Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Rahasia Kita


__ADS_3


Malam beralih, pagi mulai menyapa.


Pagi ini Pak Bahrun harus bekerja, di kantor desa.


Pak Bahrun terpaksa menitipkan Biru pada Bunda Hilda, sebelum Ibu Dewi datang.


" Maaf Bunda, saya harus ke kantor, bisa tolong titip jaga Nak Biru, nanti istri saya kemari selesai masak. " Ucap Pak Bahrun tak enak hati.


" Ya nggak apa Pak Bahrun, silahkan kalau mau kerja. "


" Nak Biru, Om kerja dulu ya, kamu nggak apa Om tinggal, nanti minta tolong sama Bunda kalau perlu apa-apa ya! "


" Ya Om..nggak apa, Om kerja saja Biru sudah mendingan kok. "


" Saya permisi Bunda Hilda, tolong titip Biru. "


" Ya Pak.."


" Terima kasih lho Bunda.."


Bunda mengangguk tersenyum, Pak Bahrun pulang untuk bekerja. 2 hari dia absen tidak masuk kantor, pergi ke kota.


Keadaan Biru sudah sedikit membaik, panasnya sudah turun.


Khayra terlihat masih tidur, seusai sholat shubuh Khayra tertidur, Khayra sholat dengan posisi duduk.


Dini hari tadi Khayra terbangun karena menggigil lagi.


" Kalau perlu apa-apa jangan sungkan panggil Bunda ya, Bunda juga sudah seperti keluarga dengan keluarga Pak Bahrun. " Tutur Bunda lembut.


" Terima kasih Bunda. " Ucap Biru pelan, dia melirik Khayra yang masih tertidur.


" Kalian sudah saling kenal bukan, anak Bunda satu sekolah dengan Nak Biru? "


Biru mengangguk, " Kami satu kelas Bunda. "


" Ya beginilah Khayra hanya bersahabat dengan Arini. "


Biru tersenyum, Bunda duduk di kursi.


" Anak Bunda galak ya sama kamu? "


" Ya Bunda sedikit." Sahut Biru rikuh.


" Dia selalu begitu dengan siapapun. " Perkataan Bunda menggantung, Biru penasaran.


" Nak Biru, Bunda pergi sebentar mau ada yang dibeli di toko seberang jalan. "


" Ya Bunda. "


" Nak Biru ingin beli sesuatu, biar Bunda belikan? " Tanya Bunda penuh perhatian.


Biru menggeleng, Bunda kemudian pergi. Hanya ada Biru dan Khayra di ruang perawatan.


" Cewek bawel kamu imut banget kalau tidur. " Gumam Biru gemas.


Terlihat Khayra menggeliat, mengerjapkan mata.


" Bunda! " Khayra mencari Bundanya, wajahnya terlihat menggemaskan.


Biru tersenyum melihat tingkah Khayra, Khayra tak sengaja menoleh ke arah Biru, secepat kilat dia berbalik.


" Bunda lagi ke toko sebentar. " Jelas Biru tanpa diminta.


Khayra merasa malu, menyadarinya baru bangun tidur dan Biru melihatnya.


" Ya.." Sahut Khayra singkat.


Mereka terlihat canggung hanya berdua.


" Ehm..Biru aku mau bilang terima kasih untuk kemarin malam. "


" Hmm.." Biru pura-pura tidak tahu.


" Mmm..maaf ya, karena aku kamu jadi sakit, kalau aku nggak pakai payung kamu.."


" Jangan berandai, ini sudah kehendak dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kalau hari ini kita sakit, buktinya kamu pakai payung tapi tetap sakit kan, ini bukan salah kamu! "


Khayra mengangguk, Biru hanya tidak ingin Khayra merasa bersalah.

__ADS_1


Memang ini sudah kehendak_Nya, mereka sakit dan kehendak_Nya juga mereka dipertemukan.


" Biru boleh minta tolong? " Pinta Khayra ragu, Biru menoleh.


" Apa? "


" Mmm..bisa nggak kalau jangan bilang kalau kemarin kita pulang bersama. "


" Kenapa? "


" Biru please..! "


" Ya kenapa? " Desak Biru.


Khayra terdiam, jika dia tidak bilang alasannya kenapa harus merahasiakan. Biru pasti tidak akan mau.


" Mmm..aku takut Bunda marah. " Ucapnya lirih.


" Bunda? " Ulang Biru, Khayra mengangguk wajahnya terlihat serius.


Khayra menangkupkan kedua tangan, memohon pada Biru.


" Bunda baik kok.."


" Tapi Bunda nggak suka kalau putrinya dekat dengan cowok. "


Biru memandang Khayra sesaat, kemudian beralih.


" Kumohon Biru..tolong aku ya? " Mohon Khayra.


Tiba-tiba pintu terbuka, Bunda masuk membawa kantong belanja.


" Kalian mau sarapan? "


" Nak Biru ini ada bubur ayam, Bunda beli di depan, kamu mau makan? "


Biru segan menerimanya, " Ini ada dapat sarapan pagi Bunda. "


" Kalau terasa hambar, Nak Biru makan bubur ayam ini saja. " Bunda membuka dan memberikannya pada Biru.


" Ayo dimakan mumpung masih hangat! "


" Terima kasih Bunda! " Angguk Biru.


" Sayang makan dulu. " Bunda juga memberikan Khayra bubur.


Khayra mengangguk, Bunda duduk di tengah antara ranjang keduanya.


" Nak Biru tinggal di sini lama? "


Biru menggeleng, " Usai lulus sekolah, Insya Allah Biru pulang ke jakarta, untuk kuliah Bunda. "


" Bunda nggak tahu, Rara mau kuliah di mana? "


" Di semarang saja Bunda. " Sahut Khayra, Biru menoleh, Khayra tetap menunduk menikmati buburnya.


Biru dan Khayra tenggelam dalam pikiran mereka, entah apa yang mengganjal hati mereka, keduanya tidak bisa menebak.


" Sayang Bunda mau mandi ya? "


Khayra mengangguk, Bunda hendak mandi. Khayra hanya diseka air hangat tadi pagi.


Khayra dan Biru sama-sama diam, tidak tahu harus bagaimana.


Ibu Dewi datang membawa rantang berisi makanan.


" Rara, Biru kalian kok berdua saja, Bunda mana? "


" Bunda mandi sedang, Ibu. "


" Kalian sudah makan, maaf Ibu lama ya, Ibu masak dulu. "


" Sudah makan tadi kok Bu. " Sahut Khayra.


" Nak Biru mau makan? "


" Sudah tante, tadi Bunda beli bubur. "


" Kalian berdua sudah sarapan toh? "


" Ya tadi Ibu Dewi, saya beli bubur ayam di toko depan. " Bunda terlihat segar sesudah selesai mandi..

__ADS_1


" Ibu Dewi kapan datang. " Sapa Bunda.


" Ya Bunda, baru saja sampai, tadi masak dulu, maaf agak lama ya, Ini saya bawa nasi sama lauk banyak, tapi tidak seenak masakan Bunda. "


" Apa toh Ibu Kades ini, berlebihan. "


" Betul kok Bunda, memang ya toh! "


" Sama saja. " Bunda merendah.


Bunda dan Ibu Dewi terlihat mengobrol, sementara Biru dan Khayra hanya menjadi pendengar yang baik.


Hingga tak terasa waktu zhuhur tiba, Ibu Dewi dan Bunda sholat di musholla puskesmas.


Khayra sholat dengan duduk, Khayra masih lemas, dan Biru sholat berdiri seperti biasa.


Bunda dan Ibu Dewi yang belum sholat, pamit ke musholla.


" Bunda sama Ibu Dewi mau sholat dulu ya! "


" Kalian nggak apa ditinggal sebentar? "


Biru dan Khayra mengangguk.


Bunda dan Ibu Dewi pergi sholat, hanya menyisakan 2 anak manusia.


Mereka merasa jenuh, hingga terdengar suara cempreng Arini, Arini dan Bono datang bersama.


" Hei..kok kalian bisa seruangan? " Selidik Arini.


" Kalian janjian ya? " Goda Bono.


" Apa toh? " Khayra


" Apa kalian juga janjian sakitnya? " Ulang Arini.


" Apa jangan-jangan kalian juga kemarin.."


" Apa? "


" Kalian.." Arini menutup mulutnya.


Biru diam saja tidak menanggapi teman jahilnya ini, sementara Khayra sudah sewot.


Arini dan Bono tidak berhenti menggoda keduanya.


" Kalian kemarin pulang bareng kan? " Tebak Arini.


" Bro..??" Bono membolakan mata, seolah terkejut.


" Kalau ya kenapa? "


Khayra menutup wajahnya.


" Kalian.."


" Jangan bilang Bunda! " Khayra memohon.


" Cerita dulu, nanti aku nggak bilang Bunda. "


" Cerita apa? "


" Cerita pas kalian pulang bareng. " Bisik Arini.


" Apa sih? " Khayra blushing.


" Kalian tahu nggak, sepi banget di kelas nggak ada kalian. " Celoteh Bono.


" Kalian kok cuma berdua, Bunda sama Ibu kemana? "


" Sholat. " Sahut Khayra.


" Bagaimana keadaan kamu Ra? "


" Panas dinginnya masih hilang timbul, masih menunggu hasil tes darah. "


" Kamu Biru? "


" Alhamdulillah baik.."


Biru mengobrol dengan Bono, dan Khayra mengobrol dengan Arini.

__ADS_1


Mereka berempat saling bertukar cerita, Bono dan Arini bercerita tentang di sekolah pagi ini.


__ADS_2