Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Gotong Royong


__ADS_3


Keluarga 4 sekawan berkumpul di rumah Pak Kepala Desa, Mama Ina yang meminta Bunda Hilda untuk memasak. Mama Ina rindu masakan lezat dari olahan tangan Bunda Hilda. Tergagaslah ide makan malam bersama, sebagai syukuran atas kelulusan anak anak dan sekaligus sebagai ajang malam perpisahan. Pagi tadi pengumuman kelulusan anak mereka telah diterima, 4 sekawan lulus.


Arini dan Khayra juga membantu para Ibu di dapur, ada Bunda Hilda sang masterchef, Ibu Dewi asisten chef, Si Mbok, Mbok Fatma, dan Mama Ina yang juga turun tangan membantu sebisanya.


Bunda Hilda dan Ibu Dewi yang memasak, sementara duo si Mbok membantu meracik bahan dan bumbu.


" Anak anak pada mau lanjut kuliah di mana nih. "


" Saya terserah Arini. " Jawab Ibu Dewi.


" Rara mungkin kuliah di semarang. " Sahut Bunda Hilda, dia tidak ingin Khayra kuliah di Jakarta, kota di mana Ayahnya berada. Tentu saja Mama Ina tahu dibalik alasan Bunda Hilda. Kota yang penuh kenangan menyakitkan untuknya, yang membuat Khayra tumbuh besar tanpa sosok Ayah di sisinya.


" Putrimu kuajak ke kota, boleh ya Hilda? "


" Untuk apa Ina? " Tatapan Bunda berubah sendu, Mama Ina tahu yang dikhawatirkan oleh sahabatnya itu.


" Kuliah.."


" Dia tidak ada sanak saudara di sana. "


" Kamu anggap aku ini apa Ina? " Sungut Mama Ina.


" Aku nggak bisa jauh dari Rara. " Alasan klise yang akhirnya keluar dari mulut Bunda Hilda.


" Itu kamu bilang tadi Khayra mau kamu kuliahkan di semarang. "


" Masih satu provinsi aku bisa sewaktu waktu menjenguknya. "


" Di tempatku juga kamu bisa menjenguknya kan! " Bunda Hilda diam.


" Hilda.."


Sesaat kecanggunggan yang tersisa, bukan Mama Ina namanya kalau tidak bisa mencairkan suasana, selalu ada topik untuk dibahas.


" Bono saja yang mau ikut Biru, si Mbok nggak ikut tinggal di kota sama kita. " Tanya Mama Ina pada Si Mbok.


" Si Mbok tinggal di sini saja cah ayu, Si Mbok sudah terbiasa di desa. " Tolak Si Mbok halus.


" Si Mbok tinggal sama kami Mbak Ina. " Terang Ibu Dewi.


" Saya senang Biru di sini memiliki teman yang baik, terima kasih semuanya. " Ucap Mama Ina haru.


" Pergaulan itu memang sangat berpengaruh membentuk karakter anak kita yang sedang mencari jati diri. " Terang Ibu Dewi.


" Itulah yang saya khawatirkan. " Ujar Mama Ina.


Bono dan Biru membersihkan ikan, Pak Bahrun dibantu Pak Dodi sopir Mama Ina menanak nasi di kuali. Semua bergotong royong, tidak ada yang berpangku tangan.

__ADS_1


Khayra dan Arini membantu Mama Ina menata makanan yang dibawanya dari kota.


" Kalian lulus nanti mau kuliah di mana? "


" Mungkin ke semarang Tante. "


" Khayra sayang, kuliah di mana? "


" Insya Allah ke semarang juga Ma.."


" Kenapa nggak ikut kuliah saja di jakarta, Mama dengar Khara berbakat sekali di bidang design, kan bisa kuliah di bidang itu di sana. "


" Di semarang saja Ma..nanti kalau sudah kerja bisa kuliah lagi. "


" Kamu mandiri sekali sayang, Mama Ina salut sama kamu. "


Mama Ina tahu dari Biru, Khayra anak yang baik dia tidak ingin membebani Bunda dengan mimpinya berkuliah design. Mama Ina yang bertanya tentang Khayra pada putranya Biru, saat Biru masih di sekolah Mama Ina yang baru datang dari kota beristirahat di kamar Biru, dilihatnya susunan buku agama di meja belajar. Pak Bahrun bercerita Biru banyak berubah selama tinggal di desa, lebih religius dan peduli sesama, meski sikap dinginnya masih tak bisa lepas, saat hendak mengambil salah satu buku, sebuah sketsa gambar terjatuh dan Mama Ina tersenyum mendapati sketsa gambar seorang gadis yang dikenalnya.


" Semoga kalian berdua bisa sukses kelak. " Ucap Mama Ina lembut.


" Aamiin.." Ucap Arini dan Khayra.


" Kapan kapan main dong ke jakarta, nanti biar dijemput Biru! "


" Ya Tante, Arini sudah lama nggak main ke rumah Tante. "


" Ya sudah lama sekali Rin, nanti ajak Khayra ikut ke rumah Mama Ina. "


Semua sibuk bersiap, setelah siap membantu Mama Ina, Arini dan Khayra beralih ke dapur.


" Arini sama Khayra tolong ikannya dilumuri bumbu ya, biar dipanggang Nak Biru sama Nak Bono! " Titah Bunda Hilda.


" Siap Bunda. "


" Itu ikannya, kamu ambil bumbunya dulu. " Tunjuk Bono.


Arini mengambil bumbu dan Khayra yang mengambil ikan di baskom. Mereka mulai melumuri bumbu, sementara Biru dan Bono membuat bara untuk pembakaran.


Mereka berempat mulai memanggang ikan.


" Ini ditambah lagi bumbunya! "


" Dibolak balik biar nggak mutung. "


" Kipasin bara apinya! "


Semua bekerja sama membakar ikan, aroma khas ikan bakar sudah membaui hidung mereka.


" Harum banget.."

__ADS_1


" Jadi lapar. "


" Dasar Bonbon..pantang sekali melihat makanan lezat. "


" Jangan bilang aku kucing garong. " Celetuk Bono.


" Kamu sendiri yang bilang! " Sahut Arini.


" Kalian besok kalau sudah sukses di Jakarta pasti lupa sama kita yang di sini. "


" Ya nggak lah Rin..aku tetap wong ndeso kok, Insya Allah aku bukan bang toyib. "


" Awas saja kalau kamu jadi malin kundang Bon, tak kutuk kamu jadi kodok."


" Sembarangan. "


" Hahaha.."


Mereka bergurau bersama, Khayra hanya tersenyum menanggapi gurauan duo sahabatnya, Biru pun hanya mengulum senyum. Mama Ina memperhatikan mereka berempat, Mama Ina melihat tatapan lembut penuh arti Biru pada Khayra, dan Mama ina tahu signal apa itu. Senyum Mama Ina terkembang. Khayra gadis yang baik, terlebih Khayra putri dari sahabatnya. Tapi Mama Ina tahu kerasnya hati Hilda setelah tersakiti, dia menjadi lebih posesif pada putrinya, dia tidak yakin Khayra boleh dekat dengan seorang teman cowok.


" Ini ikannya, yang sudah masak taruh di meja saja ditata sekalian. " Bono menyodorkan ikan yang sudah dibakar.


Khayra dan Biru keduanya mengulurkan tangan hendak menerima nampan berisi ikan.


" Biar aku saja. " Biru menerima nampan itu dari Bono. Khayra kembali melanjutkan menambah bumbu ikan.


Biru meletakkan ikan sesuai perintah Mama Ina, Mama Ina memanggil Khayra untuk membantu Biru, Khayra mendekat.


" Sayang bantu Biru ya ini hidangannya semua dirapikan biar cantik. "


" Khayra kan pintar design, Mama Ina suka melihatnya, bagus lho dekor ruang perpisahannya kemarin. "


" Terima kasih Ma.."


" Itu piringnya dialas daun pisang dulu, baru daun selada ditata, ikannya taruh di atasnya Ru! " Biru mengikuti petunjuk Khayra, Arini dan Biru yang masih memanggang ikan tersenyum melihat keduanya.


Khayra meletakkan irisan tomat yang dibentuk menjadi bunga, timun dan berbagai hiasan dari buah. Mama Ina tersenyum dalam hati, akal akalan Mama Ina saja ingin melihat Biru bisa dekat dengan Khayra.


Nasi kuning yang baru masak, di cetak dan dihias mereka bertiga, Khayra membuat wadah lauk dari daun pisang.


" Bagaimana buatnya Khay? " Tanya Biru tak tahu.


" Dilipat seperti ini terus ditusuk pakai lidi di sini. " Khayra mengajari Biru.


Mama Ina menjalin kacang panjang, melipat daun pisang untuk dibentuk sebagai pinggiran tampah bambu, Khayra menata urapan, mie goreng, telur puyuh, perkedel, orek tempe pedas manis, irisan telur dadar, ayam goreng di wadah daun pisang. Ikan bakar ditaruh terpisah di piring.


Nasi tumpeng sudah selesai dihias.


__ADS_1




__ADS_2