Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 10


__ADS_3

Tiga orang telah menunggu di kabin kerja Kapten. Sersan Heiho, Saleh dan tentu saja Kapten Diego sendiri.


Rupanya Sersan Jepang itu tidak suka jika Saleh membuat pengajian setelah selesai sholat subuh di musholla kapal. Itulah masalah yang akan mereka bicarakan.


"Heiho, itu ceramah agama. Apa bahayanya bagi kita semua?" Kapten Diego mengemukakan pendapatnya, ia tidak percaya dengan keras kepala Sersan Jepang itu.


"Dia bisa menyebarkan paham berbahaya, Diego. Mengajak seluruh penumpang memberontak." Sersan Heiho menjawab kasar dengan muka masam.


Saleh hanya menggeleng, ia dari tadi memilih untuk diam membiarkan saja Kapten Diego membelanya.


"Kau bisa menanyai adikmu lady Mei, Heiho. Tuan Jack Karaeng hanya berbicara sekitar sepuluh menit, itupun hanya persoalan agama. Tidak ada pembahasan yang kau khawatirkan."


"Sekarang memang baru sepuluh menit tentang agama. Tapi siapa yang bisa menjamin dia tidak bicara tentang hasutan nanti? Besok lusa, bisa jadi dia bicara selama berjam-jam. Di kepalanya itu penuh dengan ide tentang kemerdekaan." Seru Heiho tak terima.


Suasana nampak semakin mencekam ketika Lucas dan dua tentara Jepang datang muncul bersama Mei di ruang kerja Kapten Diego.


"Astaga, Sersan. Kamu tidak bertanggungjawab pada tiap masyarakat pribumi di sini. Ini kapal penumpang sipil, bukan kapal perang. Semua orang memang merdeka di atas kapal ini, dan berhak melakukan apa saja asal tidak menyalahi aturan." Suara Kapten Diego mengeras.


Muka Sersan Heiho terlihat merah menahan emosi, sangat kontras dengan kulitnya yang putih.


"Kau tidak bisa menghalauku, Diego. Aku bisa meminta kapal ini di tahan saat tiba di Labuan, atau saat merapat di Jepang. Pemerintah Hindia-Belanda pasti dengan senang hati mencabut izin pelayaran kalian."


Kapten Diego menghembuskan nafas kesal. Diskusi ini sangat terasa menyebalkan baginya. Di antara sekian banyak tentara yang bertugas kenapa harus Heiho tentara Jepang yang keras kepala yang harus mengawal kapalnya.


"Baiklah, lalu apa maumu? Menangkap Jack Karaeng? atau menurunkan dia di pelabuhan berikutnya? Dia jelas membawa surat izin dari atasanmu. Aku juga sudah mendengar soal kamu yang mencoba menahannya masuk ke kapal ini." Kapten Diego menurunkan nada bicara menjadi sedikit pelan.


"Cih, aku memang tidak bisa menurunkan dia dari kapal ini. Tapi aku bisa memaksa ia berhenti ceramah di musholla kapal. titik!" Jawab Heiho sambil melirik dengan wajah licik.


"Lalu bagaimana dengan kegiatan lain? Beberapa anak buahku sudah membagikan kertas berisi jadwal kegiatan yang akan di lakukan para muslim di kapal ini."

__ADS_1


"Apa kau juga akan menghentikan kelas sore anak-anak belajar mengaji? Yang anak-anak itu lakukan, sama saja dengan sekolah minggu di Gereja? Kau melanggar hak asasi orang lain, Sersan" Kapten Diego menggeleng tak percaya.


"Atau begini saja Sersan." Mei yang sejak dari tadi diam, akhirnya angkat bicara.


"Sepertinya Sersan hanya mencemaskan Saleh berbicara topik-topik yang berbaur pemberontakan. Jadi begini saja untuk memastikan Saleh tidak bicara yang macam-macam, Sersan bisa mengirimkan satu atau dua tentara Jepang setiap pagi ke musholla untuk memastikan hal tersebut tidak terjadi."


Wajah Sersan Heiho masih terlihat dingin. Ia menggeleng, menolak mentah-mentah ucapan adik sepupunya itu.


"Tuan Saleh hanya membuat pengajian selama sepuluh menit, tidak lebih dari itu. Jika dia melanggar, anda bisa menghentikan kegiatan yang ia lakukan dan tidak ada yang akan keberatan." Ucap mei menawarkan.


"Aku pikir itu jalan keluar yang bagus." Kapten Diego mengangguk setuju.


Walaupun masih diam, namun sersan nampak tengah mencerna ucapan Mei.


Mei mendekat ke arah Heiho, berbicara pelan namun masih bisa di dengar oleh orang-orang yang berada di ruang itu. "Ayolah kak, kalau kamu ngotot minta di hentikan, kamu melupakan satu hal. Seluruh penumpang muslim di kapal ini menginginkannya."


"Setiba kita di Labuan, hingga beberapa daerah lain di Filipina, mungkin ada sekitar seribu orang yang akan naik kapal ini. Dan kakak juga tau kebanyakan dari mereka adalah muslim."


Lucas si awak kepala mengangguk setuju, meski tak ada yabg meminta pendapatnya. Salah satu tentara Jepang melangkah mendekati Sersan Heiho, berbisik sesuatu, membenarkan ucapan Lady Mei.


Sejujurnya ucapan Mei di benarkan oleh Sersan Heiho, lebih baik ia hanya berurusan dengan Saleh dari pada harus berurusan dengan ribuan penumpukan muslim yang marah.


Sersan Heiho mendengus, Fuun, baiklah. Lantas berseru meminta pena dan kertas. Lantas menulis semua tentang ide kemerdekaan, kesetaraan, dan sebagainya itu terlarang untuk di sebarkan oleh masyarakat pribumi.


Setelah itu, walaupun enggan. Sersan Heiho akhirnya bersalaman dengan Saleh setelah sempat di paksa oleh Mei.


"Anda adalah seorang juru negosiasi yang baik nona" Saleh berkata pelan saat tinggal keduanya yang berjalan tertinggal di lorong kapal.


"Tuan tidak keberatan bukan dengan hasil pembicaraan tadi?" Tanya Mei sambil memperhatikan wajah pria di sampingnya itu.

__ADS_1


Saleh tersenyum kemudian mengangguk, "Tantu saja tidak, tadi itu kesepakatan yang bagus."


Dan seperti tau apa yang di pikiran Mei, "Karena melihat watak Sersan yang keras kepala, saya hanya bisa diam saja. Jika saya angkat bicara sudah di pastikan Sersan tidak akan mengalah biar sedikitpun."


Mei mengangguk membenarkan ucapan Saleh. Sekali lagi ia menoleh, menatap pria di sampingnya itu. "Bicara Informal saja, sepertinya tuan lebih tua dari pada saya."


Saleh terkekeh, "Kamu menyuruh bicara informal tapi masih memanggilku dengan sebutan tuan."


"Lalu baiknya dipanggil bagaimana?"


"Abang. Panggil saja abang saleh."


"Baiklah aa__abang." Mei tersipu malu sendiri dengan panggilannya.


"Bagaimana dengan adikmu yang selalu berada di luar musholla itu?" Tanya Saleh. Ia bukannya tidak sadar jika dari tadi Mei memperhatikannya, namun ia sebisa mungkin menjaga sikapnya di hadapan perempuan bangsawan itu. Bagaimanapun Mei tetap putri dari dua pemimpin penjajah yang begitu tak ia sukai.


"Robert?" Mei bertanya memastikan.


Saleh mengangguk.


"Entahlah. Walau dia adikku, aku tidak terlalu faham dengan jalan pikiran dirinya yang terlalu dewasa untuk anak seumurannya. Dia memilih untuk tidak terlibat dalam agama manapun, walau aku tau dia sedikit tertarik dengan islam, sama seperti aku dan Robin."


"Jangan di paksakan, biarkan dia memilih jalannya sendiri."


Mei mengangguk membenarkan ucapannya.


"Abang akan kemana? Kalau boleh, bisakah abang menemaniku ke kantin? Aku belum sempat sarapan dengan benar tadi." Tanya Mei. Padangan perempuan itu tak lepas dari wajah Saleh.


"Baiklah. Kebetulan selera makanku meningkat setelah tadi menatap lama wajah masam Sersan itu."

__ADS_1


Saleh lantas menatap Mei, keduanya kemudian sama-sama tertawa. Melanjutkan langkah mereka menuju kantin.


__ADS_2