
♡
Khayra mendekap mukenah dan sajadah yang dilipat dalam tas, berjalan kaki menyusuri jalan desa, sepulang mengaji dari surau.
Biru melihat Khayra berjalan pulang sendiri, jalanan desa yang temaram dengan pencahayaan yang ala kadarnya.
Timbul niat iseng menjahili Khayra, Biru mengayuh sepedanya kencang dan mengagetkan Khayra.
" Awas cewek bawel di belakangmu. "
Khayra terlonjak kaget, mengetahui Biru datang tiba-tiba, Khayra merutuk kesal atas kejahilan Biru.
Biru yang selalu dingin di depan orang lain, tapi selalu jahil pada Khayra.
" Biruuuuu.." Khayra melempar Biru dengan kerikil kecil yang diambilnya di jalan, tapi gagal tidak mengenai Biru.
" Dasar cowok aneh.." Gerutu Khayra kesal.
" Haha nggak kena. " Biru terus mengayuh sepedanya semakin menjauh meninggalkan Khayra dengan wajah kesalnya.
Biru sudah sampai di rumah, menaruh sepeda di teras samping.
Biru mengucap salam, saat memasuki rumah Pak Bahrun.
Biru baru saja kembali dari surau, keluarga Arini sudah berkumpul di ruang makan.
" Nak Biru ayo makan! "
" Baik Om Tante, Biru ganti baju dulu. "
" Ya sudah cepat Biru, aku lapar. " Tukas Arini.
" Arini. " Tegur Pak Bahrun.
" Maaf Pak cuma bercanda saja. "
Biru berganti kaos oblong polos dengan celana jeans selutut.
Biru masih senyum terbayang kejadian sepulang dari surau tadi, saat Khayra berjalan kaki sendiri, dan Biru menjahilinya.
Biru terus meledek Khayra dan menakuti Khayra yang berjalan pulang sendiri dikegelapan.
Biru tersenyum mengingat wajah kesal Khayra saat dikerjai olehnya.
Imut sekali, tapi tetap saja bawel.
Biru bergabung dengan keluarga Arini untuk menyantap makan malam.
" Bagaimana sekolah kamu Nak Biru? " Pak Bahrun mendekatkan piring berisi lauk pada Biru, Biru mengangguk terima kasih.
" Alhamdulillah menyenangkan Om, banyak teman baru. " Sahut Biru tersenyum kecil.
" Ayo makan yang banyak Nak Biru, ini lauknya dimakan juga! " Ibu Dewi meletakkan ikan nila bakar di piring Biru.
Biru kembali mengangguk terima kasih.
" Kakimu masih sakit Biru? " Ceplos Arini sambil mengunyah makannya.
" Kamu jatuh Nak Biru? " Tanya Pak Bahrun cemas.
" Kakimu nggak apa, sudah diobati Nak Biru? " Tanya Ibu Dewi khawatir.
Biru tersenyum melihat ketulusan keluarga ini, begitu jelas terlihat kecemasan dari wajah mereka.
" Nggak apa Om Tante, cuma lecet sedikit saja. "
" Kenapa bisa jatuh itu bagaimana, tempo hari jatuh dipinggir sungai, ini sudah jatuh lagi. "
" Ya tadi dije.." Arini tak jadi melanjutkan perkataannya, melihat mata Biru yang membulat melarangnya.
" Jatuh terpeleset Om. " Bohong Biru.
" Sudah nanti diobati lagi, sekarang makannya dihabiskan dulu. " Tutur Ibu Dewi lembut, mereka kembali melanjutkan makan.
Sementara di rumah Khayra.
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam Nduk.."
Khayra masih kesal dengan kejahilan Biru, Khayra menekuk wajahnya.
" Sudah pulang Nduk? "
" Ya Mbok.."
" Kita makan sayang! " Ajak Bunda.
" Khayra mau ke kamar dulu Bunda. "
Khayra menyalami Bunda dan Si Mbok, dan berlalu ke kamar.
" Kenapa itu anak gadismu, pulang dari mengaji kok sewot. "
__ADS_1
" Biasa kelakuan si Rara, Mbok kayak nggak tahu saja, mau PMS mungkin. "
Khayra merutuk di dalam kamarnya, selama ini cukup Bayu yang membuatnya kesal, tapi apa ini ditambah dengan Biru yang jauh membuatnya lebih kesal.
" Awas kamu Biru, kenapa ada cowok yang menyebalkan kayak kamu. "
" Sebal..sebal.." Rutuk Khayra.
Si Mbok tersenyum melihat kelakuan Khayra dari celah pintu yang terbuka dan perlahan menutup kembali pintu kamar Khayra.
♡ ♡
Pagi yang cerah dengan udara yang masih terasa sejuk.
Khayra mengayuh sepedanya pelan.
" Awas cewek bawel. "
Lagi-lagi Biru mengagetkannya dari belakang, belum hilang rasa kesalnya karena kejadian semalam, Biru sudah berulah lagi.
" Biruuu.." Pekik Khayra kesal.
Biru mengayuh sepedanya cepat dengan senyum jahilnya, meninggalkan Khayra yang masih menahan kesal.
" Kenapa kamu Ra? " Sepeda Arini sudah beriringan dengan Khayra.
" Dasar cowok aneh! " Rutuk Khayra sewot, Arini tertawa melihat wajah kesal sahabatnya.
Arini tahu ini pasti ulah Biru, dan tebakannya tepat.
" Aku sebal banget lihat Biru, dari semalam menggangguku. "
" Hmm, pantas saja semalam Biru pulang dari surau senyum sendiri kaya orang nggak waras. "
Ternyata karena ini pikir Arini, Arini mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya semalam.
Khayra memasang wajah cemberut, Arini tersenyum melihatnya.
" Dia suka mungkin sama kamu. " Tebak Arini.
" Malas banget, cowok aneh menyebalkan suka bikin kesal begitu. " Sungut Khayra.
" Hati-hati lho Ra, jangan benci bilang cinta, nanti ujung-ujungnya gedebuk love lho. " Goda Arini.
" Ariniii.. " Khayra mengejar sepeda Arini.
Arini dan Khayra sudah masuk ke kelas, Khayra melirik kesal pada Biru yang terlihat dengan tampang cuek dan sok cool nya.
Cewek bawel kamu imut banget kalau lagi kesal, menggemaskan.
Biru berusaha menahan senyum, dibalik wajah dinginnya.
Pelajaran dimulai Khayra terlihat diam pagi ini, sampai Ibu Murni memanggilnya beberapa kali Khayra tak juga mendengarnya.
" Khayra.."
" Khayra.."
" Khayra..!! "
Kali ini suara Ibu Murni lantang terdengar, Arini gemas dan menyobek bukunya, meremas kertas dan melemparkan gumpalan kertas itu pada Khayra.
" Ya Ibu..ma..maaf. "
" Kamu kenapa? "
" Lagi datang bulan kali Bu! " Gurau Ragil.
Semua teman sekelas tertawa mendengar celetukan Ragil, hanya Biru yang menatapnya diam.
Biru merasa bersalah, Biru merasa kasihan melihat Khayra diam tidak seperti biasanya.
Apa aku sudah keterlaluan sama cewek bawel ini ya?
" Ragil. " Ibu Murni membulatkan mata pada Ragil.
" Sudah diam semua. " Gertak Ibu Murni, sekejap kembali hening.
" Tugas PR untuk hari sabtu, kerjakan soal di halaman 83 sampai 85! "
" Huuuuh.." Sorak mereka ribut kembali, Ibu Murni mengemas bukunya dan meninggalkan kelas.
Bel istirahat sekolah berbunyi, Khayra terlihat berjalan keluar kelas sendiri tanpa menunggu Arini.
Biru memperhatikan Khayra yang terus membisu. Biru pergi ke ruang Rohis, sekilas Biru melihat Khayra berjalan ke tempat wudhu khusus Akhwat, Biru menuju ruang Rohis Ikhwan.
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.."
" Hai Biru, bagaimana dengan kakimu? " Tegur Rayhan.
" Alhamdulillah nggak apa, cuma lecet sedikit kemarin. "
__ADS_1
" Bayu memang begitu! " Tukas Bono Geram.
Mereka sudah berkumpul di ruang Rohis.
Mereka yang sudah fasih Al_quran membaca dengan tartil, hari ini mereka masih belajar tajwid.
Sementara Biru dengan dibantu Hafiz mulai membaca Iqro'.
Waktu istirahat yang hanya sebentar mereka manfaatkan untuk belajar.
Tak terasa waktu istirahat akan segera berakhir, tersisa Biru dan Hafiz yang berada di ruang Rohis.
" Ini buat kamu belajar di rumah, semoga bermanfaat! " Hafiz menyodorkan Buku Tajwid dan Jus amma pada Biru.
" Terima kasih Hafiz. "
Hadiah kedua yang berharga yang diterimanya.
" Aku dulu ya! " Pamit Hafiz menepuk pundak Biru.
Biru mengangguk, Hafiz berlalu darinya.
Biru memakai kaos kaki dan sepatunya di bangku depan ruang Rohis, terlihat Khayra baru saja keluar dari ruang Rohis Akhwat yang memang ruangnya bersebelahan.
" Cewek bawel tunggu! " Biru berlari kecil mengejar Khayra.
Khayra menoleh sesaat, menyadari mereka hanya berdua Khayra kembali mempercepat langkahnya.
" Khayra.."
Khayra sesaat berhenti, untuk pertama kalinya Biru memanggil namanya dengan benar, bukan cewek bawel seperti biasa. Khayra menatap Biru tajam, membulatkan matanya.
Wajahnya terlihat menggemaskan bagi Biru, Biru tak sadar tersenyum yang semakin membuat kesal Khayra, karena Khayra berpikir Biru menertawakannya.
Khayra kembali melangkah, tak menghiraukan Biru yang mengiringinya.
" Khay..!"
" Khay, kamu marah ya sama aku? "
" Jangan marah lagi Khay, aku hanya bercanda, aku minta maaf Khay. "
" Bercandamu nggak lucu tahu! " Khayra menoleh pada Biru sekejap, kemudian berpaling lagi.
Biru menahan senyumnya, Khayra masih kesal pada pria yang berjalan di sebelahnya.
Mereka berdua masuk kekelas, semua teman sekelas terperangah menyadari Biru dan Khayra yang berjalan beriringan.
Bayu menatap tajam keduanya, merasakan api cemburu.
Menyadari menjadi pusat perhatian teman sekelasnya Khayra dan Biru memilih duduk di bangku masing-masing.
" Wow, aku kalah start dari Khayra, diam-diam Khayra main belakang ya, katanya nggak mau dekat sama bukan mahramnya. " Sindir Ratih sewot.
" Munafik! " Cibir Ratih lagi.
" Wah Khayra sukanya main tikung dia! " Ejek Ragil.
Khayra diam menahan amarahnya, hanya beristighfar dalam hati.
" Apa peduli kalian kalau kami berdua dekat, ada masalah? " Geram Biru, Ratih dan Ragil terdiam dibuatnya.
Khayra menoleh mendengar pembelaan Biru.
" Masalah buat aku! " Bayu berdiri dengan wajah merah padam.
Biru cuek tak menanggapi, tak lama guru matematika datang.
" Bayu duduk! "
Bayu akhirnya duduk, masih dengan wajah kesalnya.
" Kalian berdua dari mana? " Selidik Arini berbisik, Arini tahu sahabatnya bukan type wanita seperti yang mereka tuduhkan.
" Nggak dari mana-mana cowok aneh itu saja yang kayak virus corona mengekoriku. "
" Apa? " Arini membulatkan mata, melirik sekilas pada Biru yang fokus dengan tatapan dinginnya ke papan tulis.
.
.
.
.
.
Biru yang cool, suka banget ya jahil sama Khayra.
" Khay.." Manis banget panggilan Biru untuk Khayra.
💕❣😂🤣.
__ADS_1