
♡
Kedai mulai sepi, sudah jam 13.45 Wib.
Setelah menunaikan sholat zhuhur, Khayra mulai membersihkan meja, sementara Bunda duduk sambil memetik sayuran.
Khayra menumpuk piring kotornya ke dalam ember besar, untuk dicuci di sumur belakang kedai.
" Sayang duduk sini! " Beberapa hari ini Bunda merasa, Khayra lebih pendiam tidak seperti biasa.
" Sayang, apa Bayu masih sering mengganggumu? "
" Kenapa Bunda bertanya seperti itu, bukankah juragan Suwoto juga masih mengejar Bunda. "
" Sayang! " Bunda menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan perkataannya.
" Sayang, Bunda hanya tidak ingin kamu dekat dengan anak lelaki, nantinya hanya membuat kecewa, kamu masih terlalu kecil untuk merasakan sakit hati. " Ucap Bunda menahan pedih.
" Tidak semua lelaki seperti itu Bunda! " Bantah Khayra getir, Khayra menggigit bibirnya.
Maafkan Khayra, Bunda..
Khayra berlalu ke belakang membawa seember piring kotor.
" Khayra.."
Bunda memandang putrinya, putri kecilnya dulu, yang kini sudah beranjak remaja.
Kekecewaan Bunda dengan kehidupan cintanya bersama Ayah kandung Khayra, yang meninggalkan bekas luka cukup dalam. Hingga saat ini, rasa sakit itu masih jelas membekas, meski 18 tahun sudah berlalu.
Sayang..
Cukup Bunda yang merasakan kepedihan ini, Bunda tidak ingin terulang hal yang sama padamu, kamu kelak mengerti ketakutan Bunda.
Bunda berharap, semoga kamu mendapat lelaki yang menyayangimu sepenuh hati, melindungimu dan menjagamu dengan tulus.
Semoga kelak kamu mendapatkan pendamping yang tepat dan baik. Bunda hanya bisa berdo'a untuk kebahagiaanmu, sayang..
Bono dan Biru mengucap salam sampai 3 kali, Bunda Hilda tetap mematung tak mendengar.
" Assalamualaikum.." Ulang mereka.
Biru dan Bono saling berpandangan, hingga Khayra datang dari arah dapur karena mendengar orang mengucap salam.
" Waalaikumsalam.." Khayra menggoyangkan bahu Bunda perlahan.
" Maaf Bunda nggak tahu.." Bunda kebingungan.
" Nak Biru sama Nak Bono mau beli apa? sama Rara saja ya, Bunda mau ke belakang. "
" Ya Bunda. "
" Sayang Bunda mau ke belakang, tolong ladeni mereka! "
Khayra mengangguk, Bunda berlalu ke belakang.
Mereka menangkap kesedihan di wajah Bunda, Khayra tahu Bunda sedih karena obrolan singkatnya tadi.
Maaf Bunda..
Khayra nggak bermaksud membuat Bunda sedih.
__ADS_1
Tapi sampai kapan Bunda seperti itu, berkubang dalam trauma masa lalu Bunda, dan menganggap semua lelaki sama di mata Bunda.
Khayra termenung sejenak, hingga sapaan Bono menyadarkannya.
" Rara.." Bono menggoyangkan telapak tangan ke depan wajah Khayra.
" Eh maaf..ya ada apa tadi, mau pesan apa kalian? "
Biru memandang Khayra sesaat kemudian berpaling, terlihat jelas raut kesedihan di paras ayu itu.
Biru memesan beberapa makanan, setelah membungkusnya Khayra memberikan pada Biru. Biru membayar dengan uang selembar seratus ribuan, Khayra masih dengan diam memberikan kembalian.
" Terima kasih! " Ucap Biru.
" Eh ya sama-sama.."
" Kita balik Ra, terima kasih. " Pamit Bono, Khayra hanya mengangguk.
Biru dan Bono pergi dari kedai, Khayra duduk di kursi kedai.
Kepalanya disandarkan ke meja, Khayra bingung, rasa ingin tahu tentang Ayahnya semakin kuat, tapi dia tahu ini akan menyakiti Bunda.
" Ya Allah..Khayra harus bagaimana? " Bisiknya lirih.
" Assalamualaikum Rara.."
Arini datang ke kedai, sudah lama dia tidak membantu Khayra di kedai.
" Waalaikumsalam Arini.."
" Sepi Bunda mana? "
" Bunda ada di belakang. "
Arini mengangguk, " Sudah. "
" Kamu kenapa? mendung begitu. "
" Bunda.." Khayra menutup wajah ayunya dengan kedua telapak tangan.
" Bunda sedih karena aku, aku sudah menyinggung perasaan Bunda. "
Mata Arini membulat, kenapa dengan sahabatnya. Khayra selama ini tidak pernah sedikit pun tidak patuh pada perkataan Bunda, bagaimana mungkin seorang Khayra bisa membuat Bunda bersedih.
" Kamu ada masalah apalagi dengan Bunda? "
Khayra mulai terisak, Arini menghela nafas. Dia tahu sahabatnya mungkin tidak sengaja melakukannya, Khayra merasa bersalah.
" Apakah tentang kemarin? "
Khayra mengangguk disela isaknya, Arini mengusap bahu Khayra.
" Bicaralah dengan Bunda, minta maaf jangan membuat Bunda tersudut lagi, kamu tidak tahu tentang masa lalu Bunda, jangan menghakimi Bunda. "
" Jika kamu memang ingin tahu, tanyakan pada Bunda dengan hati-hati jangan memaksa, mungkin Bunda masih belum siap. Bunda punya alasan sendiri, kamu harus paham itu." Imbuh Arini.
Khayra mengangguk, diusap air mata yang meleleh di wajah ayunya.
" Terima kasih Arini, kamu selalu mengerti aku. " Mereka berpelukan, Arini melepasnya.
" Sudah menangisnya, jelek tahu! " Goda Arini, Khayra tersenyum.
__ADS_1
" Temui Bunda, minta maaf! " Bujuk Arini, Khayra mengangguk.
♡ ♡
Bono terus mengayuh sepeda barunya, beriringan dengan Biru.
Mereka baru saja mengantar bingkisan nasi dan lauk untuk Si Mbok.
Biru dan Bono ingin makan di gubuk tengah sawah yang mereka lewati sebelum ke rumah Bono.
" Itu gubuknya Bro, lewat sini. "
Mereka mengayuh sepeda berbelok ke jalan kecil menuju gubuk di sawah milik penduduk desa.
Biru merasa kagum, dengan view yang ada dihadapannya.
" Bunda kenapa ya? kok wajahnya kelihatan sedih begitu? " Ujar Bono masih mengayuh sepedanya.
" Mungkin ada masalah. "
" Rara juga diam saja, bengong begitu. "
" Semoga masalah yang mereka hadapi nggak terlalu rumit. "
Biru sebenarnya khawatir melihat Khayra sering diam dan termenung. Tapi apa daya, Biru tidak ingin terlalu ikut campur masalah orang lain, apalagi ranah pribadi seseorang.
Mereka berhenti di gubuk tepat di tengah sawah, membuka bekal makanan yang mereka beli tadi.
" Ayo makan! " Ajak Biru.
" Hmm..aroma masakan Bunda memang nggak ada tandingannya. "
Mereka menikmati makan sambil memandang pemandangan hijau yang menyejukkan.
" Bono, kamu tahu nggak cerita tentang keluarga Khayra? "
" Nggak begitu tahu sih, dia cuma tinggal sama Bunda dan si Mbok Fatma. "
" Keluarga yang lain? " Bono menggeleng.
" Khayra lahir di sini, dari kecil dia dibesarkan Bunda tanpa tahu Ayahnya, itu sih yang pernah aku dengar. "
" Apa orang tuanya bercerai? "
" Mungkin bisa saja, selama di sini tidak pernah ada yang datang berkunjung ke keluarga Khayra. Pak Eko dan Ibu Ningrum, juga keluarga Arini yang dekat dengan mereka. "
Bono mengambil jeda sejenak, meneguk minumannya.
" Bunda baik sih orangnya, tapi sedikit tertutup. "
Biru menoleh ke Bono, " Maksudnya? "
" Ya begitu, Khayra nggak boleh bergaul dengan teman lelakinya, cuma aku teman lelaki yang punya izin Bunda dan boleh dekat sama Rara. "
" Kenapa begitu? " Biru menautkan alisnya, Bono mengedikkan bahu.
Biru semakin penasaran dengan kisah keluarga Khayra, meski Mama dan Bunda bersahabat. Tetapi tak ada cerita sedikitpun tentang mereka.
Biru menatap jauh ke depan, hamparan sawah menghijau.
Mungkin berat yang dirasakan Bunda, sehingga membuat Bunda berkeras hati, melarang Khayra berdekatan dengan seorang lelaki, bahkan untuk berteman sekalipun.
__ADS_1
Tidak mungkin Bunda melakukan itu semua tanpa alasan, Bunda sebagai orang tua, terlebih orang tua tunggal, punya cara tersendiri untuk menjaga Khayra putrinya. Walau terlihat sedikit mengekang kebebasan Khayra, tapi semua demi kebaikan Khayra.
Meski Khayra juga tahu batasan dalam bergaul dengan yang bukan mahramnya, dan Khayra selalu menjaga jarak.