
♡
Hari minggu yang cerah dengan udara sejuk pegunungan.
Khayra dan Mbok Fatma pergi ke ladang untuk memetik sayur.
Dengan berboncengan sepeda mereka berdua pergi ke ladang, setelah selesai membantu menyiapkan jualan Bunda.
" Mbok nanti yang ke pasar mengantar sayur biar Rara sama Arin saja ya? "
" Ya sudah nggak apa, nanti Mbok bisa bantu Bundamu di kedai kalau begitu. "
" Eh ya Mbok Rara lupa, bicara soal Arin, di rumahnya lagi ada tamu Mbok, makanya nggak bisa membantu kita seperti biasa. " Tutur Khayra.
" Ada tamu nduk, kok tumben bocah itu, biasa ada nggak ada tamu tetap ikut kita ke ladang. " Protes Mbok Fatma yang paling paham tabiat Arini.
" Mungkin tamu penting Mbok. "
" Mungkin..bisa jadi. "
" Ya sudah, nanti Rara pergi sendiri saja ke pasarnya Mbok. "
Tak terasa mereka sudah sampai di ladang, Khayra mulai membantu Mbok Fatma memetik sayur, menebang pisang untuk di jual ke pasar, sebagian lagi untuk dimasak sendiri.
Khayra membersihkan sayur, dan memilih sayuran dibantu Mbok Fatma.
Sayur kangkung akar cabut masih dipisahkan, Khayra hendak mencucinya disungai. Sementara Mbok Fatma melanjutkan mengikat sayur untuk dijual.
" Mbok, Rara ke sungai dulu ya, mau mencuci akar kangkung. " Pamit Khayra pada Mbok Fatma.
" Hati-hati nduk. "
" Ya Mbok. "
Khayra membawa keranjang berisi sayuran kangkung, yang hendak dibersihkan akarnya dari tanah.
Dengan perlahan Khayra berjalan dibebatuan pinggir sungai, airnya jernih dan sejuk.
Khayra mulai membersihkan akar kangkung dari tanah, membasuhnya di sungai hingga bersih.
" Tolong " Rintih seseorang pemuda di seberang sungai.
" Astaghfirullahaladzim " Pekik Khayra, Khayra menyebrangi sungai yang tak begitu dalam, hanya memang sungai ini banyak bebatuan.
" Apakah kamu tidak apa-apa? "
" Tidak apa-apa bagaimana nggak lihat aku terluka begini " Sungut pemuda yang terluka.
" Aku kan cuma tanya keadaanmu, dasar cowok aneh. " Gerutu Khayra mulai kesal.
" Buruan tolong sakit banget ini tangan sama kakiku. "
Pemuda itu terluka di tangan dan kakinya, di keningnya juga terluka karena benturan batu.
" Buruan cepat pegang ranting ini! " Perintah Khayra.
" Tanganku sakit. " Dalih pemuda itu.
" Kamu bukan mahramku, pegang ranting ini nantiku tarik! " Jelas Khayra.
" Pelan-pelan. "
" Bersihkan luka kamu pakai air sungai! "
" Pedih tahu. "
" Dasar cowok manja. "
" Apa kamu bilang tadi? "
" Manja banget sih, baru juga luka kecil begitu dibilang pedih, makanya biar nggak infeksi dibersihkan pakai air yang kotor itu kena lumut sama lumpur. " Jelas Khayra.
" Ya bawel aku bersihkan. " Pemuda itu membersihkan lukanya yang kotor dengan air sungai.
Khayra menyobek ujung roknya yang panjang sedikit.
" Ini ikat luka di kakimu, biar darahnya nggak banyak keluar! "
" Ya bawel. "
" Takut saja kamu pingsan. " Ejek Khayra.
" Awas kamu ya, mengejekku. Kamu kira aku cowok lemah apa, pakai pingsan gara-gara luka kecil begini. "
" Buktinya minta tolong. " Sindir Khayra.
__ADS_1
" Ya ialah minta tolong, kakiku sakit begini, kalau terpaksa kenapa menolongku? "
" Dasar cowok aneh, nggak tahu terima kasih sudah ditolong. " Gerutu Khayra semakin kesal.
Khayra berbalik melangkah masuk ke sungai, pemuda itu mulai panik, dengan kakinya yang sakit bagaimana dia pulang nanti.
" Hei tunggu gadis desa, aku nggak bisa jalan, kakiku benar-benar sakit. "
Khayra tak menggubris pemuda itu, dan terus menyeberangi sungai dan meninggalkan pemuda itu.
" Hei gadis bawel tolong aku, aku nggak bisa jalan. " Teriak pemuda itu lagi.
Khayra mengambil sebatang kayu, dan memotong dengan golok yang dibawanya.
" Pakai kayu ini buat tongkat. " Khayra melemparkan kayu itu ke seberang sungai tepat di dekat pemuda itu duduk memegangi lututnya.
Luka kakinya cukup parah, tetapi Khayra tidak bisa memapah pemuda itu.
" Kamu tega banget, menolong itu harus sampai selesai jangan setengah hati begini. "
" Huuh dasar cowok menyebalkan. " Rutuk Khayra kesal.
Khayra merasa tak tega, Khayra kembali menyeberangi sungai dan menjemput pemuda itu.
" Ikut aku! "
" kemana? " Tanya pemuda itu penasaran.
" Ke seberang! "
" Sakit! " Dalih pemuda pura-pura memelas.
" Kamu mau pulang apa nggak, kalau nggak aku tinggal di sini. "
" Ya ya gadis bawel, dari pada aku benaran pingsan di sini. "
" Cepat pegang ini! " Khayra menyodorkan kayu yang diambilnya tadi.
" Jangan galak banget kenapa gadis bawel. " Protes pemuda itu.
Dengan berpegangan kayu yang Khayra pegang, pemuda itu berjalan di belakang Khayra. Mereka berdua menyeberangi sungai.
Kakinya sebelah kiri diseretnya, tangannya berpegangan pada kayu.
Khayra menarik kayu yang dipegang pemuda itu, mereka sudah sampai di seberang sungai.
Khayra mengambil keranjang berisi kangkung yang dibersihkan tadi.
" Tunggu aku gadis bawel, aku nggak tahu jalan pulangnya. "
" Kamu itu siapa sih sebenarnya, bisa kesasar ke sungai nggak tahu jalan pulang. Kamu penguntit ya. " Selidik Khayra.
" Aku baru saja datang ke desa ini, aku tadi hanya jalan-jalan saja, nggak tahu sampai kesasar begini. "
" Bohong.."
" Benar aku nggak bohong. "
" Sialnya lagi aku terpeleset dari bebatuan. "
" Kamu tinggal di mana, nanti kutunjukan jalan pulang. " Tanya Khayra tak tega.
" Di rumah Pak Kepala Desa. " Terangnya.
Oh jadi kamu ya, tamunya Pak Kades. Gumam Khayra.
" Ayo ikut aku! "
Manis ya, cantik juga ya sih, tapi galaknya minta ampun. Gumam Pemuda itu dalam hati.
" Gadis bawel, siapa namamu? "
" Apa? "
" Namamu? "
" Hamba Allah. " Sahut Khayra.
" Dasar gadis bawel. "
Mereka berdua berjalan ke gubuk tempat Mbok Fatma menunggu.
" Nduk kenapa kok lama sekali? " Mbok Fatma cemas.
" Ya Mbok ini tadi, ada kejadian sedikit. " Khayra ragu menceritakannya pada Mbok Fatma.
__ADS_1
Mbok Fatma bingung melihat Khayra bersama seorang pemuda tak dikenal berjalan di belakang Khayra.
" Maaf Nek, tadi Cucu Nenek menolong saya waktu terpeleset di sungai. " Jelas pemuda dengan santun.
Ternyata kamu bisa bersikap sopan juga ya cowok aneh. Gumam Khayra, tertawa dalam hati.
" Betul Nduk? " Mbok Fatma memastikan.
Khayra mengangguk pelan, takut jika Bunda tahu, Bunda akan marah karena dekat-dekat dengan seorang cowok.
Hahaha..Gadis bawel plus galak yang penurut ternyata. Manis juga, menggemaskan melihat wajah panik dan takutnya. Ejek pemuda dalam hati.
" Kamu tinggal di mana Nak? "
" Di rumah Pak Kepala Desa Nek. "
" Panggil si Mbok saja! "
" Baik Mb..Mbok. " Ucap pemuda itu gugup.
" Ayo kita pulang, kita harus ke pasar Nduk. "
" Ya Mbok. "
Mereka berjalan meninggalkan ladang, dengan kaki pincang sebelah kaki diseret pemuda itu berjalan.
" Kakimu sakit toh Nak. "
" Ya Mbok. "
" Ya sudah Nduk kamu antar dulu naik sepeda ke rumah Pak Bahrun, nanti baru jemput si Mbok lagi. "
" Apa Mbok, Khayra harus memboncengkan dia? "
" Kasihan dia Nduk. " Tutur Mbok Fatma lembut.
" Ba..baik Mbok. " Pasrah Khayra.
Pemuda itu tersenyum mengejek Khayra, Khayra merasa kesal dibuatnya. Matanya dibulatkan menatap tajam pada pemuda itu,
pemuda itu hanya mengulum senyum.
Dengan berboncengan sepeda Khayra mengantar sang pemuda ke rumah Pak Bahrun.
Pemandangan desa yang masih alami, hijau asri tanpa tersentuh polusi udara.
Sepanjang jalan menjadi saksi bisu awal kisah dua sejoli yang baru bertemu, gadis bawel dan pemuda aneh.
Khayra terus mengayuh sepedanya, kemudian berbelok di persimpangan tak lama sudah sampai di halaman luas milik Pak Bahrun.
Sebuah mobil mewah terparkir di sana.
" Assalamualaikum.. " Ucap Khayra.
" Waalaikumsalam.. " Arini keluar dari dalam rumah mendengar suara Khayra.
" Kalian kok bisa pulang berdua? " Tanya Arini bingung.
" Tanya sama tamu kamu itu! " Ketus Khayra.
" Biru? " Arini menaikkan sebelah alisnya penasaran.
" Ya sudah, aku balik dulu Arin. " Pamit Khayra.
" Biru kok bisa kamu diantar pulang sama Rara, kamu juga terluka begitu? "
" Oh jadi nama gadis bawel itu Rara. " Ucap pemuda yang ternyata bernama Biru.
" Awas ya kamu Biru, jangan macam-macam sama Rara. " Ancam Arini.
" Apaan sih.. " Elak Biru.
" Cepat masuk, Papa sama Mama kamu mau pamit pulang! "
Biru dan Arini masuk ke dalam rumah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kisah awal pertemuan Khayra dan Biru, tunggu kelanjutannya ya..😘😍😗.