Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 8


__ADS_3

Pekerjaan baru Yusuf sebagai awak kapal telah selesai dari tadi. Dapur telah ia bersihkan, piring-piring juga telah ia cuci bersih dan ia letakan rapi secara menumpuk di dalam ember-ember besar. Meja, kursi, serta ruangan telah ia lap dah pel bersih.


Tugasnya sudah selesai namun ia belum berniat untuk tidur. Yusuf pergi ke kabin milik Saleh sahabatnya, meninggalkan Lucas seorang Jepang rekan satu kabinnya yang juga merupakan kepala awak kapal yang sudah tertidur nyaman sejak tadi.


Yusuf tengah memperhatikan Saleh yang tengah sibuk dengan Alkitab, kitab kuning serta beberapa buku tentang agama yang tentu saja tak di mengerti oleh Yusuf sama sekali.


Saleh memang suka sekali belajar. Sahabatnya itu mengetahui banyak hal, hal itulah yang membuat Yusuf sampai bisa bekerja menjadi awak di kapal besar itu.


Flashback on_


Yusuf duduk di atas kursi yang telah di sediakan, ia nampak tak antusias sama sekali menatap isi ruangan yang hanya terdapat banyak foto di dinding kabin. Foto para pelaut, foto kapal, dan pemandangan kota-kota terkenal serta ada sebuah peta dunia berukuran besar di samping foto-foto itu.


Yusuf memiliki rahang dan pipi yang tegas, wajahnya khas orang pribumi. Tinggi yusuf seperti kebanyakan rata-rata penduduk lokal namun tubuhnya kekar dan gagah dengan kulit sawo matang karena sering terpapar sinar matahari.


Tatapan mata pria itu tajam walau dari tadi banyak menunduk. Ingin rasanya Yusuf keluar dari ruangan itu dan pergi mengajar Saleh sahabatnya itu, entah apa yang di pikiran Saleh sehingga ia membuat Yusuf sampai harus bekerja sebagai awak kapal.


Yusuf jelas tau jika Saleh bukan pria sembarangan. Walaupun yang orang-orang lain ketahui jika Saleh hanya merupakan seorang pria biasa. Namun ia tau selain latar belakang keraton, kekuatan lain di belakangnya.


Pintu kabin di dorong dari luar mengalihkan perhatiannya. Yusuf menoleh, berdiri saat tau siapa yang masuk ke dalam. Tidak perlu bertanya, hanya perlu melihat nama dan seragam yang ia kenakan otomatis sudah menunjukan pangkat orang di depannya itu.


"Sudah menunggu lama?" Kapten Diego melangkah masuk.


"Tidak lama, hanya seratus tiga puluh detik." Jawab Yusuf sambil menunjuk jam saku yang terbuka di atas meja.


Kapten Diego tertawa sambil menjulurkan tangan. Keduanya lalu berjabat tangan.


"Maaf jika sedikit terlambat, silahkan duduk dan maaf jika kabin ini sedikit berantakan karena tidak ada yang merapikan." Ucap Kapten Diego sambil melangkah ke seberang meja, duduk di atas kursi kerjanya yang besar.


Yusuf tak menjawab, ia hanya mengangguk lalu ikut duduk di depan Kapten Diego.


Kapten Diego nampak memilih-milih tumpukan kertas di depannya, sepertinya tengah mencari sesuatu. " Ini dia kertas isian yang telah kamu isi sebelumnya." Ucap Kapten seraya menunjukkan dua lembar kertas yang kini telah ia genggam.


"Namamu di sini tertulis Muhammad Yusuf jadi aku akan memanggilmu Yusuf. Apakah caraku memanggil namamu sudah benar?." Tanya Kapten yusuf menggunakan bahasa belanda.


Yusuf hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Berapa lama kau telah menjadi pelaut, Yusuf?" Kapten Diego mulai bertanya serius. Interview pekerjaan tersebut resmi di mulai.


"Dua puluh lima tahun." Jawab Yusuf pendek.


"Itu tidak mungkin, jelas-jelas usiamu di sini tertulis dua puluh empat tahun."


"Aku sudah ikut melaut bahkan sebelum lahir, sejak ibuku hamil." Jawab Yusuf sedikit lebih panjang, namun dalam hatinya ia mengumpat sial kepada Saleh karena telah membuatnya berbohong.


Jangankan menjadi pelaut, ia bahkan baru kali ini naik kapal besar seperti Karel Ambo. Untung saja ia memang berasal dari keluarga nelayan sehingga ia tak mabuk laut, jika tidak bisa di pastikan saat ini ia tengah terkapar di atas tempat tidur.


"Mari kita lihat pengalaman kerjamu... Ester, Dean, Martin. ini semua kapal tradisional belanda bukan? Kapten Diego mendaftar jenis kapal yang pernah Yusuf naiki.


Yusuf mengangguk, dalam hati ia semakin mengumpat pada Saleh. Yang benar saja ia bahkan tak tau satupun kapal yang tadi Kapten Diego sebutkan.


"Apa yang kau lakukan di kapal-kapal itu? Dan apa yang kapal itu muat?"


"Mampus." gumam Yusuf pelan namun masih bisa di dengar oleh Kapten Diego.


"Maaf?"


Yusuf mencubit pahanya sendiri, hampir saja ia berkata kasar tadi. Ia diam sejenak memikirkan jawaban yang masuk akal dari pertanyaan Kapten Diego.


Untung saja Kapten Diego tak menaruh curiga terhadapnya. Tapi pertanyaan Kapten Diego selanjutnya membuat ia merasa mata kutu.


"Blitar? oh kamu pernah berkerja di Blitar? Kapten Diego bertanya antusias.


"Iya." Jawab Yusuf singkat, tak ingin salah berucap.


Syukurlah Kapten Diego hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian meletakkan kertas di tangannya itu di atas meja.


"Jadi dari mana kau belajar bahasa Belanda anak muda? Meski kaku namun bahasa Belanda yang kau ucapkan cukup memadai."


"Usia dua belas tahun, aku bekerja pada Tuan Tanah Belanda pemilik kebun jeruk sebagai buruh petik. Tuan kebun itu sangat baik hati karena dia mau memberikan pendidikan bagi anak-anak pribumi yang bekerja padanya."


"Pertanyaan terakhir. Apa yang membuatmu ingin bekerja di kapal ini?"

__ADS_1


Yusuf diam, bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin bukan jika ia harus menjawab kalau ia sebenarnya tak ingin bekerja di kapal itu namun karena paksaan Saleh sahabatnya sehingga ia melamar bekerja.


"Bekerja di kapal ini agar sekalian bisa pergi ke Korea Selatan nonton bola? Tebak Kapten Diego.


Yusuf terkekeh pelan untuk pertama kalinya, ia kemudian menggeleng.


"Lantas apa?"


"Aku tidak bisa menjawabnya tuan." Jawab Yusuf, wajahnya kembali berubah datar.


Kapten Diego meraih lagi kertas isian dan membacanya sekali lagi, "Terus terang saja aku menyukai sikapmu yang tak banyak bicara serta tatapan mata serta ekspresi wajah tegasmu."


"Walau kau hanya bekerja di di kapal tradisional kecil, Mungkin Blitar sebagai pengecualian. Namun karena kami hanya membutuhkan awak di bagian dapur, mulai hari ini aku resmi merekrutmu."


"Terima kasih Kapten." Jawab Yusuf nampak senang, ingin sekali ia menari-nari di hadapan Kapten Diego. Namun karena menjaga sikapnya yang dari awal sudah datar, Yusuf hanya bisa tersenyum kecil.


Flashback off _


Kapal Karel Ambo sudah tiga puluh dua jam berlayar meninggalkan Batavia, itu artinya tinggal enam belas jam lebih atau kurang kapal besar itu akan berlabuh di pelabuhan Labuan Brunei Darussalam.


"Setidaknya katakan padaku, apa tujuan kamu menyuruhku bekerja di kapal ini." Yusuf bertanya sambil menarik nafas panjang.


"Bukannya aku juga sudah menjawab jika untuk membantumu mendapat uang tambahan, kamu sendiri yang berkata jika kurang uang bukan." Jawab Saleh santai masih tak memalingkan wajahnya dari tumpukan buku yang ada di depannya.


Yusuf mendengus kesal, tentu saja bukan itu jawabannya. Jika tentang uang, ia tak perlu bekerja, karena jelas Saleh akan dengan senang hati membagikan uang yang ia miliki secara cuma-cuma kepadanya.


Pasti ada sesuatu, "Ah nanti juga kamu akan memberitahuku dengan sendiri." Ucap Yusuf kemudian.


Akhirnya perhatian Saleh teralihkan, ia menatap Yusuf serius. "Itu kau sudah tau, jadi bisakah kamu diam? Aku sungguh terganggu dengan pertanyaanmu."


"Aku juga tau, tapi kapan. Katakan sekarang juga." Teriak Yusuf mengusap wajahnya frustasi.


Yusuf memilih kembali ke kabinnya ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Sepertinya ia memang harus tidur dan tidak lagi bertanya tentang alasan Saleh.


Ketika masuk kabin. Lucas si Bōsun di tengah tidur mendengkur, lelap. Ia naik ke tempat susun di bagain atas, mencoba memaksakan matanya agar terpejam.

__ADS_1


Mungkin besok Saleh akan berbaik hati berbicara jujur kepadanya.


-Bōsun: Awak Kepala


__ADS_2