini. "
Juragan Suwoto selalu menciut di hadapan Bunda, biarpun dimarahin dan ditolak Bunda berkali-kali, berkali-kali juga juragan Suwoto tidak akan pergi dan pantang menyerah.
Bunda sampai tidak tahu lagi harus bagaimana, untuk menghadapi pria hidung belang ini.
Dengan terpaksa, juragan Suwoto makan diladeni Khayra, daripada harus pulang, tidak bisa mencicipi masakan pujaan hati, pikir juragan sapi ini.
Bisa menikmati makanan hasil olahan tangan dari Bunda Hilda, membuat juragan Suwoto selalu makan sampai 2kali tambuh.
Juragan sapi ini masih duduk di tempatnya, melirik ke arah Bunda, hingga Bunda merasa risih.
Semua yang Bunda kerjakan tidak luput dari perhatian juragan sapi yang genit ini.
Bunda membersihkan meja, sudah waktunya makan siang, pembeli datang sudah berangsur ramai kedai Bunda, tempat duduk juga sudah tidak ada.
Bunda membersihkan piring kotor bekas Pak Suwoto makan, dan mengelap mejanya.
" Maaf juragan Suwoto, bisa gantian duduknya, itu pelanggan saya bisa pergi nggak jadi makan, karena masih ada juragan di sini. "
" Eh ya dik Hilda maaf, saya mau habiskan kopi saya sebentar. "
" Juragan sengaja lama-lama, biar pelanggan saya pergi terus nggak ada jadi beli makanan saya. "
" Oh nggak kok dik Hilda, ya saya pulang ini uangnya, ambil kembaliannya. "
Juragan Suwoto pergi dari kedai, baginya sudah cukup bertemu dengan Bunda Hilda, hanya Bunda Hilda yang berani membuat Pak Suwoto tidak berkutik.
Kedai Bunda terlihat ramai dengan pembeli yang hendak makan siang.
__ADS_1