Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Secercah Harapan


__ADS_3


Usai menunaikan sholat fardhu ashar, Khayra memegangi lututnya yang perih, dengan susah payah dia mengerjakan sholat.


" Assalamualaikum.."


Terdengar suara Bunda yang pulang dari kedai, Khayra bergegas melipat mukenahnya.


Dengan kaki yang sedikit pincang Khayra berjalan membuka pintu untuk Bunda.


" Waalaikumsalam Bunda.."


" Mbok mana sayang? "


" Ada lagi mandi Bunda. "


Bunda membereskan bekas wadah lauk untuk jualan.


" Kenapa kakinya? "


Bunda menyadari kaki putrinya yang terlihat pincang.


" Hehe..habis jatuh dari sepeda Bunda. "


" Khayra sayang, makanya hati-hati kalau bersepeda. " Nasihat Bunda.


" Ya Bunda. "


Hal yang sangat biasa bagi Khayra jatuh dari sepeda, bukan hal yang baru karena sudah berapa kali Khayra terjatuh saat sedang bersepeda.


Meski demikian Bunda tetap saja khawatir pada putri semata wayangnya.


" Sudah dikasih obat belum sayang. "


" Sudah Bunda. "


Bunda melihat luka dilutut Khayra yang terbalut plester.


" Ya sudah Bunda mau mandi dulu, Bunda sudah gerah sekali. "


Bunda mengusap kepala Khayra dengan sayang dan berlalu ke kamar mengambil handuk untuk membersihkan diri.


Khayra kembali ke kamar untuk mengerjakan tugas sekolahnya.


Sudah semester akhir Khayra bersekolah, sebentar lagi dia akan menghadapi ujian akhir kelulusan.


Khayra ingin sekali melanjutkan kuliah, tapi dia mengurungkan niatnya. Karena tak mungkin baginya untuk berkuliah, dengan keadaan Bunda.


Khayra merasa kasihan pada Bunda nya yang selalu membanting tulang, demi menafkahi dirinya.


Khayra selalu juara kelas, Khayra bukan hanya gadis yang baik, dan shalihah. Dia juga gadis yang cerdas.


Beberapa kali dia mewakili sekolah untuk mengikuti kejuaraan.


Khayra menghela nafas dalam, menghembuskannya perlahan.


Bunda Khayra ingin membanggakan Bunda dan membuat Bunda hidup dengan layak. Khayra ingin membahagiakan Bunda. Khayra tidak ingin menyusahkan Bunda. Bisik Khayra tulus.


Khayra masih tekun dengan buku pelajarannya, Bunda menghampiri Khayra dan memilih duduk di tepi ranjang Khayra.


" Sayang kamu banyak tugas sekolah? "


" Nggak kok Bunda, ini cuma mengerjakan tugas Bahasa Inggris sama membaca saja. "


" Belajar yang tekun sayang, kamu adalah harapan Bunda. "


Khayra mengangguk pelan, Bunda mengelus rambut panjang Khayra. Hanya di kamar Khayra berani menanggalkan hijabnya.


" Nanti malam sepulang dari surau Rara belajar lagi. "


" Apakah Khayra ingin melanjutkan kuliah setelah lulus SMA? "


Pertanyaan Bunda membuat Khayra terdiam sesaat, betapa ingin hatinya menjawab ya, tapi Khayra lebih memilih menggelengkan kepala pelan.


" Kenapa? "

__ADS_1


" Khayra akan membantu Bunda berjualan saja setelah lulus nanti, kasihan Bunda kalau harus susah payah memikirkan biaya untuk kuliah Rara nanti. "


Bunda merengkuh tubuh putrinya, mendekap putri kesayangan dalam pelukannya, yang menjadi alasan Bunda bertahan menjalani kerasnya hidup.


Bunda hanya tersenyum, kedua tangannya memegang pipi langsat putrinya.


Khayra sayang, apapun akan Bunda lakukan demi kebahagiaanmu anakku. Meski Bunda harus menjadi Ibu dan juga Ayah bagimu.Bisik Bunda dalam hati.


♡ ♡


Arini dan Khayra berjalan beriringan menuju surau, untuk mengaji dan menunaikan sholat di surau.


Khayra dan Arini membantu Ustadz Khalid dan Istrinya mengajar anak yang mengaji Iqro'. Sedangkan yang mengaji Al-quran akan diajarkan langsung oleh Ustadz Khalid dan Ummi Annisa .


Menjelang adzan maghrib semua sudah duduk bersimpuh di surau.


Terlihat dari jendela surau Pak kepala desa, Pak Bahrun berboncengan motor dengan Biru, baru saja datang ke surau.


" Sstt.." Arini menyenggol bahu Khayra, Khayra tak menggubris.


" Apaan sih Arin. "


" Itu musuh bebuyutanmu, datang sama Bapakku. "


Khayra melirik ke arah jendela, Biru terlihat tampan, wajah bersihnya masih basah oleh wudhu dengan baju kemeja dan sarung bermotif kotak semakin membuatnya gagah.


Khayra kembali menunduk, Arini masih menggoda sahabatnya.


Cowok aneh itu terlihat berbeda dengan peci dan pakaian tertutup seperti itu.


Khayra berbisik dalam hatinya, dan menggeleng pelan. Berusaha mengaburkan kekagumannya.


Astaghfirullahaladzim.


Biru dan Pak Bahrun terlihat melangkah masuk, menyalami jama'ah lainnya dan duduk dishaf bagian depan untuk pria, Khayra dan Arini tak bisa melihat Biru karena wanita dan pria terpisah dengan kain penghalang ditengahnya.


Adzan maghrib mulai berkumandang dengan merdu, menggugah setiap jiwa yang merindu akan pencipta_Nya.


Ustadz Khalid mengimami sholat berjama'ah.


Proses belajar mengaji dimulai, semua murid pria duduk rapi dengan Ustadz Khalid.


Semua terlihat tekun mengaji, Biru duduk di pojok surau, hanya memandangi murid lain mengaji yang kebanyakan anak-anak dengan usia yang jauh darinya.


Bahkan mereka lebih lancar mengaji dariku.


Biru terlihat menunduk, karena ajakan Pak Bahrun maka dia mau ikut ke surau.


Entah berapa lama dia tidak menyentuh sajadah dan mushaff Al_quran nya di rumah. Keluarganya tak pernah benar-benar mengajarkan agama dalam mendidik anaknya.


1tahun.


2tahun.


3tahun.


Bahkan lebih.


Biru lupa..


Terakhir Biru mengaji dan sholat saat Biru berumur 7 tahun, Pak Bahrun yang dulu mengajarinya saat Pak Bahrun masih bekerja di Jakarta bersama orang tua Biru yang nota bene nya teman Pak Bahrun.


Ustadz Khalid menghampirinya, duduk di sebelah Biru yang masih menunduk tak menyadari kehadiran Ustadz Khalid.


" Nak. "


" Eh ya.. Ustadz maaf. "


Biru mencium punggung tangan Ustadz Khalid takzim.


" Kenapa tidak bergabung dengan yang lainnya. "


" Maaf Ustadz.."


Biru semakin menundukkan wajah tampannya, Ustadz Khalid mengerutkan kening.

__ADS_1


" Saya malu.."


" Malu? " Ulang Ustadz Khalid.


Biru mengambil jeda sesaat sebelum menjawab Ustadz Khalid.


" Saya tidak bisa mengaji dan sholat, saya sudah lupa Ustadz. " Jelasnya lirih dengan wajah tertunduk.


" Siapa namamu Nak? "


" Biru Ustadz. "


" Hmm Nak Biru.. kenapa harus malu disaat kita tak pandai mengaji dan sholat, selagi kita masih berniat untuk belajar dan Nak Biru ingin bersungguh-sungguh untuk melakukannya. "


" Tapi Ustadz, lihatlah mereka semua masih kecil, sedangkan saya sudah besar seperti ini. Mereka semua sudah pintar bahkan sudah Al_quran. "


" Tak ada kata terlambat. "


Biru menatap wajah teduh Ustadz Khalid.


" Datang lagi besok hari, setelah sholat Isya, kita akan belajar. "


" Terima kasih Ustadz. "


Ustadz Khalid yang bijak tak ingin membuat Biru malu dan merasa minder. Sehingga memutuskan Biru untuk belajar mengaji setelah murid lain selesai mengaji dan pulang.


Setitik airmata haru dan bahagia menitik, Biru merasa hina dihadapan Rabb_Nya yang selama ini tak pernah dia ingat.


Terima kasih Ya Allah..


Dengan mengucap taawudz Biru mulai belajar mengaji, dengan mulut bergetar dia mengeja huruf hijaiyyah.


Biru mendengarkan dengan khidmat, Ustadz Khalid melafalkan hapalan sholat.


" Ambillah! "


Ustadz Khalid memberikan buku hapalan sholat lengkap, Biru menerimanya.


Mungkin hanya sebuah buku tak bernilai rupiah, tapi seumur hidup Biru buku ini adalah hadiah berharga yang pernah dirinya terima.


Bahkan barang branded dan fasilitas mewah lain yang orang tuanya berikan selama ini jauh lebih berharga buku ini.


" Terima kasih Ustadz. " Biru mengangguk hormat berkali-kali, mengekspresikan bahagianya.


Didekap erat buku pemberian Ustadz Khalid, Biru sangat terharu.


Biru meninggalkan surau yang mulai sepi, Ustadz Khalid memandang Biru dengan senyum.


Ummi datang dari balik hijab pembatas wanita dan pria yang memisahkan tengah surau.


" Abi.." Sapa Ummi Annisa lembut.


" Ya Ummi.."


" Terima kasih Abi sudah memberikan kesempatan anak itu untuk mendekat pada Rabb_Nya. "


" Sudah kewajiban kita sebagai sesama muslim Ummi. "


Ustadz Khalid dan Ummi, keduanya tersenyum bahagia.


Semoga kamu menjadi pribadi yang lebih baik Nak Biru, pribadi yang dekat dan patuh akan Rabb_Nya.


Munajat Ustadz Khalid tulus.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Biru Author padamu.


😘😍😗


__ADS_2