
♡
Biru dan Arini terlihat bersepeda bersama, tak lama di persimpangan Khayra menyapa Arini.
" Arini. "
" Eh Rara,
" Ayo nanti kita telat. " Ajak Khayra mengingatkan.
Biru tetap diam tanpa menggubris kedua gadis ini yang mengobrol sambil terus mengayuh sepedanya.
" Rara nanti siang aku ke kedai Bunda ya, sejak jadi pengawal Biru, aku jadi jarang membantumu. "
" Kamu ini Ra. "
" Aku sudah nggak perlu pengawal. " Sahut Biru dingin, mengayuh sepedanya dengan cepat dan meninggalkan kedua gadis itu.
Biru lebih dulu sampai di sekolah, dengan langkah yang tegap Biru berjalan ke kelas. Semua fans beratnya berebut ingin mendapatkan perhatian Biru.
Biru meletakkan tasnya di bangku dan kembali keluar kelas.
Dia ingin menemui Ustadz Khalid untuk mendaftar menjadi anggota dikegiatan keagamaan yang dibimbing Ustadz Khalid.
Ustadz Khalid sedang duduk di musholla sekolah terlihat serius membaca buku.
" Assalamualaikum Ustadz.. "
Biru memberanikan diri mengetuk pintu musholla.
Ustadz Khalid menoleh pada Biru dan tersenyum.
" Waalaikumsalam.."
" Masuk Nak Biru! "
" Terima kasih Ustadz. "
" Sepertinya kamu ingin secepatnya bergabung dalam keanggotaan kegiatan Rohis kita? "
Biru mengangguk tersenyum bersemangat.
" Nanti saat jam istirahat saja datang ke ruang sebelah! "
" Ruang sebelah itu Ustadz? " Tunjuk Biru, Ustadz Khalid mengangguk.
" Baik Ustadz saya permisi ke kelas dulu. "
" Silahkan! "
" Assalamualaikum Ustadz. "
" Waalaikumsalam. "
Biru pamit meninggalkan Ustadz Khalid, sebentar lagi bel berbunyi.
Dan 2 jam berlalu, saat istirahat tiba Biru bergegas ke ruang Rohis yang ditunjukan oleh Ustadz Khalid pagi ini.
Biru hanya tersenyum dingin saat beberapa teman wanitanya menyapa.
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.."
Biru masuk ke ruang Rohis yang menjadi tempat kegiatan berlangsung.
Terlihat beberapa siswa lain yang ada di ruangan.
Biru menyapa mereka, semua menyambut ramah pada Biru.
Biru berkenalan dengan siswa senior di Organisasi Rohis.
__ADS_1
Rayhan, Hafiz, Syafiq, Ridho, Ardi, dan Bono.
" Selamat datang dan selamat bergabung di forum Rohis kita, kita akan belajar dan berbagi ilmu tentang agama Islam. "
" Sebulan sekali kita ada kajian dan mengundang Ustadz. "
" Kita bisa saling tanya jawab, belajar dan berdiskusi tentang Al_quran dan buku yang kita kaji setiap 1 minggu sekali. "
" Kita juga bisa menghafal Al_quran. "
" Kita juga ada acara bakti sosial, ke panti dan badan amal lainnya. "
" Yang pasti kita akan belajar bersama, menjadi lebih baik lagi. "
Jelas semua senior, Biru mendengarkannya dengan cermat.
" Saya masih awam, mohon bantuan teman sekalian. " Tutur Biru yang masih harus banyak belajar.
" Insya Allah kita semua akan membantumu, Insya Allah dimudahkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala jika kita berniat sungguh-sungguh untuk belajar. "
" Aamiin.."
" Terima kasih semua. "
" Biru kita sekelas, kamu bisa bertanya padaku jika ingin tahu banyak. " Ucap Bono tersenyum lebar.
" Dia ahlinya, asisten Ustadz Khalid. " Hafiz menepuk pundak Bono dan menggodanya.
" Apa toh Fiz, ya nggak toh. " Bono menggaruk leher, merasa malu.
" Bukannya kamu Hafiz yang di tunjuk Ustadz Khalid untuk mendampingi Biru belajar. " Tanya Rayhan memastikan, dijawab anggukan Hafiz.
" Ya Bono, bercanda saja, tapi kita semua bisa membantu Biru untuk belajar kan. "
" Terima kasih semua, saya bersyukur bisa mengenal kalian. "
Alhamdulillah Ya Allah..
Aku masih diberi kesempatan untuk lebih dekat pada_Mu lewat mereka.
Bono anak bertubuh cungkring yang supel dan humoris.
Semua senior Rohis tertawa dibuatnya, Biru hanya tersenyum kecil. Biru bersyukur berada di tengah mereka.
Biru dan Bono pamit meninggalkan ruang rohis, Biru berniat pergi ke kantin.
" Kita berteman. " Biru mengulurkan tangan pada Bono.
" Hehehe, berteman. " Bono menerima uluran tangan Biru dan menggenggamnya erat.
" Kita ke kantin Bono! " Ajak Biru.
" Hehehe aku sudah kenyang Biru. " Bono menggaruk rambut gelomangnya.
Tidak mungkin Bono terus terang pada Bono kalau dia tidak pernah bawa uang saku.
Biru berjalan ke kantin, membeli 2 botol minuman dingin dan kembali lagi setelah selesai membayarnya.
Biru mengulurkan sebotol minuman pada Bono, Bono diam sesaat merasa tidak enak hati.
" Terimalah jika kita memang teman! "
Dengan ragu Bono menerima minuman itu, Bono yang tak pernah memiliki uang saku untuk jajan di sekolah. Bono selalu membawa bekal yang dibawakan si Mboknya.
" Terima kasih Biru. "
Biru dan Bono memilih duduk di bangku dekat ruang perpustakaan.
" Kamu pindahan dari mana toh Biru? " Logat jawa yang terdengar kental.
" Dari Jakarta Bono. "
__ADS_1
" Wuih dari Jakarta toh, ramai ya di sana banyak gedung ceker ayam, eh maksudnya pencakar langit. "
Biru tertawa kecil, kelucuan Bono membuat Biru nyaman berteman dengannya.
" Biasa saja Bono sama saja, ku lebih nyaman tinggal di sini, tenang. " Biru menerawang.
" Ya nggak toh Biru, ya enak di kota toh, banyak hiburan."
" Kelihatannya saja enak di kota, tapi bagiku lebih nyaman dan tenang di desa, nggak ada gangguan dan rasanya hatiku adem banget selama tinggal di sini. "
" Rumahmu di mana Bono, aku mau dong main ke tempatmu? " Antusias Biru.
" Gubukku jelek Biru, apa kamu sudi mampir ke gubuk reotku. "
Bono terlihat minder dengan keadaannya yang memperhatikan.
" Apaan sih Bono, kamu harusnya bersyukur ada tempat berteduh. "
Biru menepuk pundak Bono, Bono tersenyum melihat ketulusan Biru.
" Nanti pulang sekolah kita bareng ya Bono? "
" Ya bro oke.." Ujar Bono tertawa lebar.
Bono dan Biru terus berbincang, hingga bel berbunyi keduanya bangkit dan masuk ke kelas mereka.
♡ ♡
Biru terlihat serius dengan buku bacaannya.
Biru teringat Bono teman barunya, Bono sekolah dengan berjalan kaki. Dari penampilannya saja bisa tahu kalau Bono bukanlah orang yang mampu.
Biru mulai betah tinggal di desa ini, bukan hanya karena panorama desa yang indah serta sejuk, tetapi Biru menemukan ketenangan dan arti hidup yang sesungguhnya dan tentunya teman baru yang baik juga menyenangkan.
Biru semakin rajin belajar Agama, bahkan saat Pak Bahrun dan Ibu Dewi ke kota, Biru meminta tolong untuk dibelikan buku tentang keagamaan.
Disela waktu luangnya, Biru membaca buku yang dibelikan Pak Bahrun.
Biru anak yang cerdas, daya tangkapnya sangat cepat, tak butuh waktu lama untuk kembali mendapatkan hapalan bacaan sholatnya yang dulu sempat terlupakan.
Biru belajar dengan giat, Biru masih belajar Iqra', Biru tidak malu meski seusia dia harusnya sudah khatam Al_quran.
" Biru. " Arini mengetuk pintu kamar Biru, tak lama Biru menaruh buku bacaannya dan membuka pintu.
" Ada apa? "
" Itu dipanggil Bapakku. "
" Ya. " Sahutnya singkat.
" Arini tunggu sebentar aku mau tanya soal Bono. "
" Bono? "
Biru mengangguk pasti, dan Arini menceritakan semua tentang Bono dan keluarganya.
" Dia anak baik, tetaplah berteman dengannya! "
" Tentu. " Sahut Biru pasti.
Biru berjalan ke teras samping di mana Pak Bahrun menunggunya.
" Kamu betah tinggal di sini Nak Biru? "
Biru mengangguk perlahan, terukir senyum bahagia dari Pak Bahrun.
" Jauh lebih nyaman dari pada tinggal di rumah Papa dan Mama Om. "
" Kamu nggak boleh bicara begitu, bagaimanapun mereka tetap orang tuamu Biru. "
" Tak ada yang orang tua yang menelantarkan anaknya Om. " Ucap Biru dingin tanpa ekspresi di wajahnya.
__ADS_1
Pak Bahrun tahu betul masalah yang membelit Biru, perasaan terabaikan oleh orang tuanya yang sibuk mengumpulkan pundi-pundi uang.
Biru yang mulai beranjak remaja, mengharapkan sosok Papa Mama bisa menemani di sampingnya. Biru yang anak sulung merasa kesepian, hanya adiknya Jingga yang sering berbagi keluh kesah dengan Biru.