Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Siswa Baru


__ADS_3

β™‘


Adzan shubuh bergema, Biru bangun dari tidur dan melipat selimutnya, melawan rasa kantuk dan dingin yang menyergapnya.


Dalam keremangan shubuh dia membersihkan diri dan bersiap ke surau.


Biru mengayuh sepedanya dan menuju surau.


Keluarga Pak Bahrun bangun mendengar suara pintu berderit.


Mereka juga bersiap untuk sholat shubuh.


" Arini bangun Nduk! "


" Ya Pak, Arini sudah bangun dari tadi. "


" Bangunkan Nak Biru Bu! " Perintah Pak Bahrun pada Istrinya.


" Nak Biru sudah ke surau sepertinya pak. "


" Beberapa hari ini, Nak Biru tanpa harus dibangunkan untuk sholat shubuh dia sudah bangun sendiri Pak. "


" Alhamdulillah Ibu, Bapak senang sekali mendengarnya. "


" Bapak ke surau dulu Bu. " Pamit Pak Bahrun.


" Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. "


Pak Bahrun mengendarai motor maticnya, menuju surau.


Surau sudah ramai dengan Bapak dan pemuda desa yang hendak melaksanakan sholat berjama'ah.


Meski bangunan surau di desa sumber wangi ini sederhana dan jauh dari kata megah, setiap tiba waktu sholat, warga berbondong sholat berjama'ah di surau.


Dengan dipimpin Ustadz Khalid seperti biasa sholat berjama'ah dilakukan, setelah usai semua berzikir dan berdo'a.


Semua jama'ah berangsur pergi, Biru masih duduk menunggu Ustadz Khalid.


" Kamu nggak pulang Nak Biru? "


" Nanti saja Pak, Biru masih mau menunggu Ustadz Khalid. "


" Ya sudah Bapak pulang dulu, nanti jangan terlambat ke sekolahmu. "


Biru mengangguk mengiyakan Pak Bahrun, teman Papanya yang menjadi panutan Biru selama ini.


Biru mencium punggung tangan Pak Bahrun. Ustadz Khalid terlihat berdiri, dan bersiap meninggalkan surau.


" Assalamualaikum Ustadz. " Sapa Biru mendekat.


" Waalaikumsalam, Nak Biru belum pulang. "


" Belum Ustadz, saya sengaja menunggu Ustadz. "


" Ada apa Nak Biru? "


" Ustadz, apakah saya bisa belajar lebih lama dari kemarin, jika saya mengaji setelah sholat Isya dan menunggu murid lain pulang, waktu nya hanya sebentar untuk saya belajar dengan Ustadz. "


" Datanglah jam 4 shubuh sebelum adzan, kita bisa belajar sebentar menjelang shubuh. "


" Sebelum shubuh Ustadz. " Ulang Biru.


" Waktu shubuh sangat tenang untuk kita belajar dan beribadah. " Ustadz Khalid tersenyum.


" Pulanglah, kamu harus bersekolah bukan. "


Biru mengangguk, Ustadz menepuk bahu Biru pelan.


" Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam Ustadz. "


Biru mengayuh sepedanya dengan semangat, sejak mengenal Ustadz Khalid hidupnya lebih terasa berarti dan tak hampa lagi. Seolah dia terlahir kembali.


Selama ini Biru hidup seolah tak ada tujuan, hidup yang tak bermakna yang dia jalani, jauh dari sang Illahi Rabbi.


β™‘ β™‘

__ADS_1


SMA Pertiwi pagi ini riuh dengan siswa baru yang mereka bilang mirip bintang film.


Tentu menjadi hiburan yang menarik untuk para siswi.


Ibu Nurmawati, kepala sekolah berjalan beriringan dengan Pak kepala desa, Pak Bahrun yang mengantar Biru sekolah.


Semua siswi berebut melihat siswa baru dari jendela ruang kepala sekolah.


Kelas Khayra tak luput dari kehebohannya bergosip tentang kedatangan siswa baru.


" Arini, dia itu siapa kamu toh. " Tanya Siti penasaran.


" Anak teman Bapakku dari kota. " Sahut Arini singkat, untuk menghilangkan rasa penasaran temannya.


" Wuih dari kota toh Arini, pantas kayak aktor korea ya Rin, Bening banget itu mukanya. " Timpal Arum.


" Air sumur kali bening. " Ragil yang menyahut kali ini.


Khayra tersenyum mendengar temannya membicarakan cowok aneh itu.


" Norak kalian ini, aktor korea apanya, Lee Minho apa, Kim So Hyun apa Hyun Bin? "


Sindir Bayu ketus, yang mencium aroma tak sedap dengan kehadiran siswa baru akan menjadikannya kalah pamor.


" Huuuuuh..ada yang senewen. "


Sontak semua siswi tertawa meledek Bayu, Bayu mencebikkan bibirnya.


Bel tanda dimulai pelajaran berbunyi, semua siswi dan siswa berhamburan lari untuk duduk rapi di bangku nya masing-masing.


Terdengar suara sepatu melangkah mendekat ke ruang kelas, dari pintu kelas muncul Ibu Murni wali kelas mereka dan diikuti Biru di belakangnya.


Semua memandang terperangah pada Biru, hanya Khayra dan Arini yang menggeleng melihat kelakuan temannya.


" Itu muka apa porselen, lalat saja jatuh kalau nemplok di mukanya. "


" Mukanya itu lho kayak kapas, putih banget. "


Semua siswi berbisik kagum melihat ketampanan Biru. Tentu saja para siswa tak terima mendapat saingan baru, terlebih Bayu.


" Norak..norak toh kalian semua. " Cibir Bayu.


" Tolong diam semua, perhatikan saya sebentar! " Tegur Ibu Murni.


" Silahkan perkenalkan namamu Nak! "


" Assalamualaikum semua.." Sapa Biru dengan tenang.


" Waalaikumsalam.." Sahut Khayra dan semua teman sekelas kompak.


" Perkenalkan nama saya Reino Biru Samudra, semoga saya bisa diterima oleh teman semua di sini. " Suara berat Biru masih terdengar tenang dan teduh.


" Tentu dong Biru, dengan senang hati. " Sahut Arum centil.


" Biru samudra, aku ingin mengarungi samudra bersamamu. " Goda Ratih lebih centil.


" Akan ku arungi samudra kehidupan yang penuh suka duka denganmu Biru. " Seloroh Siti tak mau kalah.


" Wuuuh.." Sorak Andri kemudian, diikuti teman pria lainnya.


Tak terima saingan baru mereka memang berat bro, tampan habis, cool dan macho lagi, keren banget.


Biru tetap bergeming tak menggubris, wajah tampannya terlihat dingin.


Hanya senyumnya yang terlihat dipaksakan.


" Kamu boleh duduk Biru! "


Tunjuk Ibu Murni pada bangku kosong di sebelah jendela dekat bangku Khayra dan Arini.


" Terima kasih Ibu. "


Dengan langkah nya yang masih sedikit pincang, Biru berjalan menuju bangkunya, melirik sekilas pada Khayra.


Cewek bawel. Bathin Biru dalam diamnya.


Cowok aneh, kenapa harus sekelas sama kamu? .Rutuk Khayra berusaha tenang meski hatinya bergemuruh.


Khayra terlihat diam tak menghiraukan, tak menoleh sedikitpun pada Biru.

__ADS_1


" Ciye Biru jadi idola baru, semangat. " Ujar Arini mengangkat tangannya menggoda Biru.


Biru hanya membulatkan mata teduhnya, Arini tertawa renyah. Membuat siswi lain iri dengan kedekatan mereka.


Tentu saja Ragil yang menaruh hati pada Arini terlihat kesal.


Pelajaran dimulai, semua mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan guru mereka.


Bel istirahat berbunyi, semua siswa dan siswi berhambur keluar kelas.


Tidak dengan kelas Khayra, para siswi duduk berkeliling ingin berkenalan dengan Biru. Sedangkan Khayra dan Arini pergi meninggalkan kelas.


" Hai Biru aku Ratih. " Sapa Ratih menyebutkan namanya dan mengulurkan tangan.


" Aku Arum. "


" Aku Siti. "


" Apa perlu aku sebutkan lagi namaku, sudah dengar tadi nama aku kan. " Sahut Biru dingin.


" Biru. " Gerutu mereka melihat Biru tak menggubris mereka.


Biru meninggalkan kelas dan menyusuri koridor sekolah, hingga berhenti tepat di bangku taman belakang sekolah yang sepi.


Tak jauh dari tempatnya duduk Biru melihat musholla sekolah.


Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al_quran yang terdengar merdu.


Biru berjalan mendekat ke musholla, melihat dari jendela musholla siapa yang melantunkan Ayat suci dengan indah.


Cewek bawel. Gumam Biru takjub.


Biru menatap sesaat Khayra yang masih khusyuk mengaji, memperdengarkan surah


At-Taubah.


Biru memejamkan mata, menghayati dan merasakan ketenangan mendengarkan Ayat Allah Subhanahu Wa Ta'ala diperdengarkan.


Bel berbunyi, semua siswi dan siswa bersiap menerima pelajaran terakhir sebelum jam pulang sekolah.


Mata pelajaran akhir hari ini adalah Pendidikan Agama Islam.


" Assalamualaikum. " Sapa suara yang terdengar tenang dan berwibawa.


" Waalaikumsalam Ustadz. "


Ustadz Khalid. Gumam Biru terpana.


Biru terlihat diam tak percaya, yang menjadi guru Agama di sekolahnya adalah Ustadz Khalid yang beberapa hari ini mengajarinya mengaji.


Ustadz Khalid tersenyum saat bertemu tatap dengan Biru, Biru menganggukan kepala.


.


.


.


.


.


.


Biru dan Khayra, semoga reader suka.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian


like πŸ‘


love ❀


comentπŸ’¬πŸ’­


vote


⭐🌟⭐🌟⭐.


Gumawo..

__ADS_1


Kamsahamnida..


πŸ’•β£.


__ADS_2