Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 37


__ADS_3

Sersan Akio tidak menerima begitu saja.


Perdebatan akhirnya berlangsung alot dan buntu, hingga akhirnya awak kapal yang bertugas menulis nama-nama penumpang yang keluar kapal mengatakan jika, Sersan Heiho keluar tadi pagi bersama dua orang lain bernama Fahri dan Rio. Dua orang diplomat dari Indonesia.


Awal kapal itu juga menambahkan jika Fahri dan Rio sudah kembali ke kapal.


Tidak membutuhkan waktu lama, Fahri dan Rio yang di maksud sudah ada di tempat dek kapal, tempat terjadinya perdebatan. Tadi, Kapten Diego menyuruh salah satu awak memanggil kedua orang tersebut.


"Ada ada suatu masalah sampai memanggil kami berdua?" Rio bertanya.


"Dari yang kami dengar Sersan Heiho keluar dengan kalian berdua?" Akio bertanya


Rio mengangguk.


"Lalu di mana Sersan Mayor?"


"Ah, astaga aku lupa soal itu. Maafkan aku." Rio memukul jidatnya.


"Apa maksud perkataanmu, Tuan?"


"Sersan Heiho tadi berkata jika dia ada urusan di Manila hingga harus bertahan lebih lama di situ, karena itu dia menyerahkan sebuah surat untuk di sampaikan pada anak buahnya." Rio mengeluarkan selembar kertas dari dalam jaketnya.


Sersan Akio menyambar selembar kertas itu dengan cepat.


"Sersan Heiho tahu persis jika nanti tentara Jepang akan membuat masalah jika ia tidak di temukan di atas kapal. Karena itu ia menulis surat itu langsung mengecapnya."


Akio memicingkan mata menatap Rio, tak suka dengan ucapan pria itu barusan. Akio membaca surat itu dengan teliti. Tulisan tangan itu jelas milik Sersan Heiho dengan cap milik Sersan Mayor itu. Isinya pendek, berkata jika dia ada urusan di Manila sehingga menyuruh kapal berangkat duluan, dia akan menyusul menggunakan kapal lain.

__ADS_1


Mei yang melihat wajah Akio nampak merasa belum puas dengan lembar di tangannya, mengambil kertas itu dari tangan Akio. Ikut membaca kata demi kata dari selembar kertas itu, "Ini benar tulisan tangan Heiho dan cap miliknya." Mei membenarkan.


Akio menarik nafas berat, ia juga tau soal itu. Ia dan Heiho sudah berteman lama dari kecil, hingga ia tau benar bagaimana tulisan tangan Sersan Heiho. Dengan berat hati Akio menyuruh para tentara menurunkan senjata. Bergegas balik ke kabin khusus para tentara. Artinya ia membiarkan Kapten Diego mengambil alih kapal.


Tali temali akhirnya di lepas. Peluit angin kapal melenguh panjang, tanda proses keberangkatan siap di mulai. Kapten Diego sudah berdiri di ruang kemudi. Matanya menatap awas perairan pelabuhan. Dinding kapal Karel Ambo mulai lepas dari bibir dermaga.


Kapal berangkat tanpa Sersan Heiho, pengacau itu.


Dek kapal, seperti biasa ramai oleh penumpang yang berdiri di sana melambaikan tangan ke dermaga yang di padati oleh kerabat pengantar dan orang-orang yang menonton.


Robin dan Robert tidak sempat bergaya pura-pura ikut melambaikan tangan di atas dek. Kakaknya melarang mereka kemana-mana. Selesai mandi, berganti pakaian, hanya bermain di kabin hingga masuk waktu sholat Maghrib.


Mereka berdua hanya menonton proses keberangkatan kapal lewat jendela bundar kecil yang ada di kabin. Robin jadi ingin punya kabin seperti milik Saleh.


Langit jingga. Burung-burung camar dan juga ribuan burung layang-layang terbang di atas pelabuhan. Kesibukan kilo angkut terhenti sejenak, juga buruh bongkar muat kapal kargo. Mereka menatap kapal Karel Ambo yang mulai meninggalkan dermaga.


Peluit kembali terdengar, lebih lama. Itu tanda ucapan "selamat tinggal". Di balas oleh peluit angin kapal-kapal lain yang juga melenguh panjang-panjang. Tanda ucapan "selamat jalan".


Kantin kapal semakin ramai, kepala koki menyuruh awak kantin untuk menambah dua sekaligus meja tempat menaruh makanan agar mengurangi antrean penumpang. Meja-meja panjang tempat makan yang selama ini kosong di pojok-pojok kantin juga makan yang selama ini kosong di pojok-pojok kantin mulai penuh


Sudah dua pertiga penumpang yang telah naik ke atas kapal. Masih ada empat pemberhentian lagi, San Fernando, Vigan, Laoag, dan Pagudpud, tapi tidak banyak penumpangnya.


Mei dan adik-adiknya telah duduk di salah satu meja panjang. Sempat berkenalan dengan penumpang baru saat mengantri mengambil makanan. sekedar basa-basi, bertanya asal dari mana, dan percakapan ringan lainnya.


"Kenapa ada penumpang yang memakai dokumen palsu, Kak? Apa mereka berniat jahat?" Robert bertanya.


Mereka satu meja dengan Eyang Ran dan Eyang Putri serta rombongan kesultanan Riau, tengah membicarakan kejadian tadi sore.

__ADS_1


"Tidak semua berniat buruk, Robert." Mei menggeleng, " Dua penumpang tadi misalnya. Salah satu di antara mereka hanya lalai memperbaiki dokumen. Dia jelas adalah penumpang yang sah. Hanya saja fotonya berbeda karena waktu mendaftar pertama kali, ia tidak mempunyai foto. Jadi, ia menggunakan foto orang lain. Dia pikir itu tidak akan menjadi masalah sepanjang persyaratannya lengkap."


"Sementara yang satunya memang tidak menggunakan dokumen miliknya. Tapi niatnya baik. Pemilik sah tiket dan surat menyurat adalah saudara kandungnya yang meninggal seminggu lalu. Ia tidak sempat mengurus surat pembatalan. Dia memutuskan menggantikan saudaranya, daripada tiketnya hangus."


"Jadi apakah mereka bisa naik kapal?"


"Awalnya tidak boleh, Tentara Jepang dengan keras menolak. Tapi masalahnya tidak segampang yang di pikir. Ini perjalanan lama, karena itu orang-orang menabung uang sejak lama."


"Tidak mungkin batal berangkat hanya karena foto. Setelah bersitegang, Kapten Diego memutuskan penumpang pertama boleh naik. Penumpang kedua turun. Dia boleh mengurus uang pengganti di kantor koninklijke Rotterdam Lloyd di Manila. Itu adalah solusi yang paling bijak."


"Tapi tetap saja ada kejadian orang jahat menggunakan dokumen palsu, Lady." Salah satu penumpang yang duduk di meja panjang ikut bicara.


"Iya itu sangat mungkin. Karena itu, saat tadi berdiskusi kami juga memikirkan kemungkinan itu. Kami berhati-hati sekali." Mei sepakat, "Hanya saja, menyelidiki dengan baik dan menginformasi dengan tepat lebih baik daripada marah-marah seperti yang di lakukan para tentara Jepang."


Orang-orang di meja mengangguk, "Aku dengar tadi para tentara itu juga membuat keributan tentang Sersan Mayor mereka yang belum naik kapal." Tanya orang yang sama.


Mei membenarkan, selanjutnya diam tak ingin membahas soal Heiho. Dia berencana nanti akan bertanya pada Saleh apa yang sebenarnya terjadi. Ia yakin jika hilangnya Heiho ada keterlibatan Saleh di dalamnya.


"Untung saja Sersan Mayor Jepang itu tidak ada di kapal, jika tidak dia akan membuat masalah besar tadi." Celetuk seseorang.


"Boleh aku bertanya, Nak?" Eyang Ran mengangkat tangan


Orang-orang menoleh ke Eyang Ran. Mei mengangguk.


"Sebenarnya apa yang terjadi di dek kapal tadi? Kenapa lama sekali orang-orang naik kapal?" Eyang Ran bertanya serius, menatap Mei


Aduh, Robin langsung menepuk dahi. Sejak tadi seluruh meja membicarakan soal itu, dari mulai makan hingga mau habis isi piring. Kenapa Eyang Ran malah tiba-tiba bertanya apa yang terjadi. Aduh!

__ADS_1


Meja makan ramai oleh tawa.


__ADS_2