
♡
Biru baru saja selesai mengaji, dan menutup Al_qurannya, dihela nafasnya yang terasa berat. Biru berusaha memberanikan diri untuk bertanya pada Ustadz Khalid tentang kegelisahannya.
" Ustadz, bolehkah saya ingin bertanya sesuatu? "
Ustadz Khalid mengangguk, " Silahkan, selagi saya bisa menjawabnya! "
" Ustadz kenapa hati saya sering gelisah karena memikirkan sesuatu? " Ungkap Biru ragu, Ustadz Khalid terlihat berpikir sejenak.
" Tergantung pikiran apa yang bisa membuatmu gelisah, jika sesuatu yang tidak seharusnya kamu pikirkan, dan kamu terus memikirkannya, tentu saja itu bisa membuatmu merasa tidak tenang. "
" Benar Ustadz, hati saya merasa tidak tenang. " Imbuh Biru.
" Contohnya saja jika kamu memikirkan wanita yang bukan mahrammu! " Tegas Ustadz Khalid, Biru terdiam mendengarkan.
" Bagaimana mungkin kamu akan tenang jika kamu terus memikirkan sesuatu yang belum halal bagimu. "
Biru tertegun mendengarkan penuturan Ustadz Khalid.
Apakah benar perasaan ini adalah cinta, yang kumiliki untuknya.
" Cinta itu hal fitrah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang dimiliki setiap manusia, dalam Islam, perasaan cinta itu tidak salah, yang tidak benar adalah saat cinta itu tidak ditempatkan ditempat yang seharusnya, maka itu menjadi tidak rasional.
Menahan perasaan karena tidak ingin bermaksiat karena cintanya dan menepis rasa rindu yang belum saatnya kamu miliki, itu jauh lebih baik, kamu akan mendapat pahala jihad. Dan bukanlah suatu dosa, mencintai seseorang yang bukan mahram, selama tidak melakukan yang Allah Ta'ala murkai. " Ustadz Khalid mengambil jeda sesaat, Biru terus memperhatikan penjelasan Ustadz Khalid.
" Jagalah pandanganmu, hindari zina, apapun itu, zina hati, zina mata, Zina pikiran terlebih zina perbuatan. Sibukkan dirimu dengan sesuatu hal yang lebih bermanfaat, lebih mendekat pada Allah dan perbaiki diri, akan jauh lebih baik jika kamu diam. "
Semua perkataan Ustadz Khalid tertanam dalam hati Biru. Biru yang baru menyadari ternyata yang dirasakan saat ini adalah rasa yang tak biasa, yang dia miliki untuk Khayra. Gadis yang akhir-akhir ini mengusik hatinya, Biru harus menyimpan rapi cinta dalam hati, meski sedikit menyiksa. Biru tidak ingin perasaan cintanya melebihi cintanya pada sang khaliq, biarlah kelak takdir yang menyatukan cintanya di waktu yang benar dan pada hati yang tepat.
Biru mengayuh sepedanya, membelah kegelapan malam.
Terlihat Arini dan Khayra berjalan beriringan sepulang dari surau, Biru melewati mereka dan berhenti sejenak. Biru menunduk dan diam saat tak sengaja matanya bertatapan dengan Khayra.
" Aku dulu ya Arini! " Ujarnya singkat.
" Biru.." Arini merutuk karena kaget, Biru kembali mengayuh sepedanya hingga tak terlihat lagi dikegelapan.
" Kamu pulang sendiri lagi nanti? " Tutur Khayra lembut.
" Hahaha..aku dari dulu kan sudah terbiasa pulang sendiri. "
Mereka berdua kembali berjalan, hingga sampai di depan rumah Khayra.
" Kamu hati-hati ya! " Pesan Khayra pada sahabat terbaiknya itu.
" Aku pulang ya. " Arini pulang dengan mengayuh sepeda yang sedari tadi dituntunnya. Khayra berjalan ke rumahnya yang terlihat sudah gelap, hanya lampu luar rumah yang menyala.
__ADS_1
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.."
Bunda terlihat mengantuk saat membukakan pintu untuk Khayra.
" Tidurlah, Bunda juga sudah mengantuk! "
" Ya Bunda. "
Khayra mengambil diary kesayangannya, kembali menorehkan kisahnya hari ini.
Dear diary..
Dia hanya diam, tidak seperti biasanya.
Hanya sebaris kata yang dituliskan Khayra. Khayra kembali menutup catatan hariannya, menyimpan rapi dalam kotak.
Di tempat yang berbeda, Biru setelah makan malam bersama keluarga Pak Bahrun dia mengambil gitar, dia ingin duduk di teras menikmati malam.
" Kamu mau kemana Nak Biru? " Tegur Ibu Dewi, yang melihat Biru hendak membuka pintu dengan tangan yang menenteng gitar.
" Biru mau cari angin Tante, duduk di teras. "
" Jangan larut malam, nanti masuk angin. "
Biru duduk di teras samping, memetik gitar menyenandungkan lirik lagu, terdengar suaranya yang berat mengalun sendu, menyiratkan perasaan yang tengah gelisah.
" Ehm..ehm..kedengarannya galau banget. " Usik Arini.
Hamparan selimut malam, dengan langit yang terlihat cerah bertaburan bintang yang berkelip bagai butiran berlian.
" Melow banget sih Biru lagunya, yang ceria sedikit kenapa! "
" Lagi nggak mood. " Terang Biru malas.
" Kamu kenapa toh? "
" Nggak ada. "
" Hayoo mengaku saja! "
" Sikap kamu kenapa beda banget sama Rara, diam saja? "
Biru menggeleng pelan, Arini masih tidak percaya dengan perubahan sikap Biru.
" Kalian bertengkar ya? " Selidik Arini.
__ADS_1
" Siapa yang bertengkar? nggak kok. " Kilah Biru.
" Sikapmu itu yang berbeda, biasanya kamu berdua kayak tom and jerry kalau ketemu, ini dari siang tadi kamu diam saja nggak kayak biasanya. "
" Nggak ada, nggak kenapa-napa kok. " Elak Biru, Arini memandang penuh curiga.
" Nggak percaya! "
Arini berdiri dan masuk ke dalam rumah, Biru kembali memetik gitar mengalunkan irama lembut.
Arini terlihat masuk dan berpapasan dengan Ibunya, yang membawakan secangkir teh untuk Pak Bahrun yang duduk di sofa ruang TV.
Arini duduk di sebelah Bapaknya, mengganti chanel TV.
" Kenapa kamu kok sewot begitu? "
" Nggak ada lagi kesal sama Biru. "
" Kenapa Nak Biru? " Pak Bahrun menaikkan sebelah alisnya.
" Nggak tahu aneh saja, bisa berubah diam begitu. "
" Ya kedengarannya sedih banget lagunya. " Imbuh Ibu Dewi.
" Lagi patah hati mungkin? " Tebak Pak Bahrun sambil mengerutkan kening.
" Bisa jadi, tapi patah hati dengan siapa? " Ibu Dewi dan Pak Bahrun mengedikkan bahu.
" Nggak mungkinlah Pak Biru patah hati, atau bisa jadi, mungkin saja dia.."
" Mungkin saja dia.."Pekik Arini histeris mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahunya
Bapak Bahrun dan Ibu Dewi berpandangan melihat tingkah putri mereka.
Arini berlari ke kamarnya, dia tertawa sendiri membayangkan jika benar yang dia tebak.
Biru terus memikirkan perkataan Ustadz Khalid, perasaan yang baru saja berakar harus pupus. Biru tidak ingin, karena perasaan yang seharusnya belum saatnya dia miliki membuatnya harus menanggung dosa zina hati, mata, pikiran bahkan perbuatan, karena terus memikirkan Khayra yang bukan mahramnya.
Jika dia memang untukku, takdir akan mempertemukan kami lagi kelak dalam ikatan yang halal.
Hingga tengah malam Biru baru beranjak masuk ke kamar, membaringkan diri dan memejamkan matanya, perlahan perkataan Ustadz Khalid dan bayangan Khayra silih berganti datang dibenaknya.
Astaghfirullahaladzim..
Ampuni hamba Ya Rabb, jika perasaanku ini belum seharusnya aku miliki saat ini, tolong ikhlaskan hatiku dan pertemukan kami nanti di waktu yang tepat.
Biru memandang ke langit kamarnya, diusap wajah tampannya yang terlihat sayu. Biru berusaha membuang jauh perasaannya, meski terbersit kesedihan dalam hati kecilnya. Usia remaja yang memang rentan jatuh hati pada lawan jenisnya, meski tidak ada yang salah ada baiknya untuk menghindari.
__ADS_1
" Maafkan aku Khay..nggak seharusnya perasaan ini ada saat ini. " Bisik Biru terdengar lirih, hanya pada dirinya sendiri.