Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Mama & Bunda


__ADS_3

Khayra terlihat lebih baik hari ini, kemungkinan siang ini sudah boleh pulang.


Demikian dengan Biru, sudah terlihat membaik.


Biru duduk di kursi dekat jendala, menikmati hamparan hijau dari jendela yang terbuka.


Khayra membaca buku novel yang dibawakan Arini, Khayra terlihat serius membaca.


Bunda sedang pulang mengambil baju ganti, Khayra kehabisan baju bersih.


" Asyik banget bacanya! " Tegur Biru karena jenuh tak ada teman bicara.


" Hmm.." Sahut Khayra masih asyik membaca.


Biru melirik sampul novel yang dibaca Khayra,


" Dasar cewek, di mana-mana nggak lain nggak bukan novel cinta melulu yang dibaca. " Ledek Biru.


" Dasar cowok, nggak tahu kalau memang novel yang seperti ini yang bisa buat baper. "


" Wafer kali renyah.."


" Baper.." Ralat Khayra.


Khayra kembali tenggelam dengan novelnya, Biru merasa bosan.


Sementara Khayra terlihat menikmati novelnya, Biru tidak tahu harus berbuat apa, untuk memangkas rasa bosan yang melanda.


Jam menunjuk angka 10 pagi, pintu terbuka perawat membawa seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan modis.


" Mama! " Biru tak menyangka Mamanya akan datang.


" Biru sayang. "


Wanita cantik yang ternyata adalah Mama Biru, memeluk Biru erat.


" Sayang kamu baik-baik saja? " Cemas Mama Biru, Biru hanya menggeleng.


" Kamu sendiri sayang? "


Biru menggeleng, " Berdua. "


Mama mengerutkan kening, Biru menunjuk Khayra, Khayra yang kebetulan menoleh mengangguk tersenyum.


Khayra dan Mama Biru saling tersenyum menyapa, Biru melirik Khayra sekilas.


" Teman Biru ya? " Mama menghampiri ranjang Khayra, Biru dan Khayra berpandangan sesaat.


" Mmm ya Tante, teman sekolah Biru. " Angguk Khayra.


" Hmm Tante, saya Mama Inayah panggil Mama Ina saja.


" Akhirnya Biru punya teman cewek. "


" Siapa namamu sayang? " Mama Ina terlihat antusias.


" Khayra, Tante..mm Mama Ina." Khayra mencium punggung tangan Mama Biru.


" Cantik sekali namanya, seperti pemiliknya. " Mama Ina menangkup pipi Khayra.


" Khayra tahu nggak Biru di jakarta nggak pernah lho punya teman cewek, Khayra yang pertama diperkenalkan sebagai temannya. "


Selama ini Biru tidak dekat dengan orang tuanya, tepi benar yang dikatakan Mama, Biru tidak pernah memiliki teman wanita.


Biru menggaruk kepalanya, Khayra tersenyum mendengar Mama Ina bercerita.


" Mama senang Biru ada teman di sini. "


Biru dan Khayra saling berpandangan untuk sesaat, kemudian berpaling kembali.


" Sayang, Mama bawa makanan kesukaanmu lho."

__ADS_1


" Terima kasih Mama, Biru baru saja selesai sarapan. "


" Mama bawa khusus untuk kamu sayang, dimakan dong Biru. " Mama Ina terlihat kecewa.


" Nanti saja Mama! "


" Kalau begitu, Mama berikan yang sekotak untuk teman Biru saja! "


" Untuk kamu sayang. " Mama Ina memberikan sekotak roti bakery lembut.


" Terima kasih Mama Ina.." Khayra menerimanya.


" Khayra bagaimana dengan Biru di sekolah, Biru bandel nggak? "


Khayra menggeleng, " Biru anak baik kok Mama Ina. "


Sontak perkataan Khayra, membuat Biru seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar.


" Benarkah sayang, kamu tidak sedang menutupi kebandelan temanmu kan? "


Khayra kembali menggeleng pelan, Khayra bingung harus menjawab apa, Biru tersenyum


Meski Khayra dan Biru bukanlah terbilang teman akrab, tapi Biru anak yang baik di mata Khayra.


Mama tidak pernah melihat Biru memperhatikan seorang teman wanita.


" Sayang kalau Biru bandel, tolong bilang sama Mama Ina ya! "


Khayra mengangguk, Mama Ina kembali tersenyum.


" Apa sih Mama! " Protes Biru, Mamanya tersenyum dan asyik mengobrol dengan Khayra.


" Kamu sama siapa di sini, siapa yang menunggumu sayang? "


" Sama Bunda, Mama. "


Mama membuka sebungkus kecil roti bakery, bersiap menyuapi Khayra.


" Ayo makan, anak Mama Ina nggak pernah mau kalau disuapi Mamanya. " Khayra sesaat ragu membuka mulutnya, Mama Ina mengangguk.


" Memang lebih menurut anak cewek ya! " Mama terlihat menyukai Khayra.


" Bundamu sekarang di mana sayang? "


" Bunda lagi pulang sebentar Mama Ina, nanti Bunda ke sini. "


Mama Biru mengangguk, Biru memberanikan diri bertanya.


" Mmm..Mama sama siapa kemari? "


" Sama Pak Dodi, Papa lagi ke singapore ada keperluan mendesak, maaf papa nggak bisa ikut kesini. " Rona Wajah Mama terlihat serius saat menyebut tentang Papa.


Mama tahu Biru dan Papa tidak pernah dekat.


" Nggak apa Biru bisa mengerti kesibukan Papa, Biru hanya demam biasa, ini Biru juga nanti sudah boleh pulang. " Raut muka Biru terlihat datar.


" Sayang..kamu nggak marah sama papamu kan? "


Biru menggeleng pelan.


Khayra terdiam di tengah kecanggungan ini, sesaat mereka bertiga sama-sama terdiam.


Hingga Bunda datang, membuat Mama Hilda terperangah karena terkejut.


" Hilda.. "


Mama dan Bunda berpandangan sesaat, Mama memeluk Bunda dan menangis.


" Bukankah kamu Hilda! " Mama seperti tidak percaya melihat Bunda berdiri di depannya.


" Kamu benar Hilda, kamu masih hidup Hilda. "

__ADS_1


DEGH.


" Ya aku masih hidup.. " Bunda akhirnya bersuara.


Biru dan Khayra sama-sama terdiam melihat orang tua mereka saling mengenal.


" Aku tidak pernah mendengar kabarmu Hilda, kamu tahu 10 tahun lalu saat aku bertemu pram.."


Bunda menarik tangan Mama keluar ruangan sebelum Mama sempat melanjutkan kata-katanya.


Biru dan Khayra terlihat bingung.


" Aku nggak tahu orang tua kita saling mengenal. "


Khayra terlihat diam, Khayra berpikir mungkinkah Mama Biru adalah orang dari masa lalu Bunda.


" Khay.." Tegur Biru yang melihat gadis di depannya diam.


" Apa? "


Khayra berbalik memunggungi Biru dan menutup dirinya dengan selimut.


Biru menggeleng melihat kelakuan Khayra yang sedikit aneh.


Mama dan Bunda berbicara di bangku taman samping puskesmas.


" Kamu kenapa Hilda? " Mama Ina terlihat bingung.


" Aku tidak ingin kamu menyebut nama itu di depan anakku. "


" Jadi Khayra itu putrimu, Hilda. " Mama bertanya, Bunda mengangguk.


" Kamu menikah lagi? "


Bunda menggeleng, Mama menutup mulutnya.


" Apakah Khayra putri.." Tanya Mama memastikan.


Tangis Bunda pecah dan Mama memeluknya.


" Jadi saat kamu pergi dari rumahmu, waktu itu kamu mengandung putrimu? " Tanya Mama saat tangis Bunda mulai reda.


" Dan dia tidak tahu..? "


Bunda menggeleng pelan, Mama Ina terpukul mendengar pengakuan Bunda.


" Waktu aku kembali dari Korea, 15 tahun lalu saat bertemu Pramudya, aku bertanya tentang kamu dan dia bilang kamu sudah .." Mama tak mampu melanjutkan perkataannya.


Bunda tertunduk dalam.


" Bagaimana kalian bisa berpisah, setahu aku kalian saling mencintai Hilda. "


" Selama 5 tahun kamu berada di korea, banyak hal yang terjadi padaku. "


Bunda mulai bercerita pada Mama Ina, Mama tak percaya dengan apa yang didengarnya.


" Ya Allah mereka sudah memfitnahmu, mereka jahat sekali padamu Hilda. "


" Pram tidak mencarimu? "


" Aku tidak tahu, hingga saat ini aku tidak pernah bertemu dengannya. "


" Aku senang bisa bertemu lagi denganmu di sini Hilda. " Mama Ina menggenggam erat tangan Bunda.


Dua sahabat yang terpisah 20 tahun lamanya, hingga takdir mempertemukan mereka kembali secara tak terduga.


" Putrimu cantik! " Tutur Mama Ina.


" Biru itu putramu? " Tebak Bunda, Mama Ina mengangguk.


" Putramu juga tampan. "

__ADS_1


Mereka tersenyum kecil meski dengan air mata yang tetap menetes.


Dan sepasang mata melihat mereka berdua dari persembunyian.


__ADS_2