
♡
Biru berlari menyusuri koridor, dengan tatapan siswi kelas lain yang dilewati Biru, yang seolah histeris melihat ketampanan Biru yang paripurna.
Biru terlihat berkeringat, semakin membuatnya terlihat keren, diketuknya pintu dengan nafas terengah dia masuk ke kelas. Dia terlambat semenit, Ibu Murni sudah berada di kelas. Biru mendekat ke Ibu Murni untuk meminta maaf.
" Maaf Ibu saya terlambat. "
" Hukum saja Ibu! " Celetuk Bayu.
" Bayu! " Tegur Ibu Murni.
" Duduk Biru lain kali jangan diulangi. " Ucap Ibu Murni.
" Baik Ibu, terima kasih. " Biru membungkuk hormat dan berjalan menuju bangkunya, melirik sekilas saat melewati Khayra. Khayra sibuk mengambil sesuatu di tasnya.
" Bro kamu kok bisa telat toh. " Sambar Bono saat Biru baru duduk.
" Nggak apa. " Sahut Biru singkat.
" Biru tadi aku kan sudah membangunkan kamu, jadi kamu tidur lagi tadi. " Protes Arini, Biru hanya menggelengkan kepala.
Pagi tadi Arini sudah membangunkan Biru dan ternyata tak sadar Biru menjawabnya, dan Biru tidur kembali karena mengantuk berat.
" Aku nggak bisa tidur semalam. " Terlihat kantung mata Biru, rasa kantuknya belum juga hilang.
Sehingga Biru tidak fokus mendengar Ibu Murni menerangkan pelajaran di depan, konsentrasinya buyar entah lari kemana.
Hingga bel istirahat berbunyi, semua keluar kelas terkecuali Biru dan Bono. Biru terlihat mengantuk berat, Bono heran dengan Biru.
" Kamu kenapa toh bro? kok bisa nggak tidur itu lho. " Selidik Bono.
" Aku nggak bisa tidur semalam, eh sekali bisa tidur sudah masuk waktu shubuh, aku mengantuk banget sekarang. "
" Cuci muka sana! "
" Hmm ya, Bono bisa minta tolong belikan kopi instan sebotol. " Biru mengulurkan uang selembar 50 ribuan.
" Kamu mau beli apa terserah. " Ujar Biru lagi, Bono mengangguk.
Sementara Bono pergi ke kantin membeli minuman yang dipesan Biru, Biru pergi untuk mencuci muka.
Setelah mencuci muka, Biru merasa sedikit segar dan tidak seperti tadi. Bono sudah kembali membawa 2 botol kopi instan dan roti.
" Terima kasih, kebetulan aku lapar belum sempat sarapan. " Biru membuka sebungkus roti bantal dan memakannya dengan lahap.
" Kamu itu sebenarnya kenapa toh bro, sudah begadang semalaman nggak tidur, sekarang ini malah kelaparan. " Bono menggelengkan kepala melihat Biru.
" Hmm.." Gumam Biru.
Biru yang memang tidak bisa tidur semalam, dia juga bingung kenapa. Tidak mungkin hanya karena memikirkan Khayra dia bisa tidak tidur semalaman. Biru sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, sehingga Biru tidak tahu mendreskripsikan yang dia rasakan saat ini.
" Nggak tahu aku juga bingung. "
__ADS_1
" Di sini rasanya tuh nggak bisa aku kendalikan. " Biru menyentuh tepat di dada kiri.
" Detaknya.." Lirih Biru, Bono hanya terbengong, karena dia juga tidak tahu apa yang dialami sahabatnya itu.
" Rasanya itu gelisah sekali, ada sesuatu yang nggak bisa berhenti kupikirkan, bahkan saat tidak ada di hadapanku pun bayangannya selalu mengikutiku. "
" Bro.." Bono yang juga sama tidak mengerti apa yang dialami Biru, merasa ngeri dengan apa yang dikatakan Biru.
" Entahlah kenapa denganku. " Tatap Biru kosong, dan bayangan sosok itu kembali menari lincah dibenaknya.
Ya Allah perasaan apa ini, kenapa sosok wajahnya selalu membayangiku. Bukankah dia bukan mahramku. aku harus bagaimana?
Biru mengacak rambutnya, huuh dihembuskan nafas yang terasa berat.
" Kamu sakit nggak bro? " Tanya Bono dengan polosnya. Mereka yang sudah kelas semester akhir, tidak tahu apa yang dialami Biru, karena Bono dan Biru memang sama-sama tidak tahu.
Khayra masuk ke kelas bersama Arini, hanya ada Biru dan Bono.
" Hei kalian berdua kenapa jam istirahat kok nggak keluar kelas? " Ulik Arini penasaran, melihat 2 temannya berada di dalam kelas.
" Nggak, ini Biru aneh. " Sahut Biru asal, Arini mengerutkan kening.
Biru diam saja, melihat Khayra duduk di bangkunya yang berdampingan, dia memegangi dadanya, terasa debaran yang dirasakan semakin kuat.
Jantung jangan seperti ini, kenapa kau seperti ingin lari saja dari tempatnya. apa kau ingin pensiun dini dari anggota tubuhku. Tenanglah sedikit..
Biru terus memegangi dada kirinya, berusaha tenang, sehingga tidak menghiraukan Bono dan Arini yang cekikikan karena asyik mengobrol. Khayra sesekali menimpali canda keduanya, Biru melihat Khayra yang tersenyum saat Bono mengatakan sesuatu yang lucu.
Ya Allah..kenapa melihatnya tersenyum saja, membuatku seperti ini.
Hingga jam pelajaran berakhir, Biru tidak bisa berkonsentrasi belajar. Biru menutupinya sebisa mungkin.
Dia tidak berani mengganggu Khayra seperti biasa, dia merasa kena karma karena selama ini terus menjahili dan tidak pernah akur dengan Khayra.
Mereka berempat mengayuh sepeda pulang beriringan.
" Eh ya Bro nanti tugas kelompok kita kerjakan di mana? "
Pertanyaan Bono membuat Biru kebingungan, dia tidak terlalu mendengarkan tugas yang diberikan guru bahasa.
" Tugas apa? " Biru tidak mengerti.
" Kita satu kelompok, dengan Arini dan Khayra. "
" Apa? " Lagi-lagi Biru menarik nafas, bagaimana tidak, dia harus mengendalikan hatinya di dekat Khayra.
Biru hanya mendengarkan diskusi ketiga temannya, yang akan memutuskan mengerjakan di rumah Arini.
" Nanti habis ini ya jam 2 jangan lupa! " Ujar Arini.
" Siapkan cemilan ya Arini jangan lupa! " Request Bono.
" Huuh dasar maumu itu. " Sungut Arini.
__ADS_1
" Jangan telat ya Rara! "
" Nanti tak bawakan nasi pincuk, kita makan bareng saja sambil belajar. "
" Sip banget itu Ra, oke kalau begitu kita pulang dulu ganti baju, nanti ketemu lagi. "
" Oke! "
" Ya.."
" Siap! "
Mereka pun berpisah, menuju rumah mereka masing-masing.
Dan jam 2 siang mereka bertemu kembali di rumah Arini.
Khayra datang dengan membawa sekantong makanan. Bono terlihat girang, yang dia tunggu sudah datang, makanan tentunya. Sementara Biru kebingungan menata hatinya agar tetap tenang dan jantungnya tidak bermarathon lagi.
Biru menarik nafas dalam, dan menghembuskan kembali, meski tetap berdetak kencang Biru bisa bersikap biasa di hadapan temannya.
Khayra membagikan nasi pincuk kepada Bono, Arini, dan terakhir Biru.
" Ini Biru! " Khayra mengulurkan sebungkus nasi pincuk pada Biru, tatapan manis Khayra di wajah ayunya membuat Biru seakan berhenti berdetak.
" Biru! " Ulang Khayra membuat Biru salah tingkah.
" Eh ya, maaf terima kasih. "
Arini kembali membawa air es sirup dan cemilan sepiring tahu dan tempe goreng.
Mereka makan bersama nasi pincuk buatan Bunda yang dibawa Khayra.
" Hmm.." Bono mengangkat jempolnya.
" Masakan Bunda memang enak, Rara juga masakannya enak lho Bono. " Terang Arini memuji Khayra.
" Wah beruntung besok yang menjadi suamimu Rara. " Seloroh Bono sambil terus melahap makanannya.
" Masih jauh mikir suami. " Sahut Arini, Khayra hanya tertawa kecil, dan Biru masih dengan gemuruh hatinya yang tak bersahabat.
Mereka belajar dengan tugas yang sudah dibagi untuk masing-masing orang, Biru berusaha fokus pada tugasnya, meski harus dengan susah payah dia menyelesaikan tugasnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ada yang tahu Biru kenapa? Jangan dibully ya Biru, maklum Biru nggak tahu.
😅😄😍😗😘