Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Sulit


__ADS_3


Biru yang 1 tim dengan Khayra harus selalu bertemu dan berdekatan, Biru tidak membayangkan sebelumnya akan tergabung dalam tim yang sama dengan Khayra, Biru yang ingin menyimpan perasaannya, tidak bisa menghindar terpaksa harus menahan diri berdekatan dengan Khayra.


Biru lebih banyak diam dan menundukkan pandangan saat mengerjakan tugas tim.


Seperti saat ini mereka harus masak untuk makan malam, Biru dibantu Bayu yang berniat mencari perhatian Khayra tentunya.


Biru dan Bayu selesai membuat tempat untuk masak, Biru merebus air.


Khayra terlihat memotong cabe dan sawi untuk merebus mie. Mereka akan merebus mie instan, nasi dan lauk yang Khayra bawa kebetulan masih ada.


Ratih tentu saja sibuk dengan dirinya, takut kecantikannya hilang.


Khayra membuka 4 sachet white coffee instan, menaruhnya di cangkir menunggu air panas.


Arini yang berbeda tim dengan Khayra melambaikan tangan, Khayra tersenyum balas melambai, Arini terlihat berjalan mendekat.


" Kamu mau masak apa Ra? "


" Cuma masak mie instan saja, nasi sama lauk masih banyak tadi. " Tutur Khayra lembut.


" Haha..menu kita sama, tim kami juga masak mie instan rebus lebih praktis. "


" Ini lauk buat kamu, bawa saja masih ada kok untuk tim kami makan. " Khayra menyodorkan sekotak lauk ke Arini.


" Hehe..alhamdulillah rezeki anak shalihah, terima kasih Ra. " Arini memeluk sahabatnya.


" Itu ratu kenapa,nggak mau bantu masak, nggak usah kasih makan biar kelaparan! " Tukas Arini kesal melihat Ratih hanya berpangku tangan.


" Apa kamu, kok iri sama aku? " Sahut Ratih ketus, merasa tersindir.


" Hii..siapa juga yang iri, aku iri sama kamu? Huuek. " Cibir Arini kesal, Khayra mengusap lengan Arini.


" Bilang saja, cewek jadi-jadian! " Ledek Ratih, karena tingkah Arini yang tomboy dan tegas.


" Apa kamu bilang? " Sungut Arini.


" Sudah..sudah Arini jangan meladeni dia, kamu balik ke tempatmu saja lanjutkan memasakmu! " Lerai Khayra.


Arini masih kesal dengan Ratih, dia kembali ke timnya, Ratih mencibirkan bibir.


Hingga malam mulai bergulir, sudah hampir jam 22.35 Wib. Mereka sudah selesai makan malam, acara api unggun juga sudah selesai. Semua kelelahan dan sudah kembali ke tenda.



Biru sendiri duduk di dekat api unggun, memetik gitarnya, terdengar suara beratnya yang apik.


Khayra yang hendak menutup tenda mengurungkan niatnya, saat melihat Biru duduk sendiri di depan api unggun. Dari tenda tempatnya duduk, Khayra menatap Biru, Khayra mendengarkan lagu melow yang dilantunkan Biru, terasa menyentuh di hati Khayra.


" Rara.." Panggil Arini pelan, Arini mengikuti kemana arah mata Khayra.


Khayra terus memperhatikan Biru sambil memeluk lututnya, tidak sadar saat Arini memanggil namanya. Arini yang memergoki Khayra termenung melihat ke arah Biru, menaruh curiga, dia merasa ada sesuatu antara sahabatnya ini dengan Biru.


" Ayo ikut aku Rara! " Arini menggandeng Khayra, Khayra hanya mengikuti Arini tangannya ditarik Arini, mereka berjalan mendekat ke arah Biru yang sekarang duduk bersama Bono, Bono menghampiri Biru yang duduk sendiri.


Khayra yang menyadari Arini mengajaknya bergabung bersama Biru dan Bono, menarik tangannya.

__ADS_1


" Kita balik ke tenda saja Arini, mau apa ke sini Arini? "


" Nggak ada kita minum kopi saja, sayang pergi jauh camping ke sini, kalau cuma mau tidur saja. " Arini kembali mengapit lengan Khayra.


" Hei Biru, Bono, kita boleh duduk sini ya? "


Biru dan Bono mengangguk.


" Sini gabung Rara, Arini kita lagi merebus air mau buat kopi! " Tawar Bono, Biru masih asyik dengan gitarnya.


" Wah kebetulan banget Bono, ini aku bawa 4 sachet white coffee. " Arini mengeluarkan 4 bungkus kopi instan dari saku sweaternya.


" Ayo duduk Ra! " Arini menarik tangan Khayra yang masih berdiri dengan kedua tangan di sakunya.


" Duduk Rara! " Bono tersenyum.


Arini dan Khayra duduk tak jauh dari Biru dan Bono.


Arini dan Bono yang membuat white coffee, Biru masih memetik gitarnya tanpa menyanyi.


" Kok diam saja sih Biru, kita nyanyi yuk! biar lebih seru. " Pinta Arini, diikuti Bono.


Arini memberikan kopi yang dibuatnya, Khayra


menyesap white coffee nya, cuaca terasa dingin dan membekukan.


Khayra mendekatkan tangannya ke api, Biru melirik Khayra sekilas. Sementara Arini dan Bono memperhatikan apa yang dilakukan kedua sahabatnya.


" Kita buat permainan yuk, siapa yang kalah dihukum menyanyi. "


Mereka memainkan tebak kata, siapa yang tidak bisa menebak mereka akan dihukum menyanyikan sebuah lagu.


" Jatuh cinta. " Tebak Biru dan Khayra bersamaan, mereka berempat terdiam. Khayra dan biru memalingkan muka mereka.


" Yap..betul! " Sahut Arini tertawa kaku.


" Bono kamu nyanyi, kamu nggak bisa menebak! " Arini memberi hukuman pada Bono.


Bono dihukum menyanyi, alhasil dia menyanyikan lagu potong bebek angsa, dengan memperagakannya, membuat semua tertawa, Khayra dan Biru yang tadi diam pun ikut tertawa kecil. Meski malam semakin larut, permainan semakin seru. Semua teman yang lain sudah terlelap di tenda mereka.


Kali ini giliran Khayra yang tidak bisa menebak, Khayra pun tidak luput dari hukuman.


" Ayo Khayra nyanyi..nyanyi..! " Bono dan Arini bertepuk tangan menyoraki Khayra.


" Aku nggak bisa! " Tolak Khayra.


" Ayo dong Ra! "


" Baiklah..lagunya kak Rossa saja ya! " Sebut Khayra.


Biru mulai memetik, saat mendengarkan suara lembut nan merdu milik Khayra, Biru tertegun. Begitu juga dengan Bono dan Arini, mereka diam termangu mendengarkan Khayra yang begitu menghayati lagu yang dibawakan.


Kututup mataku


Dari semua pandanganku


Bila melihat matamu

__ADS_1


Kuyakin ada cinta


ketulusan hati


Yang mengalir lembut


Penguasa alam


Tolonglah pegangi aku


Biar ku tak jatuh


Pada sumur dosa yang terkutuk


Dan menyesatkan cintaku.


Takdir Cinta.


Selesai Khayra bernyanyi, mereka bertepung tangan.


" Ayo kita kembali ke tenda Arini, sudah malam banget. " Ajak Khayra, menarik Arini.


" Kita tidur dulu ya, bye Biru, Bono! "


Arini dan Khayra pergi, kembali ke tenda mereka.


Biru terlihat menatap punggung Khayra yang menjauh, Biru merutuk pada hatinya sendiri yang tak bisa dikendalikan. Dengan susah payah Biru menghilangkan bayangan Khayra dari pikiran dan hatinya, tapi hati kecil Biru tak bisa berkompromi. Hati dan pikirannya selalu berbeda, bertolak belakang.


" Bro apakah ada yang mengganggu pikiranmu? "


" Entahlah, semakin aku ingin menjauhinya hati kecilku seakan terus menolak, aku sudah berusaha keras untuk memendamnya. " Biru menggigit bibir.


" Apakah gadis itu.." Bono menggantung Perkataannya, Biru mengangguk pelan.


" Setiap aku berusaha tak acuh padanya, mendiamkan dia, tapi di saat yang sama hatiku tidak tega melakukan itu. Memang nggak seharusnya aku memiliki perasaan ini, belum saatnya untukku. " Wajah tampan Biru tertunduk, nasehat Ustadz Khalid masih teringat jelas dibenaknya.


" Insya Allah, jika dia jodohmu, kalian akan bersama suatu saat nanti. " Bono menepuk pundak sahabatnya.


Biru tenggelam dalam keraguan, perasaan seolah mempermainkannya. Biru menyanyikan lagu apik milik Fiersa Besari.


Beri kisah kita sedikit waktu


Semesta mengirim dirimu untukku


Kita adalah rasa yang tepat


Di waktu yang salah


Hidup memang sebuah pilihan


Tapi hati bukan tuk dipilih


Bila hanya setengah dirimu hadir


Dan setengah lagi untuk dia.


Waktu yang salah.

__ADS_1


Lagu yang menutup malam panjang mereka.


__ADS_2