
♡
Ada cinta yang jauh lebih indah dari sekedar cinta manusia biasa, yaitu cinta kepada sang pemilik kehidupan ini.
Author.
Jam pelajaran telah usai, Biru menenteng tas di sebelah pundaknya. Setelah sholat Zhuhur berjama'ah di musholla sekolah, Biru berjalan ke kantin, mengambil sebotol air minum.
" Bu, minumnya satu ya! " Biru memberikan selembar uang 5ribuan.
" Ya Nak Biru. "
" Terima kasih Bu.."
Dijawab senyuman Ibu penunggu kantin, Biru kemudian berlalu lagi.
Biru baru saja kembali dari kantin membeli sebotol air mineral, dan membawanya untuk berjaga jika haus nanti, dia hendak membaca buku di perpustakaan sekolah. Hari ini Biru sendiri saja tanpa dikawal sohib kentalnya Bono, yang tidak masuk karena demam. Semua murid disarankan untuk lebih giat belajar, terlebih menjelang ujian kelulusan mereka, yang sudah semakin dekat.
Biru berjalan diiringi tatapan siswi yang berebut mengharap secuil perhatian Biru, sang idola mereka akhir akhir ini. Ada yang malu menatapnya.
" Hai Biru, lautan hatiku! "
" Biru mau kemana, kutemani ya? "
" Assalamualaikum tampan.."
Dan ada juga yang menyapa tanpa malu, bahkan banyak di antara mereka yang terang terangan mendekati Biru, tapi sedikitpun Biru tak menggubrisnya, bahkan cenderung tak acuh.
Biru semakin mempercepat langkahnya, kemudian mengisi data pada petugas perpustakaan.
" Huufft..aman. " Biru bersandar di dinding perpustakaan dan menarik nafas lega, karena terbebas dari siswi yang tidak tahu malu menggodanya.
" Bono sakit, nanti sepulang sekolah aku ke rumahnya saja, nggak ada Bono sepi banget. " Monolog Biru.
Biru memilih beberapa buku Ilmu pengetahuan, bahkan ada beberapa buku tentang Ilmu Agama Islam. Kemudian memilih duduk di sudut ruangan, Biru sudah tenggelam dalam jendela dunianya.
Tak menyadari sosok manis yang duduk tak jauh darinya, mereka duduk hanya terpisah rak buku, Khayra baru saja datang untuk mencari ketenangan. Khayra selalu datang ke perpustakaan yang hening dari hiruk pikuk siswi dan siswa sekolah, untuk lebih fokus saat mengerjakan tugasnya, Khayra yang tengah membuat sketsa tugas, merasa lebih konsentrasi dan nyaman, tak jarang mendapatkan ide brilian saat sendiri seperti saat ini.
Khayra dan Biru tetap fokus pada kesibukan mereka, tanpa saling menyadari hanya ada mereka berdua di ruangan itu, dengan 1 petugas perpustakaan. Hingga Biru dan Khayra baru sadar saat Biru memilih buku di deretan rak buku yang berada di dekat di tempat Khayra berada. Tatapan mereka sempat beradu sesaat, menyisakan kecanggungan, kemudian keduanya saling berpaling muka.
" Kamu di sini Khay? " Sapa Biru sambil tetap memilih buku.
__ADS_1
" Ya.." Sahut Khayra dengan pandangan tertunduk.
" Oh..aku kesana lagi kalau begitu. " Biru kembali ke tempat dia duduk, setelah mendapatkan judul buku yang dicarinya. Biru sempat menoleh pada sketsa gambar yang dibuat Khayra, mengingatkan pada sketsa gambar gadis yang sempat dibuatnya dulu, yang tak lain adalah sketsa wajah Khayra.
Suasana hening masih kentara, bahkan Khayra tak bisa fokus pada tugasnya, konsentrasinya buyar, terpecah karena mengetahui keberadaan Biru di ruang perpustakaan, Khayra sesekali melirik dari celah rak buku, sekilas menoleh pada Biru yang tetap fokus pada bacaannya.
Astaghfirullah..iih jadi nggak fokus kan, aduh kenapa ini ya jantungku kok tiba tiba marathon, apa aku punya riwayat sakit jantung. Tidaaaaaak..
Pekik Khayra dalam hati, Khayra memanyunkan bibir dan menghembuskan nafas, tangannya memegangi dadanya.
Khayra kemudian memilih buku di rak, mencari judul buku yang bisa dijadikan referensi untuk tugasnya. Khayra mengambil beberapa buku tebal dan membawanya sekaligus, baru beberapa langkah berjalan dari rak buku.
BRUGGH.
Khayra tak sengaja terjatuh karena keberatan membawa buku tebal itu, Biru mendekat ke arah suara, Khayra meringis kesakitan, memijit sepatunya karena kakinya tertimpa buku tebal yang dibawanya.
" Lain kali jangan sok kuat Nona! "
Ucap Biru datar tanpa menoleh pada Khayra, Biru memungut buku itu dan membawanya ke meja Khayra.
" Hehehe..kirain nggak berat." Khayra hanya tertawa, menanggapi perkataan Biru yang menatap tanpa ekspresi itu.
" Terima kasih Biru! " Tutur Khayra saat Biru akan kembali ke meja tempat dia membaca.
Mereka kembali pada kesibukan mereka sendiri, hingga waktu beranjak semakin sore. Khayra melirik jam di pergelangan tangannya, kemudian berdiri untuk mengembalikan buku yang diambilnya ke tempat semula.
Huuufftt ini jempolku sakit banget, mana banyak banget buku yang harus kutaruh lagi di rak..
Gerutu Khayra.
Dengan menahan sakit di kakinya dia mengembalikan buku itu ke tempat semula, Khayra berjinjit saat menaruh buku di rak yang tak terjangkau, hingga tangan Biru mengambil alih buku itu dan menaruhnya di rak atas, Khayra baru saja mau berbalik lagi, Biru sudah membawa buku tebal yang diambilnya, dan menaruhnya.
" Terima kasih, maaf merepotkan. " Ucap Khayra,
" Ya.."
Mereka pamit pada petugas perpustakaan, Khayra keluar dari ruang perpustakaan, Biru mengikuti di belakangnya, setelah mengisi buku data sebagai tanda meminjam buku perpustakaan.
Sekolah terlihat sepi hanya beberapa guru yang masih berada di sekolah, terlihat Ibu Murni yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah.
" Kalian dari mana? " Tegur Ibu Murni.
__ADS_1
" Saya Bu? " Tunjuk Khayra pada dirinya sendiri.
" Ya kalian berdua, kamu sama Biru? " Selidik Ibu Murni.
Khayra menoleh ke Biru, dia baru sadar jika Biru berjalan di belakangnya, tatapan Ibu Murni wali kelas mereka seakan mengintimidasi.
" Kami dari perpustakaan Bu. " Jawab Khayra kemudian.
" Pinjam buku di perpus Bu! " Terang Biru.
Ibu Murni melirik pada buku yang dibawa Biru, Biru menaruh buku yang dipinjamnya di tote bag yang dibawanya dari rumah, karena sudah jadi kebiasaan jika dia berniat meminjam buku di perpustakaan.
" Ya sudah pulang kalian, hampir ashar ini! "
" Baik Bu.."
" Kami permisi Bu! "
" Ya..hati hati! "
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.."
Biru dan Khayra mengayuh sepedanya, meninggalkan sekolah, setelah berpamitan kepada guru kelas mereka itu.
" Mereka sama sama muridku yang cerdas, nilai mereka bersaing di kelas, siapa yang menjadi juara umum tahun ini di sekolah, apakah tetap juara umum bertahan Khayra atau wajah baru Biru. " Monolog Ibu Murni, memandang kedua muridnya yang sama sama memiliki kecerdasan di atas rata rata, dan nilai akademik yang tinggi.
Biru dan Khayra bersepeda beriringan, mereka sama sama membisu, hingga Biru yang memulai obrolan.
" Kamu kenapa nggak bareng Arini? "
" Arini hari ini ada perlu, nggak mau ku ajak ke perpus tadi. "
" Lain kali jangan pulang sendiri, apalagi kamu ceroboh banget! "
" Siapa yang ceroboh? " Khayra mencebikkan bibir mungilnya.
" Kamu! " Ulang Biru datar, Khayra mengerutkan keningnya.
" Ternyata cewek bawel yang kukenal dulu, sudah bereinkarnasi jadi cewek ceroboh. "
__ADS_1
Dasar cowok aneh! Rutuk Khayra dalam diam.
Khayra terlihat kesal menanggapi penilaian Biru yang mengatakan dirinya ceroboh.