
♡
Pagi ini masih menyisakan dingin yang terasa menembus tulang, akibat hujan semalam suntuk.
Khayra terlihat beberapa kali bersin, karena hujan semalam membuat Khayra jadi flu.
" Biru bagaimana ya keadaannya, semoga dia baik-baik saja? " Gumam Khayra cemas.
Khayra memasukkan buku pelajaran ke dalam tas.
Berlalu ke dapur untuk menikmati sepotong singkong rebus dan secangkir teh hangat.
" Kamu sakit Nduk? apa karena kehujanan semalam. "
" Ya Mbok, Rara jadi flu. "
" Kalau nggak enak badan nggak usah sekolah sayang. "
" Nggak apa Bunda, cuma flu saja kok. " Khayra meneguk teh hangatnya hingga tersisa sedikit.
" Bunda sama si Mbok mau ke kedai, nanti pulang sekolah istirahat saja di rumah. "
" Ya Bunda.."
Khayra pamit pada Bunda dan Si Mbok, mencium tangan keduanya.
" Khayra pergi Bunda, Mbok. "
" Hati-hati. "
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.."
Khayra berangkat ke sekolah mengayuh sepedanya, meski badannya terasa tidak menentu, dan kepala sedikit pusing.
Khayra berhenti, Arini menunggunya di tepi jalan.
" Hei Ra..kamu pucat, kamu sakit ya? "
Khayra menggeleng, " Nggak cuma flu saja. "
" Kenapa? "
" Nggak apa. " Khayra kembali menggeleng, berbohong.
" Kok pakai sweater Ra. "
" Dingin banget Arini.."
Khayra bingung harus menjawab apa, jika dia bilang karena kehujanan, pasti Arini curiga Khayra pulang sama Biru.
Khayra takut jika Bunda tahu pasti marah, Khayra terpaksa berbohong lagi.
Mereka sudah sampai di sekolah, memarkirkan sepeda.
Khayra semakin merasa badannya panas dingin, dilipat kedua tangannya ke dada, menahan dingin.
Khayra dan Arini berjalan ke kelas, Biru sudah duduk di bangkunya mengobrol dengan Bono.
Khayra bersedekap berlari kecil ke bangkunya, Biru melirik sekilas pada Khayra.
Dia baik-baik saja, syukurlah.
Khayra menahan rasa panas dingin yang semakin tak tertahan rasanya. Khayra diam saja, wajahnya sudah terlihat pucat.
Bel berbunyi, Ibu Murni masuk ke kelas, semua sudah duduk rapi di tempatnya.
" Kumpulkan tugas kalian kemarin, Khayra, Arini kumpulkan tugas teman kalian! " Titah Ibu Murni.
Khayra dan Arini mengumpulkan tugas teman sekelas mereka.
Khayra tiba di meja Biru mengambil tugasnya, Biru memandang sekilas wajah Khayra.
Biru masih terus memandangi Khayra. Khayra berjalan menunduk dan menaruh tugas yang dikumpulkan ke meja guru.
" Biru.." Tegur Bono.
" Hmm..apa? "
" Kamu itu kenapa? " Tanya Bono, Biru hanya menggeleng.
__ADS_1
Khayra kembali ke bangkunya, dia memijat kepalanya yang pusing.
Biru terus memperhatikan Khayra, terselip rasa khawatir di hati Biru.
Cewek bawel, mukanya pucat banget, apa dia sakit, karena pulang hujanan sama aku semalam. Tapi dia kan pakai payung, kok terbalik dia yang sakit, padahal aku yang kehujanan.
Gumam Biru.
Khayra terlihat menggigil, Arini menyadarinya.
Biru baru saja mau bilang, Khayra sakit. Tapi Arini yang lebih dulu mengatakan pada guru.
" Maaf Ibu, Khayra demam, badannya menggigil. " Arini mengangkat tangan kanannya memberi tahu Ibu Murni.
Semua menoleh ke Khayra, Bayu terlihat cemas, begitupun Biru.
" Sakit kok sekolah. " Sungut Ratih sewot.
" Kamu sakit Rara? " Ibu Murni mendekati Khayra, memegang kening Khayra.
" Badan kamu panas kita ke ruang UKS saja, Arini tolong bantu Ibu. "
Arini membantu Ibu murni memapah Khayra, baru berjalan 2 langkah Khayra sudah ambruk.
Biru yang sedari tadi tidak beralih pandangannya dari Khayra, refleks langsung berlari mendekat.
" Khay.." Cemas Biru.
" Khayra pingsan tolong gendong dia Biru! "
" Tapi Ibu.."
" Cepat Biru.." Desak Arini.
Maafkan aku terpaksa menyentuhmu Khay..
Biru dengan berat hati, terpaksa menyentuh dan membopong tubuh lemah Khayra, membawanya ke ruang UKS.
Bayu terlihat kesal, melihat Ibu Murni memilih menyuruh Biru untuk menggendong Khayra.
Bayu kalah cepat dari Biru, Biru tempat duduknya lebih dekat dari Khayra.
" Khay bangun.." Bisik Biru, wajah mereka begitu dekat. Mata Biru melekat menatap Khayra yang terpejam.
Pertama kalinya dia memandang paras ayu Khayra tanpa jarak.
Ibu Murni dan Arini mengikuti Biru dari belakang.
" Di mana ruang UKS nya Ibu? "
" Itu di sebelah sana, di dekat kelas 1. " Tunjuk Ibu Murni.
Biru bergegas, berjalan cepat ke ruang UKS.
Mereka sudah sampai di ruang UKS, Biru merebahkan tubuh Khayra di ranjang ruang UKS.
" Terima kasih Biru.."
" Kamu berdua boleh kembali ke kelas! " Perintah Ibu Murni.
" Tapi Ibu.." Arini terlihat berat meninggalkan sahabatnya.
" Arini.. ada petugas UKS di sini jangan khawatir. "
" Baik Ibu.."
" Baik saya permisi Ibu. " Biru meninggalkan ruang UKS, Arini mengekorinya.
" Biru terima kasih ya.." Arini mensejajari langkah Biru.
" Hmm.."
" Arini, Khayra pasti marah, jika tahu aku menyentuhnya. "
" Kamu kan terpaksa Biru, nggak mungkin Rara marah. "
" Entahlah.." Tatap Biru dingin.
Mereka berdua kembali ke kelas, Bayu sudah menyambut Biru dengan tatapan sengit.
" Biru, berani banget ya kamu gendong Rara. "
__ADS_1
Bayu menggebrak meja Biru, Biru terlihat cuek tidak menanggapi.
" Sial kamu Biru. " Bayu hendak melayangkan tinju, Biru menangkis tangan Bayu, Bayu meringis.
" Awas kamu ya.." Ancam Bayu.
" Bayu apa toh kamu, Biru kan cuma mau menolong Rara. " Lerai Bono.
" Apa kamu ikut campur. " Bentak Bayu.
" Sudah Bayu, Ibu Murni datang itu. " Ragil menarik Bayu duduk.
Ibu Murni masuk ke kelas, pelajaran dimulai kembali.
" Buat rangkuman untuk hari ini, dari halaman 50 sampai 55. "
" Jangan ribut Ibu mau ke ruang UKS lagi. "
" Ibu, bagaimana keadaan Khayra? " Tanya Arini cemas, Biru juga khawatir.
" Masih diobati sama petugas UKS. "
2 jam berlalu, waktunya istirahat.
Biru bergegas pergi, Bono bengong melihat Biru meninggalkannya, tidak seperti biasa.
Biru lari ke ruang UKS, dia mengintip dari celah jendela.
" Khayra terlihat masih terbaring. " Biru kemudian berbalik, Arini memergokinya melihat Khayra. Arini sudah berdiri di belakang Biru.
" Arini.." Biru terlihat kaget.
" Ayo masuk, kamu mau lihat keadaan Rara kan. "
" Kamu saja aku cuma nggak sengaja lewat kok. " Kilah Biru.
" Aku masuk kalau begitu. "
" Benar kamu cuma lewat. " Arini tertawa kecil dan masuk ke ruang UKS.
Biru berjalan meninggalkan ruang UKS, menuju kantin.
" Ibu beli teh hangat 1, sama gorengannya. "
Biru meminum teh hangat, dan sepotong tahu goreng isi sayur.
Dia teringat Bono, Biru meminta Ibu pemilik kantin membungkus gorengan dan membeli 5 teh botol.
" Terima kasih Ibu. "
Setelah membayarnya Biru membawa bingkisan itu.
Biru pergi ke ruang rohis, dan membawa bingkisan berisi gorengan dan teh botol.
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.."
" Ini ada gorengan. " Biru menaruh kantong berisi makanan.
Terlihat Hafiz dan Ridho membaca Al_quran.
" Kamu dari mana bro? " Tanya Bono.
" Nggak ada dari ruang UKS saja tadi sebentar. "
" Kamu lihat keadaan Rara toh. "
Hafiz menoleh mendengar Bono menyebut nama Rara.
Biru mengangguk, Hafiz melanjutkan membacanya.
" Nanti pulang sekolah mau ikut aku nggak bro? "
" Kemana? " Badan Biru mulai terasa meriang.
" Ke kali dekat ladangnya Rara, kita menangkap ikan. "
" Hmm ya nanti. "
Bel berbunyi mereka kembali ke kelas.
__ADS_1