Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Niat Baik


__ADS_3


Siang yang cukup terik.


Biru berpapasan dengan Khayra saat hendak ke sekolah.


Siang ini mereka ada ekstra kurikuler anggota Rohis. Menyimak kajian rutin yang diadakan sebulan sekali di musholla sekolah.


" Hei Khay mau ke sekolah juga ya? "


" Ya.. " Sahut Khayra singkat.


" Arini bilang nggak bisa ikut, dia lagi dapet katanya. Nggak tahu dapet apa. " Terang Biru bingung.


" Sudah tahu.."


" Irit banget si Khay bicaramu. " Protes Biru.


" Hemat pangkal kaya. "


Biru tertawa, Khayra diam saja menanggapi Biru, mereka mengayuh sepeda beriringan.


Meski masih terkesan kaku dan dingin, Biru mulai lembut pada Khayra.


" Hei Biru, Khayra kalian berdua barengan, mana si Arini? " Tegur Bono di gerbang sekolah.


" Ada di rumah nggak ikut. " Sahut Biru.


" Dulu ya Bono.." Khayra menuju tempat parkir.


" Kamu tinggalkan Biru, nggak pamit Rara. " Goda Bono.


Biru meninju lengan Bono geram.


Khayra pergi lebih dulu meninggalkan Biru dan Bono.


" Dasar kamu ya Bono. "


Setelah menyenderkan sepeda mereka berjalan ke musholla.


" Kita ke tempat wudhu dulu Bono. "


" Ya.."


Terlihat di musholla sudah ramai, tempat siswi dan siswa terpisah hijab pembatas.


Biru dan Bono duduk di dekat Hafiz dan temannya.


" Siapa Ustadz yang memberikan tausiah? " Bisik Biru penasaran.


" Ada Ustadz Khafid dari desa sebelah. " Terang Hafiz.


Acara dimulai dengan Ustadz Khalid membaca muqaddimah, dilanjutkan acara pembuka lainnya.


Kemudian tausiah yang diberikan oleh Ustadz Khafid.


Inti dari tausiah hari ini tentang zina, Ustadz Khafid menjabarkan tentang dosa zina.


" Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah, perbuatan yang keji, dan seburuk-buruk jalan yang ditempuh seseorang. QS. Al-Israa : 32. "


" Anak hasil zina, tidak mempunyai hubungan nasab, wali, nikah, waris, dan nafaqah dengan ayah biologisnya. Dia hanya memiliki hubungan nasab, wali, nikah, dan nafaqah dari Ibu dan keluarga Ibunya. "


" Di sini siapa yang sangat dirugikan? " Semua terdiam.


" Akhwat.." Tekan Ustadz Khafid penuh emosi.


" Akhwat.." Ulang Ustadz Khafid, kali ini terdengar lirih menyayat.


" Wahai Ukhti fillah, jagalah dirimu, jaga auratmu. Jangan kau hinakan dirimu. " Lirih Ustadz Khafid penuh penekanan, membuat yang mendengarnya ingin menangis.


" Akhwat, yang sejatinya harus kita muliakan, janganlah dinodai dengan zina. zina yang merusak masa depan kita, dengan zina kita menanggung dosa yang sangat besar, kita akan merugi dunia akhirat. "


" Sangat besar.." Ulangnya lirih.


Semua siswi dan siswa termenung mendengarkan. Bahkan ada yang menangis karena tersentuhnya.


Ustadz Khafid yang membawakan tausiah dengan hati, terdengar menyentuh dan sangat menyejukkan qolbu.

__ADS_1


Tausiah selesai sebelum ashar, mereka menunaikan sholat ashar berjama'ah dengan diimami oleh Ustadz Khalid.


Seusai sholat mereka pulang, ada yang beberapa belum pulang.


Hafiz dan temannya membersihkan musholla terlebih dahulu sebelum pulang.


" Hafiz biar kita bantu. " Bono dan Biru membantu Hafiz membersihkan musholla.


Ternyata Khayra juga belum pulang, dia dan temannya membersihkan musholla. Mereka terhalang hijab pembatas.


Mereka pulang setelah selesai, Hafiz dan temannya pulang lebih dulu. Biru dan Bono berjalan ke parkiran sepeda.


" Kita boncengan Bono, aku antar pulang kasihan kamu jalan jauh, sudah sore. "


" Terima kasih bro. "


" Itu Rara baru keluar dari musholla tunggu sebentar Bro, kasihan pulang sendiri. "


" Biar saja, itu ada temannya, masih sore juga dia pemberani kok. "


" Kasihan bro. "


" Sudah kita duluan. "


Mereka berboncengan, akhirnya Biru dan Bono pulang lebih dulu, tanpa menunggu Khayra.


" Bono, tausiahnya bikin aku merinding. Ustadz Khafid bagus banget penyampaiannya, mengena banget di sini. " Bono menunjuk dadanya.


" Ya bro, aku hampir menangis tadi. "


" Benar semua itu fatamorgana, hanya kenikmatan semu. "


♡ ♡


Biru berbaring di dalam kamar.


Dia membaca buku tentang zina, dia masih penasaran dengan tausiah yang disampaikan Ustadz Khafid.


Dibukanya bab tentang zina, membacanya dengan seksama.


" Mendekatinya saja berdosa, apalagi melakukannya.." Gumam Biru bergidik takut.


" Bono, kasihan anak itu nggak punya sepeda. Kalau aku membelikan dia tersinggung nggak ya, nanti dikira aku menghinanya. "


Biru berpikir keras bagaimana cara dia bisa memberikan hadiah sepeda, tanpa merendahkannya.


" Tok..Tok.. Biru buka. " Suara Arini.


" Ada apa? "


Biru membuka pintu, membuat celah saja.


" Itu diajak minum teh Bapak. "


" Ya nanti aku kesana. "


Arini menghilang dibalik pintu.


Biru mengikuti Om Bahrun yang duduk di teras samping.


" Ada apa Om? "


" Duduk sini kita minum teh hangat. "


" Nak Biru besok Om mau ke kota, kamu mau ikut Om nggak? "


" Nggak Om, Biru malas pulang. "


" Lihat keadaan orang tuamu sekali saja. "


" Mereka baik-baik saja Om. "


" Nak Biru tidak boleh begitu.."


" Om Biru boleh tanya sesuatu? "


" Tanya apa Nak Biru? "

__ADS_1


" Emm..begini, teman Biru si Bono nggak punya sepeda, kalau Biru belikan bagaimana menurut Om, Bono tersinggung nggak ya Om? "


" Niat Nak Biru baik, tapi Bono tidak mau dikasihani, dulu Om pernah mau membelikan dia nggak mau. "


" Emm..apakah Om ada kerjaan untuk dia. "


" Kerjaan apa, nggak ada Nak Biru. "


Biru berpikir sejenak, dia duduk di teras samping rumah Pak Bahrun. Rumah yang beraksen ukiran, dengan halaman yang luas.


" Halaman luas..tunggu, sepertinya Biru dapat ide om. "


" Bagus kalau begitu. "


" Biru titip beli sepeda ya Om buat Bono, yang bagus. "


" Kamu anak yang baik Biru, Om bangga sama kamu. "


" Sudah mau maghrib ayo siap-siap ke surau. "


Biru mengangguk, " Ya Om, terima kasih Om. "


Biru berlari kecil ke kamar dengan wajah senang.


Arini yang berpapasan dengannya mengernyit heran, " Eh itu si es balok kok tumben senyum-senyum. "


" Bapak mau ke surau? "


" Ya Nduk.."


" Ya Bapak masuk siap-siap. "


Biru dan Pak Bahrun berboncengan motor pergi ke surau.


Adzan maghrib sudah berkumandang merdu, menggema di seluruh desa.


Semua merapikan shaf dan mengikuti Imam, Sholat berjama'ah yang diimami Ustadz Khalid.


Seusai sholat semua pulang, kecuali murid yang mengaji. Mereka menunggu mendapat giliran belajar, mereka terlihat mengulang kembali pelajaran, begitupun Biru menunggu duduk di samping Aris, bocah yang selalu membantunya belajar dan mengoreksi bacaan Iqro'nya, sambil mengulang pelajaran mengaji hari kemarin.


" Mas Biru sudah hampir khatam Iqro', Aris duluan mengajinya Mas. "


" Ya Aris.."


Aris berdiri mendekat ke Ustadz Khalid, untuk mengaji Al_quran.


Biru sudah hampir khatam Iqro', Biru sangat cerdas daya tangkapnya sangat cepat. Dia bersemangat mengaji, sebentar lagi dia sudah bisa belajar mengaji Al_quran.


Semua murid lain sudah selesai mengaji, mereka pamit pulang duluan.


" Mas Biru, Aris pulang dulu ya, Assalamualaikum. "


" Ya, Waalaikumsalam..hati-hati Aris. "


Bocah kecil yang pandai mengaji, Aris yang selalu menemani Biru, jika menunggu giliran belajar dia akan membantu Biru. Biru tidak malu meski belajar dari anak yang usianya jauh lebih muda darinya.


Bukankah, tidak ada kata terlambat untuk kita belajar.


.


.


.


.


.


.


😊☺


Jangan lupa jejaknya ya, biar Author


semangat Up nya.


Terima kasih semua..

__ADS_1


💕❣


__ADS_2