Semburat Cinta Untuk Khayra

Semburat Cinta Untuk Khayra
Ujian Akhir


__ADS_3


Hari ini adalah hari akhir pelaksanaan Ujian Nasional.


Bono terlihat komat kamit mengulang pelajaran yang dihafalnya dari semalam, sementara Biru terlihat tenang membaca buku tentang kisah khulafaur rasyidin.


" Bro..kamu kok nggak belajar untuk ujian hari ini malah baca buku itu. "


" Sudah belajar kok. " Sahut Biru tetap tenang, pandangannya tak beralih dari buku yang dibacanya.


" Kamu itu makannya apa toh bro, bisa pintar begitu. "


" Makan hati. " Sahut Biru asal.


" Dasar kamu ini bro, orang serius tanya. "


Bel masuk berbunyi, tanda ujian dimulai, semua murid duduk dengan tenang setelah berdo'a, pengawas mengawasi semua murid yang mulai menjawab soal ujian.


Tidak ada yang berkutik sekedar untuk mencontek jawaban teman sebelah, soal yang begitu sulit, dijawab dengan mudah oleh Khayra dan Biru.


Mereka terlihat tenang saat mengerjakan ujian, tidak seperti murid lain yang terlihat memutar isi kepalanya, mencari jawaban dari soal ujian yang memusingkan jiwa dan raga.


Waktu mengerjakan ujian sudah habis, semua murid dipersilahkan meninggalkan ruang ujian.


Arini menghampiri Khayra, Biru dan Bono berjalan di belakang mereka.


" Ra..kamu bisa tenang dan santai banget tadi pas jawab ujiannya. "


" Terus harus gimana Arini ? "


" Aku saja susah banget jawabnya! "


" Ya beda toh kamu Arini! " Celetuk Bono di belakang mereka.


" Apaan sih ikut nimbrung saja. " Rutuk Arini kesal.


" Haha..ada yang ngambek nih. " Timpal Bono lagi.


" Bono! " Arini menepuk bahu Bono berkali kali, Bono menangkisnya dengan tangan sebagai tameng.


" Bukan mahrom Arini.. " Celetuk Bono mengingatkan, Arini menyudahi pukulannya.


" Dasar Bonbon.." Arini mencebikkan mulutnya, Bono semakin terkekeh. Biru dan Khayra hanya menggeleng melihat kedua temannya.


" Jangan galak galak Rin sama aku, sebentar lagi kita pisah lho, nanti kamu rindu, rindu itu berat kata dilan, hahaha.."


" Hiih pede banget kamu Bon, siapa juga yang bakal rindu sama kamu! "


" Kamu mau kemana Bon memangnya? " Tanya Khayra penasaran.


" Mau ikut bro Biru ke kota Ra, mau mengubah nasib. "


" Ke kota? "


" Ya habis lulus nanti. "


" Oh.." Khayra kembali terdiam.

__ADS_1


Ternyata dia sudah mau pergi dari sini..


Hanya 1 tahun Biru tinggal di sini, sebentar lagi cowok aneh dari kota itu akan kembali ke habitatnya.


" Ekosistem di desa bakal tentram dan damai kalau kamu pergi ke kota Bon! " Ejek Arini.


" Heeh.." Protes Bono.


" Lha Ibumu nanti tinggal sama siapa Bon? "


" Tinggal di rumahku Ra! " Sahut Arini.


" Ya Ra..si Mbok nanti tinggal sama Pak kepala desa. "


" Semoga kamu jadi orang yang sukses ya Bon! "


" Aamiin.."


" Lega ujian sudah selesai, tinggal menunggu nilai keluar dan pengumuman kelulusan saja. "


" Lega apanya Arin, hasilnya belum keluar. " Ralat Bono.


" Semoga kita semua lulus dengan hasil yang memuaskan. "


" Aamiin.." Ucap mereka bersamaan.


" Kita makan cilok di perempatan jalan sana yuk, aku yang traktir deh. " Ajak Arini.


" Siiip..kalau gratisan aku nggak mau Rin! "


Arini dan Bono beradu kecepatan mengayuh sepeda, menyisakan kecanggungan di antara Biru dan khayra yang beriringan menyusul dua sahabat mereka.


" Kita susul mereka Khay! "


Khayra yang diajak bicara hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Mereka mulai mengayuh sepeda mengejar Arini dan Bono yang sudah terlihat jauh meninggalkan mereka.


" Kamu mau melanjutkan kemana Khay? "


" Belum tahu.." Sahut Khayra singkat.


" Sayang kalau kamu nggak melanjutkan pendidikan kamu Khay, kamu sangat berpotensi lho. " Biru memberikan sarannya, memang benar yang dikatakan Biru, sangat disayangkan jika sampai Khayra tidak melanjutkan ke jenjang kuliah, apalagi Khayra sangat cerdas.


Khayra hanya menggigit getir bibirnya, mungkin maksud Biru ingin menyemangatinya agar tidak putus pendidikan dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.


Tapi Khayra belum memastikan akan kuliah di mana, Khayra harus melepas cita citanya yang ingin kuliah design di jakarta, karena itu tidak mungkin terwujud baginya. Bunda dapat uang dari mana nanti untuk membiayainya, mungkin Khayra hanya mengambil gelar sarjana di kota semarang.


Tak terasa mereka sudah hampir sampai.


" Hei sini cepat, ciloknya keburu dingin nih, ini sudah dipesankan sama anak pak Kades. "


Bono melambaikan tangan saat Khayra dan Biru sudah terlihat dekat. Khayra dan Biru menyandarkan sepeda mereka, dan berjalan ke arah penjual cilok, di mana Arini dan Bono sudah duduk menikmati cilok bakar.


" Awas hati hati dong Khay.." Biru menarik tangan Khayra yang akan terjatuh karena terpeleset menginjak batu jalanan yang tidak rata.


" Eh..ya. " Khayra tergagap.

__ADS_1


" Maaf. " Biru melepas pegangan tangannya pada Khayra.


" Terima kasih. " Ucap Khayra dengan wajah bersemu merah, Arini dan Bono hanya tertawa dengan mulut terbungkam, mereka saling senggol.


" Ehem..ehem..ciye..ciye.." Arini dan Bono yang memang sudah lama menangkap signal radar tak biasa di antara kedua temannya itu.


" Kayak drama korea saja kalian ini pakai adegan jatuh, terus ditangkap begitu" Ceplos Arini.


" Kan nggak sengaja Rin, siapa juga yang mau jatuh. "


" Hehehe..bercanda Ra, jangan merujak eh merajuk maksudku, baper banget."


" Kamu itu yang suka baper, kalau lihat drama korea. "


" Arini aku boleh nambuh nggak cilok bakarnya? " Sahut Bono.


" Dasar ususmu itu mungkin bukan 12 jari, tapi usus 50 jari Bon, badan saja yang kurus makannya banyak. " Rutuk Arini.


" Hahaha..lapar Rin. " Dalih Bono sambil menyengirkan giginya.


" Pak cilok bakarnya 20 tusuk lagi, sama cilok kuahnya 2 mangkuk. " Pesan Biru, senyum Bono terkembang sempurna.


" Hehehe..bro kok jadi kamu yang traktir. "


" Sudah makan saja yang kenyang. " Sahut Biru.


Tak lama pesanan Biru sudah siap di meja, Bono melahap semangkuk cilok kuah, semangkuk lagi Arini yang memakannya.


" Kamu nggak mau Ra? "


" Ya sudah cicip sedikit saja. " Khayra menyuap sesendok cilok kuah ke mulutnya, raut mukanya berubah merah, matanya mulai berair.


" Hssshhh..pedas banget Rin. " Khayra mengipas lidahnya dengan tangan, mulutnya terbuka karena kepedasan, air di gelasnya sudah habis, gelas Arini juga kosong. Biru menggeser gelas minumannya.


" Ini cepat minum! " Tanpa pikir panjang Khayra menerima minuman Biru, meneguk habis air minum di gelas Biru.


" Terima kasih. " Ucapnya malu.


Khayra tidak suka pedas berbeda dengan Arini yang sangat hobby dengan makanan super pedas.


" Kamu kasih sambal rawitnya berapa sendok toh Rin, kasihan si Rara? " Tanya Bono penasaran melihat, wajah Khayra memerah menahan pedas.


" Hehehe..maaf ya Ra cuma 3 sendok kok. "


" Arini Anandita.." Pekik Khayra, Arini mengangkat dua jarinya tanda damai.


" Peace! "


" Cuma kok 3 sendok.." Protes Bono.


" Aku lupa bilang tadi, kalau ciloknya ku kasih sambal, apa kamu nggak lihat pas aku masukkan sambal di mangkuk Ra? " Selidik Arini.


Khayra menggeleng, Arini berpikir Khayra tahu karena mereka duduk bersebelahan. Khayra yang tidak fokus, karena tertunduk, saat duduk berhadapan dengan Biru.


Lagi lagi jantungnya bermarathon, Khayra memegangi dadanya.


" Kamu kenapa Ra? " Tanya Arini dan Bono bersamaan, diikuti tatapan Biru, sontak Khayra menggeleng cepat.

__ADS_1


__ADS_2