Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Terasa Berbeda


__ADS_3


Bel berbunyi, tanda jam sekolah berakhir.


Biru bergegas pulang, dia ingin menunaikan sholat Zhuhur di surau.


Menuju tempat sepedanya diparkir, semua sepeda berjejer rapi.


Para siswi masih terlihat berbisik memperhatikan Biru yang terlihat gagah dengan seragam putih abu-abunya.


Bahkan ada beberapa siswi yang nekad menyapa Biru, dengan terpaksa Biru membalas sapaan mereka.


Itu sudah membuat mereka semakin terpikat pada pesona seorang Reino Biru Samudra.


Hanya ada beberapa motor milik guru dan salah satunya milik Bayu yang terparkir di sini.


" Arini, aku pulang dulu ya. " Pamit Biru masih dengan sikap tenangnya yang cenderung dingin.


" Ya Biru, aku pulang bareng Khayra. "


" Khayra? " Ulang Biru.


" Ini Rara maksudnya. " Jelas Arini.


" Oh cewek bawel. " Ucap Biru dingin.


" Iih dasar cowok aneh. " Gerutu Khayra kesal.


Biru meninggalkan kedua gadis bersahabat itu, Biru ingin cepat sampai di rumah sebelum pergi ke surau.


" Kamu betah tinggal dengan cowok menyebalkan itu Arin? "


" Hahaha..aku mulai terbiasa dengan cowok sok cool itu. " Sahut Arini dengan tawa renyahnya.


Khayra dan Arini beriringan mengayuh sepeda mereka, bersama teman lainnya.


Tin..Tin..


Suara klakson motor Bayu mengagetkan mereka. Motor Bayu berhenti tepat di depan Khayra, Khayra terpaksa turun dari sepedanya. Arini mengikuti yang dilakukan Khayra sahabatnya.


" Bayuuuu..sapi. " Teriak Arini latah karena kaget harus mengerem mendadak.


" Enak saja bilang aku yang ganteng ini sapi. " Sungut Bayu.


" Memang kamu anak sapi, eh salah maksudnya juragan sapi. " Ejek Arini.


Sementara Bayu membujuk Khayra, Ragil terlihat menggoda Arini pujaan hatinya.


Meski ditolak mentah-mentah dengan Arini yang terkenal tomboy, Ragil tak surut dengan niatnya.


" Khayra, ayo pulang bareng aku ya. " Bujuk Bayu tak menyerah, meski selalu ditolak Khayra.


Khayra menggeleng sambil menuntun sepedanya.


" Ayo dong Ra, kasihan lho kamu capek naik sepeda terus. "


" Terima kasih Bayu, aku bisa pulang bareng Arini kok. " Tolak Khayra halus.


" Rara, kamu naik motor baruku saja, kenapa capek-capek naik sepeda butut ini. "


Khayra terdiam sesaat mendengar Bayu yang menghina sepeda miliknya. Khayra menghembuskan nafas kesal.


" Maaf ya Bayu, aku lebih nyaman naik sepeda bututku. " Sahut Khayra kesal, kemudian mengayuh sepedanya meninggalkan Bayu dan Ragil.


Bayu sadar salah berucap, dia mengacak rambutnya kasar, Khayra semakin menjauh mengayuh sepedanya.


" Ra..Raraa..ma..maaf aku nggak bermaksud menghinamu. " Pekik Bayu gugup menyadari kesalahannya.


Bayu menyalakan mesin motornya dan berniat mengejar Khayra, Ragil mengejar motor Bayu dengan sepedanya. Ragil yang selalu setia mengikuti Bayu yang mengendarai motor di belakangnya.

__ADS_1


Khayra merasa terganggu Bayu menyinggung sepeda kesayangannya.


Khayra tak mempedulikan Bayu yang terus mengejarnya untuk meminta maaf.


" Dasar Bayu sialan, bilang sepedaku butut. " Rutuk Khayra ketika sampai di halaman rumahnya.


Khayra masuk ke dalam rumah, tidak ada siapapun yang dia temui. Rumah terasa lengang siang hari, Bunda tentu masih di kedai dan Mbok Fatma di ladang.


Khayra hendak bersiap menunaikan sholat Zhuhur, Khayra beranjak mengambil wudhu.


Melaksanakan fardhu lima waktu bagi umat muslim.


♡ ♡


Biru sudah sampai di kediaman Pak Kepala Desa, yang menjadi tempat tinggalnya selama menetap di sini.


" Assalamualaikum Tante.."


" Waalaikumsalam Biru, kamu pulang sendiri? Nggak bareng Arini sama Khayra? "


" Biru buru-buru Tante. "


Ibu Dewi hanya tersenyum, Biru pamit ke kamar. Biru bergegas bersiap untuk pergi ke surau, setelah menaruh tasnya di kamar.


" Nak Biru mau ke surau, nggak makan dulu Nak! "


Tanya Ibu Dewi yang melihat Biru sudah siap dengan mengenakan peci, baju koko dan sarungnya.


" Nanti saja Tante dewi, Biru takut telat sholat berjama'ahnya. "


Biru pamit pada Ibu Dewi, Istri Pak Bahrun.


Biru teringat apa yang dikatakan Ustadz Khalid tentang keutamaan sholat berjama'ah yang 27 kali lipat pahala yang didapat.


Biru mengayuh sepedanya ke surau, letak surau tak jauh dari rumah Pak Kepala desa yang ditempati Biru.


Biru menyenderkan sepedanya, dan melangkah ke tempat wudhu.


Setelah mengikuti sholat berjama'ah Biru duduk tertunduk ditempatnya.


Semua jama'ah lain sudah pulang, hanya Ustadz Khalid dan Biru yang masih tertinggal.


" Assalamualaikum Ustadz.."


" Waalaikumsalam Nak Biru.."


" Belum pulang? "


" Belum Ustadz, apakah Ustadz sudah ingin pulang sekarang. "


Ustadz Khalid menggeleng, Biru penasaran.


" Saya mau membersihkan surau dulu. "


" Saya bantu Ustadz. "


Setiap seminggu sekali, Ustadz bergotong royong dibantu warga setempat membersihkan surau.


" Hanya menyapu saja, besok hari jum'at pagi warga bergotong royong membersihkan surau. "


" Saya sekolah Ustadz, tidak bisa membantu jika hari jum'at pagi. "


" Tidak apa. "


" Izinkan saya membantu Ustadz. "


Biru berlari mengambil sapu dan mulai membersihkan dalam surau kemudian mengepelnya, menyapu halaman surau.


Ustadz Khalid meninggalkan Biru sendiri tak lama kemudian kembali lagi dengan membawa sebotol minuman.

__ADS_1


Rumah Ustadz Khalid berada tepat di belakang surau.


Terlihat Ummi Annisa membawa senampan makanan, 2 piring ketupat pecel dan 2 gelas teh.


Biru sudah selesai dengan bersih-bersihnya, dia teringat belum makan saat rasa lapar menyadarkannya.


" Makan dulu Nak Biru! " Ummi Annisa mempersilahkan Biru makan.


" Ya Ummi, terima kasih. Maaf saya jadi merepotkan Ummi. "


" Ayo dimakan nanti kelamaan nggak enak. " Ajak Ustadz Khalid, Biru pamit cuci tangan sebelum menyantap makanannya.


" Kamu tinggal bersama Pak Kepala Desa? "


" Ya Ustadz, beliau teman baik Papa saya. "


Ustadz Khalid mendengarkan cerita Biru dengan seksama.


" Saya rindu Om Bahrun Ustadz, Om Bahrun yang pertama kali mengajarkan Islam pada saya waktu kecil. "


" Benarkah? " Ustadz Khalid semakin penasaran dengan kisah hidup pemuda tampan di hadapannya ini.


Pemuda yang berusaha mencari jati dirinya, Ustadz Khalid kagum dengan semangat dan tekad Biru.


" Saya ingin lebih dekat dan mengenal sang Khaliq Ustadz."


" Insya Allah, kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan merangkul keluargamu untuk lebih dekat pada Rabb_Nya. "


" Apakah saya bisa Ustadz. " Pesimis Biru.


" Harus bisa! "


Ustadz Khalid meyakinkan kegundahan hati Biru, akan ketidak mampuannya.


" Kamu kelak adalah Imam bagi Istri dan anakmu, sebelum kamu benar-benar memimpin keluargamu, kamu harus belajar memimpin dirimu sendiri, memimpin anggota tubuhmu untuk tetap berbuat baik dan mencegahnya dari berbuat maksiat. "


" Insya Allah Ustadz. "


Ustadz Khalid tersenyum, Biru kembali mendapat harapan baru untuk lebih baik lagi.


" Ustadz saya tidak tahu Ustadz juga mengajar di sekolah. "


" Hmm.. "


" Di sekolah ada ekstrakurikuler kegiatan religi dan kebetulan saya yang menjadi pembimbingnya. "


" Apakah saya boleh bergabung Ustadz. " Ragu Biru bertanya.


" Tentu saja, siapapun boleh ikut. "


Biru terlihat bersemangat mendengar ada ekstrakurikuler keagamaan di sekolah, dan yang lebih menyenangkan lagi bagi Biru, Ustadz Khalid yang menjadi pembimbingnya.


Biru berpikir banyak peluangnya untuk selalu bertanya dan belajar tentang Islam kepada Ustadz Khalid.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa jejaknya ya gaes..


Author berterima kasih sekali.

__ADS_1


😗😙😄☺.


__ADS_2