
♡
Sungguh Cinta yang menyedihkan, miris
ketika dua hati saling mencinta dalam diam dan memendam rindu, tanpa berani mengungkapkan hingga jarak memisahkan keduanya.
Author.
Malam pun tiba, setelah sholat Isya, mereka para wanita menyiapkan makanan yang sudah dimasak siang tadi, semua sibuk menempatkan makanan, Bono, Biru, Pak Dodi dan Pak Bahrun baru pulang sholat berjama'ah dari surau.
" Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.."
" Ayo duduk sudah lapar ini. "
Makanan sudah tertata rapi di atas tikar yang sudah tergelar. 1 tampah nasi tumpeng, beberapa piring ikan bakar, lalapan, sambal dan 1 bakul nasi putih, sudah tersaji.
Semua yang duduk hening saat do'a selamat dibacakan dipimpin Pak Bahrun, do'a selesai dipanjatkan. Mereka mulai menikmati hidangan.
" Ini air cuci tangannya! "
" Makan pakai tangan lebih nikmat. "
" Hmmm..enak banget masakannya. " Puji Mama Ina yang mulai mengunyah makanan suapan pertamanya.
" Saya cuma membantu mengaduk saja, Bunda Hilda kokinya. " Terang Ibu Dewi, Bunda Hanya tersenyum.
" Tidak diragukan lagi. "
" Ayo Pak Dodi nambuh, jangan malu ini masih banyak. " Tawar Pak Bahrun.
" Ya Pak Kades, ini enak sekali, jarang ketemu masakan kampung begini. "
" Betul Pak Dodi, sepertinya kita akan rindu masakan ini. " Sambung Mama Ina, yang mengambil urapan lagi.
Biru tertunduk menikmati makanannya, ada kesedihan yang tersirat jelas di matanya, malam ini adalah malam terakhir dia tinggal di desa, 1 tahun berada di desa yang nyaman, warganya yang penuh kekeluargaan, rasa gotong royong yang kental, saling membantu, yang tak pernah dia temui di kota. Biru merasa berat meninggalkan desa, seperti hatinya tertinggal di desa ini. Banyak pengajaran tentang makna hidup yang diterimanya di sini, petuah dari Pak Bahrun, ilmu agama dari Ustadz Khalid, pengalaman yang didapat dan kenangan indah yang penuh suka duka yang dilalui bersama 4 sekawan.
" Pak Bu, Bono ambil ikan bakar lagi ya? " Izin Bono.
" Ambillah Nak Bono, besok kamu di Jakarta makannya pasti makanan kota. "
" Hehehe..ya toh bro? " Bono menyenggol lengan Biru yang diam saja.
" Enak makanan ini. " Arini mengambil perkedel kentang.
" Kamu jangan bandel di sana Nak. " Petuah Si Mbok.
" Ya Mbok. " Jawab Bono, Si Mbok mengusap pundak putra semata wayangnya, yang selama ini menghidupi dirinya.
" Jangan khawatir Mbok, nanti kalau rindu kita datang ke sini, dan minta dimasakkan sama Bunda Hilda. " Imbuh Mama Ina.
" Di kota kan bisa tinggal tunjuk di restoran bintang lima Ina, lebih enak. " Terang Bunda Hilda.
" Biru lebih suka masakan seperti ini. " Ucap Biru tanpa beralih dari makanannya.
" Masaknya pakai hati. " Timpal Bono terkekeh.
" Tuh dengar kata anakku Hilda. " Sambung Mama Ina.
Bono dan Biru beralih memakan ikan bakar sepiring berdua.
__ADS_1
" Ini masih ada Nak Biru kok malah makan berdua begitu. " Bunda Hilda mendekatkan lagi sepiring ikan bakar pada Biru.
" Terima kasih Bunda. "
" Dasar Bonbon. " Celetuk Arini.
" Biar akur Rin besok aku sudah pergi kita nggak bisa berantem lagi nanti. " Celetuk Bono.
" Damai desa nggak ada biang rusuh di sini. "
" Sepi dunia ini kalau nggak ada aku Rin. "
" Pede kamu Bonbon.."
Semua tertawa bahagia, hanya Khayra dan Biru yang tersenyum terpaksa, berbeda dengan hati mereka. Mama Ina menyadarinya.
Semoga kelak kalian bertemu lagi..
Setelah selesai makan semua berberes, Pak Dodi dan Pak Bahrun duduk mengobrol, ditemani kopi panas. Para Ibu membereskan bekas makan. Setelah membantu di dapur Khayra dan Arini bergabung dengan Biru dan Bono yang membuat api unggun di halaman.
" Kalau ada jagung enak ini dibakar ya. "
" Memang dasar usus 50 jari, nggak kenyang apa kamu Bonbon.."
" Hahaha..seandainya! " Ralat Bono.
" Bro gitarmu mana, mainkan toh! "
" Ada di kamar. " Sahut Biru.
" Ada buku kunci lagu kan? "
" Ya sudah tak ambil dulu. " Bono berlari ke dalam rumah dan masuk ke kamar Biru, mulai mencari buku berisi kumpulan chord gitar lagu. Saat menarik buku itu tak sengaja dia menjatuhkan buku lain, Bono memungutnya. Selembar sketsa gambar tercecer, Bono kemudian melihatnya.
" Ternyata benar dugaanku! " Gumamnya.
Bono menaruh kembali sketsa gambar itu ke tempat semula dan membawa buku chord lagu dan gitar keluar.
" Ayo menyanyi kita! Arini Rara ayo keluarkan suara emas kalian. "
" Kalau suara emas enak tak jual Bon. " Celetuk Arini.
Biru mulai memainkan gitar, Bono membolak balik buku chord memilih judul lagu.
" Biru iringi aku mau nyanyi lagu menunggu jawaban. "
Bono menyanyi, semua bertepuk tangan pelan mengikuti irama lagu yang melow. Arini kemudian menyanyikan sebuah lagu malam terakhir dengan suara cemprengnya, kemudian Khayra yang ditunjuk berikutnya.
" Ayo Ra, mau nyanyi lagu apa? " Bono menyodorkan buku chord lagu. Khayra melihat dan memilih judul lagu.
" Ini saja! " Tunjuknya pada judul lagu milik Peterpan, yang terdalam.
Kulepas semua yang kuinginkan
takkan kuulangi
maafkan jika kau kusayangi
dan bila kumenanti
pernahkah engkau coba mengerti
__ADS_1
lihatlahku disini
mungkinkah jika aku bermimpi
salahkah tuk menanti
takkan lelah aku menanti
takkan hilang cintaku ini
hingga saat kau tak kembali
kan kukenang di hati saja
kau telah tinggalkan hati yang terdalam
hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa.
" Baper banget sih lagunya Ra! " Mata Arini sudah berkaca, Khayra sudah menitikkan air mata. Dia tahu perasaan terpendam sahabatnya, Mama Ina melihatnya dan mengabadikan moment yang dilihat dengan ponsel canggih miliknya.
" Hanya sebuah lagu. " Lirih Khayra getir.
" Yakin! " Tegas Bono melirik Biru, Biru menatap ke arah lain, menyembunyikan kesedihannya, Khayra hanya tertunduk.
" Kamu lagi Ru nyanyi! besok sudah nggak bisa lagi seperti ini. "
Dan Biru yang terakhir melantunkan lagu, ia memilih sebuah lagu lawas yang apik milik Ari Lasso, suara beratnya mulai mengalun merdu, menelisik hati yang mendengar, diiringi petikan gitar kesayangannya.
Seandainya..
Kini baru aku sadari
cinta bisa hadir tanpa disadari
dengan perlahan tapi pasti
merasuk di jiwa ini
perasaan ini takkan pernah aku mengerti
sejenak khilafku lupakan dia yang miliki diriku
seandainya cinta ini tak pernah terjadi
takkan ada air mata dan hati perih terluka
saat cinta mengetuk hati
akupun tak kuasa untuk menghindari.
Biru begitu tertunduk dalam meresapi setiap bait kata yang ia lantunkan, tersirat perasaan yang begitu dalam di setiap hela nafasnya. Biru memejamkan mata, sesekali tatapan dingin itu terlihat sendu.
" Maafkan aku ya jika selama ini tingkahku menyebalkan. "
" Memang!" Celetuk Khayra menutupi perasaannya.
" Banget.." Imbuh Arini.
" Aku juga minta maaf ya, selama aku pergi tolong jaga si Mbokku." Ucap Bono haru.
Wajah mereka berubah serius,terlihat jelas raut kesedihan.
__ADS_1