Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Lebih Beruntung


__ADS_3


Seusai sholat zhuhur di musholla sekolah, Biru dan Bono bergegas pulang.


Seperti hari-hari kemarin, 2 bersahabat itu pulang sekolah berboncengan. Beriringan sepeda dengan teman yang lain, Bono yang selalu saja bisa membuat temannya tidak berhenti tertawa, bergurau di sepanjang jalan dengan temannya, termasuk Arini.


" Arini, bagaimana keadaan Rara? "


" Rara sudah siuman tadi, habis tidur terus pulang pas jam istirahat terakhir! "


" Sama siapa Rara pulang? "


" Diantar sama Ibu murni. "


" Semoga Rara cepat sehat, soalnya banyak yang khawatir dengan keadaan dia. " Sindir Bono, menyenggol Biru.


Biru menepuk pundak Bono.


" Apa toh, aku juga khawatir kok, aku kan teman Rara. " Kilah Bono tak mau kalah.


Biru hanya diam, tidak meladeni Bono lagi.


" Tapi masih demam dia, nggak tahu kenapa. " Arini terlihat cemas.


" Habis hujan kemarin Rara sakit kayaknya. "


" Ya mungkin Rara main hujan-hujanan, makanya demam. "


" Uhuk..Uhuk.. " Biru tiba-tiba terbatuk


" Jangan bilang kamu juga sakit Bro. " Tukas Bono.


Biru diam terlihat lesu tidak bersemangat, ada yang mengganjal hatinya.


" Bro, mampir ke rumah dulu ganti baju, baru pergi kita? "


" Hmm.." Gumam Biru.


" Ayo bro.." Bono mengayuh sepeda dengan cepat.


" Tunggu.." Arini mengejar Bono dan Biru.


Tak selang lama, mereka sudah sampai di depan halaman rumah Arini yang luas.


Mereka menaruh sepeda di teras samping, Arini terlihat masuk lebih dulu.


" Masuk Bono! " Suara cempreng Arini terdengar dari dalam.


Arini mengambil sebotol air es dan 2 gelas, membawanya ke teras.


Biru dan Bono duduk di lantai, menghirup udara segar.


" Minum Bono. "


" Makan siang sini saja Bono, Ibuku masak banyak, Bapak belum pulang. "


" Om kapan pulang Arini? "


Arini menggedikkan bahu, tak tahu. Arini berlalu ke dalam untuk berganti baju.


Biru baru ingat dia meminta tolong Pak Bahrun untuk membelikan sepeda Bono. Biru berharap Bono tidak menolaknya.


" Eh Bono..setiap sore kamu ada kerjaan nggak."


" Biasanya kalau habis mencari rumput buat ternak Pak Suwoto, aku free bro sore nggak ada kerjaan lagi. "


" Ehm..itu, Pak Kepala desa ada kerjaan buat kamu. " Ragu Biru mengatakan.

__ADS_1


" Maksudmu Pak Bahrun, Bapaknya Arini. " Sebut Bono lengkap.


" Ya Om Bahrun.."


" Kerja apa? " Tanya Bono serius.


" Ini !" Biru menunjuk halaman luas di hadapan mereka.


" Ini apa? " Bono bingung, Biru menggaruk tengkuknya.


" Setiap sore kamu sapu halaman rumah Pak Bahrun. "


" Menyapu? " Ulang Bono.


" Ya kerja kamu, membantu menyapu halaman luas ini. " Terang Biru.


" Tenang ada bayarannya, lumayan bisa tambah penghasilan kamu. " Imbuh Biru lagi.


" Terima kasih Bro. " Bono memeluk Biru erat, Biru sampai terbatuk.


" Lepas..Uhuk..Uhuk.."


" Sorry bro, aku senang banget. "


" Terima kasih sama Orang tua Arini dong, aku kan cuma menyampaikan saja. " Dalih Biru.


Biru tidak mau, Bono tahu ini hanya alasan Biru untuk membantunya.


Biru akan membayar Bono setiap minggu dari uang tabungannya sendiri.


" Nanti sore kamu mulai kerja ya! "


" Siap Boss! " Bono terlihat tertawa senang.


Biru merasa haru, bantuan yang menurut Biru tidak seberapa, bisa bermanfaat untuk Bono.


Bono, semoga kelak kamu bisa membuat orang tuamu bahagia, dengan kerja kerasmu.


" Ya Tante.."


" Ayo cepat Bono, masuk! "


" Ya Ibu.." Bono terlihat rikuh.


Biru mengajak Bono masuk, dia menarik Bono ke kamarnya.


Bono duduk di tepi ranjang Biru, sambil memainkannya.


" Empuk banget tempat tidurmu bro, aku kalau tidur di kasur empuk kayak ini ya malas bangun. "


Biru tersenyum melihat lugunya Bono. Bagaimana reaksi Bono kalau melihat kamar Biru yang di jakarta. Mungkin Bono bisa pingsan.


Bono yang pada dasarnya anak yatim, tidak mampu, dan harus menjadi tulang punggung keluarga.


" Bono, habis lulus kamu mau kerja apa? " Tanya Biru ingin tahu.


" Apa saja bro, yang penting halal, yang penting bisa makan aku sama si Mbokku. " Jawab Bono apa adanya.


" Kamu mau ikut aku ke kota? " Tawar Biru terdengar serius.


Bono sampai terperangah dibuatnya.


" Aku ikut ke kota? " Bono menggaruk kepalanya.


" Lha si Mbokku sama siapa? "


" Biar si Mbok tinggal sama Om Bahrun, kamu bisa transfer uang tiap bulan untuk si Mbok. "

__ADS_1


" Aku kerja apa di kota bro, kalau cuma lulus SMA, sarjana saja banyak yang nganggur di sana. " Dalih Bono.


" Masalah itu nggak usah kamu ambil pusing, Intinya kamu mau nggak mengubah nasib keluargamu. "


" Memang ini serius toh bro? "


" Kamu pikir. " Biru menatap dingin.


" Hehehe.." Bono hanya tertawa, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia ingin mengubah nasibnya, membuat si Mbok bahagia, bisa makan enak. Tapi dia juga tidak tega meninggalkan si Mbok sendiri.


Tok..Tok..


Bono membuka pintu, melongokkan kepala dari celah pintu.


" Ada apa Biru lagi ganti baju? "


" Ibu menyuruh kalian berdua makan, itu sudah disiapkan di meja. "


" Ya sebentar.."


" Aku mau ke rumah Rara. " Pamit Arini.


Arini berlalu meninggalkan Bono, Biru masih berganti baju, mengenakan kaos oblong dengan celana denim selutut.


" Bro kita disuruh makan dulu. "


" Ayo kita makan baru pulang ke rumahmu! "


Setelah makan Biru dan Bono pamit untuk pergi ke rumah Bono. Bono berganti baju main, mereka mau pergi ke sungai mencari ikan.


Bono mengayuh sepeda, mereka berboncengan, menyusuri pinggir sungai.


Bono berhenti di dekat ladang, Biru berkeliling pandangannya mengedari ladang dan sungai di hadapannya, sungai yang sama tempat dia dan Khayra bertemu pertama kalinya.


Cewek bawel, lekas sehat ya. Gumam Biru.


Biru duduk di batu besar melempari sungai dengan kerikil.


Bono menjala ikan dengan alat yang dia buat sendiri dari bambu.


" Bro sini.. bantu aku! "


" Aku nggak bisa menangkap ikan. "


Biru turun ke sungai, membantu Bono memegang perangkap.


" Dapat bro! " Bono mengangkat perangkapnya. 3 ekor ikan berukuran sedang sudah ketangkap


Hampir 2 jam mereka mencari ikan, lumayan ikan yang didapat hampir 2 kg banyaknya.


Bono menyiangi sisik ikan, Biru membantu membersihkan ikan dengan air sungai.


" Alhamdulillah, lumayan ikannya bisa untuk lauk si Mbok. " Wajah Bono terlihat senang.


Biru baru tahu, betapa senangnya Bono membahagiakan orang tua dengan jerih payahnya.


Biru menatap kosong, bahagia cukup sederhana untuk Bono.


Bagi Bono, dia dan Si Mbok bisa makan itu sudah cukup.


Sesuatu yang tak terbayangkan oleh Biru, selama ini Biru hanya menuntut perhatian dari kedua orang tuanya, Mama dan Papa yang menurut Biru terlalu sibuk menumpuk kekayaan, sementara aku sibuk mengharap kasih sayang dari mereka.


Mama dan Papa hanya memberikanku materi yang berlebihan, kemewahan yang tidak aku inginkan.


Tapi melihat Bono yang harus membanting tulang untuk si Mboknya, miris sekali.


Aku tidak bersyukur, aku hanya menganggap orang tuaku sibuk mencari uang, tanpa aku sadar mereka melakukannya untukku, anaknya.

__ADS_1


Maafkan Biru, Papa dan Mama, Biru tidak mengerti dengan pengorbanan Mama Papa, yang berjuang tak kenal waktu untukku anakmu.


Biru terhenyak, Biru meraup wajahnya, dia baru sadar dari kesalahannya pada kedua orang tuanya.


__ADS_2