Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Dua Hati Berbeda


__ADS_3


Sayup-sayup terdengar suara yang tidak asing, mengalunkan surah Al-Mumtahanah , suara yang sama suara merdu dan lembut milik Khayra. Biru memejamkan mata, dengan terhalang dinding, dia bersandar mendengarkannya. Air mata Biru tak terasa menitik, hatinya masih diliputi keraguan, tentang cintanya pada Khayra.


Meski Biru bertekad memupus perasaannya pada Khayra, tapi jauh di lubuk hati kecilnya nama Khayra belum benar-benar hilang.


Biru semakin banyak diam, dia sering menghindari saat akan berpapasan dengan Khayra. Khayra merasakan perubahan itu, seperti saat ini selesai menunaikan sholat zhuhur dan mengaji, Biru baru saja keluar dari ruang rohis ikhwan dan tidak sengaja bertemu dengan Khayra.


Biru dan Khayra sama-sama berjalan menunduk. Meski Khayra bertanya dalam hatinya, kenapa gerangan dengan Biru. Khayra merasa Biru sengaja menghindar dan mendiamkannya.


Bukankah itu lebih baik Khayra, daripada dia selalu mengganggumu.


Khayra tidak mengambil hati perubahan Biru padanya yang terlihat drastis, meski Khayra merasa ada yang hilang dari hatinya.


Khayra sendiri mengayuh sepedanya, tidak terlihat teman lainnya.


Hari ini adalah hari terakhir mereka menyelesaikan tugas kelompok belajar bersama, Khayra pulang sedikit terlambat karena membaca Al_quran seusai sholat di musholla sekolah.


Setelah berganti baju dan makan siang sedikit, Khayra membawa setoples keripik singkong titipan Bunda untuk diberikan pada Arini.


Khayra kembali mengayuh sepedanya, sudah jam 2 lewat, pasti Arini, Bono dan biru sudah menunggu.


Benar saja, Arini, Bono dan Biru sudah berkumpul mengerjakan tugas.


" Rara.."


" Maaf ya aku telat. "


" Ayo sini cepat, ini tugasmu tinggal meneruskan saja tadi sudah dikerjakan Biru sebagian. " Terang Arini, ada jarak antara Biru dan Khayra, terasa canggung diantara keduanya.


Bono dan Arini, saling berpandangan kemudian mengedikkan bahu.


" Terima kasih. " Ucap Khayra pelan, Biru mengangguk tanpa menoleh.


Bono dan Arini menggelengkan kepala melihat kedua temannya, yang seperti orang asing tidak saling mengenal.


Mereka menyelesaikan tugas tanpa banyak bicara. Khayra yang merasa Biru bersikap demikian karena ada dirinya saat ini, membuat Khayra merasa tak enak hati. Dia bergegas menyelesaikan tugasnya, dan ingin segera pulang.


" Tugasku sudah selesai, aku pamit pulang dulu ya semua. " Pamit Khayra dengan senyum yang dipaksakan, Arini dan Bono bingung, Biru tetap dingin.


" Kok cepat banget pulangnya Ra? kita mengobrol bareng dulu. " Ajak Bono, Biru masih diam terus mengerjakan tugas dan Khayra akhirnya menggeleng.


" Terima kasih ya keripiknya, tolong sampaikan bilang ke Bunda! " Sebut Arini, Khayra mengangguk.


" Aku juga terima kasih. " Khayra menunjuk tugasnya, Biru tidak menoleh.


" Ya sudah kamu hati-hati ya Rara. " Ucap Bono, Bono menyikut Biru.


" Assalamualaikum.."

__ADS_1


" Waalaikumsalam.."


Khayra pulang mengayuh sepeda yang selalu menemaninya pergi kemanapun. Khayra sedikit merasa ada yang pedih di hatinya, dia merasa sakit sekali melihat Biru mendiamkannya begitu. Khayra menepuk dadanya, dengan sebelah tangan dan sebelah tangan yang lain memegang stang sepeda.


Ya Allah kenapa sakit sekali di sini, kenapa melihatnya diam membuatku merasa sakit sekali.


Khayra mengusap bulir bening di mata indahnya, dia semakin cepat mengayuh sepedanya. Hingga tak sengaja ban depan sepedanya tertabrak batu berukuran besar, sepeda Khayra oleng, Khayra pun terjatuh.


" Hiks..hiks.. Sakit. " Rintih Khayra, bukan kakinya yang sakit yang ditangisi Khayra tetapi hatinya yang terasa sakit, jauh lebih perih.


Pak Bahrun yang kebetulan lewat, berhenti melihat Khayra menangis memeluk lututnya dengan kepala tertunduk.


" Kamu kenapa Nak Rara? " Pak Bahrun turun dari mobilnya, saat melihat Khayra menangis di pinggir jalan.


Khayra mengusap air matanya, dia masih sedikit terisak, karena menahan sesak. Khayra hanya menggeleng kecil.


" Kamu jatuh Nak, ada yang luka Nak Rara? " Tanya Pak Bahrun pada Khayra yang sudah seperti anak sendiri.


" Rara nggak apa kok Pak. "


" Kakimu luka Nak? " Tanya Pak Bahrun melihat Khayra memegangi lututnya. Khayra menggeleng, dia berbohong. Kakinya terkilir, dan lututnya terluka.


" Bapak antar pulang ya Nak Rara? "


" Terima kasih Pak, Rara nggak apa kok, bisa pulang sendiri. " Sahut Khayra berusaha berdiri, sambil menahan sakit.


" Benar kamu yakin nggak apa Nak Rara? " Cemas Pak Bahrun, Khayra mengangguk.


Pak Bahrun kembali mengemudikan mobilnya untuk pulang. Pak Bahrun melihat dari kaca spion, Khayra dengan tertatih, menahan sakit kakinya dia menuntun sepedanya pulang.


Tak sampai 5 menit, Pak Bahrun sudah sampai di rumahnya, dilihat putrinya Arini, Bono dan Biru masih mengobrol di teras samping.


" Kalian sudah selesai mengerjakan tugas? " Tegur Pak Bahrun, mereka mencium tangan Pak Bahrun.


" Sudah Pak. "


" Sudah Om. "


" Apakah Khayra tadi dari sini? " Tanya Pak Bahrun pada mereka bertiga.


" Ya Pak, Khayra tadi juga mengerjakan tugas kelompok dengan kami, dia baru saja pulang. " Terang Arini.


" Ehm..Bapak tadi bertemu dia di pinggir jalan, dia sedang menangis sesunggukan. " Biru dan kedua temannya berpandangan.


" Kenapa dengan Khayra Pak? " Arini cemas, Biru dan Bono pun sama cemasnya.


" Sepertinya dia terjatuh kakinya luka, tapi waktu Bapak tanya dia bilang tidak apa-apa. "


" Khayra.." Arini terlihat mengkhawatirkan sahabatnya.

__ADS_1


Khay..Cemas Biru dalam hati, Biru merasa tidak enak hati, jujur di hati kecilnya dia sangat mencemaskan keadaan Khayra.


" Coba kamu lihat ke rumahnya Nak! Bapak khawatir, dia menangisnya sampai begitu. " Tutur Pak Bahrun yang terlihat seperti Ayah mencemaskan anaknya.


" Baik Pak, Arini pergi dulu kalau begitu. "


" Hati-hati Arini. " Pesan Pak Bahrun.


" Aku ikut Arini, mau sekalian pulang. " Ucap Bono.


" Ayo! "


" Assalamualaikum.."


" Waalaikumsalam.."


Bono dan Arini pergi ke rumah Khayra, Biru tidak ikut, dia berpikir akan sulit baginya melupakan perasaan yang ada untuk Khayra, jika dia terus berada dekat dengan Khayra.


Maafkan aku Khay..semoga kamu tidak apa.


Bono dan Arini, masih di perjalanan menuju rumah Khayra.


" Kamu lihat nggak Biru sama Rara tadi? "


" Kenapa? " Tanya Bono


" Mereka sama-sama aneh, diam kayak orang nggak kenal, nggak kayak biasanya. " Celetuk Arini.


" Betul banget, aku baru sadar. Akhir-akhir ini mereka memang berubah, lebih banyak diam, padahal Biru biasa hobby banget jahil sama Rara. "


" Ada apa ya dengan mereka berdua? " Arini merasa penasaran, Bono hanya menggeleng.


" Apa Biru tidak pernah bilang sesuatu? " Selidik Arini, sudah seperti detektif.


" Nggak ada sih."


Bono terlihat berpikir sejenak, " Tunggu sepertinya Biru pernah bilang, dia itu merasa ada yang aneh sama detak jantungnya, Biru merasa gelisah, ada sesuatu yang nggak berhenti dipikirkan, bahkan ada bayangan yang mengikutinya. "


" Apa ya? " Mereka terlihat berpikir keras.


" Aku melihat Rara juga tadi wajahnya terlihat sedih begitu. " Terang Arini.


Mereka terus menebak apa yang terjadi tanpa mereka tahu sebenarnya ada apa diantara Biru dan Khayra.


Sementara di tempat terpisah Biru dan Khayra terlihat sama-sama duduk termenung, tenggelam dalam pikiran mereka.


" Ada apa denganmu Biru.."


" Maafkan aku Khay.."

__ADS_1


Meski berjauhan, tak dipungkiri hati mereka saling bertaut.


__ADS_2