
♡
Apa yang lebih menyakitkan dari sebuah cinta..
Ketika dua hati saling berharap dalam diam, dan rasa yang tersimpan harus pupus, bahkan saat cinta itu baru bertunas.
Author.
Terdengar suara merdu milik Aris, yang masih mengaji. Bocah kecil yang selalu sabar menanggapi pertanyaan Biru saat belajar dan mengulang bacaan mengaji, Biru tak segan bertanya pada Aris yang jauh lebih pintar mengajinya dibanding dia.
Mata Biru menatap kosong ke arah luar jendela surau, malam yang mulai memeluk sepi, hanya terasa hembusan angin yang membalut dingin. Biru masih menunggu giliran mengaji, surau sudah mulai lengang, hingga hanya menyisakan Biru dan Ustadz Khalid.
Biru mulai membacakan ayat-ayat suci milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Ustadz Khalid mendengarkan sambil memejamkan mata teduhnya.
Perkembangan Biru jauh lebih baik, pemahaman tentang Tajwid sudah sangat bagus.
Biru baru saja usai melantunkan surah An-Nisa', pandangan Ustadz Khalid tak lepas dari Biru yang terlihat berbeda. Biru menutup Al_qurannya, dan hendak menaruh di lemari tempat di mana Al_quran biasa disimpan.
" Biru! "
Biru mengurungkan diri untuk beranjak, dia kembali duduk.
" Ya Ustadz. "
" Ada apa? " Pertanyaan Ustadz Khalid membuat mata Biru menyipit.
" Saya Ustadz? " Ulang Biru heran.
Ustadz Khalid hanya mengembangkan senyum, Biru terdiam sesaat.
" Keraguan hatimu? "
Biru tertegun, terlintas di benak Biru bahkan Ustadz Khalid seolah bisa membaca dan menebak isi hati dan pikirannya.
" Bagaimana Ustadz tahu hal ini? " Bukan jawaban yang dilontarkan, melainkan pertanyaan yang dikembalikan atas pertanyaan Ustadz Khalid.
Ustadz Khalid kembali tersenyum, bahkan mulai tertawa kecil.
" Mata kita tidak bisa bohong, saat mulut kita berdusta. Apakah kamu berniat mendustai hatimu, sementara yang kamu inginkan berbeda dari hatimu. "
" Maksud Ustadz? "
" Kamu tahu yang Ustadz maksudkan. "
"Ustadz benar, saya sudah berusaha semampu saya, meski terasa sakit di sini. " Biru menepuk dadanya.
__ADS_1
" Saya berusaha menjauhinya, bahkan mendiamkannya, tapi berat sekali Ustadz. "
Biru tertunduk dalam, ada rasa yang tak bisa dijabarkan, seolah ada yang ditarik paksa dari hatinya, kesadaran yang terasa menampar.
" Saya berharap saya bisa menjaga hati saya, meski setengah hati saya masih berontak, dan sisi lain patuh. "
" Tak ada yang mudah di dunia ini, bahkan saat ujian yang lebih berat dari ini kita abaikan, ada cinta yang jauh lebih indah dari cinta kita kepada makhluk Allah, yaitu cinta kepada sang Khaliq. "
Tatapan teduh Ustadz Khalid membuat Biru enggan berpaling untuk mendengarkan petuah darinya.
" Masih banyak ujian yang jauh lebih besar dari ujian yang saat ini kita hadapi, ini belum seberapa. Saat keyakinan kita diuji, teguhkan pilihan karena keraguan itu hanya akan menyesatkan. "
" Ustadz.." Suara Biru bergetar.
" Masih belum terlambat, cinta itu hal yang manusiawi, perlahan kamu akan mengerti. "
" Terima kasih Ustadz. "
" Bukankah akan lebih indah, jika memilikinya di waktu yang tepat, kamu masih terlalu muda masih jauh perjalanan yang harus kamu tempuh. "
Kata-kata Ustadz Khalid seakan bergaung di pikiran Biru.
" Jika dia jodohmu, takdir akan mempertemukan kalian kembali, karena tulang rusuk dengan pemiliknya tidak akan pernah tertukar, jangan pernah berhenti untuk terus memantaskan diri."
Astaghfirullahaladzim..betapa hinanya hamba dihadapan_Mu Ya Rabb, hamba mengeluhkan ujian yang tak seberapa ini.
" Saya yakin kamu bisa! "
Ustadz Khalid menepuk pundak Biru, kemudian berlalu pergi meninggalkan Biru yang masih tertegun dalam kesendiriannya.
Usia Biru masih sangat belia, masa depan yang menunggunya masih panjang. Biru masih punya mimpi untuk diraih, masih banyak tugas yang menanti Biru untuk menggapai cita-citanya.
Tanpa ada yang tahu sepasang telinga, mendengarkan perbincangan Ustadz Khalid dan Biru.
Biru masih tertunduk membisu, dengan air mata yang tak malu untuk meleleh di wajah tegas Biru.
" Khay..aku akan menyimpan hatiku untukmu, hingga kelak saat kita bertemu kembali, ku berharap kamu adalah tujuanku. " Gumam Biru lirih.
Sepasang mata yang memandang dari balik tirai pembatas, perlahan melangkahkan kaki meninggalkan surau.
Biru memeluk lututnya, semua perkataan Ustadz Khalid, seperti gulungan pita kaset rusak yang berputar di kepalanya.
Ada cinta yang jauh lebih indah, yaitu cinta pada sang Khaliq.
Biru pulang dengan sepeda yang selama ini mengantarnya kemana pun dia pergi, mungkin jauh berbeda dengan fasilitas yang digunakan saat dia berada di rumahnya. Biru yang mengenal kesederhanaan saat mulai tinggal di desa ini, Biru lebih banyak belajar arti hidup yang sesungguhnya, potret kehidupan yang terekam dalam ingatannya, bagaimana jerih payah bertahan hidup di tengah ketidak mampuan, bagaimana arti berbagi, dan yang lebih penting bagaimana dia menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan dekat dengan sang pemilik hidup.
__ADS_1
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.."
" Nak Biru baru pulang? "
" Ya Tante, tadi lagi mengobrol sama Ustadz Khalid, makanya agak lama pulangnya. "
" Ya sudah ganti baju kita makan! "
Biru mengangguk, dia berlalu ke kamar mengganti baju koko dengan pakaian santai. Biru beranjak ke ruang makan, hanya ada Ibu Dewi dan Pak Bahrun.
" Ayo makan! "
" Arini nggak ikut makan Tante? "
" Sudah tadi dia makan di tempat Nak Rara! "
Bahkan saat mendengar nama itu disebut hati Biru bergetar hebat.
Kuatkan hamba Ya Rabb..
" Arini baru sampai juga, sepulang mengaji tadi mampir rumah Rara. " Terang Pak Bahrun.
Setelah makan Biru duduk menemani Pak Bahrun mengobrol, sambil menikmati secangkir wedang susu jahe.
" Nak Biru sebentar lagi ujian akhir sekolah, belajar lebih giat lagi! "
Pesan Pak Bahrun, selama ini nasehat Pak Bahrun yang mampu menembus hati dingin Biru, yang hampir tak tersentuh. Bahkan oleh Papa dan Mamanya sendiri.
" Ya Om..setelah lulus nanti Biru akan mengajak Bono melanjutkan kuliah di jakarta. "
" Bagus itu, biar Bono bisa sukses dan membahagiakan si Mbok. "
" Masalahnya si Mbok sendiri Om, Bono bingung. "
" Biar si Mboknya Bono tinggal di sini selama Bono kuliah, kasihan beliau sendirian. Biar Bono lebih fokus belajar, tidak mencemaskan keadaan si Mbok. " Tukas Pak Bahrun.
" Biru kasihan sama Bono Om, di usia yang masih muda dia harus membanting tulang menghidupi orang tuanya. Biru malu sama diri sendiri, bahkan Biru menyia-nyiakan pengorbanan Papa dan Mama, yang sudah capek bekerja untuk anaknya. "
" Biru sudah kufur nikmat Om, Biru menyesal sudah berlaku buruk pada Papa dan Mama selama ini. "
" Belum terlambat untuk menebus kesalahanmu selama ini, pergunakan waktu yang kamu miliki untuk berbakti kepada orang tuamu, selagi beliau masih ada, karena ridho Allah Subhanahu Wa Ta'ala berada pada ridho orang tua kita. "
" Terima kasih Om, selama ini Om yang mengerti Biru, dan selalu sabar menghadapi tingkah buruk Biru. "
__ADS_1
Biru selalu bertingkah buruk, karena mengharap perhatian lebih dari kedua orang tuanya.