Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Tajwid Cinta


__ADS_3


Biru fokus belajar tentang Tajwid dengan ditemani Bono di ruang Rohis khusus ikhwan, terlihat Hafiz, Rayhan, Ridho dan anggota lain sedang sibuk dengan kesibukan masing-masing. Ada yang membaca buku, Al_quran dan ada yang menghafal ayat.


Mereka sedang duduk bersandar, menunggu bel masuk yang tak begitu lama lagi berbunyi.


" Cintaku seperti Ilmu Tajwid. " Celetuk Bono di tengah Biru sedang membaca buku tajwid.


Ridho yang barus saja selesai membaca buku Fiqh Islam ikut menimpali.


" Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah..


hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar. "


" Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati diantara Idgham bilaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada. " Imbuh Hafiz.


" Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang.." Tutur Ridho.


" Jika mim mati bertemu ba adalah Ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.." Timpal Bono.


" Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain..melebur jadi satu. " Ucap Rayhan.


" Cintaku padamu seperti Mad wajib muttasil..paling panjang di antara yang lainnya. " Bono terlihat menghayati.


" Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro..terpantul pantul dengan keras. " Tukas Ridho.


" Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu. " Lirih Bono.


" Sayangku padamu seperti Mad thobi'i dalam Al_quran, banyak benar.." Tukas Ridho merentangkan tangannya seraya tertawa kecil.


" Semoga dalam hubungan, kita ini kayak Idgham bilaghunnah ya, cuma berdua, lam dan ro'. " Sahut Rayhan.


" Selayaknya Waqaf mu'annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya, dia atau aku? " Tambah Hafiz.


" Meski perhatianku tak terlihat seperti Alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti Alif lam qomariah, terbaca jelas.." Tutur Biru dengan ekspresi yang dalam.


" Kau dan aku seperti Idgham mutaqaribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifat. " Sambung Hafiz lagi.


" Aku harap cinta kita seperti Waqaf lazim, terhenti sempurna di akhir hayat. " Ucap Biru bergetar.


" Sama halnya dengan Mad 'aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun 'aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.." Imbuh Rayhan.


" Layaknya Huruf Tafkhim, namamu tercetak tebal di pikiranku. " Kali ini giliran Bono.

__ADS_1


" Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk ro' saja, begitu juga aku yang hanya untukmu. " Ridho.


" Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu, seperti Mad aridlisukun. " Tutup Biru sembari tersenyum kecil.


Mereka saling bersahutan menyebutkan penggalan kata puitis yang mereka dengar dari sebuah media.


" Apakah kalian pernah menaruh rasa pada seorang akhwat? " Hafiz mendadak bertanya, wajahnya terlihat serius.


" Seperti rasa kagum, rasa sayang atau bahkan perasaan cinta? " Tandas Hafiz, semua saling berpandangan.


Semua terdiam, hingga mereka akhirnya jujur menjawab meski sempat terpaku dengan pertanyaan Hafiz.


" Hmm.. aku pernah! " Terang Ridho sedikit ragu.


" Aku juga! " Imbuh Rayhan terlihat canggung.


Bono menggeleng, " Aku belum pernah memiliki perasaan khusus pada wanita. " Ungkapnya polos.


" Kamu? " Mereka semua mengarah ke Biru, Biru yang merasa tertodong pertanyaan mereka terdiam sesaat.


" Aku? " Biru menunjuk dirinya sendiri, semua menganggukkan kepala, hanya Biru yang belum menjawab.


" Pernah, untuk pertama kalinya hatiku berdetak saat memandang seorang akhwat, tapi semua itu harus aku pupus, karena belum saatnya aku menyimpan perasaan itu, jika kami berjodoh, takdir akan mempertemukan kami dengan cara yang tak terduga diwaktu yang tepat. " Tutur Biru dalam, terasa getir saat mengatakan tentang hatinya.


" Karena akhwat itu belum halal bagi kita! " Sambung Hafiz, Biru mengangguk.


" Mereka bukan mahram kita, belum waktunya untuk kita menyimpan perasaan itu, kita harus menuntut ilmu terlebih dulu, memantaskan diri, karena jodoh adalah cermin diri kita. " Imbuh Rayhan.


" Berjuang untuk menghalalkan mereka. " Sahut Ridho.


" Sekolah yang benar dulu kita, bekerja yang halal dan berkah untuk meminang akhwat dari orang tuanya. " Imbuh Bono bersemangat.


" Langitkan do'a dalam sepertiga malam, cinta dalam diam jauh lebih bermakna dari sekedar cinta biasa yang mengumbar syahwat, alunkan dalam do'a, mahabbah rindu kita. " Tutur Hafiz dalam.


" Semangat mujahid cinta! " Seru Bono mengangkat tangannya.


" Bismillah semangat! " Imbuh Ridho, mereka tertawa bersama.


Masa remaja seusia mereka, saat di mana perasaan suka dan kagum mulai tumbuh terhadap lawan jenis mereka, masa di mana pertama kali mereka mengenal rasa baru yang belum mereka rasakan sebelumnya. Rasa yang tak biasa, diantara seorang wanita dan pria, adalah rasa sayang dan cinta.


Bel berbunyi, mereka kembali ke kelas masing-masing, Bono dan Biru berdua menyusuri koridor sekolah. Saat berbelok hendak ke kelas, mereka berpapasan dengan Khayra dan Arini, Biru dan Khayra mereka saling berpaling muka.


" Rara bagaimana kakimu? " Tanya Bono, Biru melirik sekilas ke arah kaki Khayra.

__ADS_1


" Terkilir itu sama luka! bilangnya nggak apa, itulah sok mau jadi wonder woman. " Celetuk Arini kesal, Khayra hanya tersenyum.


Khayra terlihat berjalan agak timpang, berjinjit sebelah kakinya, karena terkilir dan luka hasil terjatuh dari sepeda kemarin. Masih terbesit rasa cemas yang mendominasi di hati Biru.


" Hei dari mana kalian berdua? " Tegur Arini


" Biasa dari ruang Rohis, kalian dari mana? " Bono balik bertanya.


" Dari perpustakaan, kita baru meminjam buku. " Tutur Arini, terlihat Arini dan Khayra, keduanya memeluk beberapa buku.


Khayra dan Biru sama-sama diam meski mereka berjalan beriringan berempat. Hanya Bono dan Arini yang terus berceloteh.


Mereka sudah sampai di kelas, melangkah menuju bangku. Semua terlihat masih ribut dengan obrolan masing-masing, hingga Ibu Murni tiba di kelas.


" Ibu ada pemberitahuan, ini ada surat izin tanda tangan orang tua, untuk siapa saja yang mau mengikuti kegiatan camping sekolah, dengan syarat orang tua mengizinkan. "


" Huuuh.." Semua seisi kelas bersorak, hanya Khayra yang terdiam tak bersemangat sama sekali, Biru tak sengaja menoleh ke Khayra kemudian menunduk lagi.


Biru berusaha sekuat hati untuk memendam perasaannya yang baru tunas, meski terasa berat baginya.


Surat izin orang tua dibagikan semua, Khayra memandangi secarik kertas itu.


" Kegiatannya dilakukan akhir pekan, surat izin ini dikumpulkan segera, ditunggu paling lambat hari rabu ya! " Jelas Ibu Murni.


" Baik Ibu..."


Mereka kembali belajar, semua terlihat konsentrasi mengerjakan soal tugas yang diberikan. Meski beberapa ada yang sibuk mencari contekan jawaban.


Jam pelajaran usai semua mengumpulkan tugas mereka ke depan.


" Tidak lama lagi, terhitung 3 bulan dari sekarang kalian akan menghadapi Ujian akhir, yang akan menentukan kelulusan kalian, jangan malas, belajar dengan tekun! " Pesan Ibu Murni.


" Baik Ibu..!"


Setelah memberi salam, mereka sudah kabur berhamburan pulang meninggalkan kelas.


Arini dan Khayra yang paling akhir keluar, mereka berjalan berdua, Khayra berjinjit sembari menahan sakit.


" Kamu ikut Ra? " Arini bertanya, tangannya menggandeng Khayra.


" Insya Allah, kalau Bunda mengizinkan. "


" Semoga saja orang tua kita mengizinkan, nanti aku bantu bilang ke Bunda. "

__ADS_1


Khayra tersenyum, mereka mengayuh sepeda meninggalkan pelataran sekolah.


__ADS_2