
♡
Arini sampai ke rumah Khayra, rumahnya terlihat sepi.
" Assalamualaikum.."
Lama Arini mengetuk pintu dan mengucap salam, memanggil Khayra.
" Rara..Rara.."
" Apa nggak di rumah,.tapi dia kan sakit. " Monolog Arini.
Tak lama pintu dibuka, terlihat wajah pucat Khayra dari balik pintu.
" Waalaikumsalam.." Dengan berpegangan pada dinding, Khayra membuka pintu untuk Arini.
" Rara kamu sendiri di rumah, Bunda dan Si Mbok masih di kedai? "
" Ya..Bunda sama Si Mbok nggak tahu aku pulang cepat. "
" Kamu itu sembrono Rara, kalau ada apa-apa bagaimana sendiri saja di rumah. "
" Tadi Ibu Murni mau jemput Bunda, tapi aku larang, aku sudah nggak apa kok. "
Arini menyentuh kening dan tangan Khayra, terasa panas.
" Nggak apa bagaimana, badan kamu masih panas begini. "
" Ayo berbaring saja! " Arini memapah Khayra ke kamar.
" Kamu sudah makan, sudah minum obat? "
" Tadi di sekolah sudah, siang ini belum. "
Arini ke dapur, dan kembali lagi setelah mengambil air hangat dan sepiring nasi dan sayur.
" Ayo makan tak suapi! "
Arini membantu Khayra duduk bersandar, dengan bantal yang ditumpuknya.
" Terima kasih ya Arini. "
" Apa toh, kamu senang ya membuat semua orang khawatir. "
" Semua orang khawatir, berlebihan kamu Arini.. "
" Ya ialah, semua heboh kamu pingsan di kelas, apalagi pas lihat kamu digendong " Arini menepuk keningnya.
" Maaf. " Wajah Khayra terlihat imut, saat mode memelas.
" Tahu nggak karena kamu Bayu mau berkelahi sama Biru, Bayu mau meninju Biru, untung Biru bisa menangkisnya. "
" Kenapa? "
" Itu gara-gara Biru menggendongmu ke ruang UKS, Bayu cemburu sama Biru. "
" Biru yang gendong aku Arini? "
" Hmm.." Arini terus menyuapi Khayra.
" Keren anak juragan sapi VS anak kota. "
" Arini.. " Sungut Khayra, Arini terkekeh menggoda sahabatnya itu.
" Tahu nggak Biru khawatir banget kamu pingsan. "
Khayra hanya diam mendengar Arini bercerita.
" Dia tanya sama aku, Khayra marah nggak ya kalau tahu dia yang gendong. "
Khayra tersenyum sekilas, Arini terus bercerita bagaimana khawatirnya Biru. Hingga saat Arini memergoki Biru melihat Khayra di ruang UKS.
" Bayu ada saingan kayaknya nih.."
" Apa toh?" Khayra membolakan matanya.
" Assalamualaikum.."
Terdengar suara Bunda, Bunda masuk ke kamar Khayra.
" Waalaikumsalam.." Jawab Khayra dan Arini serentak.
__ADS_1
" Bunda.. "
" Sayang kamu demam, tadi Ibu gurumu ada yang mampir beli lauk di kedai, katanya kamu pingsan di sekolah. " Cemas Bunda.
" Rara nggak apa Bunda. " Khayra menghibur Bundanya agar tidak mencemaskannya.
" Sayang.." Terlihat kekhawatiran dari wajah ayu Bunda.
" Badan kamu panas, mungkin karena pulang kehujanan kemarin malam. " Tutur Bunda sedih.
Rara kehujanan, pagi tadi nggak ada bilang sama aku.
Gumam Arini heran.
" Sudah minum obat sayang? " Tanya Bunda, Khayra mengangguk.
" Rara nggak apa, Bunda jangan cemas. "
Khayra tidak ingin membuat Bunda mengkhawatirkannya.
" Terima kasih Nak Arini, sudah menemani Rara. " Bunda tersenyum beralih ke Arini.
" Ya Bunda, nggak apa kok. " Arini tersenyum.
" Kamu sudah makan sayang? " Khayra mengangguk, Bunda mengusap rambut panjang Khayra.
♡ ♡
Biru mengantar pulang Bono, mereka menenteng ikan yang didapat.
Baju mereka basah oleh air sungai, badan mereka sudah kotor dengan lumpur dan bau amis ikan.
" Mbok.." Bono berlari menemui Si Mboknya.
" Apa toh Bono.."
" Ini Bono bawa ikan Mbok. "
" Ya sudah nanti si Mbok masak, diasap baru digulai enak itu. " Sebut si Mbok.
" Enak banget Mbok. "
" Saya mau mandi Mbok, kotor. Nanti saya ke sini lagi. "
" Ya bro nanti kalau sudah mencari rumput, sore aku ke rumahmu! "
" Ya, Mbok saya pulang dulu, Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam cah bagus.."
Biru pamit pulang ke rumah.
" Bono kamu nggak mencari rumput? "
" Ya Mbok ini mau pergi, sore ada kerjaan di rumah Pak Kades Mbok. "
" Kerja apa toh Bono? "
" Membersihkan halaman rumah Pak kades Mbok. "
" Kamu nggak capek toh Nak. " Si Mbok kasihan melihat anak tunggalnya Bono harus membanting tulang setiap hari.
" Demi si Mbok, Bono nggak capek. "
" Semoga kamu jadi orang sukses Nak.." Do'a tulus si Mbok untuk putranya Bono. Bono bersandar di pangkuan si Mbok.
" Si Mbok, kalau Bono ke luar kota boleh nggak, Bono mau membahagiakan si Mbok. "
" Si Mbok sudah bahagia Nak. "
" Bono mau mengubah nasib Mbok, Bono mau membuat si Mbok bahagia. "
" Kamu ke kota sama siapa Nak, kota itu luas nanti anak si Mbok yang ganteng kayak klenteng ini hilang bagaimana? "
" Sama Biru Mbok, Biru mengajak Bono kerja di jakarta nanti setelah lulus sekolah. "
" Jauh banget toh Nak ke jakarta. "
Bono tulus berbakti pada si Mbok, Ibu yang melahirkannya. Bono hanya ingin membuat si Mbok bahagia dan bisa makan enak.
Bono pamit pergi mencari rumput, karena sore ini pertama kali dia melakukan pekerjaan barunya.
__ADS_1
Biru baru saja sampai di rumah, badannya tadi basah saat berendam di sungai mencari ikan. Kini sudah kering lagi diterpa angin. Badan Biru terasa panas dingin, tapi dia tidak menghiraukannya.
Biru lewat pintu belakang, dia langsung membersihkan diri dan mandi, menghilangkan bau amis di tubuhnya.
Biru menunaikan sholat ashar seusai mandi, Biru memegangi kepalanya yang pusing.
Biru kemudian rebahan di tempat tidur, dia memejamkan mata, memijat kepalanya yang pusing hingga ketiduran.
Biru tertidur, dia lupa mau ke rumah Bono lagi.
Tak lama Bono datang, Bono berjalan dari rumahnya, di rumah Arini hanya ada Ibu dewi.
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.."
" Biru ada Ibu? "
" Biru tidur Bono, apa mau Ibu bangunkan. "
Bono menggeleng cepat, " Nggak usah biar Biru tidur Ibu, saya mau membersihkan halaman dulu. "
" Halaman? "
" Ya Ibu, kata Biru Pak Bahrun ada kerjaan untuk saya membersihkan halaman depan setiap sore. "
" Ooh..oh..ya, Ibu lupa. "
Ibu dewi baru mengerti, kemarin Bapak Bahrun ada cerita, soal Biru yang ingin membantu Bono, tanpa menyinggungnya.
Sehingga Bono diharuskan bekerja membersihkan halaman rumah sebagai alasan.
" Ya itu sapunya ada di belakang bono. "
Bono kemudian membersihkan halaman, Ibu Dewi tersenyum memperhatikan Bono.
Bono memang anak yang rajin, ulet dan pekerja keras.
" Bono minum dulu! " Ibu Dewi membawakan sebotol air dingin, lengkap dengan gelas dan setoples kue.
" Terima kasih Ibu. "
Bono meminum segelas air dingin, kemudian melanjutkan menyapu halaman yang luas itu.
Biru belum juga bangun dari tidurnya, Bono sudah selesai membersihkan halaman.
" Biru belum bangun Bono, sudah Ibu ketuk pintunya, Ibu nggak enak mau masuk kamar dia, coba tolong kamu saja yang masuk ke kamarnya. " Mohon Ibu Dewi.
" Ya Ibu sebentar, saya cuci kaki dulu.."
Bono mencuci kaki dan tangan di kran yang ada di samping rumah.
Bono hendak masuk ke kamar Biru, saat mengetuknya tak ada jawaban. Bono memanggil Biru.
" Biru..Biru.."
Bono membuka pintu tidak dikunci, Bono masuk.
" Bro..bro..aku masuk ya? kamu itu tidur atau pingsan toh. "
Biru terlihat masih tidur.
" Sudah hampir maghrib, bangunkan sajalah. " Monolog Bono.
" Bro..bangun! sudah sore, bro bangun. "
Bono menggoyangkan badan Biru, Biru tidak menggubris. Bono menarik tangan Biru, dia kaget saat memegang tangan Biru panas sekali.
" Hmm.." Biru meringkuk.
" Badanmu panas bro, kamu sakit ya? "
" Hmm.. " Gumam Biru.
Bono panik dia keluar mencari Ibu Dewi, Ibu Dewi di dapur.
" Ibu, Biru demam badannya panas. " Terang Bono.
" Ya Allah.." Ibu Dewi bergegas melihat keadaan Biru.
Biru demam.
__ADS_1