
♡
Mama dan Bunda kembali ke ruang perawatan.
Biru dan Khayra berdua terlihat diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Hingga kedatangan Bunda dan Mama membuyarkan kebisuan diantara kedua remaja ini.
" Kok pada diam semua, pada sariawan ya? " Goda Mama Ina, Bunda hanya tersenyum.
Biru dan Khayra menggeleng.
" Sayang ini sahabat Bunda, Mama Inayah. "
Bunda dan Mama terlihat berangkulan.
" Benarkah? " Khayra menghela nafas lega, ternyata perkiraannya salah.
Mama Ina dan Bunda Hilda mengangguk bersama.
" Mama selama ini nggak pernah cerita tentang Bunda? " Biru ingin tahu.
Khayra hanya diam, seperti biasa Khayra tidak pernah berani untuk sekedar bertanya tentang masa lalu Bundanya, Bunda selalu tertutup pada Khayra.
" Ceritanya panjang sayang, yang terpenting Mama senang bisa bertemu dengan sahabat Mama. "
Terlihat rona bahagia dari wajah cantik Mama Ina, dan keduanya berpelukan erat.
Dokter Aida masuk ke ruang perawatan bersama seorang perawat pendamping, sekilas menatap Bunda dan Mama Ina.
Dokter Aida hendak memeriksa keadaan Biru dan Khayra.
" Permisi Khayra, kita periksa dulu ya? " Dokter Aida memeriksa Khayra.
" Sepertinya sudah boleh pulang, dari hasil tes labor nggak ada sakit apa-apa, hanya demam biasa. "
" Terima kasih Dokter. "
" Jangan lupa minum obatnya, makan yang sehat. " Pesan Dokter Aida, Khayra mengangguk.
Dokter Aida beralih memeriksa Biru.
" Ini siapa? "
" Biru, Dokter." Jelas perawat yang bersama Dokter Aida.
" Kita periksa dulu ya! "
" Sudah boleh pulang juga, makan yang sehat, minum obatnya ya. "
" Terima kasih Dokter. "
Dokter Aida dan perawat permisi meninggalkan ruang.
Bakda zhuhur mereka pulang, kebetulan Dokter Aida sudah mengizinkan Biru dan Khayra boleh pulang diwaktu yang hampir sama.
Setelah menyelesaikan administrasi, Bunda terlihat bersiap, membereskan barang dan memasukkan ke dalam tas.
" Kita sudah boleh pulang, Hilda kalian pulang bareng aku saja. "
" Nggak usah Ina, merepotkanmu nanti, kami bisa pulang pakai sepeda. "
" Kamu ini Hilda nggak pernah berubah, apa kamu nggak mau menyuruhku mampir ke rumahmu? "
" Bukan begitu Ina.."
" Khayra, Biru ayo kita pulang sama Mama Ina sayang. "
Biru dan Khayra berpandangan.
Dan akhirnya Khayra pulang bersama Biru dan Mama Ina, Bunda pulang dengan sepeda milik Khayra.
__ADS_1
" Ini rumah kami Mama Ina.."
Mereka sudah sampai di rumah sederhana milik Bunda.
" Kita sudah sampai, ayo kita turun sayang. "
Mereka turun, Mbok Fatma membuka pintu. Terkejut melihat siapa yang datang.
" Nak Inayah. "
" Mbok Fatma.."
Mama Ina memeluk Mbok Fatma, mereka melepas rindu.
" Apa kabar Mbok? "
" Alhamdulillah baik Nak Inayah. "
Tak lama Bunda juga sampai, mengajak tamunya masuk ke dalam.
" Ayo kita masuk, inilah gubuk kami. "
" Hilda.."
Mereka masuk ke dalam, Biru dan Pak Dodi duduk di teras.
" Duduk Ina! "
" Rumahmu nyaman dan sejuk ya Hilda, pantas kamu betah ya. "
" Ya di sini jauh lebih nyaman dan damai. " Bunda menerawang.
" Ayo diminum, ini ada pisang goreng juga. "
Mbok Fatma membawa senampan teh hangat dan pisang goreng.
" Lho mana anakmu tadi Ina, nggak masuk? "
" Dia lagi di teras, menemani sopirku. "
Khayra mengangguk, kemudian membawa nampan berisi 2 gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng ke teras depan..
" Silahkan Pak diminum! " Khayra mempersilahkan Pak Dodi untuk minum teh.
" Terima kasih Nona. " Pak Dodi mengangguk tersenyum.
" Biru diminum! "
" Terima kasih. " Ucap Biru singkat.
Khayra kembali masuk ke dalam, duduk dekat Mbok Fatma.
" Khayra temani Tante Ina ya Bunda mau menyiapkan makan. "
" Nggak usah repot Hilda, kamu seperti sama siapa saja. "
" Kamu tamu spesialku, nggak mungkin aku biarkan kelaparan mampir ke gubukku, pagi tadi aku sudah masak, tinggal menyiapkan saja. "
Bunda berlalu ke dapur, mempersiapkan makan siang ala kadarnya, gulai ayam kampung dan tumis kacang panjang, sambal teri dan lalap timun.
" Ayo Ina makan ajak anakmu sama pak sopirmu! "
Mereka menikmati makan siang yang disiapkan Bunda, Bunda tidak menyangka akan kedatangan sahabat lamanya.
" Masakanmu enak banget Hilda, 20 tahun nggak ketemu, kamu jadi pintar masak. "
" Aku belajar sama Si Mbok, kami buka kedai kecil-kecilan di sini. "
" Nasi pincuk Bunda enak lho Mam! "
" Wah anakku saja suka masakanmu Hilda, pantas saja Biru betah di sini. "
__ADS_1
" Kamu ini! "
" Kapan ada waktu aku ke sini lagi, kamu masak yang enak lagi ya Hilda. "
" Hanya masakan kampung Ina. "
" Besok kalau aku ke sini, aku mau belajar masak sama kamu. "
" Masakan kota kan lebih enak Ina, kenapa mau belajar masak sama aku. "
" Aku lebih suka masakan seperti ini, pas di lidah aku. "
" Ayo nambuh Pak! "
" Ya Nyonya! "
" Jangan Panggil Nyonya Pak! nggak pantas saya.
" Kamu kapan-kapan ikut ke jakarta, main ke rumahku ya Hilda. "
Bunda terdiam, mereka semua memperhatikan Bunda.
" Rasanya aku nggak pantas pergi ke kota lagi. " Bunda tersenyum getir.
" Kenapa? "
Bunda menggeleng, menarik nafas dalam.
" Ayo makan lagi, dihabiskan. "
" Hilda aku mau lagi ayam gulainya, enak banget. "
Mereka kembali menikmati santapan siang yang sederhana tapi sangat lezat.
Bunda tidak pernah berpikir untuk kembali ke jakarta, bermimpi pun Bunda tak ingin, terlalu menyakitkan untuknya.
Ibu kota jakarta, dengan beragam cerita di sana, kenangan dan masa lalu yang ingin Bunda Hilda kubur dalam.
Bunda dan Mama Ina duduk di bawah pohon mangga, mereka hanya berdua.
" Kenapa Hilda? "
" Aku hanya ingin melupakan semuanya. "
" Apakah putrimu tahu siapa Ayahnya? "
Bunda menggeleng, " Aku takut untuk memberitahukan pada putriku, ini hanya akan menyakitinya. "
" Kasihan putrimu Khayra, bagaimanapun Pram adalah Ayah kandungnya. "
" Nggak Ina, ini hanya memberikan harapan kosong untuk putriku, Mas Pram sudah menikah lagi, tidak mungkin aku bisa membahagiakan putriku, bagaimana dengan putriku nanti Ina. "
" Maafkan aku Hilda, aku tahu ini sangat berat untukmu, aku hanya ingin membantu meringankan bebanmu. " Mama Ina mengusap punggung Bunda.
" Biarlah Khayra lebih baik tidak tahu siapa Ayahnya. "
" Hilda.. "
Bunda menangis tersedu, Mama Ina memeluknya, mengusap punggung Bunda menguatkan.
Khayra melihat dari kejauhan, Bunda menangis dipelukan Mama Ina.
Bunda jangan menangis lagi, cukup sudah air mata yang Bunda sembunyikan dariku. Bunda, Khayra ingin Bunda berbagi kesedihan Bunda dengan Khayra.
Khayra mengusap air matanya, dan masuk ke dalam kamar. Biru yang duduk di kursi ruang tamu sekilas menangkap kesedihan di wajah Khayra.
Biru menatap keluar jendela, di luar sana jauh di bawah pohon mangga, Bunda Hilda terlihat menangis memeluk Mama Ina.
Bunda apapun kesedihan Bunda, semoga kesedihan Bunda segera menghilang.
Biru duduk kembali, memandang bingkai potret Khayra kecil.
__ADS_1
Cewek bawel, semoga di masa depan kamu akan selalu tersenyum, dan tidak ada air mata lagi.
Biru menaruh kembali bingkai potret itu di meja.