Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Hujan


__ADS_3


Tiba giliran Biru mengaji, semua murid lain sudah pulang, angin berhembus cukup kuat. Menghantarkan rasa dingin hingga ke relung hati.


Tidak menyurutkan konsentrasi Biru sedikitpun. Biru mulai mengaji dengan lancar, tajwidnya juga sudah cukup baik. Ustadz Khalid mengangguk tersenyum, senang dengan perubahan Biru.


" Alhamdulillah Nak Biru, belajarmu sudah banyak peningkatan, jangan malas untuk bertanya, dan jangan pernah berhenti untuk belajar. "


" Belajarnya dilanjutkan besok, ulang lagi di rumah. "


" Baik Ustadz, terima kasih. "


Angin bertiup semakin dingin, pertanda akan turun hujan.


" Sepertinya di luar mulai turun hujan, itu ada payung saya di sana, pakai saja. Ustadz pulang dulu mumpung belum deras hujannya. "


" Tolong nanti jangan lupa, tutup pintunya ya Nak Biru! "


Biru mengangguk, " Baik Ustadz. "


" Terima kasih, saya pulang dulu, kamu hati-hati nanti pulangnya. " Ustadz menepuk bahu Biru.


" Assalamualaikum.." Pamit Ustadz Khalid.


" Waalaikumsalam Ustadz.."


Biru mencium punggung tangan Ustadz Khalid.


Ustadz berlari kecil pulang ke rumahnya, yang ada di belakang musholla, Biru mengambil payung yang ditunjukkan Ustadz Khalid tadi.


Di ruang musholla bagian wanita, yang terhalang hijab pembatas terdengar sayup suara wanita mengaji, suaranya merdu, Biru pernah mendengarnya di musholla sekolah.


Bukankah itu suara Khayra.


" Cewek bawel itu belum pulang juga, dia dengan siapa di sebelah. Arini hari ini tidak mengaji, mungkin dia dengan Ummi Annisa. " Gumam Biru.


Biru mengunci pintu samping musholla, dia hendak keluar musholla dan menutup pintu depan.


" Siapa itu, Ustadz Khalid? " Terdengar suara Khayra bertanya.


Biru mengurung niatnya keluar musholla, dia mendekat ke hijab pembatas.


" Hmm.. Ini aku Biru. "


Biru.


Tak ada suara, hening kembali Khayra terdiam. Mereka terperangkap hujan, mereka hanya tinggal berdua di musholla.


Terhalang hijab pembatas yang tertiup angin cukup kencang.


" Khay..kamu masih di situ? "


" Ya.." Sahut Khayra yang menahan takut.


" Aku mau pulang, kamu berani sendiri. "


Pakai tanya, aku takut banget tahu. Jangan pulang dulu Biru, aku takut. Bathin Khayra dalam hati.


" Aku nggak bawa payung, aku juga nggak bawa sepeda. " Sahut Khayra.


" Kita pulang bersama saja, ini ada payung kamu pakai saja! "


" Nggak usah aku tunggu hujan reda saja, kamu pulang saja dulu. " Tolak Khayra.


Karena merasa gengsi meminta bantuan pada Biru lebih dulu, akhirnya penolakan itulah yang keluar dari mulut Khayra.


Mereka berbicara dengan hijab pembatas menjadi tirai penghalang mereka, suara mereka kalah oleh suara hujan yang kuat.


" Kamu nggak takut sendiri di sini? " Suara Biru sedikit berteriak.


" Nggak aku lebih takut kalau kamu yang ada di sini. " Rutuk Khayra kesal.


" Aku pulang dulu, Assalamualaikum.."

__ADS_1


Dasar cowok nggak peka banget, aku takut tunggu aku Biru. Gerutu Khayra dalam hati menahan kesal, karena Biru tidak mengerti.


Biru baru saja hendak menutup pintu, angin berhembus semakin kencang. Biru berdiri bersandar di dinding teras musholla.


Aku tunggu di sini saja dulu, kasihan cewek bawel itu sendiri.


Biru mengurungkan niatnya untuk pulang, Dia diam-diam ingin menemani Khayra. Dia tidak tega meninggalkan Khayra sendiri.


Terlihat di kejauhan kilatan petir meninggalkan semburat cahaya di kegelapan, sedetik kemudian terdengar suara guntur menggelegar sangat keras. Kemudian gelap, listrik padam.


" Aaaa..Bunda, Rara takut. " Jerit Khayra di dalam musholla.


Dasar cewek bawel sok berani kamu, lihat ini apa. Gumam Biru.


Biru berlari kecil mendekat ke pintu masuk musholla bagian wanita.


" Bunda..Bunda.." Khayra terdengar mulai terisak lirih.


" Khay.."


" Biru.." Khayra terlihat kaget, dia mengusap matanya dengan cepat, Khayra merasa lega.


Biru menyalakan lampu senternya yang berukuran mini, " Kamu bilang mau pulang. " Tanya Khayra kemudian.


" Memangnya aku cowok apa, tega meninggalkan cewek sendiri kayak begini. "


Khayra mendekap mukenah dan Al_qurannya.


" Ayo pulang! " Ajak Biru, Khayra mengangguk pelan.


" Kamu saja yang pegang payungnya, aku pakai sarung saja. "


Biru menyodorkan payung, Khayra ragu menerimanya, " Kamu sendiri nanti basah bagaimana? "


" Sudah cepat ambil! bawel banget. "


" Tapi Biru.."


" Apa kamu mau menunggu hujan reda, hingga larut malam. " Biru sedikit berteriak karena hujan semakin deras.


Khayra mengambil payung itu dan membukanya, sementara Biru menutupi badan dan kepalanya dengan sarung.


Dinyalakan lampu senter sebagai penerangan mereka berjalan di tengah hujan dan kegelapan.


Biru berjalan di belakang Khayra, hujan semakin lebat. Biru sudah basah kuyup, sesekali Biru meraup air di wajahnya.


Mereka sudah sampai di jalan depan rumah Khayra, Khayra berhenti.


" Kamu mampir dulu, ini payungmu. "


" Nggak usah, sudah terlanjur basah. "


" Tapi.."


" Aku pulang.."


Biru melambaikan tangan, Biru berlari membelah hujan yang semakin lebat.


Khayra memandangi punggung Biru hingga menghilang, tidak terlihat di kegelapan malam.


Khayra berlari kecil menuju rumahnya, diketuknya pintu, rumahnya gelap gulita.


Listrik padam sejak terdengar guntur tadi.


" Assalamualaikum.."


" Bunda.." Ketuk Khayra.


" Waalaikumsalam.." Bunda membawa lampu teplok sebagai penerangan.


" Ya Allah sayang, Arini mana? " Cemas Bunda, melihat Khayra pulang sendiri tanpa Arini.


" Arini lagi menstruasi Bunda, dia tidak mengaji hari ini. "

__ADS_1


" Jadi kamu pulang sama siapa sayang? "


" Sendiri Bunda. " Khayra berbohong, takut Bunda marah jika tahu dia pulang dengan seorang teman cowok.


" Ayo cepat masuk! hujannya deras. "


Bunda mengunci pintu, Khayra dan Bunda masuk ke dalam.


" Cepat mandi air hangat sayang, sudah Bunda siapkan tadi, lepas baju basah kamu itu! "


" Baik Bunda. "


Khayra menaruh payungnya di pojok ruang tamu, Khayra berlalu ke kamar mandi.


Mengguyur badannya dengan air hangat yang disiapkan Bunda.


Meski memakai payung, karena hujan sangat lebat Khayra tetap kebasahan.


" Kasihan Biru, pasti basah kuyup sampai rumah, hujannya lebat banget. " Gumam Khayra merasa bersalah.


" Sayang.."


" Ya Bunda.." Khayra tergagap.


" Cepat ganti baju, keringkan rambut dan badanmu nanti demam. "


Ibu menaruh Wedang jahe hangat di meja belajar Khayra.


" Terima kasih Bunda. "


Bunda keluar dari kamar Khayra, Khayra mengeringkan rambut dan badannya dengan handuk dan berganti dengan baju hangat.


Biru sudah sampai belum ya? Pasti basah kuyup sampai rumah, Biru biarpun suka jahil dan menyebalkan ternyata baik. Dia tadi sengaja menungguku. Terima kasih Biru.


" Astaghfirullahaladzim, Ya Allah aku lupa berterima kasih. " Khayra menepuk kepalanya sendiri karena lupa.


♡ ♡


Hujan semakin deras, Biru terus berlari menembus hujan, Biru sampai di rumah dalam keadaan menggigil.


Dengan nafas terengah dan tubuh menggigil diketuknya pintu.


" Kamu pulang hujan-hujanan Nak Biru, kan bisa pinjam payung Ustadz Khalid. "


" Nggak apa Tante. "


" Mobil di bawa Om Bahrun pergi ke kota tadi, maaf ya nggak bisa menjemputmu. "


" Om sudah berangkat ke kota Tante? Nggak apa kok Tante. "


" Ya sudah habis pulang sholat dari surau tadi, nggak tahu kenapa pergi malam ini. "


" Bukannya besok harusnya Om pergi Tante? "


" Ya buru-buru tadi perginya, Nak Biru mandi air hangat, biar Tante masak air dulu. "


" Ngga usah Tante, biar Biru bisa sendiri. " Tolaknya.


Biru berlari ke dapur, merebus air panas untuk mandi. Badannya menggigil kedinginan


Ibu Dewi membuatkan teh hangat untuk Biru. Jam sudah menunjuk angka 10 malam.


Biru baru selesai mandi dengan air hangat, berganti dengan baju dan celana panjang yang hangat.


Dengan selimut tebal yang menggulung tubuh, dia menyesap teh hangatnya.


Cewek bawel itu, dia takut gelap sama guntur.


Biru tersenyum kecil mengingat kejadian di musholla bersama Khayra.


Astaghfirullahaladzim, apa ini.


Biru menggelengkan kepala, berusaha mengusir bayangan wajah imut Khayra.

__ADS_1


Biru menggulung selimutnya, dan menutupi kepala dengan bantal.


__ADS_2