Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Kompak Sakit!


__ADS_3

Biru masih terbaring, dengan mata terpejam menahan pusing di kepalanya.


Menjelang maghrib badan Biru semakin panas, Ibu dewi terus mengompres Biru.


Ibu Dewi terlihat mondar mandir mengambil air hangat untuk Biru.


" Assalamualaikum Ibu.."


" Waalaikumsalam..Arini baru pulang. "


" Ya Ibu, Arini baru dari rumah Rara. "


" Itu Biru demam. "


" Apa Biru demam Ibu? "


Kok bisa barengan begitu Biru sama Khayra demamnya.


" Tolong tungguin sebentar ya, Ibu mau sholat. Kamu kan lagi nggak sholat. " Arini mengangguk.


Habis maghrib Pak Bahrun pulang dari kota, rumah terlihat sepi.


" Assalamualaikum.."


Arini keluar menyambut Bapaknya pulang.


" Waalaikumsalam Bapak sudah pulang.."


" Ya, kok sepi pada kemana? "


" Ibu baru selesai sholat. "


Jelas Arini, Pak Bahrun melirik jam tangannya.


" Jam segini baru selesai sholat maghrib Ibumu? "


" Ya Pak, Bapak sudah sholat? "


" Sudah mampir ke mesjid tadi, takut nggak terkejar sholat di rumah. "


" Itu Biru demam Pak! "


" Apa? "


" Bapak sudah pulang. " Ibu Dewi menyalami tangan suaminya.


" Nak Biru demam Ibu? "


" Ya Nak Biru demam Pak. "


" Astaghfirullahaladzim, sudah dikasih obat. "


" Sudah Pak, tadi diminumi obat sama Ibu kompres tapi masih panas badan Nak Biru. "


Pak Bahrun bergegas ke kamar Biru, dirabanya kening Biru yang masih panas.


" Ya Allah badannya panas banget, bawa ke puskesmas saja Ibu. "


Pak Bahrun bersiap untuk membawa Biru ke puskesmas, setelah menurunkan sepeda Bono dari mobil, dibantu Arini mendorongnya masuk.


" Nak Biru bangun kita berobat ke puskesmas ya. "


Biru dipapah Pak Bahrun, Arini memegangi pintu mobil.


" Kamu jaga rumah ya, Bapak Ibu mau pergi. "


" Ya Bapak, Ibu.."


" Kalau takut minta temani Rara saja! "


" Rara juga lagi demam. "


" Ya Allah kok bisa demam semua ini lho.." Tukas Pak Bahrun.


" Nak Biru kemarin malam pulang dari surau kehujanan Pak, mana hujannya itu lebat banget. " Cerita Ibu Dewi.


Mereka bisa barengan demamnya, apa mereka juga barengan kehujanannya. Tebak Arini dalam hati, Arini tertawa kecil.

__ADS_1


Arini ingat kemarin dia tidak mengaji karena masih menstruasi, mungkin saja Biru sama Khayra pulang dari surau kehujanan.


" Ya sudah hati-hati di rumah, kunci semua pintunya. "


Arini mengangguk, Arini mengunci semua pintu.


Pak Bahrun dan Ibu Dewi membawa Biru ke puskesmas terdekat.


Biru akhirnya dirawat di puskesmas, karena suhu panas tubuhnya tinggi.


Begini lah keadaan di desa sumber wangi, jauh dari rumah sakit umum daerah.


♡ ♡


Khayra terlihat menggigil, badannya masih panas.


Bunda bingung, sudah dikompres dan minum obat penurun panas, masih tinggi suhu tubuhnya.


" Sayang! " Bunda mengusap punggung tangan Khayra.


Mbok Fatma memijat kaki Khayra yang terbalut selimut tebal. Badan Khayra panas tetapi badannya terus menggigil.


" Kita ke puskesmas ya sayang. " Khayra terus menggigil, Bunda semakin panik.


Bunda meminta Si Mbok untuk menunggu.


" Mbok kita bawa Rara ke puskesmas saja, saya mau minta tolong sama Pak Siswo untuk membawa Khayra dengan mobil puskesmas. "


" Ya hati-hati Nduk! "


" Ya Mbok. "


" Saya pergi dulu Mbok. " Pamit Bunda, Mbok Fatma mengiyakan.


" Sayang Bunda pergi dulu ya, sama si Mbok dulu! " Bunda mengusap pipi Khayra lembut.


Bunda mengayuh sepeda dan pergi ke rumah Pak Siswo sopir yang biasa membawa mobil puskesmas keliling.


" Assalamualaikum.."


" Waalaikumsalam.."


" Ini Ibu Siswo, anak saya Khayra demamnya tinggi, mau minta tolong sama Pak Siswo untuk minjam mobilnya, membawa Khayra ke puskesmas. "


" Oh ya sebentar saya bilangin, Ibu tunggu di rumah, biar suami saya siap-siap. "


" Ya terima kasih Ibu Siswo. "


Bunda pamit pulang ke rumah dan menunggu Pak Siswo datang.


" Sayang pakai hijab dan kaos kakinya ya! kita bersiap ke puskesmas. "


Bunda dengan sabar menyisir dan mengikat rambut panjang Khayra, membantu Khayra bersiap, memakaikan hijab.


Mbok Fatma membereskan barang untuk dibawa ke puskesmas.


Terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah.


Pak Siswo sudah datang, Bunda dan Mbok Fatma memapah Khayra ke mobil.


" Mbok kami pergi dulu ya! " Bunda mencium tangan Ibu.


" Ya Nduk hati-hati. " Mbok menaruh tas barang di mobil.


" Mari Mbok. " Pamit Pak Siswo.


Mobil puskesmas keliling yang membawa Khayra.


Di desa sumber wangi memang sarana dan prasarana fasilitas kesehatan masih kurang memadai, tidak seperti di kota dan rumah sakit daerah. Rumah sakit di sini jauh letaknya.


Mereka sudah sampai di puskesmas, Khayra dibawa masuk dan diperiksa Dokter jaga, Dokter Aida baru beberapa bulan bertugas di desa ini.


" Demamnya tinggi, kita rawat di sini ya! " Kata Dokter Aida. "


" Siapa nama anaknya Ibu? "


" Khayra. "

__ADS_1


" Nama panjangnya? "


" Khayra Hanindya Pramudya. "


Dokter Aida sontak melihat ke arah Bunda Hilda.


Tidak mungkin dia.


" Umur? "


" 17 tahun lebih Dokter. "


" Baik putri Ibu biar dibawa ke ruang perawatan, panasnya tinggi. "


Khayra dibawa ke ruang perawatan, di puskesmas hanya 6 kamar perawatan dan satu bangsal perawatan.


Khayra didorong dengan brankar ke ruang kelas 2 terdiri 3 pasien.


Di pojok kamar terlihat sudah tertutup gorden, sepertinya sudah ada pasien lain.


Khayra sudah dipindahkan ke ranjang kamar perawatan.


" Terima kasih Mbak, Mas. "


Perawat yang membawa Khayra pergi meninggalkan ruangan.


Ruang perawatan yang hanya dipisahkan tirai gorden.


" Sayang mau apa? " Tanya Bunda melihat Khayra membuka matanya.


" Bunda, haus! "


" Sebentar Bunda minta air hangat ya. "


Khay..itu kamu.


Bathin Biru, yang dirawat di sebelah Khayra, Biru melihat dari celah tirai yang dibukanya sedikit, Khayra terbaring lemah dengan mata terpejam.


Bunda kembali membawa segelas air hangat, Khayra duduk bersandar.


" Minum pelan-pelan sayang. "


" Sudah Bunda. "


Bunda duduk di samping Khayra, memijat tangan Khayra penuh kasih sayang.


" Tidurlah sayang! "


Biru menutup kembali tirai gorden, drama kasih sayang antara Bunda dan Khayra membuat Biru merindukan Mamanya.


" Mama. " Lirih Biru.


Di saat seperti ini, Biru sangat membutuhkan sosok Mamanya.


" Permisi. " Sapa Pak Bahrun, Pak Bahrun kaget melihat Bunda dan Khayra 1 ruangan.


" Lho Bunda, Rara juga dirawat di sini? "


" Ya Pak, Ini Rara demam, panasnya tinggi. "


" Sama, itu keponakan saya juga demam. "


" Ya habis kehujanan kemarin malam! "


" Kok bisa sama, keponakan saya juga habis kehujanan kemarin."


Ya Allah semoga beliau tidak tahu kami pulang bersama.


" Ya ini panasnya tinggi, Bapak dari mana? "


" Habis mengantar istri saya pulang, Arini di rumah sendiri kasihan. "


" Ya tadi siang Arini ke rumah menemani Rara, untung ada Arini. Saya nggak tahu kalau Rara demam dan diantar pulang gurunya. "


" Musim hujan, jadi ya begini. " Tukas Pak Bahrun.


Malam semakin larut, mereka istirahat.

__ADS_1


Biru dan Khayra terbaring lemah di ruang yang sama, dengan terpisah tirai diantaranya.


Bunda tidur di samping Khayra dan Pak Bahrun di samping Biru.


__ADS_2