Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Kehangatan Keluarga


__ADS_3


Sepeda ontel yang sudah tua tersandar di pohon mangga depan rumah.


Khayra berlari kecil dengan kaki yang pincang.


" Assalamualaikum.. "


Khayra baru saja pulang dari surau, Khayra bisa menebak siapa tamu yang datang.


" Ibu.. Bapak.. "


" Waalaikumsalam Nduk.. "


Khayra menyalami Bunda, Mbok Fatma, Ibu Ningrum dan Pak Eko.


" Anak gadismu kangen Ningrum, mau ke rumahmu tapi kakinya sakit jatuh dari sepeda. " Jelas Mbok Fatma.


" Ya Mbok, Mas Eko bilang Rara mau ke rumah minta masak buntil, tadi pas Ningrum ke warung beli kelapa katanya Mbok Darmi, Nduk Rara jatuh dari sepeda. "


Terang Ibu Ningrum, yang membuat Khayra menggaruk kepalanya yang tertutup hijab.


Haddeh Mbok Darmi pemilik warung tahu Khayra jatuh dari sepeda, untung nggak bilang kalau sepeda Khayra tabrakan sama sepeda Biru.


Khayra merutuk dalam hatinya, Khayra pasti akan jadi bulan-bulanan empuk Pak Eko kalau tahu dia bertabrakan sama cowok dari kota itu.


" Dasar manja kamu sama Ibumu. " Bunda mengusap jilbab Khayra, Ibu Ningrum hanya tertawa.


" Huh katanya pembalap kayak marc marquez , apa itu kok bisa nyungsep begitu, nggak hebat. " Ejek Pak Eko.


" Bapak.." Cibir Khayra, memajukan bibir mungilnya.


" Rara kan rugi kalau nggak nyungsep Pak Eko. " Timpal Bunda Hilda tersenyum, ikut menggoda putrinya yang ceroboh.


" Bunda apa sih, sama saja kayak Bapak. " Sungut Khayra sewot.


Semua tertawa Khayra menaruh mukenahnya di kamar dan kembali ke ruang tengah di mana keluarganya berada.


" Ayo kita makan, Ibumu sudah bawa buntil keladi pesananmu. "


Bunda menyiapkan makan malam di amben dekat dapur.


Menu sederhana yang terlihat menggugah selera.


Buntil keladi, sambal terasi, ikan asin goreng dan lalapan.


Semua makan menggunakan tangan, mereka terlihat menikmati makanan dengan hening.


Mbok Fatma, Bunda dan Pak Eko terlihat berbincang.


Khayra dibantu Ibu Ningrum membereskan bekas makan.


" Masih sakit Nduk kakinya? "


" Sedikit Ibu. "


" Besok sebentar lagi Ibu panen jagung, kamu datang ya sama Nduk Arini. "


" Ya Ibu pasti nanti jagungnya tak habiskan sama Arini. "


" Sebentar lagi ujian akhir sekolah, belajar yang rajin biar bisa jadi orang. "


" Memang sekarang kita bukan orang Ibu. " Canda Khayra pada Ibu asuhnya.


" Iya kita cuma orang-orangan. "


" Orang-orangan sawah. "


Keduanya tergelak bersama, sambil membereskan amben.

__ADS_1


" Kita ke depan Nduk! " Ajak Ibu Ningrum setelah mencuci piring dan membersihkan amben dengan dibantu Khayra.


Khayra mengangguk, melendot manja pada lengan Ibu Ningrum. Seperti selama ini yang dilakukannya sedari kecil.


Khayra sedari kecil terbiasa bersama dengan Ibu Ningrum, jika Pak Eko dan Mbok Fatma bekerja di ladang dan Bunda berjualan di kedai.


Pak Eko dan Mbok Fatma menggarap ladang dan sawah milik Bunda Hilda yang di belinya dari tabungan Bunda sewaktu masih hamil Khayra.


Khayra yang memang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari sosok Ayah. Khayra rasakan saat dia bersama Pak Eko.


" Sini Nduk. " Mbok Fatma menepuk kursi ukiran kayu di sebelahnya.


Khayra duduk di sebelah Mbok Fatma, di tengah Mbok Fatma dan Bunda.


" Kamu nanti mau melanjutkan kuliah Nduk di kota? " Tanya Mbok Fatma.


Khayra menoleh pada Bunda sesaat, kemudian menggeleng cepat.


" Kenapa ?" Tanya Mbok Fatma heran.


" Kasihan Bunda Mbok. " Sahutnya singkat.


Khayra kembali melirik Bunda yang tersenyum penuh arti melihat wajah bingung putrinya.


" Sudah nggak usah terlalu dipikirkan biayanya, kamu hanya perlu belajar saja. "


" Tunjukkan kemampuanmu, buat kami semua bangga, memiliki putri sepertimu. " Ujar Pak Eko menyemangati Khayra.


" Kami yakin kamu bisa membuat kehidupan kita berubah sayang. " Bunda bertutur lembut penuh kasih sayang.


" Gadis kecil kami sudah besar sekarang, sudah mau kuliah. " Ibu Ningrum mengelus tangan Khayra, menggenggamnya erat.


#Flashback On#


10 tahun lalu.


Khayra kecil hanya duduk di pinggir lapangan memegangi lututnya. Memandang sendu kepada temannya yang bersiap lomba dengan digendong Bapak mereka.


" Nduk kenapa sedih, nggak ikut lomba? " Tegur Pak Eko, suami Ibu Ningrum yang masih saudara Mbok Fatma.


Khayra menggeleng pelan dengan wajah menahan tangis.


" Kenapa? "


" Khayra nggak punya Bapak, semua teman Khayra ikut lomba lari digendong Bapaknya. "


Khayra membenamkan wajah sedih dilututnya, dan mulai terisak.


Khayra kecil yang begitu ingin merasakan digendong Ayahnya.


" Khayra digendong sama Bapak saja mau? "


Khayra mendongak dan mengangguk pelan.


" Senyum dulu dong, anak manis nggak boleh sedih. " Hibur Pak Eko.


Khayra mengusap airmatanya dan kembali mengangguk dengan senyum terulas di bibir mungilnya.


Pak Eko dan Ibu Ningrum semakin dekat dengan Khayra karena mereka berdua tidak dikaruniai keturunan.


Terlebih saat Khayra kecelakaan dan membutuhkan transfusi darah, Ningrum lah yang memberikan darahnya.


Keluarga keduanya semakin erat dan Bunda Hilda mempercayakan lahannya untuk dikerjakan oleh Mbok Fatma dibantu Pak Eko.


#Flashback Off#


♡ ♡


Khayra terbangun dari tidurnya, jam usang didinding menunjuk angka 12 malam lewat.

__ADS_1


Khayra beranjak hendak ke kamar mandi, buang air kecil dan mengambil wudhu untuk menunaikan sholat malam.


Sekembalinya dari kamar mandi, sayup-sayup terdengar Bunda dan Mbok Fatma berbincang sesuatu yang membuat Khayra urung menyapa keduanya.


Antara dapur dan kamar mandi terhalang sekat dari bambu yang dianyam.


Khayra berdiri bersandar pada dinding, mendengarkan keduanya yang berbincang pelan.


" Nduk sampai kapan kamu menyembunyikan semua ini. "


" Mbok nggak ada yang perlu Hilda jelaskan sama Rara, biarlah tetap seperti ini "


" Setidaknya biar Khayra tahu kebenaran tentang Ayah kandungnya Nduk. "


" Hanya menyakitkan untuk dia Mbok, bahkan bila perlu nama belakang Khayra ingin saya hapus. "


KHAYRA HANINDYA PRAMUDYA.


" Nduk, tidak baik menyimpan dendam, hanya membuat hatimu keras dan semakin sakit jika mengingatnya. "


" Mbok. " Bunda terlihat menangis dipelukan Mbok Fatma.


" Lunakkan hatimu Nduk, cukup 18 tahun kamu menyimpan kepedihanmu sendiri, putrimu berhak tahu siapa Ayahnya. "


Bunda menggeleng pelan, dan kembali terisak. Mbok Fatma mengusap punggung Bunda yang rapuh tak ada sandaran.


Banyak pria yang ingin memperistri Bunda Hilda, tapi Bunda selalu menolaknya.


Adalah juragan sapi, Pak Suwoto yang masih gigih pantang menyerah untuk berjuang mendapatkan hati Bunda untuk dijadikan Istri ketiganya.


Bunda Hilda yang kecantikannya menurun pada Khayra, tentu saja masih memikat hati pria yang memandangnya. Ayu alami tanpa sentuhan make-up.


Pak Suwoto yang terpikat pada keayuan Bunda Hilda dan Putra Pak Suwoto, Bayu mengincar Putri Bunda, Khayra.


Persaingan cinta yang rumit.


Bunda masih mempertahankan kesendiriannya, rasa sakit karena dicampakkan masih membekas perih.


Khayra menitikkan airmata mendengarkan semuanya. Meski jauh dalam hati kecilnya, Khayra ingin mengetahui siapa Ayah kandungnya. Khayra lebih memilih memendam rasa ingin tahunya, dari pada harus membuat Bunda sedih.


Bunda, lebih baik Khayra tidak mengetahui siapa Ayah kandung Khayra. Jika hanya membuka luka lama di hati Bunda, Khayra tidak ingin Bunda mengingat Ayah jika itu semua hanya menyakitkan Bunda. Biarlah Khayra cukup memiliki Bunda saja. Khayra sayang Bunda, Khayra tidak ingin melihat Bunda menangis lagi.


Khayra berjalan perlahan kembali ke kamar, mengambil mukenahnya.


Khayra mengadu pada Rabb_nya, berkeluh kesah tentang semua beban yang dirasakan.


Ya Allah..


Bahagiakan Bunda hamba, jangan buat Bunda menderita lagi. Cukup sudah airmata yang selama ini Bunda tumpahkan dalam diamnya.


Meski Bunda tidak pernah menunjukannya didepan hamba, hamba bisa merasakan betapa tersiksanya Bunda.


Khayra meringkuk diatas sajadah, sajadah yang sudah basah dengan airmata yang tumpah.


.


.


.


.


.


.


😢😭😢😭


Author mewek.

__ADS_1


__ADS_2