Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 18


__ADS_3

Hingga keesokan harinya, belum ada kabar dari ruang mesin. Kapal masih berlabuh di dermaga Labuan. Sudah hampir tujuh puluh dua jam sekarang.


Setelah sholat Dzuhur di mesjid dan makan siang di kantin, Robin dan Robert kembali menghabiskan waktu keduanya di dalam kabin. Robin asyik bermain dengan mainnya, sementara Robert tengah serius membaca buku.


Di luar matahari sedang terik-teriknya. Tidak ada yang berminat berdiri atau duduk di dek hanya untuk sekedar melihat pemandangan.


Sesuai jadwal, anak-anak belajar mengaji di musholla lepas sholat Ashar. Robin selalu suka menatap pakaian yang di kenakan Ibu Anna. Warna-warna cerah.


Sekarang, sudah ada dua belas anak yang belajar mengaji. Enam anak dari pelabuhan Batavia, enamnya lagi dari pelabuhan Labuan. Ibu Anna meminta mereka saling berkenalan sebelum menyetor bacaan.


Robin dan Robert bermain di dek kapal setelah belajar mengaji. Mereka tak menyia-nyiakan kesempatan bermain, karena jika mereka kembali ke rumah. Sudah di pastikan bermain seperti di kapal itu tidak dapat mereka lakukan lagi.


Keduanya berdiri di belakang pagar kapal, menikmati pemandangan sore hari. Namun tak lama, mereka bermain sambil berlari-lari kecil ke kabin setelah melihat matahari akan tenggelam. Saatnya mandi sore.


Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, peluit kapal berbunyi nyaring. Itu tanda makan malam. Lorong-lorong kapal kembali di penuhi penumpang yang menunju kantin sambil bercakap-cakap.


Kejutan. Robin berseru senang saat akan mengambil minuman, Yusuf menunjuk ke arah Saleh yang sudah lebih dulu berada dalam kantin.


Saleh duduk tak jauh dari tempat duduk yang biasanya Mei dan rombongan duduki. Di sebelahnya sudah ada rombongan Kesultanan Riau dan rombongan dari Labuan.


"Abang, memangnya sudah sehat?" Mei bertanya khawatir.


Saleh menganggguk. Dokter sudah mengizinkan ia kembali ke kabin tadi siang. Ia hanya di suruh berhati-hati agar jahitan pada betisnya tidak terbuka lagi. Ia juga sudah tidak terlalumerasakan sakit lagi, hanya luka lebam yang butuh waktu lama untuk pulih.

__ADS_1


"Itu baju baru, Robin?" Saleh tersenyum, bertanya.


Robin mengangguk. Ia asyik memasukan sayur sup ke dalam mulutnya.


Orang dewasa dari meja sekitar mulai terlibat percakapan tentang penyerangan Hitler pada Eropa, serta dampak perang Dunia II pada kawasan Asia Pasifik seperti Jepang dan China.


Mereka juga membahas tentang pembentukan tiga provinsi baru. Sumatera dengan Medan sebagai ibukotanya. Kedua Borneo dengan ibukota Kota Baru. Dan yang terakhir Timur Besar, ibukota Makassar.


Robin di sebelah para orang tua itu bergumam, "Kenapa kakak sangat suka sekali membahas soal begituan, tidak adakah topik lain yang lebih menarik?"


"Aku tidak pernah melihat guru mengajikmu makan di kantin, Robin? Saleh yang nampaknya tidak tertarik membahas soal Perang Dunia, "Atau mungkin aku yang tidak melihat ia duduk dimana?"


Robin menggeleng kemudian menatap Robert, meminta jawaban kakaknya. Robert ikut menggeleng. Mereka juga belum pernah melihat Ibu Anna makan di kantin.


"Sepertinya Ibu Anna pemalu, Abang." Robin menjawab sembarangan.


Saleh menganggguk. Ia juga memerhatikan hal itu. Sudah hampir seminggu lebih di kapal, Ibu Anna tidak banyak terlihat bergaul dengan penumpang lain. Untuk seorang guru mengaji anak-anak, setidaknya Ibu Anna bisa mengenal keluarga murid-muridnya.


Mei menyipitkan mata, menatap Saleh curiga, "Mengapa Abang bertanya soal perempuan itu?"


Saleh terkekeh, "Memangnya kenapa, kau cemburu?" Saleh balik bertanya.


Mei melotot tak suka.

__ADS_1


"Haha, aku hanya sekedar bertanya." Saleh menjawab sambil berbisik.


.


.


.


Esok harinya


Pagi-pagi buta pukul empat dini hari, Perwira KKM melaporkan hasil pemeriksaan menyeluruh mesin kapal. Kabar baik, setelah memeriksa mesin utama, kerusakan salah satu piston belum terlalu serius.


Artinya, mereka masih bisa melanjutkan perjalanan hingga Filipina baru melakukan pergantian suku cadang di sana. Kapal tidak perlu memutar ke Singapura.


"Baguslah." Kapten Diego merapikan topi nahkoda miliknya, berdiri, "Segera nyalakan tungku apinya, kita akan segera melepas jangkar pagi ini juga."


"Siap laksanakan, Kapten." Perwira KKM memberikan hormat, kemudian balik kanan untuk segera bergegas melaksanakan perintah.


Kapten Diego juga ikut keluar dari kabin kerjanya, melangkah cepat melewati lorong-lorong kapal, menuju ruang kemudi.


Tepat pukul enam pagi, saat matahari mulai menampakkan sinarnya, peluit kapal berbunyi nyaring, tanda siap melepas jangkar. Orang-orang di dermaga bersorak melepas kepergian kapal Karel Ambo.


Robin dan Robert seperti sudah terbiasa, berdiri berpegangan pada pagar dek. Mereka ikut melambaikan tangan bersama para penumpang lain, berpura-pura kenal dengan para pengantar di pelabuhan yang melepas kapal.

__ADS_1


Hari ketujuh perjalanan. Kapal Karel Ambo mulai bergerak meninggalkan pelabuhan Labuan. Asap mengepul dari cerobong kapal. Mesin uap mulai bekerja, baling-baling berputar.


__ADS_2