Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Anak Kota


__ADS_3


Hari minggu yang cerah, dengan langit yang terlihat biru terang, suasana pedesaan yang sejuk dengan gunung yang bertengger kokoh di singgasananya.


Khayra dengan senyum riang yang selalu mengulas bibir mungilnya, mengayuh sepeda kesayangan menuju kedai Bundanya. Setiap hari libur Khayra sedari pagi akan pergi membantu Bunda di kedai, setelah berbenah di rumah.


Takkan ada waktu sekedar untuk bermalas-malasan, tuntutan hidup yang mengharuskan Khayra menghabiskan waktu untuk berkerja, alih-alih seperti remaja lainnya yang menikmati waktu luang.


Menyapa setiap warga desa yang ditemuinya di sepanjang jalan menuju kedai.


Khayra tiba di kedai dan menyenderkan sepeda di tiang, mengucap salam menyapa semua pembeli, berlari kecil ke dalam dapur kedai, mengambil punggung tangan Bunda menciumnya dengan takzim.


" Ra kopi santannya 2 gelas! "


" Ra Nambuh lauk sama nasi pincuknya! "


" Ra bungkus ya 4 nasi uduk untuk bawa pulang! "


" Nduk Ra wedang jahe nya segelas! "


Riuh pembeli yang memesan makanan dan minuman, hingga membuat Khayra kewalahan.


Khayra tak pernah mengeluh meski tak sempat untuk bermain seperti kebanyakan anak seusianya, yang bersenang-senang.


Pembeli berangsur pergi meninggalkan kedai setelah mendapatkan sarapan pagi, kedai mulai sepi, menjelang makan siang ramai kembali.


Khayra dengan cekatan membersihkan meja makan, mengumpulkan piring gelas bekas pembeli makan, untuk kemudian dicuci.


Rutinitas Khayra setiap harinya, Khayra duduk bersimpuh digubuk belakang kedai menikmati sarapan bersama Bunda.


Hari ini Si Mbok pergi ke ladang dibantu Pak Eko, pekerja yang selalu membantu pekerjaan berat di keluarga Khayra.


" Nanti setelah membantu Bunda bersiap, antar bekal makanan untuk Mbok Fatma dan Pak Eko ya Nak! " Tutur Bunda lembut.


" Baik Bunda. "


Mereka kembali menikmati sarapan, sepiring getuk lindri dan teh jahe.


Sebuah mobil kijang kapsul, mobil yang dimiliki oleh kepala desa ini.


Hanya 2 orang di desa ini yang memiliki mobil, yang terbilang mewah bagi warga desa yang sebagian besar hanya mengendarai sepeda ontel. Bapak kepala desa, Pak Bahrun dan juragan sapi, Bapak Suwoto.


Arini dan keluarganya mampir ke kedai untuk makan, bersama pemuda dari kota bernama Biru. Biru terlihat berjalan dengan pincang.


" Assalamualaikum Rara, Bunda.."


" Waalaikumsalam! " Jawab Ibu dan anak itu serentak, menoleh ke arah pemilik suara.


" Bapak Bahrun, Ibu Dewi , mari silahkan masuk! "


" Terima kasih Bunda. "


Khayra melirik sekilas ke kaki Biru. Biru menggunakan celana selutut, terlihat lukanya yang masih terbalut perban.


" Arini, tumben datang sama Bapak Ibu biasa datang sendiri? " Ujar Bunda kemudian.


" Ya Bunda, saya yang suruh Arin untuk menemani Nak Biru. " Jawab Ibu Dewi.


" Suruh jadi pengawal sementara waktu Bunda. " Seloroh Arini.


Arini dan Biru saling adu membulatkan mata.


" Arini. " Tegur Pak Bahrun.


Arini menunduk, Biru tersenyum.


Biru dan Khayra sempat bertemu pandang, meski secepat kilat kemudian Khayra membuang muka, Biru menatap Khayra yang membuang muka.


Cowok aneh yang kemarin. Bathin Khayra sewot.


Cewek bawel, jutek lagi. Gumam Biru dalam hati tak kalah kesal.

__ADS_1


Bunda menyambut ramah keluarga Arini, dan Biru, mempersilahkan duduk dan menyiapkan pesanan makanan. Arini langsung membaur di dapur bersama Khayra.


" Silahkan dimakan Bapak dan Ibu Bahrun, silahkan Nak Biru! "


" Meski masakan kampung, masakan Bunda Hilda enak lho Nak Biru, semoga Nak Biru suka dan betah tinggal disini. " Ujar Ibu Dewi.


Biru terlihat mengangguk sopan, dengan senyum yang sedikit dipaksa. Pak Bahrun menepuk pundak Biru pelan.


" Baik Om Bahrun, tante Dewi terima kasih. "


Bunda menemani keluarga Arini makan, sambil sesekali berbincang.


Arini dan Khayra sibuk berdua di sumur belakang kedai, mengobrol sambil Khayra mencuci beberapa perkakas dapur.


" Ra kamu berhutang penjelasan, kemarin kenapa kamu bisa mengantar pulang Biru? "


" Heeh, tanya sendiri sama cowok aneh itu! "


" Kalian ini berdua ditanya bisa kompak begini ya, Biru ditanya suruh tanya kamu Ra, ini ganti tanya kamu malah disuruh tanya balik sama Biru. " Sungut Arini sewot.


" Waktu Cowok aneh itu berkeliaran di pinggiran sungai, sepertinya terpeleset dibebatuan sungai. " Terang Khayra.


" Dia itu anak dari teman Bapak, makanya aku suruh baik-baik sama dia, padahal aku sudah sebal banget Ra. "


" Memang menyebalkan. "


" Ehm .. Ehm .. " Biru berdehem yang tiba-tiba muncul tak terduga membuat keduanya terlonjak kaget.


" Biru. " Ucap keduanya kompak karena terkejut, sudah seperti maling yang tertangkap basah.


" Pantas saja telingaku panas, ada 2 gadis kampung bergosip di belakangku. " Biru pura-pura menggaruk telinganya.


" Mau apa kamu ke sini, ini zona terlarang buat pembeli. " Sungut Khayra.


" Heeh, kenapa pembeli nggak boleh ke sini? "


" Kecuali kamu, yang lain boleh. " Kilah Khayra tak mau kalah.


" Heh.. hati-hati ya kalau bicara, itu mulut nggak disekolahin ya? "


" Apa? "


" Apa? "


Biru dan Khayra saling tatap kesal.


" Sudah..sudah..kalian berdua ini memang jodoh kali ya, bisa kompak begini. "


" Ariniiiiiii.. " Pekik Biru dan Khayra bersamaan, keduanya mencebikkan muka.


" Amit..amit.." Biru mengetuk beberapa kali lututnya.


" Naudzubillah Min Dzalik.." Cibir Kahyra.


Benci dan cinta keduanya mungkin sesuatu yang bertolak belakang, namun hati yang membenci bisa berbalik mencinta, begitu sebaliknya hati yang mencinta pun bisa sangat membenci.


Arini tertawa puas melihat keduanya.


♡ ♡


Siang hari Khayra mengantar bekal makanan untuk Mbok Fatma dan Pak Eko di ladang.


Siang yang cukup terik, dengan jilbab yang menjuntai dan topi bambu khas petani. Khayra mengayuh sepeda keramatnya, menuju ladang.


Khayra sudah sampai di gubuk di tepi ladang, menaruh bekal dan membukanya, aroma masakan Bunda yang begitu menggugah selera.


" Mbok..Pak Eko, ayo istirahat kita makan. "


Setelah membersihkan diri dan cuci tangan, Mbok Fatma dan Pak Eko mendekat.


" Hmm.. masakan Bunda memang enak, hehehe..Pak Eko rugi kalau nggak nambuh Nduk Rara. " Gurau Pak Eko sambil menikmati santapan siang.

__ADS_1


" Ya Pak Eko kita habiskan makanan ini. " Seru Khayra tersenyum riang.


" Kamu ini Nduk.."


Mbok Fatma tersenyum memperhatikan keduanya, Khayra memang akrab dengan Pak Eko, mungkin karena dia tak mengenal sosok Ayah sampai sebesar ini.


Khayra dan Pak Eko bergurau setelah selesai menghabiskan makan, Pak Eko memang sosok yang humoris.


" Ah..kenyang, alhamdulillah. " Khayra mengusap perutnya yang rata.


Khayra merasa nyaman dengan Pak Eko dan Istrinya, Ibu Ningrum. Beliau berdua tidak dikaruniai keturunan, sehingga keduanya menumpahkan kasih sayang kepada Khayra sejak kecil.


Tidak heran jika Khayra dengan Pak Eko dan Ibu Ningrum sangat dekat, Ibu Ningrum adalah saudara ipar Mbok Fatma.


" Pak nanti sore Rara mau ke rumah Bapak, Rara kangen sama Ibu Ningrum. "


" Ya Nduk, kamu minta dimasakin apa nanti sama Ibumu? "


" Masak Buntil keladi Pak sama ikan teri. "


" Nanti Bapak kasih tahu Ibumu! "


" Hmmm.. pasti enak banget. "


Khayra tersenyum membayangkan masakan Ibu Ningrum yang juga enak, meski hanya masakan kampung. Khayra yang dibesarkan di desa tentu sudah terbiasa dengan makanan sederhana.


Khayra membereskan bekas bekal makanan, dan bersiap untuk pulang ke rumah sebelum kembali lagi ke kedai.


Kasihan kamu Nduk, nggak seharusnya kamu hidup prihatin seperti ini, semoga kelak kamu menemukan kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikmu. " Lirih Mbok Fatma menyeka setitik airmata yang menetes dipipinya yang mulai mengeriput.


Mbok Fatma memandang jauh, ingatannya kembali ke masa 18 tahun silam.


" Mbok.. Bapak..Rara mau pamit pulang dulu ya! "


" Hati-hati kalau jatuh bangun sendiri. " Gurau Pak Eko.


" Bapaaak.."


" Hehehe, ya sudah sana pulang sholat, nanti bantu Bunda lagi. "


Tangan keriputnya kembali mengusap airmata yang terus mengalir, dipandangi punggung Khayra yang semakin menjauh.


Di persimpangan jalan, sepeda Khayra dan Biru bertabrakan, karena jalan desa yang bebatuan.


Khayra yang dari arah jalan menurun sepedanya hilang kendali, ban depan terpeleset batu jalan, sementara Biru dari arah lawan.


" Auw.."


Keduanya meringis kesakitan, terlebih kaki Biru yang terluka kemarin masih belum sembuh.


" Kamu.."


" Kamu lagi.."


" Cewek bawel.."


" Dasar cowok aneh.."


.


.


.


.


.


.


Biru sama Khayra sudah kayak Tom And Jerry saja, musuh bebuyutan.😆😁😂🤣.

__ADS_1


__ADS_2