Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Izin Bunda


__ADS_3


Bono dan Biru duduk di kayu tumbang di halaman depan rumah Pak Bahrun. Malam terasa dingin oleh semilir angin yang berhembus sedikit kencang, bulan sabit terlihat bertengger indah di langit.


" Kamu pergi ke acara camping itu bro? " Tanya Bono lesu.


Bono menumpuk ranting kecil dan membakarnya, Biru menyetem gitarnya.


" Insya Allah pergi, kenapa Bono? "


" Sepertinya aku nggak bisa ikut. " Bono tertunduk, melemparkan potongan ranting kecil ke api.


" Kenapa? "


" Nggak apa bro, hehehe. "


Biru bisa menebak, mungkin karena biayanya yang tak bisa dibilang murah untuk Bono, 350 Ribu.


" Maaf apa aku boleh tanya? " Biru mendekatkan telapak tangan yang dingin di perapian, Bono mengiyakan.


" Apa karena biaya? bukankah saat di kelas kamu terlihat bersemangat mau pergi. "


" Hehehe..sayang uang segitu banyak aku pakai untuk biaya camping, lebih baik untuk belanja si Mbok saja Bro. " Bono menutupi rasa kecewanya, dia ingin sekali pergi, tapi bagi dia bukan hal mudah mengumpulkan uang sebanyak itu, terlalu sayang jika dihamburkan begitu saja. Memang kegiatan camping tidak diharuskan ikut, tidak dipaksakan hanya siapa yang ingin pergi saja.


" Maaf kalau aku yang mengajak kamu mau ikut kan? " Tanya Biru hati-hati, takut menyinggung sahabatnya itu.


" Aku nggak mau, pasti kamu yang bayar nanti. " Tolak Bono.


Bono tahu Biru sangat baik, dia tidak enak hati, Biru selama ini sudah banyak membantunya.


" Ini tidak seberapa Bono, kalau kamu nggak ikut, aku di sana nanti nggak punya teman. " Bujuk Biru.


" Kamu tega ya, aku pergi sendiri nggak ada kamu, nggak semangat nanti, mending aku juga nggak usah ikut pergi. "


" Jangan bro, pergilah! "


" Kalau kamu nggak pergi, aku juga nggak akan pergi, jadi adil kan! " Ucap Biru tenang, tangannya bersedekap di dada tegapnya.


Bono bingung merasa terpojok, dia berpikir lagi dan akhirnya dia mengalah.


" Ya sudah aku ikut. " Gumam Bono.


" Nah begitu kan enak. " Biru tersenyum sambil sebelah tangan merangkul sahabat karibnya itu.


Malam belum larut kedua sahabat itu menikmati malam, Biru memetik gitar mengalunkan sebait lagu.


 Kita selalu berpendapat


Kita ini yang terhebat


Kesombongan di masa muda yang indah


Aku raja kaupun raja


Aku hitam kaupun hitam


Arti teman lebih dari sekedar materi.


 


Sahabat sejati.


 

__ADS_1


 


♡ ♡


Khayra tidak pergi mengaji di surau, tamu bulanannya mampir hari ini. Khayra terus memandangi secarik kertas yang digenggamnya, Khayra ragu memberikan surat izin yang harus Bunda tanda tangani, Bunda di dapur terlihat sedang mengupas bumbu untuk masakan berjualan di kedai.


Mbok Fatma sedang membersihkan 2 ekor bebek, untuk diolah nanti.


Khayra masih mondar mandir di dalam kamarnya, meski kakinya terkilir. Khayra tahu tidak akan mudah mendapat izin dari Bunda, sekalipun ini kegiatan dari sekolah.


" Semoga Bunda mengizinkannya! " Mohon Khayra.


" Bismillahirrohmanirrohim. " Khayra berjalan dengan kaki timpang keluar kamar, menghampiri Bunda yang tengah sibuk di dapur.


" Bunda ini ada surat izin dari sekolah! " Tangan dingin Khayra mengulurkan secarik kertas pada Bunda.


Bunda terlihat membacanya dengan teliti, kedua alisnya bertaut, keningnya berkerut.


" Camping sekolah? "


" Ya Bunda.." Khayra menunduk tak berani menatap Bunda.


" Berapa hari di sana? "


" Hanya 2 hari Bunda, Sabtu dan minggu. "


" Kamu yakin bisa jaga diri kamu! " Tatap Bunda memastikan.


" Insya Allah, Rara bisa jaga diri Bunda. " Khayra menunduk, Bunda menoleh ke arah Mbok Fatma, seolah meminta pertimbangan, dan Mbok Fatma menganggukkan kepala.


Bunda menatap sesaat pada putri tunggalnya, Bunda sadar putrinya sudah beranjak besar, selama ini Bunda tak pernah memberi izin Khayra, Bunda terlalu khawatir.


" Di mana Bunda harus tanda tangan? " Khayra terpana sesaat, tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Bunda mengizinkan dia pergi.


" Di sini Bunda! " Tunjuk Khayra, Khayra tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, senyum mengembang di bibir mungilnya.


" Baik Bunda, terima kasih. " Khayra mencuri sebelah pipi Bundanya. Khayra berjalan dengan menjinjit sebelah kaki yang terkilir, menahan sakit menuju ke kamarnya, dengan sumringah sambil mendekap surat izin itu.


" Akhirnya Bunda mengizinkanku, setiap tahun jika ada acara di luar sekolah, Bunda tidak pernah membolehkanku pergi. " Monolog Khayra di kamarnya, dimasukkan surat izin itu ke dalam tas, dan beberapa buku mata pelajaran untuk hari besok.


" Terima kasih Bunda. " Gumam Khayra ceria, dipeluknya boneka bear kesayangan.


Khayra hendak membaca novel yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah.


Tok.. Tok..


Jam menunjuk angka 20.15. Wib. Terdengar pintu diketuk, Khayra dengan berjinjit berjalan membuka pintu depan.


Tok.. Tok..


" Khayra buka pintu sayang, ada tamu! " Seru Bunda dari dapur.


" Ya Bunda. "


" Assalamualaikum.." Terdengar suara cempreng Arini.


" Waalaikumsalam.."


" Tadaa.." Arini cekikikan memberi kejutan Khayra.


" Arini! "


" Hehehe..aku baru pulang dari surau sengaja mampir. " Terang Arini.

__ADS_1


" Ada apa Arini, ada hal yang pentingkah? "


" Bagaimana kamu sudah bilang sama Bunda soal surat itu? " Bisik Arini takut terdengar Bunda Hilda.


Khayra mengangguk, " Apa? " Pekik Arini tak sadar, dibungkam mulutnya dengan telapak tangan.


" Kamu datang malam ke rumahku hanya ingin tahu tentang surat izinku saja. " Tukas Khayra tak percaya.


" Akhirnya kamu boleh pergi! " Bisik Arini senang.


" Siapa sayang yang datang, seperti suara Nak Arini? " Bunda menghampiri mereka berdua, Arini mencium tangan Bunda Hilda.


" Arini Bunda. "


" Ada apa, Nak Arini? "


" Ehm..nggak ada apa-apa Bunda, Arini sengaja mampir sebentar, kenapa kok Rara nggak mengaji tadi, Arini pikir kenapa? "


" Rara lagi libur, tamunya datang. " Terang Bunda, Khayra hanya tersenyum, dia tahu Arini tidak mengatakan alasan yang sebenarnya, kenapa dia datang ke rumah.


" Ya sudah Bunda tinggal lagi ke dapur. " Bunda kembali ke dapur, menyiapkan untuk jualan di kedai.


" Ya Bunda. "


Mereka kembali mengobrol, Khayra mengajak Arini ke kamarnya.


Arini duduk di tepi ranjang Khayra, sementara Khayra duduk di kursi belajarnya.


" Hmm Rara..apa aku boleh bertanya sesuatu? "


" Hmm..ada apa Arini? "


" Maaf ya kamu jangan marah! "


" Hmm..kamu sama Biru, kenapa kalian seperti saling menghindar? "


DEGH.


" Aku nggak tahu, Biru sepertinya nggak mau berteman lagi denganku, dia selalu menghindariku. " Khayra terlihat tertunduk sedih.


" Aku juga nggak tahu kenapa Biru seperti itu, apa kamu yakin tidak ada sesuatu yang salah di antara kalian? " Selidik Arini penasaran.


Khayra menggeleng perlahan, " Seingatku nggak ada. "


" Yang terpenting aku masih punya kamu di sampingku, sahabat terbaikku. " Khayra menautkan jemari tangannya dengan Arini.


" Tentu..untuk selamanya. " Imbuh Arini.


" Aamiin.."


" Aku pulang dulu ya sudah malam, nanti Ibu Bapak mencariku. "


" Hati-hati! " Pesan Khayra.


Arini melenggang ke dapur, hendak pamit pada Bunda dan Mbok Fatma.


" Bunda, Mbok, Arini pulang dulu ya. " Pamit Arini.


" Hati-hati ya Nak Arini! "


" Ya Bunda. "


" Assalamualaikum.."

__ADS_1


" Waalaikumsalam.."


Arini sudah pulang, Khayra kembali ke kamar diambil novel yang belum sempat dia baca.


__ADS_2