Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 35


__ADS_3

"Ling-Ling?" Perempuan itu berseru ke arah Ibu Anna.


Tidak ada yang menoleh, tak terkecuali Ibu Anna. Wajah Ibu Anna pias, pucat pasi. Ia menggenggam lengan suaminya erat. Ibu Anna seperti baru saja mendengar suara hantu dari masa lalunya.


"Ling-Ling, kan? Aduh, aku tidak mungkin salah lihat. Kau masih ingat denganku? Aku Rose, kita pernah bekerja di tempat yang sama."


Ibu Anna tidak menjawab sama sekali


"Apa kabarmu, Ling? Lama sekali kita tidak bertemu. Mungkin sekitar enam-tujuh tahun yang lalu. Kau waktu itu adalah kembang paling terkenal di Sotavento, kau membuat itu gadis lain. Semua pejabat, saudagar kaya, hingga perwira tinggi Spanyol mengenalmu, Eh dan sejak kapan kau memakai kerudung? Pakaian tertutup?"


Ibu Anna sudah tidak kuat lagi. Nafasnya tersengal. Ia bergegas berdiri, menyenggol mangkuk Ubi helaya hingga tumpah. Dan sebelum yang lainnya mengerti apa yang sedang terjadi. Masih memperhatikan, sambil bertanya-tanya dalam hati siapa perempuan dengan dandanan tebal ini? Yang menyapa Ibu Anna dengan nama lain, Ibu Anna telah lebih dulu berlari meninggalkan meja makan.


"Bou?" Suaminya memanggil, ikut berdiri.


Ibu Anna tidak mendengarkan. Ia sudah berlari keluar rumah makan.


"Bou! Tunggu sebentar." Suami Ibu Anna ikut berlari keluar kedai, mengikuti cepat lari Ibu Anna.


Bertepatan dengan itu, suara kegaduhan terdengar dari arah luar kedai. Orang-orang lari berhamburan, berteriak tentang pemberontak. Akibatnya kacau.


Rombongan ikut keluar. Saleh menyusul suami Ibu Anna, hendak bertanya apa yang sedang terjadi namun Ibu Anna sudah berada di atas kereta kuda sambil menutup wajah, ia menyuruh secara paksa agar sais segera kembali ke pelabuhan. Suami Ibu Anna meminta maaf, berkata jika istrinya ingin segera pulang. Tidak punya pilihan selain ikut loncat ke atas kereta.


Sais kereta kuda menatap bingung, bukankah tadi ada enam belas orang, kenapa dua orang kembali lebih awal. Di tambah suara kegaduhan tentang pemberontak semakin menjadi-jadi. Saleh berfikir cepat. Karena itu Saleh meminta Mei, Robin dan Robert juga ikut naik ke atas kereta kuda. Menyuruh mereka pulang terlebih dahulu.

__ADS_1


Kereta kuda melaju stabil. Robin sebenarnya ingin banyak bertanya, tapi pertanyaan pertamanya, " Kenapa Ibu Anna tiba-tiba lari dari kedai makan, Kak?" Sambil berbisik pelan.


Kakaknya Mei menatap ia serius, berkata dengan intonasi tegas, " Kakak tidak tahu, dan sebaiknya untuk saat ini kau tidak banyak bertanya." menjawab dengan suara pelan juga.


Bukan Robin namanya jika langsung menurut. Ia ingin kembali bertanya, tapi suara tembakan membuatnya membeku di tempat. Robin kembali teringat kejadian pemboman di Labuan, menatap sekitar cepat. Kacau. Orang-orang berlari berhamburan dari Arah Frasa Manila. Perhatian Robin teralihkan dengan cepat.


Sementara Saleh masih di depan kedai menatap orang-orang yang berlari berhaburan. Sepuluh orang pria berjas hitam ikut keluar dari dalam kedai. Perempuan dengan dandanan tebal tadi entah sudah pergi ke mana, sementara lima tentara Jepang sudah dari tadi berlari ke arah suara tembakan. Tepatnya ke Frasa Manila.


"Bagaimana bos?" Tanya salah seorang pria berjas hitam.


Saleh tersenyum menyeramkan, "Pergilah, buat seolah-olah memang ulah sisa-sisa pemberontak. Tapi ingat, jangan bunuh Sersan itu. Kalian cukup menculiknya, buat sampai ia tidak bisa berjalan dua hari. Dengan begitu dia tidak akan bisa naik kapal, dan kita akan melanjutkan perjalanan tanpa Sersan itu. Dia sungguh merepotkan."


Sepuluh pria berjas hitam itu mengangguk serempak, membalikan badan, segera berlari ke arah tempat hiburan malam dimana Fahri dan Rio berada. Rencana geng Lili Hitam dari awalnya adalah menculik Sersan Heiho. Mereka tidak bisa langsung membunuh Sersan itu karena tidak mau menaruh kecurigaan dari pihak Ibu Mei.


.


.


.


Di dalam Gadang Pera. Para pegawai pemerintah sudah dari awal lari keluar dari tempat hiburan itu bersama para wanita, menyisakan sebelah orang-orang pribumi pemberontak di bagian kanan, serta delapan tentara Jepang serta Sersan Heiho, Fahri dan Rio di bagian kiri ruangan.


Setelah satu tembakan mengenai salah satu dari rombongan pemberontak. Para pemberontak menembak balik. Satu Tentara Jepang terkena tembakan di bagian paha, jatuh tersungkur, bersembunyi di bawah meja, menahan sakit. Tak lama, satu tentara Jepang juga ikut tertembak. Kali ini, pelurunya menembus langsung pada kepala tentara itu, tewas seketika.

__ADS_1


Para tentara Jepang merunduk di bawah meja, Sersan Heiho ikut merunduk, mengumpat. Menyesal keluar tidak membawa senapan. Sementara Fahri dan Rio juga ikut merunduk, secara pelan keduanya mendekat ke arah Sersan Heiho. Bertanya kepada Sersan, apa ia baik-baik saja.


Tembakan dua kali kembali terdengar. Kali ini, tepat mengenai dua pemberontak. Walau tak sampai mati, keduanya tengah meringis kesakitan.


Pintu depan terbuka paksa. Lima tentara Jepang masuk secara tergesa-gesa, mengamati situasi dengan cepat, menodongkan senjata pada para pemberontak. Pemberontak terpojokkan oleh jumlah. Tentara Jepang merasa sudah menguasai para pemberontak itu, hendak mendekat, menyuruh sisa-sisa pemberontak yang belum terkena tembakan menjatuhkan senjata.


Sialnya, sebelum senjata sempat jatuh. Sepuluh pria berjas hitam ikut masuk dari pintu dengan yang sudah terlepas dari tempatnya. Pria berjas hitam ikut bergabung ke sisi kanan gedung dimana para pemberontak berada. Baku tembak mulai kembali terjadi.


Sersan Heiho yang merasa tidak ada pemberontak yang memperhatikannya berniat kabur diam-diam. Dari arah tempatnya berdiri tak jauh dari pintu yang terhubung dengan dapur rumah makan yang tadi ia masuki. Ia hendak mengendap-endap.


Dor.


Satu tembakan mengenai Lengan Sersan Heiho.


Perhatian para tentara teralihkan. Melihat pakaian lengkap Heiho yang kebetulan memakai baju tentara lengkap dengan Lencananya saja mereka langsung tau jika yang tertembak itu seorang Sersan, walau mereka tidak mengenal Sersan itu.


Para pemberontak yang melihat perhatian tentara teralihkan, segera menembak tentara Jepang membabi buta. Satu persatu tentara Jepang mulai berjatuhan hingga tidak ada yang tersisa.


Pria-pria berjas hitam mengumpat kesal. Bisa saja para pemberontak menembak mati Sersan Heiho. Dan jika itu terjadi, rencana Bos mereka Saleh akan gagal.


Sebelum para pemberontak sadar. Senjata sudah lebih menodong kepala mereka. Pria berjas dengan cepat memukul kepala para pemberontak hingga pingsan. Berjalan ke arah Sersan Heiho yang tengah di bantu oleh Rio menghentikan darah yang terus keluar dari lengan Heiho.


Para pria kembali melakukan hal yang sama, menodongkan senjata ke kepala Fahri, Rio, dan Heiho. Salah satu dari mereka memukul belakang kepala Rio dan Fahri hingga pingsan. Tersisa Heiho yang kini tengah menatap para pria berjas hitam itu dengan waspada.

__ADS_1


__ADS_2