
♡
Khayra mengayuh sepedanya, terlihat di persimpangan Arini dari kejauhan.
" Hai Rara.."
" Arini.."
" Kamu sudah sehat. " Khayra mengangguk.
" Ayo berangkat! "
Mereka berangkat berdua, mereka mengayuh sepeda dengan santai.
Khayra dan Arini sudah memarkirkan sepeda mereka, berjalan ke kelas.
" Maaf ya kemarin aku nggak mengantarmu pulang, ada Mamanya Biru kemarin datang. "
" Ya aku tahu. "
" Rara. " Sapa Bono.
" Ya.."
Khayra duduk di bangkunya, Bono dan Arini asyik mengobrol. Khayra diam saja, Bayu terlihat mendekatinya. Biru melirik keduanya sekilas, dan kembali membaca buku.
" Rara, kamu sudah sehat. "
" Alhamdulillah.."
" Sorry aku nggak jenguk kamu. "
" Nggak apa kok. "
Bel berbunyi semua duduk di bangkunya, Ustadz Khalid masuk ke kelas.
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.."
" Khayra dan Biru sudah sehat? "
" Alhamdulillah Ustadz.."
" Syukurlah.."
" Baiklah kita mulai pelajaran hari ini,tolong buka halaman 60. "
Semua membuka bukunya, Ustadz Khalid mulai menjelaskan materi pelajaran.
Semua mendengarkan dengan baik, sesekali ada yang bertanya.
Jam istirahat tiba, semua teman sekelas Khayra keluar, Khayra masih duduk di dalam kelas. Biru dan Bono pergi ke ruang Rohis.
" Rara, kamu banyak diam hari ini, kamu masih belum sehat? "
Khayra menggeleng pelan, " Ayo kita keluar! "
Arini duduk di sebelah Khayra, Khayra duduk dengan tangan berpangku di atas meja, kepalanya dibenamkan.
" Rara.."
" Hmm.."
" Kamu kenapa? "
" Bunda.."
" Kenapa dengan Bunda? "
" Bunda dan Mamanya Biru ternyata adalah sahabat lama, sepertinya Mama Ina tahu masa lalu Bunda. "
Khayra mengambil jeda sesaat.
" Kenapa Bunda selalu menangis di belakangku, Bunda tidak pernah berbagi kesedihan denganku. " Khayra menangis dengan wajah tertutup.
" Rara.." Arini mengusap punggung Khayra.
" Mungkin Bunda tidak ingin melihatmu sedih. "
" Tapi Arini..kenapa Bunda harus menyembunyikannya dariku, aku putrinya. "
" Rara.."
Khayra semakin terisak, Arini merangkulnya. Betapa tertekannya Khayra selama ini, memendam keingin tahuannya akan masa lalu Bundanya.
Biru yang hendak kembali mengambil buku, mengurungkan niatnya, dia berdiri di balik tembok, kemudian pergi lagi.
Begitu berat yang kamu hadapi Khayra.
Khayra mulai tenang, meski mata indahnya terlihat sendu.
Arini kembali lagi dari kantin dan membawa 2 botol minuman.
__ADS_1
" Minum Rara! "
" Terima kasih Arini. "
Setelah membasuh mukanya, Khayra kembali ke kelas, dia berpapasan dengan Biru. Khayra menunduk, kemudian mereka berjalan beriringan ke kelas.
Kelas masih sepi, hanya ada Arini, Khayra dan Biru, mereka mematung.
Biru membaca bukunya, Arini meminum teh botolnya, Khayra masih diam tak banyak bicara.
Suara Bono memecah keheningan.
" Bro kamu sudah balik ke kelas toh? "
Biru mengangguk, kembali membaca bukunya.
" Kamu kenapa Rara? " Bono terlihat bingung, temannya terlihat diam semua.
" Nggak apa kok. "
" Kalian semua ada apa toh? "
Arini, Bono dan Biru saling berpandangan, Khayra hanya diam tertunduk.
Hingga jam pelajaran berakhir, tanpa menunggu Arini, Khayra pergi lebih dulu.
Arini tidak sadar Khayra sudah pergi lebih dulu, dia masih asyik mengobrol dengan Bono.
Khayra pergi ke musholla sekolah menunaikan sholat, Biru juga sedang menunaikan sholat zhuhur di musholla sekolah. Setelah menunaikan sholat, Khayra bergegas pulang. Khayra berjalan sendiri, Biru khawatir.
Biru melihat Khayra dari kejauhan, Khayra mengayuh sepedanya cepat dengan tatapan kosong. Biru mengejarnya, Khayra terlihat tidak pulang ke rumah, tapi pergi ke arah ladangnya, terus mengayuh sepedanya, hingga sampai di tepi sungai, Biru mengikuti Khayra.
Khayra duduk di batu besar di pinggir sungai, memeluk lututnya dengan kepala tertunduk.
Khayra menangis tersedu.
" Bunda.."
Biru terus menatap Khayra dari tempatnya berdiri, dia mengkhawatirkan Khayra, sejak melihat Khayra menangis di kelas tadi.
Khayra terlihat diam.
" Bunda selalu menangis di belakang Khayra, kenapa Bunda? " Khayra semakin tersedu.
Khayra membenamkan wajah, dan memeluk lututnya.
Khayra termenung, memandangi arus sungai.
" Bunda.."
Biru terus mengawasi Khayra dari kejauhan.
Siang beralih, menjelang sore Khayra berdiri hendak pulang.
Dengan berhati-hati dia berjalan di bebatuan, Khayra hampir terpeleset, kemudian duduk.
" Bunda.." Khayra menangis.
Biru berlari, mendekati Khayra.
" Khay.."
" Kamu nggak apa-apa? "
Khayra mendongak, terkejut melihat Biru di hadapannya.
" Kamu kenapa si sini? "
" Kamu jatuh, nggak ada yang luka?" Tanya Biru khawatir, Khayra menggeleng tapi tangisnya semakin menjadi, membuat Biru bingung.
" Khay..kamu kenapa? "
" Huuuaaah.." Khayra menangis lagi.
Biru duduk di samping Khayra yang masih menangis, Biru tahu Khayra tengah bersedih, meski Biru tidak tahu permasalahan yang dihadapi Khayra, Biru bisa meraba seberat apa beban hati yang dirasakan Khayra.
" Menangislah, lepaskan semua yang mengganjal hatimu! "
Khayra menangis lebih kuat, hingga dia rasakan hatinya sedikit lapang karena puas menangis, diluapkan kesedihannya, dia tumpahkan semua.
Khayra duduk memeluk lutut kembali.
" Terima kasih Biru. " Ucap Khayra dengan suara parau, wajahnya terlihat sembab.
" Kamu ingat, di sini aku pertama kali bertemu dengan gadis bawel yang super jutek. " Kenang Biru.
Khayra berpikir sejenak dia baru ingat, di sinilah pertama kalinya mereka berdua bertemu.
" Kamu.." Khayra membolakan mata.
Biru tertawa kecil, Khayra mengaktifkan mode cemberut.
" Nah begitu, aku lebih suka melihat kamu marah daripada melihat kamu menangis. "
__ADS_1
Tatap Biru dalam, Khayra tertunduk.
" Maaf dulu nggak sempat bilang terima kasih.."
" Nggak apa. " Ucap Khayra lirih.
" Apa Mama Ina ada cerita sesuatu padamu? " Khayra bertanya, hanya gelengan Biru yang dilihat, Khayra menghela nafas, dia sudah menduga itu.
" Khay..mungkin Bundamu tidak ingin membuatmu bersedih. "
" Semua orang tua seperti itu. "
" Bunda punya alasannya sendiri, terkadang kita tidak bisa menebak pikiran orang tua kita, tapi satu yang pasti, orang tua melakukannya untuk kebaikan anaknya. "
Khayra terdiam, mencerna perkataan Biru.
" Sebelum kamu terlambat menyadari dan menyesali semua, berhenti untuk menyudutkan Bunda, jangan bebani Bunda dengan tingkahmu yang kekanakan seperti ini. "
" Siapa yang kekanakan? " Gerutu Khayra tak terima.
" Ini apa namanya bawel, kalau bukan kekanakan, kabur pulang sekolah bukannya pulang ke rumah. "
" Kamu juga kenapa di sini? " Khayra balik bertanya.
" Kamu mengikutiku ya? ayo mengaku. " Tebak Khayra.
" Ayo pulang, sebelum Bunda khawatir. "
Desak Biru.
Dengan berat hati Khayra mematuhi perkataan Biru, semua yang dikatakan Biru benar sekali.
Mereka bersepeda beriringan, Biru mengantar pulang Khayra sampai jalan depan rumahnya.
" Kamu nggak mampir? "
" Aku langsung pulang sudah sore. " Pamit Biru.
Biru mengayuh sepedanya pulang ke rumah. Sudah masuk ashar, terlihat Bono sedang membersihkan halaman. Biru memarkirkan sepeda, Bono menghampirinya.
" Kamu darimana bro? "
" Ada keperluan urgent. " Bohong Biru.
" Kamu pulang sekolah langsung pergi, nggak pulang dulu? " Biru menggeleng.
" Aku habis sholat zhuhur tadi mencarimu kemana-mana nggak ketemu. "
" Maaf Bono. "
" Aku ganti baju dulu nanti aku bantu kamu. "
Biru berlari ke kamarnya, Arini membawa minum untuk Bono, dilihatnya sepeda Biru sudah bersandar di teras samping.
" Biru sudah pulang ya Bono? "
" Sudah, lagi ganti baju di kamar. "
" Darimana dia? "
Bono mengedikkan bahu, tidak tahu.
Setelah berganti baju, Biru menuntun sepeda baru dan membawanya keluar, Biru mendekati mereka, mengambil air minum yang dibawa Arini, dan meneguknya hingga habis.
" Kamu lapar bro? "
Biru mengangguk dan tertawa.
Arini membulatkan mata, " Biru.."
" Maaf Arini aku haus. "
Arini masuk ke dalam mengambil air minum lagi.
" Si Mbok buat gulai ikan mangut untuk kamu bro dibawa Arini tadi. " Tukas Bono, Biru mengangguk.
" Tolong sampaikan si Mbok, bilang Terima kasih. "
" Sepeda baru bro, bukannya sepedamu masih bagus. " Bono memegangi sepeda baru yang dibawa Biru.
" Hadiah buat kamu. "
" Heee.." Bono melongo.
" Hei Bono.."
" Ini kan mahal bro. " Bono menggeleng.
" Tolong terima, ini sebagai tanda persahabatan kita. " Desak Biru.
" Tapi bro.."
" Nggak ada tapi.."
__ADS_1
Bono mengangguk, Biru tertawa kecil, kemudian mereka berdua melanjutkan menyapu halaman luas milik Pak Bahrun.