
♡
Khayra pulang bersama Arini, Arini menuntun sepedanya, Khayra berjalan di sampingnya. Rumah Arini lebih jauh, jadi Arini berjalan bersama sampai rumah Khayra, selebihnya dia akan pulang sendiri.
" Kamu belum bicara sama Bunda? "
" Nanti aku akan meminta maaf pada Bunda. "
" Jangan ditunda lagi, segera minta maaf. "
Khayra mengiyakan, Arini tersenyum memberikan semangat.
" Aku hanya ingin tahu siapa Ayahku, bagaimana Ayahku? "
" Bunda masih belum siap kamu harus lebih bersabar, mungkin itu sangat menyakitkan untuk Bunda. "
" Apa kelahiranku di dunia ini tidak diharapkan, sehingga ini sangat menyakitkan untuk Bunda ceritakan padaku. "
" Astaghfirullahaladzim, Istighfar Khayra! " Bentak Arini, Khayra kehilangan akal sehingga berkata begitu.
" Itu mungkin saja kan Arini, mungkin saja aku ini anak.." Khayra tidak sanggup meneruskan perkataannya.
" Jangan pernah berpikir buruk seperti itu Khayra, sama saja kamu berburuk sangka pada Bundamu sendiri. "
Khayra menggigit getir bibirnya, jujur hatinya terasa perih saat mengatakan itu. Tapi prasangka buruk itu melintas dibenaknya beberapa hari ini.
Khayra memikirkan kenapa Bunda selalu menutupi dan menyembunyikan cerita masa lalunya tentang Ayah kandung Khayra. Sehingga prasangka buruk itu yang terlintas.
Malam terasa begitu sunyi, rumah Khayra terlihat remang.
Khayra baru saja pulang dari surau, bersama
Arini.
Terlihat rumah sudah sepi, lampu disebagian ruang sudah dipadamkan.
" Assalamualaikum.."
Bunda membuka pintu untuk Khayra, Si Mbok sudah tidur karena kelelahan di ladang.
" Waalaikumsalam.."
Khayra mencium tangan Bunda takzim, Bunda mengunci pintu kembali.
Bunda hendak berlalu ke kamar, Khayra memeluk Bunda dari belakang.
" Bunda.."
" Maafkan Rara.."
Bunda berbalik dan memandang wajah tertunduk putrinya.
" Bunda yang minta maaf, sudah membuat Khayra bingung. "
Khayra menggeleng, Khayra merasa sedikit keterlaluan pada Bunda, sudah berani membantah perkataan Bunda.
__ADS_1
" Khayra sudah membuat hati Bunda sedih, nggak seharusnya Khayra bersikap seperti tadi "
Bunda tersenyum dan mendekap Khayra dengan sayang.
" Dengarkan Bunda baik-baik, ini bukan salah Rara, Bunda bersedih bukan karena Rara. "
" Sayang, percayalah Bunda sangat menyayangi Khayra, apapun yang Bunda lakukan semua karena Bunda menyayangimu, Bunda tidak ingin mengecewakanmu, Bunda tahu Khayra marah karena Bunda selalu membatasi pergaulan Khayra, tetapi ada satu hal yang harus Khayra ingat, Bunda tidak ingin, putri tersayang Bunda terluka dan kecewa, seperti Bunda dulu. "
Khayra mulai menangis, Bunda merengkuhnya.
" Sayang Bunda bukan tidak ingin cerita tentang masa lalu Bunda padamu, ini semua terlalu menyakitkan untuk Bunda ceritakan. Bunda takut ini juga akan menyakiti hatimu dan mengikis rasa percaya dirimu nanti, percayalah jika waktunya tiba, Bunda akan menceritakan semuanya, Bunda hanya ingin Khayra bersabar dan percaya, bahwa Bunda menyayangimu. "
Khayra semakin tersedu, air matanya tumpah di pelukan Bunda.
" Maafkan Rara Bunda..maafkan Rara.."
" Bunda tidak pernah menganggap ini kesalahan kamu, ini semua adalah salah Bunda, Bunda juga minta maaf. "
Bunda memeluk Khayra, mengusap kepala putrinya lembut.
" Terkadang dari kesalahan kita bisa belajar, bagaimana kita hidup tanpa mengulangi kesalahan yang sama. Menjadikannya sebagai proses belajar untuk kedepannya agar bisa lebih baik lagi. " Bisik Bunda.
" Maafkan Rara Bunda, Khayra akan menunggu sampai Bunda siap untuk membagi kesedihan Bunda pada Khayra. "
Khayra berharap dalam hati, semoga Bunda tetap tegar, meski badai itu belum usai.
" Khayra percaya Bunda, Khayra sayang Bunda. "
" Tidurlah sudah larut, besok terlambat sholat shubuhnya! " Khayra mengangguk.
Khayra duduk di tepi ranjangnya, kemudian beralih ke kursi belajar, dan mengambil buku hariannya, Khayra meluahkan perasaannya pada diary kesayangannya.
Dear diary..
Mungkin aku sedikit keterlaluan pada Bunda, maafkan aku Bunda.
Aku akan selalu menunggu Bunda untuk berbagi kisah masa lalu Bunda, terlebih jika itu tentang Ayah.
Khayra sayang Bunda, dan akan selalu begitu.
Khayra menutup diary nya, menyimpan rapi dalam kotak.
Khayra masih belum bisa terpejam, matanya tak kunjung mengantuk.
" Bunda Khayra hanya ingin tahu, siapa sebenarnya Ayah Khayra. " Bisik Khayra lirih, memandang fhotonya berdua Bunda.
Khayra berlalu ke belakang, mengambil air wudhu, hendak membaca Al_quran. Dia ingin menenangkan hatinya yang sedikit gelisah.
Sayup-sayup suara Khayra yang merdu terbawa angin, ditelan kesunyian malam.
Hingga akhirnya Khayra tak sanggup terjaga lagi, ditutupnya Al_quran dan menaruh kembali ke meja belajar.
Khayra terlelap dalam dunia mimpi.
♡ ♡
__ADS_1
Biru baru saja berganti baju, setelah pulang mengaji dari surau.
Saat di surau tadi Biru berpapasan dengan Khayra, terlihat Khayra masih tertunduk sedih, matanya terlihat sayu.
Biru mengambil Al_quran di meja, mengulang kembali surah yang dibaca hari ini, Biru sudah mengaji Al_quran meski baru juz 2 Biru tetap bersemangat belajar.
Biru teringat belum mengerjakan tugas sekolah, selesai mengerjakan tugas. Tangan terampil Biru dengan lincah menggambar sketsa wajah seseorang.
Wajah gadis yang akhir-akhir ini selalu mengusiknya, wajah sedih yang selalu membuatnya tidak berhenti merasa khawatir.
Entah apa yang mengganjal hati Biru, matanya tidak juga mengantuk. Biru kembali mengambil Al_quran ,Biru membaca surah Ar-Rahman, untuk menghilangkan pikiran yang berkecamuk, Biru mulai merasa tenang setelahnya.
Astaghfirullahaladzim..
Ampuni hamba Ya Allah..memikirkan dia yang tak seharusnya aku khawatirkan. Perasaan apa ini..Kenapa bayangan wajahnya nggak mau hilang.
Biru memejamkan mata, menghalau bayangan yang terus menguntitnya. Biru terus beristighfar dalam hati.
Biru membenamkan wajahnya di bawah bantal, masih saja tak mau hilang.
Hingga hampir jam 02.25 dini hari, Biru baru bisa memejamkan matanya.
Biru tidur dengan nyenyak, dipeluk gulingnya. Biru baru terlelap saat adzan shubuh mulai terdengar, matanya terasa berat untuk dibuka. Alarm jam wekerpun menyala.
Dengan langkah berat dan mata yang masih mengantuk Biru beranjak mengambil wudhu, Biru menunaikan sholat shubuh, setelah selesai sholat masih di atas sajadahnya, Biru tertidur kembali, matanya terasa berat dan mengantuk karena semalam tidak bisa tidur.
Biru terlelap hingga pagi, tidak sadar matahari mulai tinggi. Alarm jam weker terus berbunyi, Biru mulai terusik. Dimatikan alarm jam itu.
Jam menunjuk angka 06.45 pagi.
Tok..Tok..
" Biru..Biru..bangun! "
" Biru kamu tidak sekolah? "
Setengah sadar Biru mengerjapkan mata, dilihat jam weker di meja.
" Sekolah? " Ulangnya masih belum terkumpul nyawanya.
Mata Biru langsung membelalak, " Ya Allah..aku telat! "
Biru mengambil handuk, berlari ke kamar mandi, entah bagaimana Biru super kilat mandi. Hanya 3 menit dia sudah selesai dari mandinya,
bersiap mengenakan seragam sekolah, Biru sudah kesiangan. Memakai sepatu sambil berlari.
" Biru pergi Tante..Assalamualaikum.." Biru terburu-buru, dikayuhnya sepeda secepat mungkin. Ibu Dewi geleng kepala melihat Biru.
" Waalaikumsalam..hati-hati! " Biru sudah menghilang di jalanan.
" Tumben anak itu bangun kesiangan. "
Biru sudah seperti pembalap, mengayuh sepedanya dengan kekuatan penuh.
__ADS_1